Di rumah belakang.
Aran sudah selesai mandi. Dia mengikat rambutnya dengan mengumpulkan semua rambut di bagian atas kepala. Dengan ikat rambut sederhana. Disisirnya rapi sampai tidak ada rambut yang menyeruak. Melihat bayangannya yang terlihat lelah. Area matanya sedikit menggelap. Padahal dia sudah mengoleskan cream, tapi tetap saja dia terlihat lelah.
Huaaa, kenapa aku harus penasaran si!
Menunjuk-nunjuk bayangannya sendiri dengan sisir.
Yang dilakukan Aran semalaman adalah mengubek-ubek internet. Menonton ulang berita-berita yang dulu pernah ia tulis. Menghujat stasiun TVXX tempatnya bekerja dulu, tapi sebenarnya disisipi kerinduan dengan semua aktivitas di sana. Sambil tangannya terus bergulir mulutnya tidak berhenti menyebut nama teman-teman seperjuangannya dulu.
Apa kabarnya dia ya, dia, dia dan dia. Hah! bakan nona muda putri presdir pun tidak luput ia sebutkan.
Aran sedang merindukan masa lalunya, geliat aktivitas tanpa henti. Sangat jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia tidak membenci pekerjaannya yang sekarang. Ia bertemu nona yang baik hati, tinggal dengan fasilitas nyaman. Gaji yang luar biasa besar, bisa melihat orang yang ia sukai. Kalau yang ini jika dia beruntung ya. Dari semua hal itu, tidak ada yang tidak pantas untuk tidak disyukuri.
Namun ada kerinduan di bagian hatinya yang lain. Bekerja dengan tanda pengenal yang melingkar di lehernya. Bangun pagi hari dan pulang bisa dini hari, saat itu walaupun melelahkan, namun ia hidup dengan semangat yang bangun setiap harinya.
Salahmu sendiri Aran, kenapa kamu penasaran!
Sambil merapikan tempat tidur, mengutuki kebodohan yang sudah ia lakukan. Sekali lagi mengucek mata di depan cermin, memastikan kalau lingkar mata itu sudah tidak ada di sana. Mana mungkin ujarnya lemah, lalu keluar dari kamar.
Sambil menunggu kepergian Tuan Saga bekerja dia menuju dapur untuk sarapan. Para pelayan dan pengawal shift malamnsedang bersantai istirahat. Ada yang sedang menyeruput teh atau kopi sambil menikmati sarapan ringan mereka. Aran menyapa satu persatu senior yang dia temui, lalu bergegas mengambil sarapan.
Dia makan nasi dengan lauk lengkap. Cuma bisa melihat orang yang disukai dari kejauhan juga butuh tenaga ekstra kan.
Dia mengeluarkan hp. Hari ini nona akan cek up ke dokter lalu setelahnya akan menjadi saat yang menyenangkan juga untuknya. Pulang kerumah. Nona ingin bertemu dengan ibunya. Aran sudah sangat bersemangat untuk bertemu dengan keluarganya. Padahal dia tinggal dalam satu kota, tapi dia tidak bisa pergi menemui keluarganya sesukaanya. Berbeda dengan para pelayan lain yang mendapat jatah libur bergilir setiap minggunya, Aran harus selalu siap siaga kapanpun itu.
Apa karena itu gajiku 3 kali lipat.
Mengaduk-aduk makanan gemas, karena yakin itu alasannya. Menjadi sopir sekaligus pengawal tidak mungkin mendapat gaji sebesar itu tanpa alasan. Tapi, bergumam sambil mengunyah. Bisa jadi karena yang ia layani adalah Nona Daniah,istri Tuan Saga. Tiga kali lipat dari gajinya di stasiun TV.
Pekerjaan ini memang menghasilkan uang, tapi, Aran mengambil lauk lagi, memindahkan ke piringnya, benarkan ini pekerjaan yang ingin ia pertahankan. Dua bulan lagi, dia bisa melunasi pinjaman orangtuanya. Setelah dua bulan lagi dia ingin berfikir ulang. Meneruskan pekerjaan atau mengejar impiannya.
