Setelah 1 bulan berlalu
Pada hari seperti biasa Shie menemui Aldi di rumahnya. Mereka melakukan latihan bersama serta ada kakek Nui yang memperhatikan. Shie tidak pernah bisa menyentuh Aldi di setiap latihannya. Melihat ekspresi Shie dia tidak pernah putus asa untuk berlatih lebih keras.
Setelah kakek Nui masuk ke rumah untuk menyiapkan makanan untuk sarapan mereka Shie bertanya,"Aldi, teknik membaca cepat mu, tidak seperti metode yang kamu ajarkan?"
“Aku menggunakan itu kenapa kamu bertanya,” Aldi menjawab dengan tenang.
Shie menggaruk kepalanya, “Aku sudah mempelajarinya tapi itu tidak bisa secepat kamu, aku yakin metodenya sedikit berbeda.”
“Hah ... seperti yang diharapkan dari sang tubuh naga,” kata Aldi dengan senyum tipis.
“Kenapa kamu selalu menyebutku tubuh naga, sedangkan di punggungku terdapat sisik seperti ular bukan naga?” tanya Shie dengan bingung.
Aldi tertawa kecil “Karena itu belum matang dan juga kontrol kekuatan yang buruk."
“Bagaimana caraku mengontrol kekuatanku agar lebih baik?” tanya Shie dengan minat yang tinggi.
“Kau tidak sabaran, bukannya aku tidak ini memberikan metodenya kepadamu. Aku tau kita adalah saudara tapi Prinsip Jiwa yang aku ciptakan bukan sekedar metode beladiri biasa,” jelas Aldi dengan ekspresi serius.
Aldi berdiri dia menyebarkan sedikit energinya membuat Shie jatuh dengan kaki gemetar tanpa tahu apa yang terjadi. Kakek Nui memperhatikan itu terlihat kaget tapi dia tidak keluar dari tempat sembunyi nya.
“Itu bernama Energi teknik itu aku beri nama En,” kata Aldi yang sedang melepas sedikit En-nya.
Shie mencoba bangkit dan berkata “Apa itu? Ajarkan aku itu!”
Aldi menutup mata dan menggelengkan kepalanya, “Ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi jika ingin belajar.”
“Apa?” tanya Shie dengan penasaran.
“Pertama adalah metode ini dilarang keras untuk di tulis, kedua kamu harus melakukan segel penyerahan jiwa, ketiga kamu harus lolos ujian pengendalian diri,” kata Aldi dengan wajah serius.
“Ajari aku itu, tapi bagaimana jika tidak bisa di tulis?” Shie bertanya dengan bingung.
“Ada banyak cara dalam belajar, semua tidak hanya dengan tulisan banyak metode lainnya. Untuk persyaratan ketiga kamu sudah cukup dalam bidang ini, sedangkan langkah selanjutnya adalah segel penyerahan jiwa.”
“Untuk apa segel itu?”
“Segel penyerahan jiwa adalah sebuah segel yang dipasang di jiwa seseorang. Jika orang yang di segel mengkhianati yang memasang segel dia akan mati dengan tragis dan tanpa bisa bereinkarnasi ini adalah segel yang berbahaya,” kata Aldi menjelaskan detail segel.
Segel penyerahan jiwa merupakan hal yang wajar di dunia leluhur chu. Tapi segel yang lemparkan berbeda dengan biasanya, segel itu dirancang khusu untuk penerapan teknik Prinsip Jiwa.
“Apakah harus melakukan segel itu?” tanya Shie tanpa merubah ekspresi wajah sebelumnya.
“Maafkan aku Shie, aku sudah membuat peraturan ini, jika seseorang tidak menggunakan segel penyerahan jiwa dia tidak akan dapat mempelajari metode yang akan aku ajarkan,” kata Aldi dengan santai.
“Baiklah, apa yang harus aku lakukan?” jawab Shie dengan tekad yang tinggi.
Melihat tekad Shie “Apa kau yakin Shie?, bukan saja kamu akan menyerahkan hidupmu kepadaku tapi juga kamu akan secara paksa menjadi saudaraku.”
“Hidupku sudah tidak berarti tanpamu di sisiku jadi apa gunanya hidup lagi, lakukanlah”
Aldi menghela nafas dan berkata “Baiklah, Shie."
Aldi menggambar sebuah simbol-simbol di tanah. Simbol itu untuk membantu penerapan segel penyerahan jiwa. Kemudian dia menyuruh Shie untuk berdiri di titik pusat simbol itu.
“Pertanyaan terakhir Shie, apa kamu yakin?” kata Aldi dengan wajah serius.
