Pagi itu heboh karena seseorang di desa membeli sebuah alat komunikasi jarak jauh yang dinamakan telepon. Banyak warga yang mengerubungi rumah penduduk desa itu warga itu bernama Hadi. Dia merupakan salah satu orang terkaya di desanya, bahkan dia mampu membeli telepon yang harganya 5 perak dan biasa sewanya 1 perak perbulan.
Hanya Aldi yang tidak kaget melihat telepon itu, bahkan Shie yang ada disebelahnya melihat benda itu sangat megah.
“Shie, tenanglah dimasa depan juga akan mendapatkan hal seperti itu,” kata Aldi sambil memegang pundak Shie.
Mendengar kata-kata itu warga desa mulai cemberut dan mencibir Aldi.
“Anak kecil tau besarnya dunia.”
“Bocah yang tidak tau tata krama.”
Sebagian penduduk juga memujinya karena tekadnya yang kuat.
Aldi pergi dari kerumunan menuju kerumahnya dan memperkenalkan Shie ke kakek Nui.
“Kek, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu?” kata Aldi melihat kakek Nui yang sedang duduk di kursi kesayangannya.
Melihat ada seorang anak kakek Nui berkata “Siapa anak muda ini?."
“Shie,” Shie menjawab dengan pendek karena dia adalah seseorang yang pendiam.
“Melihatmu tidak pernah bergaul dengan anak sebaya, ketika kau membawa Shie ke rumah membuatku senang,” kata Kakek Nui.
“Kau setiap hari mencari uang untuk mencukupi semua kebutuhan rumah,” lanjut kakek Nui.
“Itulah yang aku inginkan, Kek. Jangan banyak bergerak biarkan aku yang memenuhi semua kebutuhan hidup Kakek!” pernyataan Aldi.
Semenjak diberikannya 3 Koin Tembaga Aldi tidak pernah meminta sepeserpun dari kakek Nui. Sedangkan, dia yang selalu membiayai semua kebutuhan makanan dan pakaian kakek Nui itu adalah salah satu caranya berterimakasih. Kakek Nui sekarang sudah sangat tua dia berumur 72 tahun walaupun begitu tubuhnya masih berdiri tegap layaknya prajurit perang.
“Haha, Aldi kamu terlalu memaksakan diri walaupun aku sudah tua, jika kamu membutuhkan uang aku masih mempunyai banyak cadangan uang,” kata kakek Nui sambil tertawa.
Setelah melihat Aldi dan Shie, Kakek Nui berfikir untuk menyekolahkan mereka di Desa ini.
Pendidikan di dunia ini ada 4 tingkat yaitu Sekolah Dasar, Menengah, Tinggi kemudian Puncak. Jika lulus dari pendidikan puncak mereka akan mendapat gelar tambahan yang bisa disematkan dalam namanya.
Sekolah Dasar dapat ditempuh maksimal 6 tahun sedangkan Menengah dan Atas di tempuh masing-masing maksimal 5 tahun sedangkan untuk puncak maksimal di tempuh 4 tahun.
Semua batas maksimal bisa di anggap lulus jika memenuhi semua kriteria dan ujian dari sekolah.
“Sepertinya kalian sudah cocok untuk masuk sekolah Dasar, meski umurmu masih 4 tahun tapi tidak masalah karena tidak ada batasan dalam umur untuk sekolah,” ujar kakek Nui.
“Heh, Sekolah Dasar?” Aldi bingung menanggapi pertanyaan kakek karena dia harus menghasilkan uang.
“Bagaimana denganmu Shie apa kamu sudah sekolah?” Aldi melihat Shie.
“Aku belum sekolah” Shie menjawab dengan mengalihkan pandangannya.
“Bagaimana kalau kita sekolah bersama?” tanya Aldi.
Mendengar itu membuat Shie sangat senang tapi dia berkata “Aku tidak punya uang—"
“Tenanglah aku bisa mengajarimu cara mencari uang yang banyak bahkan bisa membeli telepon," sahut Aldi tanpa memberi kesempatan Shie untuk menjawab lebih lanjut.
“Serahkan padaku soal itu, belajar adalah tugas kalian,” kata kakek Nui.
“Nama lengkap mu siapa Shie? Nanti untuk mengisi formulir pendataran,” tanya kakek Nui.
“Namaku hanya Shie,” jawab Shie dengan bingung, karena dari lahir dia tidak mempunyai nama panjang selain orang lain memanggilnya Shie.
“Baiklah sebut saja namamu Nui Shie,” kata kakek Nui.
Keesokan paginya kakek Nui dan Aldi menghampiri Shie ke panti asuhannya. Setelah kakek Nui berbincang-bincang dengan pengasuh panti asuhan mereka berjalan ke sekolah dasar yang berjarak 20 menit berjalan kaki dari panti asuhan.