Walaupun tidak di stasiun TVXX, menyebut nama stasiun TV tempatnya bekerja dulu dengan nada geram. Aran masih bisa memilih media dengan skala yang lebih kecil. Atau dia bisa memulainya dari media berita online misalnya. Meneruskan pekerjaannya di masa lalu, membersihkan namanya, supaya dia bisa berdiri dengan kepala tegak setidaknya kalau bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya di masa lalu. Menunjukan kalau dia hidup dengan baik.
Sekarang dia punya pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi dia tidak bisa mengatakan kalau dia bekerja di rumah utama sebagai asisten pribadi Nona Daniah. Itu jelas-jelas tertulis di draf aturan yang ia tandatangani saat masuk kemari. Simpan semua hal yang terjadi selama bekerja hanya untuk dirimu sendiri.
Hah!
“Kenapa pagi-pagi menghela nafas.” Seorang pelayan wanita duduk sambil membawa secangkir kopi dan sandwich isi sayuran. “Apa hari ini mau keluar bersama nona?”
“Ia Kak.” Suapan terakhir masuk ke dalam mulut. Isi piringnya tandas. “Kak, apa aku boleh bertanya?” Gadis di depannya adalah salah satu senior yang bertugas untuk melayani segala kebutuhan adik-adik Tuan Saga.
“Kenapa? Serius sekali.”
“Kakak sudah bekerja selama dua tahun kan di sini?” Yang ditanya menganggukkan kepala sambil meneruskan meneguk kopinya. “Apa kakak tidak punya keinginan untuk keluar dari sini?” Dia menggelengkan kepala cepat dan yakin sebagai jawaban pertanyaan Aran. “Kenapa?” ujar Aran penasaran.
“Aku senang di sini,” ujarnya tertawa. “Aku menanggung beban hidup keluargaku, kau sudah tahu kan kalau ibu dan ayahku bercerai. Ayah tidak perduli pada kami lagi, aku harus membantu ibuku mencari uang untuk biaya sekolah ketiga adikku. “
Benar, aku pernah mendengar cerita ini.
Para pelayan yang ada di rumah utama kebanyakan memiliki latar belakang keluarga sederhana bahkan mungkin dibilang memiliki keterbatasan. Dari beberapa cerita yang Aran kumpulkan saat berbincang akrab dengan mereka. Bahkan Aran pernah membuat kesimpulan, kalau para pekerja di sini sebenarnya ditolong oleh Tuan Saga untuk mendapat kehidupan yang sangat layak. Mereka mendapat gaji yang berkali lipat dari standar gaji pelayan pada umumnya. Tiga kali lipat mereka memang masih dibawah Aran. Fasilitas tempat tinggal yang nyaman, makanan enak yang bisa di temui setiap hari. Hidangan yang ada di hadapan Aran sekarang saja sudah tergolong masuk kategori mewah.
“Tuan Muda sudah sangat baik pada keluargaku. Inilah caraku membalas kebaikannya.” Bangga, walaupun mungkin saja pelayan di depan Aran bahkan tidak dikenali Tuan Saga. Tapi dia bahagia menjadi bagian dari rumah utama. Dengan melayani adik-adik Tuan Saga.
“Apa Kakak tidak punya pekerjaan yang kakak impikan?“
“Apa ya?” sejenak berfikir. “Impianku yang ingin aku capai nanti punya kafe dengan cake yang dijual di dalamnya semua adalah buatanku sendiri. Hehe.”
“Ah ia, cake buatan Kakak enak.”
Yang dipuji merasa senang sekali, itulah keahlian yang ia banggakan. Membuat aneka cake dan kue, yang dinikmati sesama pelayan di rumah ini.
Setelah itu, seniornya kembali bicara.
“Apa kau tidak pernah mendengarnya.” Sarapan senior Aran habis juga. Tegukan kopi terakhir. “Setelah mengabdi pada rumah ini dengan penuh dedikasi, kami punya kesempatan meminta satu permohonan pada Tuan Saga.”
Aran mendelik, dia tidak pernah mendengar cerita ini dari senior-seniornya yang lain.