“Lakukan” dengan tegas Shie menjawab.
“Baiklah”
Tiba-tiba Energi yang sangat menyeramkan datang ke segala arah.
“Jangan meninggalkan tempatmu sesakit apapun kamu harus menahannya!” teriak Aldi dengan wajah serius.
Aldi menutup matanya serta menggabungkan kedua telapak tangan di depan dadanya. Energi semakin padat bahkan Kakek Nui yang melihatnya tercengang tidak percaya. Aldi membuka mata dan matanya berubah bercahaya, segel dibawah Shie mulai bersinar ungu. Dia berjalan mendekati Shie dengan pelan setiap kali langkahnya membuat Shie merasakan tubuhnya sangat panas.
Melihat Shie yang akan keluar simbol, "Tahan jangan bergerak mundur!" teriak Aldi.
Aldi sudah di depan Shie melihat ekspresinya yang menahan serangan di jiwanya. Tiba-tiba ada pisau terbang ke depan Shie.
“Berikan darahmu di telapak tanganku, ” kata Aldi sambil mengulurkan telapak tangannya.
Tanpa menunggu lama Shie mengiris jempolnya. Tidak lama Aldi menggabungkan kedua telapak tangannya lagi dan simbol aneh menuju tubuh Shie.
“ziiizzziing,” suara yang aneh itu masuk ke tubuh Shie.
Ketika simbol itu memasuki tubuhnya rasa sakit yang gila sampai Shie tidak bisa berteriak. Secara bertahap simbol ungu itu menghilang bahkan simbol di tanah yang digambar hilang. Shie jatuh pingsan setelah kejadian itu.
“Kakek Nui, bukankah sudah waktunya keluar?” kata Aldi.
“Siapa kamu sebenarnya?” kakek Nui berkata.
“Aku Nur Aldi, seperti yang kamu ketahui, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan mungkin ini terkait keluargaku, mohon maklumlah, Kek."
“Haha, apa maksudmu aku adalah kakek mu apapun yang kamu lakukan akan aku dukung, tapi energi kematian apa itu tadi walau aku adalah prajurit khusus itu lebih mencekam dari pada yang pernah aku lihat."
“Itu aku beri nama 'En' sebenarnya aku juga tidak tau persisnya apa?, dari kecil aku sudah mengembangkan energi ini mengelolanya sampai seperti ini."
“Apa kamu bisa memberikan metode yang kamu janjikan seperti Shie.”
“Maafkan aku, jika aku memberikan Segel Penyerahan Jiwa kakek akan mati seketika,” kata Aldi dengan serius.
“Hah ini adalah takdir yang kekal, tidak bisa dilawan,” kata kakek Nui dengan murung.
“Walaupun metode yang aku berikan kepada Shie adalah metode berbahaya tapi jika di kelola dengan benar akan sangat menguntungkannya. Bukan berarti aku tidak bisa memberikan metode lain untuk kakek,” kata Aldi dengan terengah-engah karena Energinya terkuras habis untuk mempertahankan kesadaran Shie.
“Metode apa itu?” tanya kakek Nui dengan serius
“Biarkan aku istirahat sesaat, Kek,” kata Aldi sambil duduk bersila memulihkan Energinya.
1 jam tidak berasa sudah berlalu kakek sambil duduk di kursi depan Aldi masih tampak tidak tenang, sedangkan Shie masih tergeletak pingsan di atas tanah.
Aldi bergegas mengambil buku tulisnya.
“Kakek ini adalah metode penanaman beladiri berbeda dengan yang aku kembangkan, tapi memiliki efek yang hampir sama dan mempunyai 3 tingkatan.”
“Tingkatan itu dibagi menjadi Pengumpulan, Penguatan, Pelepasan setelah memupuk sampai Pelepasan akan dapat melepas Energi sepertiku tapi sedikit berbeda."
“Energi yang aku kembangkan berwarna Ungu sedangkan ini berwarna Merah.”
"Jika aku boleh menyebutnya ini adalah harta keluarga.”
Setelah menerima buku catatan itu kakek Nui merasa bingung.
“Kenapa menyerahkannya padaku?” kakek Nui berkata dengan bingung.
“Karena kamu adalah Kakakku, itu juga bisa memperpanjang harapan hidup jika di budidayakan sampai ketingkat pelepasan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
John Singgih
Shin menjalin kontrak jiwa dengan Aldi dan menjadi budaknya
2022-11-27
0
Tan Koto
typo atau apa??
2022-07-20
0
seneng moco
👍👍👍👍
2022-06-24
0