Ruang meeting menjelang sore.
Suasana agak tegang di antara semua orang yang ada dalam ruangan. Penanggung jawab acara pesta rakyat mall Antarna Group sedang membacakan laporannya. CEO mall yang duduk di samping Saga, pun melirik bergantian ke semua orang. Dia akan ikut bertanggung jawab dengan hasil laporan yang dibacakan itu. Tidak, sebagai pimpinan dialah yang harus maju pertama kali sebelum bawahannya.
Seraut wajah bimbang yang terlihat agak kurang fokus terlihat dengan jelas di wajah Tuan Saga. Ada yang dia risaukan saat ini. Semua orang setiap sepersekian detik selalu melirik ke arah Saga setelah beberapa kalimat dibacakan. Diam, namun dengan mata sedikit mengkerut.
Saga sedang memikirkan sesuatu, dan entah apa itu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Caranya diam, terlihat jauh lebih serius daripada saat mendengar laporan Pak Mun, yang gagal mencegah Daniah keluar rumah. Dan pada akhirnya istrinya keluar hanya ditemani dua pelayan wanita dan Aran. Dia sedikit kesal tadi dengan Pak Mun. Tapi itu bukan sumber kegalauan di matanya sekarang.
Saat ini Saga masih diam, sehingga penanggungjawab itu meneruskan laporannya. Dengan intonasi mengeras namun masih sopan. Tetap tidak membuat laki-laki itu terbangun dari dunianya.
“Penjualan setiap harinya terjadi peningkatan sekitar 50%, semakin menuju hari penutupan semakin ramai.” Laki-laki itu terlihat gamang lagi untuk meneruskan laporannya, melihat ke arah CEOnya. Yang menaikan kedua tangan untuk melanjutkan. “Semuanya berjalan sangat baik sesuai dengan rencana awal.” Memberi intonasi meyakinkan pada kalimat sangat baik sesuai rencana.
Kenapa Tuan Saga diam saja!
Sepertinya bukan hanya dia yang terlihat cukup tegang, semua orang kecuali manusia sedingin salju itu, yang lain juga terlihat pucat. Hanya Sekretaris Han yang terlihat fokus membuka laporan yang ada di tangannya tanpa terganggu sama sekali dengan wajah Tuan Saga yang terlihat acuh.
“Bagus, lakukan sesuai dengan rencana.” Han mengetuk meja tiga kali. Dia tahu semua orang bisa membaca situasi dengan diamnya Tuan Saga. Dan di ruangan ini cuma dia yang tahu ada apa dengan sikap diamnya Tuan Saga. Tapi, dia pun tidak merasa perlu menjawab rasa penasaran orang-orang.
"Baik!” Serempak semua menjawab.
“Tuan, apa ada yang ingin Anda sampaikan.” Menutup map yang sama sekali tidak di sentuh Saga, baik dengan tangannya atau tatapannya.
Saga tidak menjawab, dia mendorong kursinya lalu bangun. Semua orang yang ada di ruangan meeting refleks gelagapan ikut bangun.
Mati aku, apa aku membuat kesalahan.
Semua orang, kecuali Han.
“Bereskan semuanya Han.” Tidak menunjukan reaksi apa pun pada laporan yang diberikan. Hanya melihat sekilas ke semua orang lalu mendesah jengah. Membuat semua orang semakin salah paham.
“Baik Tuan.” Han membuka pintu dan membiarkan Saga berlalu dari ruangan.
Kenapa ini, kami melakukan kesalahan apa!
Masih semua orang yang menatap khawatir kearah sekretaris yang tertinggal.
Kalau Tuan Saga melemparkan berkas laporan itu tandanya dia tidak suka, kalau dia diam tak bergeming tapi dengan garis bibir yang sedikit ditarik lalu dia bilang “Bagus, kalian sudah bekerja keras.” Itu artinya dia menyukai hasil kerja mereka. Tapi ini, bahkan sudah sedari awal dia seperti tidak mendengarkan isi laporan yang mereka sampaikan. Padahal kali ini dari segi penjualan dan semua acara berjalan sempurna. Mereka layak untuk mendapatkan pujian.
“Hari ini kalian sudah bekerja dengan baik, teruskan semuanya sesuai dengan rencana. Tuan Saga menunggu hasil kerja keras kalian.” Mereka langsung menarik nafas lega, bahkan bisa menggerakkan tubuh menggeser duduk saat mendengar apa yang disampaikan Sekretaris Han.
“Baik!”
Sampai Han keluar dari ruangan meeting, semua hanya berbisik. Lega karena sesuai target rencana, sekaligus penasaran kenapa Tuan Saga bersikap demikian.
...***...
Setelah keluar dari ruangan meeting.
Han membawa semua berkas laporan menyerahkan pada staf sekretarisnya. Seseorang sudah menunggu membawa nampan berisi satu gelas jus dan sepiring potongan buah. Saat memasuki ruangan, pemilik gedung ini masih terlihat menekuk wajah yang sama saat keluar dari ruangan meeting tadi.
Anda sampai memikirkannya secemas ini.
“Tuan, semua belum bisa dipastikan sebelum hari kelahiran, jadi tidak ada yang perlu Anda khawatirkan sekarang.” Menyerahkan gelas ke tangan Saga. Yang diambil dengan iringan *******. Han yangnselalu tahu apa sumber kecemasan tuannya. “Semua pasti baik-baik saja.” Lanjut Han lagi.
Sejauh ini itulah yang harus ia percayai untuk dirinya sendiri. Jenis kelamin apa pun anak Nona Daniah nanti, dialah pewaris Antarna Group. Tanggung jawab besar setelah Tuan Saga akan ada padanya kelak. Laki-laki atau perempuan itu tidaklah penting.
