Tuan Nan masih setia berdiri tanpa disadari oleh Anitha. Anitha tetap fokus. Dia telah selesai masak saat tuan Nansen sampai di dapur. Anitha sedang membersihkan perkakas yang telah di digunakan.
Lima belas menit sudah tuan Nan rela berdiri menunggu Anitha selesai membersihkan dapur.
Lalu saat selesai, masih menghadap ke wastafel dia menjentikkan jarinya, ok selesai. Tinggal menunggu panggilan Nansen Adreyan tercinta itu," ucapnya dengan berani tanpa berpikir panjang. Bisa saja tuan Nan mendengarnya seperti yang terjadi sekarang.
"Hemmm ternyata dalam diam kau mencintaiku?" katanya serius. Padahal dalam hati dia tertawa melihat kelakuan Anitha yang pura-pura mengatakan tercinta. Tuan Nan tahu itu hanya perumpamaan saja oleh Anitha.
Anitha langsung terjengkit dan membalikkan badan. Terlihat tuannya dengan tangan melipat ke dada dan bersandar santai dengan wajah yang Anitha tahu pura-pura serius.
"Apakah kamu benar sudah jatuh cinta padaku?" godanya lagi.
"Mimpi saja kamu Tuan."
"Aku tidak tidur bagaimana aku bisa bermimpi," dia membalikan kata Anitha kemarin. Tuan Nan memandang Anitha lekat. Terlihat butiran-butiran halus keringat di dahinya. Andai sudah menjadi wanitanya ingin tuan Nan menghapus.
"Ada apa Tuan ke dapur?" Anitha dengan lihai mengalihkan pertanyaan tuannya.
Tuan Nan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bisa tambah besar kepala wanita di depannya. Dia ingin simpati dan empati Anitha yang lebih besar.
"Saya ingin memastikan kamu sudah selesai masak atau belum. Jika tidak siap, saya bisa memesan dari restoran ternama. Saya tidak ingin malu pada teman saya karena punya asisten yang mengandalkan rupanya saja," ucap tuan Nan dengan santai namun sengaja memancing emosi Anitha.
Anitha paling tidak terima jika di katakan mengandalkan rupanya saja. "Tuan tidak usah takut. Saya bisa pastikan bukan rupa saya yang jadi andalan. Tuan tahu, karena kalimat itu takut tersemat padaku, dari kecil aku sudah berusaha mati-matian. Jadi jangan menggunakan itu lagi. Saya benar ingin meninju wajah orang yang mengatakan kalimat itu."
"Hahahaha ...." tuan Nan tak bisa menahan tawanya melihat emosi Anitha meluap dan ingin meninju dengan jari-jari tangannya yang lentik.
"Apakah Tuan ingin mencicipi sekarang?"ujar Anitha menahan kesal dan membuat tuan Nan tersenyum mematikan. Ada seringai licik yang dilihat Anitha, Anitha sadar ada katanya yang ambigu.
Belum sempat dia mengklarifikasi ucapannya tuan Nan telah duluan buka suara, "Jadi di mana bisa saya mencicipinya, di sini, sini atau sini," ucapnya sambil menunjuk dahi, pipi dan bibirnya.
"Gak lucu Tuan, maksud saya cicip masakan.Tuan punya pikiran jangan negatif saja," ucap Anitha mengalihkan maksud mencicipi tadi dengan sewot.
"Mana minuman sore saya?" ucapnya tak bisa menahan senyum melihat kekesalan Anitha.
"Maaf Tuan besar yang terhormat, Tuan diberi mata yang indah, tajam dan jernih. Apa Tuan tidak bisa melihat sudah saya letakkan di meja kesayangan Tuan," ucap Anitha penuh penekanan.
Tuan Nan ingin kembali terbahak mendengar ejekan Anitha. Namun dia tidak ingin terlalu banyak ketawa untuk saat ini. Dengan santai tuan Nansen melenggang ke meja makan. Di sana sudah tersedia susu coklat dan kue.
Dia menyesap susu coklat buatan asisten palsunya. "Hmmm ...." rasa hangat menjalar ke seluruh aliran darahnya.
"Dulu sewaktu Allea yang membuatkan tidak begini rasa hatiku," batin tuan Nan.
Namun karena rasa yang tak ada. Tidak membuat hati keduanya menyatu. Di mata tuan Nan, Allea selalu tak ada yang menarik selain tampilan fisiknya. Allea yang sudah berusaha mati-matian akhirnya memilih menyerah dan melabuhkan hatinya pada pria yang tanpa sengaja dikenalnya dua tahun lalu.
Tuan Nansen bukan bersikap tidak baik. Dia juga sudah berusaha untuk membuka hatinya yang seolah tergembok rapat. Namun dia tak berhasil menemukan di mana dia meletakan anak kunci untuk membuka.
Kini dia baru menyadari anak kunci ada pada Anitha. Anitha yang seakan polos dan manja namun bersembunyi dibalik sifat jahil dan tegar. Anitha yang tidak hanya mengandalkan rupa, Anitha yang tidak elegan namun sanggup memporak-porandakan hati seorang keturunan Andorra.
Tuan Nan meninggalkan meja makan tanpa memandang ke Anitha yang sengaja berdiri tak jauh dari tuannya. Setelah diyakini tuan Nan tidak akan memanggil lagi, Anitha membereskan meja dan berniat hendak membersihkan diri. Sebentar lagi jam makan malam akan tiba dan tuannya mengajak temannya makan malam.