Dalam perjalanan Aldi menceritakan pengalaman hidupnya untuk memberi semangat kepada Shie yang dari lahir tidak mengetahui siapa orang tuanya.
Sesampainya di gebang Sekolah Dasar Kebonsari, Aldi dan Shie tercengang melihat gerbang yang cukup besar. Walau selama ini Aldi tinggal di desa dia tidak pernah melihat sekolah dasar ini yang berlawanan arah dengan pasar.
Setelah memasuki sekolah mereka menuju ke kantor pendaftaran siswa. Sekolah ini tidak ada waktu pendaftaran siswa jadi kapanpun siswa siap memasuki sekolah akan mereka terima. Sekolah ini tidak bertingkat, tepi mempunyai murid lebih dari 300 siswa dasar. Sekolah juga mempunyai perpustakaan, karena itu adalah gudang ilmu bagi Aldi.
“Pak, Saya ingin mendaftarkan anak-anak ini dan saya sebagai wali mereka,” terang kakek Nui kepada petugas pendaftaran.
Melihat penampilan mereka yang kurang rapi akhirnya petugas itu menjawab dengan acuh.
“Baiklah, isi formulir ini!” jawab petugas.
Setelah melengkapi semua formulir dan persyaratan kakek Nui membayar pendaftaran masuk 2 koin perak untuk Aldi dan Shie. Serta biaya perbulan adalah 10 Tembaga, itu merupakan tanggungan yang cukup banyak dibanding dengan kebutuhan mereka sehari-hari. 10 koin tembaga bisa untuk makan selama 5 hari bagi Aldi dan kakek Nui.
“Pelajaran di sekolah ini mulai jam 7 pagi sampai jam 12 siang, kalian bisa memilih jam berapa saja kalian ingin masuk tidak ada paksaan untuk pelajaran.”
“Setiap tahun akan ada evaluasi pelajaran jika kalian 2 kali lulus dalam waktu kurang dari 6 tahun maka kalian bisa meneruskan ke jenjang berikutnya.”
“Perlu diketahui semakin kalian belajar kalian akan lulus lebih cepat tapi semenjak aku kerja disini sangat jarang yang bisa lulus hanya dengan 2 tahun kecuali anak-anak genius.”
Mendengar itu Aldi tersenyum kepada petugas itu. Dia tau bahwa pelajaran di dunia ini tidak lebih berkembang dibanding dengan ingatannya, jadi semua pelajaran sudah dia kuasai kecuali sejarah di dunia ini.
Setelah menjelaskan peraturan petugas itu memberikan kartu pengenal murid dan topi sekolah, sebagai atribut tambahan untuk siswa.
“Mulai besok kalian sudah menjadi murid silahkan datang jika ingin mengikuti pelajaran,” kata petugas itu
“Baik pak, terimakasih,” Aldi dan Shie menjawab dengan serentak
Dalam perjalanan pulang mereka bertiga mengobrol tentang Sekolah Dasar Kebonsari yang bagus. Melihat Shie yang tampak murung.
“Kenapa kamu tidak senang?” Aldi berkata sambil melihat Shie disebelahnya.
“Tidak, hanya saja bagaimana caraku membayar?” jawab Shie.
“Tenanglah mari ikut aku ke rumah akan aku ajarkan cara mencari uang ... " kata Aldi dengan percaya diri
Melihat itu kakek Nui hanya tersenyum melihat pertumbuhan Aldi yang semakin dewasa, walau umurnya belum genap 5 tahun. Dia tidak membatasi apa yang dilakukan Aldi karena itu merupakan proses belajarnya.
Sesampainya di rumah Aldi mengajak Shie untuk melihat kebon miliknya yang dia rawat sejak 2 tahun yang lalu.
“Ini sumber uang kita,” kata Aldi sambil membentangkan tangannya di kebun.
“Kamu merawat semua ini sendiri?” kata Shie yang bingung melihat kebun yang banyak tumbuhan hijau.
“Tentu, makanya mari bantu aku mengurusnya,” kata Aldi.
Shie terdiam sebentar kemudian berkata, “Baiklah, bagaimana caraku merawat ini?.”
“Datanglah setiap hari jam 5 pagi, aku akan mengajarkan semua yang aku tahu dan akan memberimu uang saku setiap penjualan,” jelas Aldi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Kav
Aku pengen kek Aldi jadinya
2023-10-12
0
seneng moco
👍
2022-06-24
0
Semau Gue
..oooO..............
...(....).....Oooo...
....\..(.......(...)....
.....\_).......)../.....
...............(_/......
next
2022-06-17
1