Anitha tersenyum karena mendapat ide untuk membalas perkataan tuan Nansen yang melukai harga dirinya. Jika nyonya Allea memberikan seminggu ini untuk langkah awal maka Anitha menjadikan seminggu ini untuk mengerjai tuan sombong itu.
Anitha tidur diranjang empuk yang nyaman. Tak bisa dia bayangkan seorang asisten rumah tangga bisa tidur di ranjang begini empuk. Benar kata Melly, banyak keanehan di rumah ini. Keanehan yang dianggap Anitha bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk ibunya dan dirinya jika misi bersama nyonya Allea berhasil.
Anitha hanya fokus akan membahagiakan ibunya. Dia tidak lagi berpikir untuk membuka hati pada laki-laki. Dia ingin ibunya bisa hidup layak dan bahagia. Makanya Anitha minta kontribusi dari nyonya Allea setelah berhasil. Menikah dengan tuannya bukan pilihan.
Seperti yang dikatakan nyonya Allea, pagi ini dia akan berangkat ke luar negeri. Pagi-pagi Anitha sudah menyelesaikan tugas pertamanya yaitu membuat sarapan di kediaman Nansen Adreyan
Anitha membuat beberapa roti panggang berlapis selai kacang yang disukai oleh tuannya. Sedangkan nyonya Allea hanya minum segelas susu low feat.
Anitha menyajikan kopi hitam tanpa ampas pada tuan Nansen dan sepotong roti." Silakan nyonya, tuan," kata Anitha dengan hormat.
"Terima kasih Anitha," kata nyonya Allea ramah. Beda dengan tuan Nansen yang acuh dan hampir tanpa ekspresi.
Anitha mengangguk dan pamit meninggalkan sepasang suami-istri tersebut, sampai deru mobil terdengar menjauh meninggalkan rumah. Tuan Nansen telah pergi ke kantornya diantar sopir.
"Anitha ... jangan lupa tugasmu, ini surat perjanjian soal aset yang saya janjikan. Simpan, mana tahu saya memungkiri jika kamu berhasil." Nyonya Allea berucap serius.
"Terima kasih Bu. Saya akan berusaha, tapi kenapa Ibu yakin bapak bisa berpaling hati?" Anitha tak bosan-bosannya bertanya. Padahal banyak bertanya bisa membuat seseorang cepat mati kata sebuah novel yang dibacanya. Pada Anitha kalau tidak bertanya dia bisa cepat mati, mati penasaran.
"Kami tidak pernah saling mencintai, mungkin dia tepatnya. Saya dulu pernah mencintainya walau pernikahan kami karena perjodohan semata."
"Lalu Ibu kini tidak mencintainya lagi?"
"Tidak." Nyonya Allea menjawab dengan tegas.
"Maaf Bu, bukan saya lancang. Tapi saya ingin tahu apa yang terjadi sebelum semuanya jadi kacau dan Ibu menyesal."
"Saya tak akan menyesal Anitha, karena sekarang saya sudah mempunyai orang yang mencintai saya sepenuh hati. Hanya saja dia tidak sekaya suamiku. Saya perlu harta yang menjadi hak saya untuk modal usaha saya nanti. Saya tidak perlu harta yang berlimpah jika sedikitpun tak dapat perhatian dari laki-laki yang statusnya suami," kata nyonya Allea.
"Baiklah Bu. Boleh saya tahu Bu, jika Ibu ke luar negeri apa selama ini asisten rumah tangga juga mengurus dan melayani keperluan bapak?"
"Selama 5 tahun pernikahan kami 3 tahun pertama semua berjalan normal. Itu karena saya yang sabar dan mengalah. Asisten rumah tangga saya melayani kebutuhan seperti biasa. Jika saya berpergian lama, mereka akhirnya meminta mengundurkan diri. Jadi saya sudah banyak gonta-ganti asisten rumah tangga."
"Hmmm apa yang dilakukan bapak ya Bu?" Nada heran keluar dari bibir Anitha.
"Itu yang saya tidak tahu, mereka seperti tutup mulut. Makanya saya harap kamu tidak menyerah," kata nyonya Allea memberikan semangat.
"Lalu kini Ibu mencoba cara ini?"
"Saya sudah tak sanggup hidup bersamanya tapi saya perlu harta gono-gini. Saya mencari asisten yang cantik-cantik dan muda-muda niatnya biar dia berpaling dan saya bisa menudingnya."
"Lalu Ibu tidak berhasil," kata Anitha di selingi tawanya yang renyah.
"Kamu juga jangan tertawa dulu, kamu juga belum tentu berhasil. Temperamennya sangat buruk, tak ada asisten yang bertahan selama ini. Saya takutnya kamu hanya bertahan seminggu. Jika itu yang terjadi kamu mencetak rekor tertinggi yang kabur dengan cepat," kata nyonya Allea.
"Tenang Bu, kita coba dulu demi masa depanku dan masa depan Ibu yang lebih baik."
