Selesai makan malam Anitha langsung membereskan meja makan dan langsung mencuci peralatan siap makan yang kotor. Dia sudah terbiasa dari masih gadis dulu.
Ibunya selalu menerapkan untuk tidak membiarkan piring kotor terhampar di dapur. Kata ibunya, akan ada jin yang turun dari loteng rumah untuk makan sisa makanan kita. Waktu remaja Anitha sangat takut dan jadi terbiasa.
Sementara itu tuan Nan mengajak Jeffy ke ruang kerja. Tak ada nada sabar, tuan Nan langsung bertanya, "Bagaimana Jeff?"
"Aku akui, walau penampilannya biasa saja, dia sangat menarik dan juga cantik," puji Jeffy tanpa menutup-nutupi kekagumannya. Jeffy mengakui Anitha dan sesaat melupakan rasa kesal pada Anitha.
"Hati-hati, kau jangan sampai jatuh pada pesonanya. Aku akan tega membunuhmu," ucap tuan Nan dengan sungguh-sungguh.
"Aku belum gila seperti kalian bertiga!" Protes Jeffy dengan tegas.
"Aku mau pulang, terima kasih padanya. Masakannya walau sangat pedas namun terasa sangat nikmat di lidahku," puji Jeffy tulus.
"Lidahmu bukan lidahku! kau tahukan aku tidak suka makanan terlalu pedas," ucap tuan Nan. Dia yakin Anitha mengerjai lagi.
"Ohh ya aku lupa kau bule turunan yang rewel. Lalu kenapa dia memasak pedas sekali?" tanya Jeffy heran.
"Dia mengerjai aku!"
"Hahahaha, aku senang kau dapat lawan seimbang. Pantas dia bisa membuat hidup kau berwarna. Dia tidak penakut seperti Allea."
"Pulang kau sana!" usir tuan Nansen terang-terangan.
Jeffy akhirnya pulang dan tanpa berpamitan pada Anitha. Anitha sudah merebahkan badan di kasur empuk.
Anitha selintas sempat memikirkan ucapan dan perilaku tuan Nan yang berbeda. Anitha berpikir keras bagaimana cara menaklukkan tuan Nan. Nyonya Allea hanya minta waktu satu bulan ini. Jika gagal betapa disayangkan peluang di depan mata tak jadi miliknya.
Badannya memang letih, namun pikiran Anitha melanglang buana. Hingga dia mendengar ketukan pintu. Dia membuka dan raut wajah tampan tuannya muncul. Anitha tak ada rasa hanya menanggapi semua dengan ringan.
"Ada apa Tuan bertamu ke kamarku?"
"Kamu tidak merasa berhutang maaf pada saya, Anitha?" kata Tuan Nansen dalam. Dia hanya berdiri di depan pintu. Tangan yang kokoh memegang dua sisi konsen pintu kamar Anitha. Ekspresinya sedikit sulit untuk Anitha baca.
"Maaf telah menghabiskan uangmu Tuan," ucap Anitha tak tahu menahu ke mana tujuan tuannya. Membuat tuan Nan gemas seolah-olah dia mudah sekali dikerjai oleh Anitha yang usianya jauh di bawah dia.
"Apa nyonya tidak pernah memberikan info makan apa yang aku suka dan tidak suka?" katanya penuh intimidasi. Namun yang di intimidasi seakan tidak ada respon. Membuat hatinya semakin gemas pada Anitha. Bisa-bisa Anitha tak ada takut sedikitpun
"Ohhh tentang makanan, apa ada yang salah dengan menunya Tuan?" Anitha sudah tanggung bohong yang berdusta saja sekalian. Ibarat kata orang sudah basah ya mencebur saja, berenang sekalian.
"Kamu benar tidak tahu? tanya tuannya memperhatikan mimik muka Anitha. Anitha menggeleng dengan polos.
"Saya tidak terbiasa makan pedas seperti menu yang kamu buat hari ini," kata tuan Nan serius. Andai dia tahu Anitha hanya berbohong, entah hukuman apa yang di dapatnya.
"Maafkan saya Pak, mungkin ada info yang terlewat oleh saya atau nyonya sendiri yang lupa," ucap Anitha sungguh-sungguh dalam akting. Tuan Nan percaya karena dia berpikir bisa jadi Allea yang sudah lupa karena tak ada hati lagi pada dirinya.
"Ya sudahlah kamu kini tahu. Tolong buatkan susu segelas, perutku sedikit sakit," ucap tuan Nan sambil memperhatikan Anitha. Anitha terlihat menyesal dan tuan Nan semakin yakin Anitha tidak tahu. Padahal jauh di dalam hati Anitha dia hanya pura menyesal agar kebohongannya tidak terbongkar. Dia sangat puas menyiksa tuannya.