“Ah kamu belum tahu ya, kami memang jarang membicarakannya." Melihat Aran yang serius menanti kelanjutan ceritanya. "Karena kami belum pantas untuk memimpikan sampai di titik itu. Hehe."
Itulah cerita yang beredar dikalangan para pelayan.
"Memang ini terjadi pada para pelayan atau pengawal senior yang sudah bekerja sejak tuan besar masih ada. Setelah mereka lama mengabdi, Tuan Saga memberikan dua pilihan. Tetap berada di sini atau pergi kembali pada keluarga masing-masing dan melanjutkan hidup."
"Terus Kak,"
Bisa-bisanya aku tidak tahu ada rahasia besar seperti ini.
Jiwa sok mau tahu Aran menggelora. Sekalipun dia menjadi reporter dulu, dia pasti tidak akan pernah tahu cerita semenarik ini ada di rumah belakang.
"Kalau yang memilih pergi tuan muda akan memberikan hadiah spesial untuk mereka. Mungkin yang paling berkesan adalah duduk dan makan malam bersama Tuan Saga. Aaaaa, itu jadi seperti impian kami semua.” Perasaan bangga dan berbunga jelas terlihat dari senior Aran. Bekerja di rumah utama adalah berkah baginya.
“Contohnya apa Kak?”
Aran sudah deg, degan mereka-reka.
“Yang aku tahu tuan muda pernah memberikan supermarket, kau tahu kan supermarketXX.”
Apa-apan itu, itukan supermarket besar di kota sebelah.
“ Ada yang mendapat toko pakaian, bahkan ada yang aku dengar mendapat hadiah tempat wisata di luar kota. Ah, kalau tidak mau berupa barang, bahkan hadiah bisa berupa uang lho.”
Senior mengambil selembar tisyu, lalu mengusap mulut Aran yang menganga karena takjub. Aran terkekeh merebut tisyu.
Ya Tuhan apa-apaan ini, apa karena mencontoh Tuan Saga, harimau gila itu punya sifat yang nyaris sama.
“Kau kaget ya, Tuan Saga memang berhati mulia. Dia membalas dedikasi orang-orang yang bekerja dengannya dengan sangat baik. Untuk itulah kami yang bekerja padanya sekarang berharap suatu hari nanti kami bisa beruntung mendapatkan kesempatan itu. Bertemu dan bicara dengan Tuan Saga secara langsung."
Senior wanita itu menyeka ujung matanya, membayangkan peristiwa mengharukan itu. Baginya bisa bekerja di sini adalah hadiah indah dari Tuhan, karenanya telah menyelamatkan kehidupan porak poranda keluarganya.
“Aku berharap bisa memiliki kafe dengan cake buatanku sebagai menu utama. Aku berharap bisa mewujudkannya dengan bekerja dengan baik di sini.”
Aran mengamini doa seniornya dalam hati.
Semua punya mimpinya sendiri. Begitulah yang ia lihat. Walaupun setumpuk aturan menyambut para pekerja di rumah utama, tapi Aran memang tidak pernah melihat mereka mengeluh. Mereka benar-benar bekerja keras, bahkan untuk pekerjaan yang remeh sekalipun. Membalas kebaikan Tuan Saga pada keluarga mereka.
Tapi, aku benar-benar ingin bekerja sebagai reporter berita lagi.
“Semangat Aran ayo kita bekerja keras! Kami iri sebenarnya padamu, kau tahu kan pelayan khusus kamar Tuan Saga. Dia butuh waktu beberapa tahun untuk sampai pada posisinya sekarang.”
Sekali lagi Aran mendengar cerita penuh kebanggaan. Dia tahu itu, tapi tetap saja dia merindukan masa lalunya.
Aku tidak akan segalau ini kalau semalam tidak penasaran!
Seniornya masih bercerita tentang keluarga yang ia rindukan, sampai waktunya Aran pergi menjemput Nona Daniah.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
masyaAllah ...itu kekayaan nya kyk siapa yak..ampe asisten" nya dikasih hadiah gak tanggung"
2025-01-24
1
Sweet Girl
Penasaran mengenai apa ya...???🤔
2024-01-16
4
Sweet Girl
Hati hati kedengaran orangnya Ran....
2024-01-16
2