Shie melihat kebun dengan banyak tanaman di belakang rumah kakek Nui merasa tercengang.
“Haha, besok pagi – pagi sebelum ke sekolah datanglah kesini” kata Aldi dengan percaya diri.
Sebelum Shie pulang Aldi mengajaknya untuk memetik beberapa sayuran untuk makan mereka bersama kakek Nui. Aldi juga mengajarkan bagaimana cara menyalakan api sampai memasak makanan yang tidak pernah dilakukan Shie selama 6 tahun ini. Dengan antusias Shie mempelajari semuanya dengan cepat sampai akhirnya Shie pun pulang ke panti asuhan.
Dini hari ketika aldi bangun sekitar jam 3 pagi dia melakukan pemanasan dan mengedarkan teknik beladiri nya. Karena peringkatnya baru naik dia harus memperkuat pondasinya agar kekuatan dari peringkat 3 lebih efisien dia pakainya.
2 jam tanpa berasa berlalu.
Jam 5 pagi Shie datang ke rumah melihat Aldi yang sudah basah dengan keringat.
“Apa yang kau lakukan?” Shie bertanya dengan heran.
“Biasa aku setiap hari meregangkan otot ku untuk lebih sehat” jawab Aldi dengan santai.
“Ajari aku” Shie bersemangat untuk belajar.
“Baiklah” sambil tertawa Aldi menjawab.
Setelah 1 jam Aldi terkejut melihat perkembangan Shie.
“Memang jenius beladiri, dengan tubuh naga nya mempelajari ini hanyalah seperti membalik telapak tangan,” dalam pikiran Aldi memuji.
Teknik latihan yang Aldi ajarkan merupakan dasar untuk memperbaiki tubuh. Untuk penggunakan teknik Prinsip Jiwa belum dia berikan karena alasan keamanan. Setelah melatih Shie dia juga mengajarkan cara memanen sayuran di kebunnya.
Ketika jam sudah menunjukkan setengah 7 mereka berangka ke sekolah. Dalam perjalanan mereka membicarakan apa saja yang akan dilakukan di sekolah nantinya. Setelah sampainya di sekolah sekitar jam 7 kurang 5 menit mereka tidak melihat satu orang murid pun.
“Kenapa masih sepi, Pak” tanya Aldi kepada penjaga gerbang sekolah
“Adik baru masuk sekolah hari ini ya? Memang kalau jam pagi banyak yang tidak masuk, mungkin mereka akan datang sekitar jam 9 pagi,” jelas penjaga.
“Kenapa seperti itu?” tanya Aldi dengan bingung.
“Banyak yang bersekolah itu adalah anak orang kaya jadi mereka tidak mempunyai batasan bahkan tata krama, melihat adik yang sangat sopan membuatku sangat senang” kata penjaga sambil memegang kepalanya.
Setelah mendengar pernyataan penjaga itu mereka berdua langsung menuju kelas untuk melihat suasana. Ternyata, didalam kelas ada seorang murid dan guru yang akan memulai pelajaran.
“Murid baru nak? Siapa namamu?” kata pak guru.
“Aldi, kita baru mulai hari ini,” kata Aldi.
“Salam, saya Shie” kata Shie dengan sopan.
Melihat mereka sangat sopan membuat senyum guru itu semakin lebar dan berkata “Silahkan duduk di manapun kalian mau banyak kursi yang akan kosong.”
“Baiklah karena ada 2 murid baru nama saya Anton, mengajar pelajaran sejarah” jelas Pak Anton.
Setelah memulai pelajaran 2 jam penuh mereka bertiga keluar kelas untuk beristirahat.
“Hi, aku Nui Aldi kamu bisa memanggilku Aldi” kata Aldi sambil mengulurkan tangannya kearah siswa yang ada di sebelahnya.
“Alex,” jawab Alex dengan acuh tanpa menjabat tangan Aldi.
Alex segera meninggalkan mereka berdua.
“Seperti yang dikatakan pak penjaga, banyak dari murid disini adalah orang yang tinggi harga dirinya,” kata Aldi melihat punggung Alex.
“Setidaknya dia menjawab pertanyaan," kata Aldi yang masih mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Baiklah lupakan Shie,” melihat ekspresi Shie yang kurang enak dipandang karena sedikit tersinggung.
Ketika istirahat mereka berjalan ke Perpustakaan untuk membaca buku. Aldi mengambil 3 buku sekaligus dan membacanya dengan cepat. Teknik beladiri peringkat 3 sudah bisa mengeluarkan Energi di luar tubuhnya jadi dengan teknik-tekniknya dia dapat mempelajari dan memahami sebuah buku dalam hitungan menit.
