"Wooow indah sekali tempat ini serasa pemandangan di Bali," ucap Anitha tanpa menutupi rasa kagum akan suasana tempat makan yang dipilih tuan Nansen.
"Kamu pernah ke sana?" tanya tuan Nansen.
"Tidak pernah," kata Anitha tersenyum lucu. Dia senang bisa ngerjain tuan Nansen.
"Wanita satu ini. Dia mengerjai aku lagi," batin Tuan Nan kesal. Niatnya mau menyenangkan hati wanita malah wanita itu bersenang-senang mengerjainya.
Mereka memilih duduk berseberangan. Tuan Nan sengaja, dia ingin menikmati wajah dan tingkah laku Anitha yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Semua tak terbayar walau pundi-pundi tuan Nan selalu berisi.
"Kamu mau pesan menu apa?" Tuan Nan semakin kesulitan untuk menahan hati untuk bersikap seperti beruang kutub.
"Apa yang ___ Anitha diam-diam melirik kanan-kiri yang diikuti dengan pandangan heran tuan Nan, Anitha tak meneruskan ucapannya. Tuan Nan spontan mengikuti arah lirikan Anitha.
"Apa yang Mas makan aku ikut saja," ucap Anitha manja, membuat tuan Nan terbatuk kecil.
"Dua kali sudah dia mengerjai aku. Besar juga nyalinya. Padahal waktu jumpa pertama dia terlihat takut walau bibir seksinya tidak bisa di filter." Tuan Nan hanya terdiam dan berkata dalam hati saja.
"Mas ... mau makan apa?" Anitha membalikkan pertanyaan kepada tuannya.
Tuan Nan mencondongkan wajahnya sedikit lebih maju dan berkata, " Kamu ditanya, balik tanya. Berani sekali kamu," ucap tuan Nan tertahan.
"Aku tidak berniat banyak tanya. Pokok masalah, aku tak tahu makanan aneh. Aku tahunya singkong keju, ucap Anitha dengan mimik wajah yang sangat lucu mengakui kekurangannya.
Anitha mengatakan itu juga dengan berani memajukan wajah, sehingga jarak di antara mereka semakin dekat. Jika Anitha acuh saja, lain hal dengan tuan Nan. Jantungnya sudah berdebar kencang namun ego lelakinya lebih besar. Dia tak mau terlihat grogi oleh ulah Anitha.
Perkataan Anitha yang terus terang bisa menjadi alasan bagi tuan Nan untuk menutupi debar di hatinya. "Jadi kamu tidak hanya wanita boneka, ternyata juga wanita kampung yang mau berani mengambil keuntungan dariku dan juga istriku?" ucapnya dengan mengejek.
Bukannya sakit hati dan pasang wajah yang cemberut seperti wanita kebanyakan, jika dihina. Anitha dengan tenang malah menjawab, "Tentu, jika itu bisa menguntungkan diriku," ucapnya dengan percaya diri.
Akhirnya tuan Nan mengalah, dari pada mendebat gadis yang kelihatannya saja lembut. Namun berani padanya. Tuan Nansen memesan minuman mocktail dan cocktail tanpa alkohol dan satu porsi iga bakar ditambah 2 paket fortune lotus.
Ketika hidangan datang Anitha menyantap dengan perlahan. Semua tak luput dari pantauan tuannya. Kagum, ya itu yang tidak bisa dipungkiri oleh tuan Nan. Wanita yang tadinya berbisik tak paham menu di sini. Lalu dengan cepat berganti peran seperti sudah sering ke tempat ini dan makan dengan elegannya. Suap demi suap dimasukan ke dalam mulut mungil dan tanpa berbunyi.
"Wanita macam apa kamu Anitha, kamu seakan punya kepribadian ganda," lagi-lagi tuan Nan bertanya-tanya dalam hati.
"Tuan tidak makan? atau Tuan mau saya makan? Maksud saya, hidangan Tuan mau saya makan," ucap Anitha tanpa rasa bersalah.
"Berani kamu mau makan saya?" kata tuan Nansen penuh pesona. Sayang tidak berarti di mata Anitha. Anitha hanya memberikan cengiran khasnya.
Anitha sedang menikmati minuman mocktail-nya. Dia tahu tuan Nan sering mencuri pandang padanya. Namun dia abaikan seolah dia tak tahu.
"Wanita Bone ___"
"Panggil Anitha, namaku Anitha Putri." Anitha menyela. Lama-lama dia geram juga tuannya memanggilnya wanita boneka.
"Putri Boneka," ucapnya setengah tidak bisa menahan senyum memberi gelar baru dari nama akhir Anitha. Tuan Nan sangat senang hati melihat Anitha geram.
"Apa yang mau Tuan katakan tadi?" Anitha bertanya.
"Kamu bisa pulang ke tempat ibumu, tapi hanya berkunjung dan aku yang mengantarkan kamu langsung. Jaga-jaga supaya kamu tidak melarikan diri," kata-kata tuan Nan tidak ada candaan di dalamnya.
