Perjalanan ke kota Pare sangatlah singkat tidak berasa sudah 6 bulan berlalu. Tibalah Aldi disebuah gerbang masuk yang sangat tinggi dan megah bertuliskan 'Selamat Datang Pare'. Untuk masuk ke kota kita harus melapor dan membayar biaya masuk. Jika itu adalah pedagang maka akan dikenakan biaya masuk 20 tembaga, sedangkan untuk orang dewasa 10 tembaga dan anak-anak 5 tembaga.
Selama 6 jam kakek Nui dan Aldi menunggu di gerbang masuk, akhirnya tiba juga dia di barisan depan. Kakek Nui memberikan 20 koin tembaga, 15 tembaga untuk pendaftaran masuk sedangkan 5 tembaga untuk membeli buku panduan kota yang dijual di gerbang masuk. Buku panduan kota memuat banyak hal seperti peta kota bahkan sampai banyaknya pasar yang ada.
Setelah menerima buku panduan Aldi langsung membacanya ditempat, karena dia sering membaca, ingatannya menjadi sangat baik. Perjalanan ke tujuan Kakek Nui ditempuh 7 hari jalan kaki. Sekian lama berjalan akhirnya mereka sampai di tujuan sebuah desa yang bernama Kebonsari. Mereka berjalan ke arah sebuah rumah yang kurang terawat.
“Kakek, ini rumah siapa?” tanya Aldi.
“Ini rumahku dulu waktu muda” jawab kakek Nui dengan ekspresi seperti bernostalgia.
“Kita akan tinggal disini sangat lama jadi biasakanlah dirimu!” lanjut kakek Nui.
Ketika mereka masuk keadaan rumah penuh debu. Melihat ada sapu yang tampak kusut tak terawat Aldi mengambilnya dan membersihkan sebaik mungkin rumah yang akan di tinggali ini. Besar rumah ini tidak lebih besar dari kamar Aldi yang dulu.
Sekian lama membersihkan dengan sapu, keadaan rumah sudah mendingan. Dia meminta kakek Nui untuk beristirahat sedangkan dia akan keliling desa.
Ketika mengelilingi desa Aldi sadar bahwa banyak hal yang berbeda dari hutan yang pernah ia tinggali. Kayu bakar bisa di cari di hutan dekat desa, tapi ada penjual kayu bakar dengan harga 1 tembaga. Tibalah dia sebuah toko yang menjual segala macam bahan makanan dan peralatan rumah tangga.
“Apakah ada kain untuk lap” tanya Aldi kepada penjual toko.
“Tentu ada, disini ada semua jenis barang yang kamu butuhkan, Nak” jawab penjual toko dengan nada yang sopan.
“Berapa harganya?" kata Aldi.
“1 koin tembaga setiap kain lap,” jawab pemilik toko
Aldi mencari lagi bahan-bahan apa saja yang di butuhkan seperti beras bahkan dia membeli sayuran serta membeli obat-obatan tradisional.
“Totalnya 21 tembaga, Nak” kata penjual toko
“20 tembaga saja gimana, Pak? saya jamin akan sering ke toko ini kok," dengan senyum ramah Aldi menawar karena dia hanya mempunyai uang tembaga sebagainya 20, sedangkan 1 perak dia berencana untuk mengembangkannya.
“Baiklah, untuk anak baik sepertimu aku berikan!” penjual dengan senyum menyetujui tawaran Aldi karena tawarannya masuk akal.
Dalam perjalanan pulang Aldi melihat seseorang anak laki-laki yang sedang bermain di depan halaman. Setelah di perhatikan itu adalah halaman panti asuhan, anak itu berumur sekitar 4 tahun tapi tinggi badannya sama dengan Aldi. Ketika pandangan mereka bertemu aldi dan anak itu saling tersenyum tipis.
Sampainya di rumah kakek Nui, Aldi meneruskan bersih-bersih menggunakan bahan yang sudah dia beli. Aldi bahkan membeli sebuah air minuman yang ada di botol, karena menurutnya air susah dicari. Berbeda dengan harapan, dia melihat Kakek Nui di sebuah lubang aneh. Aldi langsung menghampirinya dengan membawa 3 botol air minum.
“Untuk apa kamu membeli botol minuman?” tanya kakek Nui.
“Karena air disini susah aku pikir kita butuh membeli minum,” jawab Aldi dengan polosnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Aldi kakek Nui menarik sebuah tali. Ketika ada yang datang itu ternyata ember beserta airnya.
