Anitha bangun dan melakukan shalat subuh. Dia berkemas dan menuju lobi hotel. Dia meninggalkan lobi hotel dan mencari taksi menuju bandara Sultan Syarif Kasim.
Anita mencari tiket langsung di bandara saja. Kini tiket sudah di tangan dan sejam lagi dia akan check-in. Anitha mencari sarapan di lantai dasar bandara. Dia memesan segelas kopi krimer dan memakan sepotong roti tawar.
Anitha memandang jauh ke luar, seakan ingin menembus batas dunia. "Selamat tinggal uda. Selamat tinggal ibu. Maafkan anakmu yang pergi tanpa pamit. Aku akan menjemputmu ibu, dan memaksamu ketika aku sudah berhasil di sana. Akan aku tebus kesalahanku hari ini padamu," ucapnya berlinang air mata.
Anitha tak perduli jika orang melihat dengan aneh.
Anitha menghabiskan minum. Dia mulai melangkah menuju ruang tunggu. Pesawat akan berangkat membawa diri jauh dari ibu. Dari masa lalunya. Di pesawat Anitha hanya memejamkan mata tanpa dia tertidur.
***
Bandara Soekarno-Hatta
"Hello Jeng, aku sudah sampai di Jakarta."
"Kamu naik taksi saja ya, aku kirim alamat yang dituju." Ajeng tak bisa menjemput Anitha.
"Ya."
"Di rumah ada bibi. Istirahatlah dan anggap rumah sendiri."
"Makasih ...." Anitha kembali meneteskan air mata.
Setelah mendapatkan taksi, Anitha naik dan memberikan alamat yang akan dituju. "Pak saya minta tolong antar ke alamat ini," ucap Anitha memperlihatkan pesan Ajeng.
Supir taksi melihat sekilas ke arah Anitha lalu memperhatikan alamat yang tertera. "Baik Nona. Maaf, Nona pertama kali ya ke Jakarta?" Sang supir yang diperkirakan sudah seumuran mendiang ayahnya bertanya dengan sopan pada Anitha sambil mulai mengemudikan taksi.
"Iya benar Pak." Anitha tidak su'uzon dan menjawab jujur.
"Nona dari mana?"
"Padang Pak." Anitha menyebutkan kampungnya.
"Ohhh ... Maaf bapak bertanya bukan mau ikut campur urusan Nona. Hanya saja hati-hati di kota besar Non.
"Panggil Anitha saja Pak," Anitha merasa nyaman dan memberikan namanya.
"Baiklah Nak." Bapak tersebut merubah panggilan non menjadi nak kepada Anitha. Membuat hati Anitha semakin nyaman. Anitha teringat kepada kelembutan sosok ayahnya.
"Bapak asli sini?" tanya Anitha akhirnya ingin tahu.
"Bapak orang perantauan Nak, Bapak asli Solok."
"Asli Solok?" Anitha bertanya kembali memastikan.
"Iya, kenapa Nak?"
"Ayahku orang alahan panjang Pak." Anitha menjelaskan lebih detail.
"Bapak juga dari sana Nak. Bapak punya sahabat di sana dulu, sahabat dari SMA. Kami sangat dekat, hanya saja sejak kami tamat SMA, kami tidak pernah berjumpa lagi. Bapak merantau ke sini. Dulu bapak ada beberapa kali komunikasi dengannya. Sejak lima tahunan belakangan ini sama sekali tak ada lagi. Nomor ponselnya hilang karena bapak kehilangan ponsel."
Anitha hanya diam termenung, ucapan bapak supir tidak tahu harus berkomentar apa. Sampai indra pendengarannya menangkap satu kalimat. "Maaf kalau boleh bapak tahu siapa nama orang tuamu Nak, terutama nama ayahmu?"
Anitha mengikuti kata hatinya. Bapak yang ada di depannya bukanlah orang jahat. Dia menyebutkan nama orang tuanya, "Nama ayah Monsir, Pak, ibu saya bernama Asnari."
"Nama lengkapmu apa Anitha Putri. Kamu anak semata wayang bukan," ucap bapak tersebut tanpa keraguan.
Anitha tak bisa memungkiri dia terkejut. "Bapak mengenal ayah saya? Apakah teman yang bapak ceritakan tadi adalah ayah saya?" Anitha langsung merangkaikan semua jalan cerita tadi.
"Kamu pintar, persis yang ayahmu ceritakan pada bapak," ucap si bapak memuji Anitha.
Anitha tidak langsung besar kepala. Dia malah menyahuti dengan merendah. "Terima kasih Pak, saya hanya tidak bisa memikirkan pertanyaan lain. Jadi benar bapak teman ayah saya?"
"Iya Nak, ayah kamu tamat SMA XX bukan?"
"Iya Pak."
"Ayahmu, jika kami bertukar cerita selalu menceritakan kamu, dia katakan kamu anak yang cerdas dan berprestasi. Walau kamu anak tunggal tidak membuat kamu menjadi anak yang manja. Padahal ibumu sangat memanjakan."
"Ah ayah bisa saja ya Pak, padahal banyak anak yang lain jauh cerdas dari aku Pak," Anitha kembali merendah.