"Iya Tuan, permisi biar saya buatkan susu hangat. Tunggulah di meja, atau tuan saya buatkan nasi goreng sebagai gantinya. Anitha tahu tuan Nan hanya makan sedikit tadi.
"Tidak usah, susu hangat saja. Hangat ya bukan panas." ucap tuan Nan. Dia tak ingin dikerjai lagi oleh Anitha.
"Ya, awas Tuan dari pintu. Bagaimana saya mau keluar jika Tuan menghambatnya."
Tuan Nan terkejut, dia lupa karena masih ingin menatap Anitha. Tuan Nan semakin mabuk dirasa. Dia pun beranjak dan menanti Anitha di meja dapur. Dia bosan menanti sendiri di ruang makan. Tuan Nan yang tak tahu jenuh kini mulai mengenal kata itu.
***
Pagi hari setelah tuan Nan pergi ....
"Bi, lanjut dulu ya. Aku angkat telepon dari nyonya dulu ke kamar." Sambil menuju kamar Anitha mengangkat telepon yang dia yakin dari nomor nyonya Allea.
"Halo,"
"Halo Anitha ini aku, Allea." Suara tenang nyonya Allea terdengar di seberang telepon.
"Apa kabar Bu?" sapa Anitha dengan hormat.
"Kabar saya baik. Melly katakan, kamu ingin bicara denganku, ada apa?"
"Iya Bu.Saya hanya ingin tahu Ibu tidak melarikan diri dan masih ada untuk saya," gurau Anitha penuh sindiran. Nyonya Allea tergelak.
"Bagaimana, ada kemajuan?" seakan tidak sabar nyonya Allea meminta penjelasan dari Anitha.
"Ada Bu," Anitha tidak ingin memberi info yang dia tahu dari tuan Nan. Dia tidak mau apa yang sudah dikerjakan menjadi sia-sia.
"Apa kemajuannya? Jangan membuatku kecewa Anitha," peringat nyonya Allea.
"Ibu tenang saja, ini baru berapa hari Bu. Seminggu juga belum sampai. Ibu menjanjikan memberi waktu sebulan."
"Oke aku serahkan padamu, sudah aku katakan jauh hari, yang penting bagiku hasil. Jika memang ada kemajuan. Aku sebulan saja di sini. Dengan begitu lebih banyak waktumu menyerang tuan Nansen dengan virus cinta palsu kamu," gurau nyonya Allea penuh tawa.
"Terserah ibu mana yang bagus menurut Ibu saja. Hanya saja Ibu yakinkan tidak berubah pikiran? Jangan nanti sia-sia saja usaha saya Bu," tanya Anitha meminta kepastian sekali lagi.
"Kenapa kamu takut aku berubah pikiran? Apakah kamu jatuh ke dalam perangkap pesona Nansen sendiri?" tanya nyonya Allea penasaran.
"Jelas aku takut Bu, namun bukan soal jatuh pada pesona tuan Nan . Aku lebih takut kehilangan janjimu yang aku harapkan untuk masa depanku," jujur Anitha.
"Hehehe, kamu begitu jujur dengan keinginan hatimu. Aku semakin takut padamu," kata nyonya Allea dengan tawa yang lembut.
"Takut kenapa Bu?"
"Takut dengan ambisi dirimu. Jika kamu berhasil entah jadi apa kamu nanti. Bisa jadi kamu lebih sukses dari saya.
"Aamiin. Kita lihat saja Bu, aku tak bisa muluk- muluk sekarang. Semua masih dalam proses, Bu."
"Kamu tidak ingin tahu aku ke mana?" tanya nyonya Allea ingin tahu pribadi Anitha.
"Saya cukup tahu etika Bu, tidak urusan saya Ibu mau ke mana," ucap Anitha dengan santai.
"Heheh kamu memang menarik ya Anitha, aku berharap kamu berhasil dan aku bisa menikahi kekasih yang paling aku cinta," ucap Allea.
"Aku putus ya sambungan telepon, aku ingin memasak makan siang untuk kekasihku," ucap Allea bangga.
"Apa Bu? Masak?" tanya Anitha tak percaya.
"Iya masak." Nyonya Allea memutuskan panggilan sepihak.
Anitha jadi berpikir jika nyonya Allea tidak bersama teman biasa, namun itu bukan urusannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Whiteyellow
like
2021-07-02
2
Fitriani
rumah tangga yg lucu padahal sama2 enda cinta tapi tetep dipertahankan cuma gara2 harta
2021-04-07
1