“Ini namanya sumur, kita bisa mendapatkan air dari sini” kata kakek Nui
Dengan malu Aldi menjawab, “Hm”. Bisa-bisanya dia lupa bahwa di kehidupan manapun ada sebuah semur.
“Haha," kakek Nui berkata tertawa mengisyarakatkan bahwa Aldi terlalu polos.
Karena di dunia ini belum ada kompor untuk memasak akhirnya dia menggunakan tunggu. Setelah merebus air dan menanak nasi Aldi membuat obat-obatan yang dibuat dari bahan seadanya. Jiwa seorang ilmuan membantu Aldi untuk menyelesaikan obat untuk membantu mempercepat penguatan tubuh.
Aldi membeli bibit tanaman ke toko kemarin yang dia beli sehingga menghabiskan 15 tembaga. Sesampainya di depan panti asuhan dia tidak melihat adanya anak-anak yang bermain sehingga tampak sepi tak berpenghuni.
Ketika Aldi sampai di rumah pagi itu dia mencoba menanam bibit yang dia beli dari toko. Karena halaman rumah kakek yang cukup luas dia membeli banyak bibit. Total ada total 5 jenis bibit yang dibelinya yaitu cabai, kangkung, sawi, jahe, dan kacang. Dengan pengalaman seorang ilmuan jadi dia secara otomatis tahu bagaimana cara terbaik untuk membudidayakan 5 jenis bibit itu.
Setelah 4 bulan berlalu semua bibit tanaman itu sudah bisa di panen. Karena bibit sayuran lebih cepat tumbuhnya dia menggunakannya sebagai makanan sehari-hari agar kakek Nui tidak terlalu sering berjalan keluar rumah. Tanaman cabai yang di tanama membuahkan hasil cabai yang melebihi kebutuhan mereka. Dengan adanya peluang bisnis ini Aldi mulai berfikir untuk menjualnya ke pasar. Rumahnya ke pasar memakan waktu 1 hari penuh berjalan kaki. Sehingga Aldi mencoba membeli sebuah alat transportasi. Akhirnya dia menemukan sebuah sepeda bekas yang di jual seharga 50 tembaga. Sepeda itu berwarna biru mempunyai boncengan dibelakangnya walaupun sudah sedikit berkarat setelah Aldi periksa ternyata masih bagus untuk digunakan. Aldi memutuskan untuk membeli sepeda berwarna biru itu.
“Berapa pak harga sepeda ini?” sambil menunjuk sepeda Aldi bertanya ke penjual sepeda
“50 tembaga, dek sesuai harga yang tertulis” jawab penjual sepeda
“Tidak boleh kurang, Pak? 45 tembaga bagaimana?” tawar Aldi dengan sopan
“Tidak bisa, Dek” tolak penjual sepeda itu
“47 tembaga, Pak?” tawar Aldi sekali lagi
“49 tembaga saja, Dek” jawab penjual sepeda
“Bagaimana kalau 48 tembaga pak”
“Tidak bisa, Dek” kata penjual sepeda
Aldi mulai berjalan menandakan dia tidak tertarik lagi dengan sepeda itu. Setelah beberapa langkah penjual sepeda itu memanggilnya, "Baiklah, 48 tembaga anggap saja hari ini keberuntungan mu dek,” kata penjual sepeda dengan senyumnya yang tampak jahat.
Setelah memberikan 48 tembaga Aldi membawa sepedanya. Dia mencoba untuk mengayunkan sepedanya untuk pertama kalinya. Setelah melewati panti asuhan ternyata ada anak laki-laki itu sendiri tidak ada teman seperti 4 bulan yang lalu. Pandangan mereka saling bertemu dan tersenyum.
Sampai di rumah Aldi berfikir, “Kenapa dia sendiri, 4 bulan lalu banyak anak-anak bermain bersamanya."
“Mungkin mereka sudah diadopsi oleh orang lain," pikiran baik Aldi.
Melihat sepeda di depan rumah kakek Nui bertanya “Kamu membeli sepeda bekas?.”
“Iya, Kek ... saya berfikir membutuhkan transportasi yang lebih cepat," jawab Aldi.
“Baiklah jangan memaksakan diri, kamu masih kecil,” tegur kakek Nui.
“Baik, Kek,” jawab Aldi sambil tersenyum ramah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
isla僕和かわい
typo nih, sumur bukan semur
2024-05-15
0
Sang M
cerita yg penting2 aja yg ditampilkan, Thor... jgn momen2 gak penting ditampilkan.... kalo mau bagus cerita silakan....
2024-04-18
0
Kav
Dia tau caranya survive. Hrus pinter cari uang dan kerja biar gak diremehin ama dunia
2023-10-12
1