Setelah Anitha mendapatkan info dan para bibi menyelesaikan sarapan. Anitha memasak untuk makan siang mereka sebelum pulang dan makan malam akan dimasak sore.
Tak ada kewajiban bagi Anitha untuk masak buat para bibi, Anitha hanya bosan jika hanya harus berdiam diri. Namun untuk makan malam Anitha harus memasak, karena tuannya hanya akan makan malam di rumah dan nyonya Allea sudah berpesan untuk itu.
Itulah unik tuannya, dari info yang didapat Anitha dari nyonya Allea, tuannya akan selalu makan malam di rumah. Hanya ketika berpergian ke luar kota atau negeri dan ada urusan bisnis dia tidak makan di rumah. Urusan bisnis pun sangat jarang dilakukan oleh tuan Nansen pada malam hari.
Setelah selesai membereskan dan membersihkan rumah, Anitha mengajak bibi makan. "Biii Sum ... Biii Rum ayo makan dulu sebelum pulang.
"Iyaa Non, terima kasih. Sedikit lagi selesai Non." Sahut mereka bersenang hati. Lalu ketika pekerjaan mereka selesai mereka bertiga menyantap masakan yang dibuat Anitha.
"Bagaimana Bi? Apa masakan saya bisa dikatakan enak?" Anitha ingin penilaian mereka.
"Sedap Non."
"Yakin Bi?" mereka berdua mengacungkan jempol.
Setelah selesai makan, mereka pamit pulang dan akan kembali lagi besok. Anitha menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Menjelang sore hari dia punya waktu untuk memanjakan dirinya sebelum masak untuk makanan tuan dan dirinya.
Nyonya Allea sudah melengkapi Anitha dengan kosmetik dan sabun-sabun mempercantik diri. Mulai dari lulur sampai creambath, sudah tersedia di bath rack. Bedak dan kosmetik tertata rapi di meja riasnya.
Di dalam bathroom yang begitu bersih, Anitha mulai lulur dirinya. Kulitnya mulai terlihat kurang bercahaya. Dia terlihat seperti upik abu keluar dari tungku yang sering di lontarkan oleh suaminya. Dia lalu merendam diri dalam bathub. Puas memanjakan diri di kamar mandi, Anitha keluar memakai jubah handuk dan berbaring di ranjang.
Ada satu yang dia lupa minta kepada nyonya Allea, dia tidak punya kartu untuk mengisi kembali ponselnya. Jika tidak dia pasti bisa menghubungi ibunya di kala seperti ini.
Tanpa Anitha ketahui nyonya Allea bukan tak ingat perihal kartu ponsel yang tak ada. Dia berharap Anitha bisa memanfaatkan itu untuk menarik kepedulian suaminya.
Anitha tertidur dengan lelap hanya memakai bathrobe. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Pikiran lelah dan badan letih mengantarkan Anitha dalam istirahat panjang. Dia seolah tak akan sadar dari tidurnya bahkan Anitha tidur tanpa menutup rapat pintunya.
Langkah-langkah tegap santai tuannya mulai mendekati kamarnya. Tuannya hendak memulai misi juga untuk membuat Anitha pergi dengan suka rela seperti yang sudah dia lakukan dengan para asisten terdahulu.
Sesampai di depan kamar Anitha dia melihat pintu yang tidak tertutup rapat. Dia mendorong dengan pelan ingin menangkap basah lagi apa gadis yang berstatus asisten siluman tersebut.
Pintu yang mahal tidak mungkin engselnya akan berbunyi dan itu tidak bisa mengejutkan Anitha yang berada di negeri antah berantah. Dia masih lelap dalam tidur pulas, meringkuk indah di atas ranjang. Anitha sungguh ceroboh dengan tidak mengunci pintunya. Dia berniat hanya tidur setengah jam saja namun nyatanya dia tidur berjam-jam.
Tuan Nansen nan gagah yang sudah siap dengan rencananya hanya bisa membeku melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Walau dalam posisi setengah meringkuk dia melihat bathrobe yang dikenakan Anitha sedikit berantakan sehingga memperlihatkan sedikit apa yang harusnya tidak terekspos dan jadi konsumsi publik setidaknya konsumsi tuan Nansen.
Jiwa lelakinya bagaimana mungkin tidak terpancing melihat apa yang tersaji. Dia menelan liur, menahan sesuatu yang bangun di bawah tubuhnya.
Namun akal sehatnya masih bisa berpikir jernih. Dia berbalik arah dan melangkah pelan menuju kamarnya. Di dalam hatinya dia memaki Anitha. "Dasar gadis tak waras! Dia tidur tanpa ada beban dan hanya memakai jubah mandinya tanpa ada kewaspadaan sedikitpun."
