“Apa kau sudah selesai?” kata Aldi dengan nada provokasi.
Elisabeth melihat Aldi ia berkata “siapa anak udik ini? pakaiannya mencerminkan orang miskin.”
“Mengesampingkan tinggi badan dan wajahnya yang tampan semua minus” Elisabeth mengomentari penampilan Aldi.
Elisabeth adalah anak dari orang pertama yang mempunyai telepon di desa ini. Jadi dia adalah salah satu orang kaya di desa ini.
“Apa yang kalian lakukan?” tiba-tiba Alex muncul membela Aldi dan Shie.
“Alex, jarang sekali kamu mencampuri urusan orang lain,” kata Elisabeth dengan naga provokasi.
Alex tiba di depan Aldi dan Shie, “Mereka temanku apa yang salah dengan itu?”
“Sang kutu buku sekarang mempunyai teman, haha,” Elisabeth tertawa mendengar pernyataan Alex.
“Haha si zombie mempunyai teman.”
“Bukankah mereka pasangan yang serasi.”
“Udik, Ular, dan Zombie.”
Mendengar pernyataan itu tiba-tiba tawa pecah dari semua teman sekelasnya. Melihat ekspresi Alex dan Shie yang kurang tenang Aldi masih sedikit tersenyum. Dia tidak berniat membalas penghinaan mereka justru itulah yang menambah bahan bakarnya untuk bekerja keras.
“Haha,” tawa Aldi membuat seisi ruang kelas menjadi canggung.
“Lelucon yang sangat bagus,” kata Aldi membuat suasana kelas menjadi lebih aneh.
“Hei ayolah aku memang udik dan tidak mempunyai baju yang baik.”
“Toh ... semua ini hanyalah sementara” dengan senyum nakal Aldi mengatakan itu.
“Apa maksudmu?” Roy yang pertama kali merasa kesal dengan tanggapan Aldi.
“Haha, kenapa aku harus marah itulah keadaanku saat ini” Aldi membalas.
Aldi mendekati roy dengan langkah yang pelan bahkan semua teman-teman sekelasnya melihat langkah itu.
Sampai di depan Roy, Brune dan Elisabeth dia tersenyum dengan penuh percaya diri. Dari sisi pengelihatan Roy, Brune dan Elisabeth jelas Aldi memprovokasi mereka tapi entah kenapa tubuh mereka tidak mau bergerak mendekati.
“Ayo pergi, ini belum selesai anak Ular!” kata Brune sambil menunjuk ke arah Shie.
Setelah pembuat onar itu pergi mereka bertiga berjalan ke perpustakaan. Aldi seperti biasa membaca banyak buku seperti tidak terjadi apapun. Berbanding terbalik dengan Shie dan Alex yang sepertinya tidak fokus membaca.
“Apa kalian masih memikirkan kata-kata dari anak tadi?” tanya Aldi.
“Walau kita tidak memikirkannya tapi harga diriku seperti diinjak,” Alex yang merespon pertama dengan nada marah.
“Hmb,” dengan tatapan mengerikan Shie menjawab pertanyaan.
Melihat wajah mereka yang tidak sedap dipandang Aldi mulai menghibur, “Baiklah anak muda, ini bukan waktunya kita membalas bahkan kita tidak bisa membalas, itulah kenyataan.”
“Bukankah sudah aku katakan ini hanya sementara.”
“Tahukah kalian rencana besar yang akan aku kembangkan? Seperti ide Alex, Teknologi merupakan kuncinya.”
“Ada kalanya kita harus mengalah bukan berarti harga diri kita diinjak-injak memang keadaan yang menuntut kita seperi ini.”
“Kamu tau sebuah besi tidak akan menjadi pedang jika tidak di panaskan kemudian di palu sedemikian rupa, jika kalian adalah sebuah besi tanpa di tempa dengan hal-hal kecil seperti provokasi, kalian tidak akan pernah menjadi pedang,” perumpamaan Aldi membuat hati mereka semakin membaik.
“Terima kasih,” Alex berterima kasih dengan ekspresi wajah yang lebih baik.
Dengan mengepalkan tangannya Aldi berkata dengan semangat, “Alex kita adalah teman juga kita juga tim adalah hal normal untuk memberikan semangat.”
“Aku penasaran bagaimana kamu bersikap tenang mendengan provokasi seperti itu” kata Shie dengan heran.
“Haha, hal ini hanyalah sepele” dengan senyum ringan Aldi menjawabnya.