"Apa yang dikatakan ayahmu benar, setelah berjumpa langsung denganmu bapak bisa menilai kamu memang anak yang cerdas." Sahabat ayah Anitha kembali memuji dirinya.
"Duh Bapak ... bisa-bisa aku lupa diri," Anitha berucap dengan setengah bercanda.
"Jadi apa kabar ayahmu Nak, bisa bapak nanti meminta nomor kontaknya."
Anitha berusaha menenangkan hati. Sekelebat luka kembali melintas di pelupuk mata. Dia berusaha untuk tegar. "Ayah sudah duluan Pak, beberapa bulan yang lalu," katanya dengan suara sendu. Matanya langsung terlihat berkaca-kaca.
Tanpa sadar supir yang ternyata sahabat dekat ayah Anitha memelankan laju mobil untuk sesaat. Dia terkejut mendapat informasi dari anak sahabatnya ini. Tak butuh waktu lama, beliau menormalkan kecepatan mobil kembali sesuai rata-rata di jalan tol.
"Maaf Nak, bapak sungguh tidak menyangka. Sakit ayahmu Nak?"
"Iya Pak, ayah terkena diabetes dan komplikasi di hati. Ayah sempat dirawat di ruang ICU. Tapi saat ayah masuk rumah sakit semua normal Pak, hanya ayah sedikit sesak napas." Anitha menjelaskan keadaan saat ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa.
Mereka terdiam dengan jalan pikiran masing-masing. Jika sahabat ayah Anitha mengenang ayah Anitha. Anitha justru memikirkan suami yang masih dicintainya.
Masih menari-nari dengan jelas dalam bayangan Anitha saat dengan mudah suaminya mengusir. Seperti tak ada harga waktu tiga tahun rumah tangga yang dijalankan, belum lagi 2 tahun masa-masa pendekatan.
Anitha tak habis pikir apa yang terjadi sebenarnya, kenapa setelah tiga bulan menikah Sahrul menjadi pribadi yang berbeda. Anitha sudah berusaha bertanya di mana salah dia. Jika memang kesalahan ada di Anitha. Dia berjanji akan memperbaiki sikap yang tidak di sukai suaminya, tetapi Sahrul tak pernah bisa menjawab apa yang salah pada Anitha.
Anitha sudah menuruti sesuai yang diinginkan Sahrul. Tidak boleh berkarir cukup di rumah, mengerjakan apa yang harus dikerjakan oleh istri.
Anitha dulu tak pernah membantah apa yang diminta oleh suaminya. Walaupun badan terasa penat dia tak pernah mengeluh. Dia merasa suaminya tentu lebih lelah.
"Wajahmu mirip dengan ayahmu semasa SMA Nak." Ucapan sahabat lama ayah membuyarkan lamunan Anitha.
"Iya Pak, banyak yang bilang begitu jika mengenal ayah semasa mudanya."
Kini mereka sampai di alamat yang tertera, di rumah Ajeng. "Simpan nomor bapak ya Nak. Telepon bapak kapan kamu membutuhkan bapak. Jangan sungkan meminta bantuan pada bapak." Sahabat ayahnya seakan tahu Anitha sedang berada dalam masalah. Wajah sedih dan mata sembab Anitha merupakan petunjuk bagi orang tua itu yang sudah banyak makan asam-garam dunia.
Kesungguhan yang terasa sampai di relung hati Anitha membuatnya tak bisa menahan tangis. Beban yang dia rasa seakan berkurang dengan berjumpa sahabat ayahnya yang dia rasa menemukan kembali sosok ayah. Dia merasa seakan tidak sendiri lagi di kota besar ini.
"Iya Pak, aku akan menelpon Bapak. Terima kasih, sudah mengganggap aku seperti anak sendiri." Sambil terisak Anitha berucap dan menyalami serta mencium punggung tangan sahabat ayahnya dengan hormat.
"Sudah ... jangan menangis, bapak tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Sekarang yang penting kamu harus semangat dan bisa bangkit untuk tersenyum," katanya sambil mengusap kepala Anitha dengan sayang.
Anitha mengangguk dan turun dari taksi. Tak lupa dia melambaikan tangan kepada ayah angkatnya. Setidaknya itulah yang Anitha anggap untuk sahabat dekat ayahnya.
Dia kembali menolehkan kepala melihat ayah angkatnya yang mulai menjalankan taksi dan mulai perlahan menjauh dan hilang dari pandangan mata. Kembali air mata turun membasahi pipi putihnya. "Ayah ... aku berjumpa sahabat ayah. Sehingga aku merasa ada tempat untuk mengadu selain kepada Tuhan." Anitha berujar di dalam hati.
Dia mulai melangkah menuju rumah pintu Ajeng. Dia membuka pagar yang walau minimalis tetapi terkesan mewah.
***/
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Farhah Ali basebe
😭😭kenapa baru mulai udah bikin Nangis😭😭
2023-05-10
1
Tk Shoes
wihh gk bener ah ini crt,, msa pagi hari dah dibikin mewek 😢
2021-06-06
0
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
baruc2 like aku mampir kak
salam dari dokter tampan dan putri mafia
2021-04-16
1