Tuan Nan lagi-lagi melihat dari lantai atas, suatu kebahagiaan sendiri baginya melihat Anitha bergerak lincah di bawah sana.
***
Malam hari ....
Ting tong ... ting tong ... ting tong ... ting tong ... ting tong .... terdengar bunyi bel yang semakin cepat. Seakan yang menekan bukan orang sabaran, atau tepatnya kurang etika bagi seorang Anitha Putri.
Anitha yang sudah menyiapkan hidangan di meja makan dan telah berpenampilan bersih. Walau bukan baju limited edition atau baju yang mempunyai brand ternama namun penampilan yang hanya menggunakan baju kasual tetap memiliki karisma tersendiri baginya dan bagi orang yang melihat.
Anitha membukakan pintu dan mulut kritis tidak bisa di saring, "Maaf anda cari siapa Tuan? dan tidak bisakah anda lebih sopan dalam menekan bel?? Apa perlu saya yang mendidik anda Tuan nan rupawan?" ucap Anitha pedas tidak perduli siapa yang datang.
Jeffy hanya bisa terperangah mendengar semburan Anitha, walau nadanya lembut namun kata-kata yang dilontarkan sungguh kejam. Senyum maut yang hendak dia pamerkan pada Anitha langsung hilang. Dia hanya terdiam.
"Kenapa membisu Tuan? Apa bibirmu jadi kelu karena suara bel yang anda tekan sendiri?" ucap Anitha makin membuat Jeffy terperangah.
"Hahahaaa," terdengar tawa yang membahana di belakang Anitha. Anitha sampai terkejut tidak menyangka tuan Nansen ada dibalik punggung.
"Kena kau?" kata tuan Nansen penuh kepuasan.
"Sialan kau," umpat Jeffy.
"Tuan bahasanya bisa diperhalus tidak, menodai indera pendengaran," kata Anitha kembali saat mendengar Jeffy mengumpat. Kembali Jeffy melongo dan tuan Nan memuaskan hasrat tawanya.
"Masuklah," kata tuan Nan.
Anitha bergeser secara tidak langsung mempersilakan Jeffy masuk.
"Ohhh yaa, kenalkan Jeff, ini Anitha dan Anitha ini Jeffy. Tidak pakai salam-salaman," selanya ketika Anitha dan Jeffy hendak bersalaman.
"Hmmm," Anitha dan Jeffy seakan kompak untuk mendehem.
Anitha melihat sisi lain dari tuannya. Ternyata tuannya bisa lebih membuka diri pada temannya yang baru diketahui Anitha bernama Jeffy.
Anitha hendak meninggalkan meja makan. Baru selangkah menjauh dari meja makan, terdengar tuan Nan berkata dengan lembut. Nada lembut yang Anitha sadari bukan dibuat-buat. "Kamu mau ke mana, mari kita makan bersama dan jangan menolak di depan temanku."
Tidak hanya Anitha yang heran, Jeffy jauh lebih keheranan dengan nada tuan Nan. Tanpa ada yang tahu, tuan Nan sengaja memanfaatkan momen ini untuk memuaskan hati memanjai Anitha.
"Duduklah," ucapnya masih dengan nada lembut. Ketika melihat Anitha berdiri tertegun. Tuan Nan bersenang hati karena bisa melihat ekspresi Anitha yang berbeda.
Anitha sadar, tuannya menginginkan dia bergabung walau tanpa tahu maksud yang ada. Dengan percaya diri dia duduk di hadapan tuan Nan dan Jeffy. Namun sekali lagi Anitha dan Jeffy melongo, mendengar tuan Nan berkata," Jeff, kau yang duduk di depanku, aku ingin duduk didekat wanitaku," ucapnya tegas pada Jeffy. Nadanya sungguh tak bisa dibantah oleh siapa yang mendengar.
Mereka bertukar tempat duduk. Lalu dia hendak mengerjai Anitha," Layani aku sayang sebagai istri yang baik," ucap tuan Nan yang membuat Jeffy batuk kecil. Namun bukan Anitha namanya jika tak bisa menguasai diri. Dia sadar tuannya ingin mengambil kesempatan mengerjainya dalam kondisi yang ada. Namun Anitha salah sangka.
"Baik sayang," ucapnya sok manja. Dengan lihai dia mengambil makanan dan lauk untuk tuannya. Dia sudah biasa melayani mantan suaminya.
"Ini sayang, ada yang kurang?" ucapnya lagi. Kontan membuat bola mata Jeffy membulat sempurna. Dia merasa terjebak di antara pasangan yang lagi mabuk cinta. Walau dia tahu di sini hanya cinta satu pihak.
Anitha juga tidak menyia-nyiakan untuk mengerjai Jeffy. "Tuan Jeff mau saya ambilkan juga?"
"Ambil sendiri, kau bisa keluar tanpa kepala dari rumah ini," kata tuan Nan dengan horor. Anitha yang mendengarnya memberikan tawa renyah yang membius kedua lelaki rupawan tersebut.
Lalu dengan penuh hikmat mereka membaca doa makan dan makan dengan tenang. Walau dengan pikiran yang berbeda.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Lestari Upin
xixi 👍👍👍👍
2023-07-05
0
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Good Anitha..😍😍
2021-08-21
1
Farida Wahyuni
aku kok juga ikut terbius dengan sosok anitha😍
2021-08-20
1