Suasana hati Tuan Saga cukup baik tadi sebelum kedatangan Dokter Harun dan dokter kandungan yang bertanggungjawab untuk Nona Daniah. Namun seiring selesainya laporan mereka, seraut wajah itu mulai terlihat sedikit cemas.
Hasil USG memang tidak menjamin seratus persen, namun biasanya prediksi dokter tidak akan jauh meleset dari hasil USG. Setelah beberapa kali pemeriksaan, laporan Dokter Harun hasilnya tetap sama.
"Han."
"Ia Tuan Muda."
“Bagaimana kalau dia mirip Niah?" Gamang sendiri. "Tidak, seharusnya aku suka kalau dia mirip Niah, mirip Niah lebih baik, jangan mirip denganku."
Akan lebih mudah kalau dia lebih mirip Anda.
Kalau bisa memilih, Han akan lebih senang dengan opsi yang kedua.
"Benar pasti mirip Niah." Saga kembali meyakinkan diri dengan kata-kata tegas. "Ah, pasti dia mengemaskan kalau dia mirip Niah. Membayangkan saja hatiku rasanya mau meledak. Eh, Tidak!” menolak sepakat dengan pendapatnya sendiri. “Niah yang paling cantik dan mengemaskan. Tentu saja Niahku yang paling mengemaskan.” Tertawa dengan pujiannya pada istrinya sendiri.
Ya, ya sesuka Anda Tuan Muda mau mengatakan apa.
Han hanya bergumam sambil menyerahkan garpu yang.sudah berisi buah merah segar.
Tapi bagaimana kalau sifatnya juga mirip Niah. Gumaman pelan yang tertangkap di telinga Han. Saga melirik laki-laki di sampingnya. Kalau sifatnya seperti Niah, kau harus mendidiknya tentunya.
"Kalau itu, kau yang harus menghadapinya." Tersenyum tidak berperasaan.
Saya tidak mau membayangkannya Tuan Muda. Satu nona seperti Nona Daniah sudah cukup. Kalau hanya wajahnya seperti nona, itu akan lebih baik. Pasti lucu.
Eh....
Hah. Mungkin apa yang sedang mereka resahkan memang terlalu dini untuk dipikirkan. Bayi yang bahkan belum lahir, sudah tertulis rencana hidup masa depannya. Han bahkan mulai kepikiran, apakah dia bisa bersikap setegas itu menghadapi bocah yang wajahnya mirip dengan nona mudanya. Cepat-cepat dia mengusir pikiran itu. Membuatnya merinding sendiri.
“Mereka bisa datang semua?” Melemparkan garpunya ke piring. Han meraihnya lalu gantian menghabiskan apa yang masih ada di piring.
Pertemuan penting membahas sesuatu yang sangat penting. Semua orang dikumpulkan Saga malam ini. Untuk menjawab rasa penasarannya.
“Tuan Ken sudah minta izinbkarena sedang dinas dinluar negri, kalau Tuan Arya, akan datang izin terlambat karena sedang syuting diluar kota. Veron masih menyelesaikan masalah di kota XX. Revan juga akan kembali hari ini.”
“Dia tidak berguna, dia kan jomblo.” Kata-kata tidak berbelas kasih keluar ditujukan untuk seseorang bernama Revan, padahal jelas-jelas orang yang ada di hadapannya juga masih satu kasta. Sama-sama jomblo.
Yang di hadapannya lebih parah, karena alasan kejombloannya adalah pengabdian pada tuannya.
Jomblo itu kan kalau tidak ada yang disuka, tapi, aku kan ada yang aku sukai. Ehem. Bangga, karena yakin perasaan sukanya tidak masuk kamus bertepuk sebelah tangan.
“Kenapa kau tersenyum?”
“Tidak Tuan Muda.”
Aku pasti sudah gila, tanpa **sad**ar aku tersenyum saat memikirkan gadis itu.
“Kau sudah mulai gila sepertinya, menikah sana!”
Han hanya menoleh sambil mengunyah buah di mulutnya.
"Kau menyukai gadis itu rupayanya, siapa namanya, yang sepanjang hari dibicarakan Niah." Han tidak perlu membuka mulut karena Saga tidak perlu jawaban. " Aku jadi merindukan Niah, mana hpku."
Benar seperti ini saja, jangan cemaskan apa pun sebelum nona melahirkan.
Pertemuan sangat penting membahas sesuatu yang sangat penting, akan berlangsung malam ini. Menjawab semua kecemasannbTuan Saga. Han berharap.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
novel yg tidak pernah membosankan👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
2025-01-27
1
Ida Miswanti
Sekretaris HAN, Dokter HARUN, NOAH, Si genius REVAN, KEANU (Ken Walikota tempat Bulan Madu), Sang Aktor ARYA, BRIAN( Putra Pak Mun), ABRAM (Pak Menteri), dan VERON. 🥳🥳🥳 Akhirnya aku tau THE BEST FRIEND Tuan Muda Saga 😘🫰
2024-06-11
12
Lyn
oallaa, ternyata saga malah bimbang karna kapitan anaknya bakal cewe. wkwk
dan lgi pertemuan apa lgi yg saga mo bhas ni, pke yg jonblo kagak penting lgi wkwk penasaran, tapi enth kenapa selalu dehh bikin terkesan Sama Han dan saga, enth krna emng pikiran mereka harus didoktrin jadi 1 makanya apapun tentang Saga Han tau semua tnpa bicara.
2024-01-30
4