Ketika buku ketiga sudah di letakkan nya di meja Shie bertanya dengan heran, “Kau sudah selesai?”
“Iya, aku mencari banyak buku sejarah untuk mengetahui tenang dunia ini,” jawab Aldi dengan tenang
“Aku tidak mengira tenyata dunia ini sangatlah luas bahkan sampai peta pun belum ada yang berani menyebutkan bahwa itu adalah peta lengkap dunia ...”
“Aku melihat banyak informasi ternyata desa kita banyak tertinggal jika dibandingkan dengan kota besar ...”
“Dalam aspek teknologi desa kita hanya mempunyai 1 telepon ...”
“Penemuan Internet dan teknologi komputer berkembang sangat pesat aku yakin dalam 10 tahun itu akan menjadi bisnis yang besar,” terang Aldi.
Tanpa diduga Alex ternyata mendengar pembicaraan Aldi dan Shie.
“Kali ini aku setuju denganmu” kata Alex dengan semangat.
“Tertarik dengan teknologi?” tanya Aldi dengan antusias.
“Aku sangat tertarik dengan teknologi sayangnya sekolah kita belum mempunyai komputer apalagi internet yang terkenal mahal,” jelas Alex.
“Sebenarnya bukan tidak mungkin kita mendapatkan komputer dan internet tapi kita harus pindah keluar desa ini,” kata Aldi dengan senyuman kecil.
“Aku masih belum diperbolehkan oleh orang tuaku untuk meninggalkan desa ini,” kata Alex.
“Heh,” heran Aldi mendengar pernyataan Alex
“Jujur aku masih berumur 7 tahun, jadi aku masih belum cukup berani untuk melihat keluar kota bahkan desa,” dengan wajah khawatir Alex berkata.
“Haha” Aldi tertawa mendengar itu.
Tidak lupa Shie menertawakannya juga. Sebenarnya Shie juga belum pernah keluar desa tapi demi mengejek Alex dia tertawa.
“Jadi selama ini kamu masih mengurung diri di desa ini?” ejek Aldi dengan senyuman.
“Baiklah, lupakan tentang keluar desa aku bisa membawa teknologi itu ke desa jika aku mau tapi masih membutuhkan sedikit waktu,” kata Aldi.
“Benarkah bukankah harga Komputer dan Internet sangat mahal?” tanya Alex yang bingung.
“Untuk saat ini mustahil untuk membawa internet ke Desa tapi bukan mustahil untuk membawa komputer, ” jelas Aldi dengan mengerutkan alisnya.
“Bagaimana kamu membawa komputer ke desa?” Alex bertanya lagi.
“Tentu dengan membelinya di pasar,” jawab cepat Aldi.
“Walau harganya cukup mahal aku masih bisa membelinya dalam kurun waktu 1 bulan akan membawa komputer itu,” dengan percaya diri Aldi menjawabnya.
“Baiklah panggil aku jika kamu mendapatkan komputer itu,” terang Alex.
“Apa kamu mengetahui penjual yang ada di desa lebih tepatnya, orang yang mau menerima barang kemudian dia jual di pasar?” tanya Aldi dengan sedikit bercanda karena jarang seorang anak mengetahui tentang hal ini.
“Tentu aku tau, ayahku adalah penjual yang ada di desa ini dia menjual banyak barang dan bagi penduduk desa yang mau menjual barangnya bisa dia tampung bahkan membelinya,” kata Alex.
“Dimana tempatnya?” tanya Aldi dengan heran.
“Dekat gerbang masuk desa,” jawab Alex dengan santai.
“Apakah mungkin dia adalah penjual toko serba ada?” kata Aldi dengan memegang pundak Alex.
“Iya, aku adalah anaknya," kata Alex dengan ekspresi membanggakan ayahnya.
“Wow sangat kebetulan aku juga sering membeli di toko itu, Baiklah besok aku akan membawa sayuran ku untuk di jual ke paman bersama Shie” kata Aldi sambil melihat Shie.
Tidak disangka Shie masih membaca buku yang dia pinjam pagi itu. Dia mempelajari tentang cara menghitung lebih tepatnya adalah ilmu matematika. Sekolah hari itupun mereka habiskan di perpustakaan. Menjelang sore mereka baru pulang ke rumah.
“Jangan lupa besok datanglah ke rumah,” kata Alex serta melambaikan tangannya di sebelah pertigaan jalan.
“Tentu, aku tidak akan lupa!” kata Aldi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Kav
Orang kaya mikirnya dia bebas
Makanya tata krama cuma ilusi bagi mereka
2023-10-15
0
John Singgih
sekolah ditempat para siswanya tidak punya tata Krama pada gurunya
2022-11-24
0
seneng moco
👍👍👍
2022-06-24
0