Tuan Nansen belum tahu, apa itu bukan niat Anitha memancing dirinya dengan keadaannya tadi atau memang pancingannya. Dia melihat dari awal Anitha dibawa istrinya bukan gadis seperti yang dulu-dulunya. Gadis yang terang-terangan ingin mengambil simpatinya bahkan rela mengumpan diri mereka padanya.
Anitha berbeda, tapi justru di sinilah tuan Nansen merasa tertarik tanpa sadar. Walau dia menyadari Anitha gadis yang cerdas, terlihat dari sikap dan pandangan bola matanya. Tuan Nansen untuk menutupi rasa tertariknya, lebih bersikap dua kali lebih dingin dari biasanya dan sedikit kasar. Dia takut jatuh pada perangkap istri dan gadis yang dibawa oleh istrinya.
Tanpa nyonya Allea sadari, bahwa tuan Nansen sudah mengetahui apa yang direncanakan istrinya. Dua tahun ini istrinya telah selingkuh darinya dan mencarikan para gadis sebagai asisten palsu supaya jatuh dalam perangkapnya. Lalu istrinya akan menyalahkan tuan Nansen dan menggugat cerai dirinya serta mendapatkan harta gono-gini yang diperlukannya.
Tuan Nansen tidaklah sedingin yang ditampilkan wajahnya. Hanya saja nyonya Allea tidak mengetahuinya jika dia ingin bercerai, suaminya tetap akan memberikan haknya dan perjanjian pranikah itu batal. Dia tak bisa mencintai istrinya. Sekuat apapun dia berusaha tak ada rasa cinta di hatinya. Maka dia memutuskan akan menerima, jika istrinya meminta cerai.
Namun karena kesalahpahaman nyonya Allea, dan cara nyonya Allea membuat tuan Nansen tidak terima. Dia merasa harga dirinya terinjak-injak dengan cara istrinya yang menurut dia salah.
Setiap asisten cantik yang tak lebih dari seorang wanita bukan baik-baik di mata tuan Nansen, membuat darahnya mendidih melihat cara istrinya. Namun dia sembunyikan dengan wajah dinginnya.
Dia bahkan dengan suka rela mengikuti permainan istrinya. Namun dia mulai menyadari hatinya tertarik ketika pertama kali bertemu Anitha dan mendengar umpatan Anitha yang begitu berani menurut dia.
Tuan Nansen membaringkan dirinya dengan masih menggunakan pakaian lengkap. Dia masih mengingat jelas apa yang dilihatnya sore ini.
Selama ini dia membawa olahraga, jika libidonya naik. Sudah dua tahun istrinya selalu menolak jika diajak berhubungan. Namun dia tidak menyalahkan istrinya. Dia sadar dia tidak bisa mencintai istrinya. Dia hanya menikmati tubuh istrinya untuk melepaskan hasrat kebutuhan biologis selama tiga tahun pertama pernikahannya.
Tuan Nansen tidak suka bermain dengan wanita lain. Baginya walau cuma seorang keturunan dia tidak terbiasa dengan hubungan bebas. Ibunya selalu mendidik dia untuk tidak sampai terjerumus melakukan hubungan bebas dan berganti wanita seperti menganti pakaian.
"Huuhh ada apa denganku, tidak mungkin aku menyukai dia yang sengaja diumpan oleh istriku. Tak akan aku biarkan dia mendapatkan apa yang dia mau!" Tuan Nansen berkata dalam hati.
Dia bangkit dan melepaskan pakaiannya lalu pergi ke bathroom. Sang tuan memutuskan mandi dan mendinginkan tubuhnya untuk menurunkan hasrat seksual yang bangkit oleh Anitha.
Sementara dia telah selesai mandi, Anitha baru tersentak bangun dan melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar. Dia lebih histeris ketika bangun jam 6 sore, ditambah dengan tidur hanya memakai jubah mandi.
Anitha duduk di tepi ranjang dan memperbaiki jubah yang berantakan.
"Apakah tuan sudah pulang, dan melihatku hampir separoh telanjang begini? Aaakhhh betapa ceroboh aku tidur dengan berpakaian minim!" rutuk hatinya.
"Semoga tuan belum pulang, tapi kata nyonya, tuan hampir tak pernah pulang jam-jam segini. Dia pulang selalu setelah mendekati jam makan malam," Anitha kembali membatin.
***/
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Tetap Menarik Ceritanya...😇🤗 langsung cuss baca eps selanjutnya..👍👍
2021-08-21
1
Nietta Harry
semoga anita tetap menjadi wanita pintar dan mengingat nasehat ibunya tuk tidak melupakan kewajibanya sebagai muslimah.."sholat..
2021-08-20
3
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
next
2021-04-25
0