"Ya sudahlah, saya mau berangkat. Nanti takutnya macet saya bisa ketinggalan pesawat," pamit nyonya Allea.
Anitha mengantar sang nyonya ke depan. "Sebentar lagi akan ada bibi dua orang yang akan membantu. Bibi Sum dan bibi Rum namanya. Minta tanda pengenal ya, saya sudah kasih," kata nyonya Allea sebelum berlalu naik taksi yang telah dipesannya.
Tok ... tok ... tok ....
Anitha yang lagi bersantai di ruang tamu membukakan pintu dan datang secara bersamaan dua ibu-ibu yang berusia separuh baya.
"Cari siapa Bu?" kata Anitha tak mau menebak. Bisa saja nanti tamunya langsung mengiyakan.
"Non Anitha ya? Saya bi Sum dan saya bi Rum. "Kedua ibu paruh baya tersebut mengenalkan diri.
"Ohhh ya tadi ibu berpesan menunjukkan tanda pengenal jika bibi sudah datang." Anitha ingat pesan nyonya Allea.
kedua wanita itupun menunjukkan tanda pengenal mereka. "Keren juga nyonya asisten saja pakai name tag," batin Anitha.
"Mari masuk Bi ...." Mereka mengikuti Anitha dan sepertinya mereka sudah tahu apa yang menjadi tugas mereka.
Mereka langsung ingin bekerja, namun Anitha menghentikan mereka. "Bibi mari kita sarapan dulu."
"Gak usah Non, nanti saja." Kelihatan mereka sangat sungkan.
"Ayo Bi ... jangan menolak." Anitha menarik kedua ibu paruh baya yang akan membantu tugas rumahnya.
Mereka terlihat takut-takut dan malu-malu. Namun Anitha menggeret tangan mereka ke meja makan khusus untuk asisten yaitu di dapur yang luasnya sama dengan satu rumah Anitha di kampung.
Anitha sudah memasak nasi goreng untuk mereka bertiga. Anitha sudah memperkirakan jam berapa mereka akan datang berdasarkan info nyonya Allea.
"Non ... terima kasih ya," kata bi Rum.
"Untuk apa Bi?" Anitha bertanya.
"Kami hampir dua tahun bekerja membersihkan rumah ini, tetapi kekasih tuan tidak pernah memperlakukan kami seperti Non," kata bi Sum yang membuat Anitha terkejut. "Kekasih ...." batin Anitha.
"Bibi tahu soal kekasih-kekasih tuan?" kedua sang bibi terlihat panik. Mereka merasa keceplosan.
"Tenang, Bibi berdua gak usah panik, saya tak marah. malah jujur, sebenarnya aku sangat terkejut. Bibi berdua mengetahui soal kekasih tuan.
"Nyonya Allea yang cerita setiap ada perempuan yang datang mengurus tuan. Nyonya mengatakan kami harus hormat seperti hormat kepada nyonya," kata bi Rum bergantian dengan bi Sum menjelaskan padaku.
"Jadi dari mana bisa Bibi mengatakan mereka dan saya kekasih tuan?" Anitha menuntut penjelasan pada mereka berdua.
"Hmmmm ...." Bi Sum terlihat ragu.
"Katakan saja Bi, saya janji tidak akan bicara apapun baik pada nyonya atau tuan. Saya hanya ingin tahu Bi."
"Nyonya yang katakan," kata bi Sum dan bi Rum dengan polos dan berbarengan yang membuat Anitha tersedak ludahnya sendiri. Bisa-bisa nyonya Allea mengatakan begitu pada bibi.
"Jadi Bi, bagaimana sikap kekasih tuan yang kemaren? Jujur saja, jangan takut." Anitha langsung mengingatkan.
"Sikap mereka lebih berkuasa dari nyonya Non, itu ketika nyonya tidak dirumah. Mereka juga memperlakukan kami semena-mena." Bi Sum yang bicara.
Lalu bi Rum menyambung. "Maka kami terkejut, ketika Non mengajak makan. Kami mana diperbolehkan makan di rumah sini sama mereka-mereka."
"Bibi tidak mengadukan pada nyonya?"
"Kami diancam akan difitnah balik Non. Sementara kami membutuhkan kerja di sini. Walau nyonya cuma menyuruh kami membersihkan rumah ini gajinya lebih besar dari tempat lain Non. Kami juga bisa mencari kerja yang lain setelah pulang dari sini," kata bi Rum.
Anitha mulai sedikit demi sedikit memahami apa yang terjadi dirumah ini dan apa yang nyonya inginkan. Ternyata dia memang ingin bercerai dari tuan. Terbukti dia mencarikan kekasih terselubung sebagai asisten untuk mencuri hati tuan.
***/
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
herdaize
Author,aku sama seperti Anita belajar memahami isi kisah ini 🤭🤭🤭
2021-08-26
3
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Dunia Halu mah bebas berimajinasi..😂😂🤭🤭
2021-08-21
1
Nietta Harry
wlopun alurnya halu bangeet...tapi kereen imajinasi othornya...👍😁
2021-08-20
2