Aldi menceritakan kisah hidupnya kepada mereka berdua. Melewati detail seperti jiwa yang memperkuatnya dan tentang belajar bela diri. Setelah mendengar tragedi yang menimpa Aldi mereka sudah merasa sangat sedih. Karena Shie tidak pernah melihat orang tua membuatnya merasa lebih baik. Aldi mempunyai orang tua tapi di tinggal waktu umur 2 tahun dan dia tidak tau siapa kerabatnya, dengan ingatan orang tua yang masih teringat lebih menyiksanya dari pada Shie. Sedangkan untuk Alex yang mempunyai kedua orang tua merasakan jauh dibanding mereka berdua.
Akhirnya mereka bertekad untuk hidup lebih baik. Mereka tahu bahwa hidup membutuhkan perjuangan yang tidak ada habisnya jika provokasi kecil seperti tadi membuat mereka jatuh, maka hal itu akan merusak tekad mereka yang sudah membara dengan semangat yang di lontarkan Aldi.
“Haha, sepertinya kalian sudah bertekad maka bacalah buku seperti biasanya jadikan lah ini seperti palu itu agar kalian menjadi pedang yang indah,” dengan mengacungkan jempolnya Aldi berkata.
Tidak berasa sudah jam 2 siang mereka membaca. Melihat buku yang dibaca Aldi semakin menumpuk dibandingkan dengan Alex yang hanya membaca 3 Buku dan Shie dengan 2 Buku membuatnya bertanya.
“Apa kamu membaca semua ini?” Alex bertanya sambil memandang buku yang menumpuk di depan Aldi.
“Tentu aku membacanya," jawab Aldi dengan ringan
Mendengar jawaban Aldi yang tampak serius Alex berkata, "Kamu pasti bercanda kita sama-sama membaca denganmu tapi kamu sudah hampir 13 buku itu terpaut 10 buku dari kita."
“Sebenarnya aku mempunyai metode membaca sehingga membaca lebih cepat, tapi menuntut pemahaman yang lebih tinggi," kata Aldi dengan meletakkan buku yang ia baca.
“Metode apa itu?” dengan penasaran Shie bertanya terlebih dahulu
“Aku menyebutnya Baca Cepat dengan metode ini kalian akan menghemat banyak waktu, aku sudah menggunakan metode ini dari ketika aku masih bayi berumur 6 bulan jadi jangan mengira metode ini cepat dipelajari,” jelas Aldi sambil memegang dagunya.
Mendengar itu Alex tercengang, “Apa kamu sudah bisa membaca di umurmu 6 bulan.”
“Ibuku dulu mengajariku dengan baik,” dengan muka murung dia menjawab dan sedikit senyumnya.
“Ajari aku metode itu!” kata Shie dengan cepat tanpa memperhatikan suasana karena dia tahu Aldi bukanlah orang yang lemah.
“Haha, aku senang melihat semangatmu itu, Shie,” kata Aldi sambil tersenyum.
Aldi menerangkan bagaimana metode itu dilakukan secara detail. Mereka mencoba mempraktikannya tapi raut wajahnya tidak menunjukkan pemahaman. Setelah beberapa saat mereka akhirnya sedikit mengerti tentang metode ini.
“Hebat-hebat ternyata ada metode seperti ini,” Alex memuji.
“Hmb,” Shie menjawab dengan sedikit penasaran walau dia sebenarnya sudah mempelajari bagaimana metode itu tapi itu tidak cukup cepat seperti Aldi.
Dengan metode membaca itu mereka dapat menyelesaikan lebih banyak buku Alex sebenarnya adalah anak yang cerdas jadi pemahamannya sangat kuat. Hanya dengan mempelajari sebentar dia sudah terbiasa dengan itu. Dengan metode yang di pelajari, Alex dalam 1 jam bisa membaca lebih dari 1 buku setebal puluhan halaman.
“Setelah mempelajari metode ini dalam sehari aku dapat membaca lebih dari 5 buku,” kata Alex dengan tersenyum tipis.
“Baiklah, lakukan yang terbaik!” jawab Aldi dengan menganggukkan kepalanya
Melihat Aldi yang mempunyai banyak tumpukan buku membuat Alex merasa ada yang kurang dia mengeri, “Kenapa kamu masih bisa lebih banyak?”
“Tentu karena aku lebih berpengalaman,” kata Aldi dengan santai.
Hari itu berlalu dengan cepat mereka bertiga membaca buku untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Shie fokus ke buku yang mengandung beladiri dan matematika, Alex berfokus pada buku yang mengandung teknologi sedangkan Aldi berfokus pada sejarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
sutrisno sudjono
belajar sebanyak banyak nya pasti akan berguna juga
2023-05-26
1
John Singgih
Aldi mengajarkan teknik uniknya kepada teman-temannya
2022-11-27
0
seneng moco
👍👍👍
2022-06-24
0