Anitha tentu tak ingin membuang kesempatan berharganya. Ditelisik lebih dalam wajah tuannya, sehingga membuat tuan Nan jengah sendiri. Anitha mewaspadai mimik muka dan ucapan tuannya. Dia tidak ingin sampai dikerjai oleh tuannya. Dia juga tidak ingin masuk jebakan seperti dulu lagi. Anitha memasang mode siaga. Pandangannya menajam seakan ingin membelah tengkorak tuan Nan. Mencari tahu isinya.
Tuan Nan yang memperhatikan reaksi Anitha hanya bisa membatin, "Sewaspada itukah dirinya dengan tawaran dan bantuan seseorang. Apakah sudah menjadi sifatnya atau pengalaman hidup yang membuatnya jadi seperti ini."
Tuan Nan belum mengetahui. Anitha dulu tidak seperti itu, dulu dia gadis yang polos. Walau cerdas dia lebih suka berpikir positif pada sekelilingnya. Perbuatan sahabat karib yang akan menjualnya telah menghancurkan dinding-dinding hati yang polos.
Tuan Nansen sudah banyak mengenal tipikal dan karakter orang dari hubungan bisnis. Di matanya wanita yang terlihat polos ini justru bisa jadi predator yang berbahaya jika situasi tidak memungkinkan. Satu-satu yang kurang dari wanita di depannya ini hanya kekuasaan.
Tuan Nan jadi paham kenapa Anitha begitu ingin uang dalam hidupnya. Jika prediksi tuan Nan benar, dia ingin punya kekuasaan. Sehingga dia bisa mengendalikan lingkungannya bukan sebaliknya. Secara sadar tuan Nansen akan mewujudkan hasrat terpendam wanita di depannya. Entah itu akan baik pada akhirnya atau sebaliknya, tuan Nan berjanji dalam hati akan selalu ada untuknya.
"Eheeem ... mau tidak?" ucap tuan Nansen memecah keheningan yang tercipta karena dua insan berlainan jenis mencoba saling menyelami perasaan.
"Bodoh sekali kalau saya menolak anda Tuan," jawab Anitha dengan memamerkan senyum manis.
"Ok, kita cari waktu yang tidak merugikan diriku," ucap tuan Nansen tetap menyombongkan diri.
***
"Halo Bu, ini nomor Anitha ya Bu."
"Iya Nak ibu simpan, kamu sudah gak masalah Nak menggunakan ponsel?"
"Iya Bu, tuan yang menjamin."
"Syukurlah, jadi kapan kamu bisa pulang Nak?"
"Ibu tunggu dulu ya, aku sebulan ini masih sedang ada kerjaan. Bukan hanya sebagai asisten Bu tapi sebagai sekretaris tuan" Anitha tak sepenuhnya berbohong. Dia sibuk mengerjakan tugas yang diberikan nyonya Allea..
"Iya ibu akan sabar Nak."
"Bu bisa aku minta kirimkan nomor ponsel mbak Melly? Aku mau minta nomor bu Allea sama mbak Melly, tadi mau minta sama tuan aku tidak enak hati, Bu."
"Akan ibu kirim begitu kamu memutuskan sambungan telepon Nak."
"Oke kalau begitu aku tutup ya Bu, aku ada perlu sama bu Allea. "
Tak lama, "Hallo Mbak, ini aku, Anitha. Ini no ponselku Mbak."
"Heiii ... apa kabar Adek sayang mbak yang cantik."
"Aku baik Mbak, aku mau minta nomor bu Allea, Mbak."
"Wow fantastis, sepertinya misi kakakku akan berhasil di tanganmu. "
"Jadi Mbak tahu juga kegilaan kakak Mbak?" Anitha berucap tanpa di pikir panjang. Begitu berani dia mengucapkan kata kegilaan untuk nyonya Allea.
"Ya tahu, jadi bagaimana? Ada kemajuan tampaknya?"
"Mudahan Mbak. Kirim nomor bu Allea Mbak, atau Mbak yang tolong hubungi bu Allea. Minta bu Allea menghubungi saya Mbak."
"Oke, besok siang saya suruh kakak saya hubungi kamu."
"Ya Mbak besok siang saja, lebih aman. Sekarang tuan ada di rumah."
"Oke."
Tanpa Anitha tahu tuan Nansen mendengar semua percakapan Anitha. Satu yang buat dia tersenyum Anitha dengan berani mengatakan kegilaan nyonya pada adik sang nyonya.
"Anitha ... Anitha ... aku tidak sabar apa yang akan kau lakukan untuk mewujudkan misi katamu itu yang jelas-jelas aku yang pegang kendalinya," batin tuan Nansen, sambil melangkah tanpa meninggalkan suara tapak kaki yang beradu menyentuh lantai.
***/
Daku lelah bersedih di novel sebelah, daku ingin senang-senang di sini. Karena ada komen yang tiba-tiba buat daku semangat. Semoga resekinya lancar ya mbak😇
Jangan lupa dukung ya readersku sayang, LiVoRa 🙋💃💃💃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Lestari Upin
asyik cerita nya ...🥰
2023-07-05
0
Nana Bati
semangat thor... selesaikan ceritanya dgn ending yg menyenangkan, abaikan komentar fals👍👍👍😊
2023-01-13
0
Astri Tri
smoga gk ngbosenin sampai tamat, dri awal baca sampai skrng aku msh smngt baca ny
2021-11-09
1