Lepaskan dia

"Assalamu'alaikum ...." ucap Anitha sambil mengetuk pintu.

"Yaa ... Wa'alaikumussalam," jawab seorang wanita paruh baya dan keluar menyambut Anitha.

"Saya Anitha Bi ... apa benar ini rumah bu Ajeng Rahayu?" tanya Anitha setelah memperkenalkan diri.

"Ohhh ya benar Non, mari masuk, Non Ajeng sudah memberitahukan saya soal kedatangan Non Anitha. Mari saya antar dulu ke kamar Non." Anitha mengikuti sang bibi masuk. Ternyata rumah Ajeng besar juga untuk ukuran seorang lajang. Itulah pikiran Anitha saat ini.

Anitha diantar ke kamar, "Non ini kamarnya, Non istirahat dulu. Kalau Non mau makan sudah bibi sediakan di meja makan."

"Terima kasih Bi. Panggil Anitha saja Bi," Anitha berujar pada wanita separuh baya yang bernama Imas.

Anitha masuk ke kamar, Dia berbaring melepaskan lelah setelah melakukan perjalanan dari Dumai-Pekanbaru, Pekanbaru-Jakarta.

Anitha berniat untuk mencari kerja di sini dan sukses untuk bangkit dari duka ini. Dia tak punya waktu untuk berlarut-larut dalam penderitaan yang tak berujung. Masih ada kebahagiaan ibunya yang harus dia perjuangkan.

Langkah awal dia memberanikan diri menelpon ibunya dan mengatakan semua masalah dan di mana dia sekarang.

Anitha pun menekan nomor ibu, tak lama," Hello Bu ... apa kabar?"

"Kabar ibu baik Nak, kamu juga apa kabar Nak Sudah seminggu ini tak ada menelpon ibu loh," Terdengar nada protes dari sang ibu.

"Ihh Ibu kenapa juga tak telepon saja kalau Ibu rindu. Aku bukan tak ingat Ibu, tapi aku sibuk Bu. Lalu taulah kalau Sahrul sudah pulang Bu, sibuk mengurus bayi besar itu," ucap Anitha bercanda walau dia menutupi sekuat hati rasa perih yang hadir.

Anitha memang sudah hampir seminggu tidak menelpon ibunya. Dia sibuk dengan masalah dan memikirkan keputusan yang akan diambil. Dia tidak lupa dengan ibunya, hanya saja dia tak ingin terbawa suasana dan bercerita pada ibunya sebelum menggambil keputusan. Anitha tak biasa menyusahkan ibunya.

Anitha ingin keputusan dari diri sendiri. Sehingga dia tak menyalahkan orang lain jika pilihan tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Itulah sifat Anitha, wanita yang memutuskan menjanda di usia 26 tahun.

"Maaf Bu. Ada yang inginku ceritakan dan bertanya pada Ibu ... apa Ibu sibuk?"

"Ada apa? cerita saja Nak dan masalah apa yang ingin kamu tanyakan pada ibu?" Suara ibunya lembut dan tenang.

Anitha terdiam dan menghela napas. Dia berpikir sejenak apa sudah benar langkahnya. Akan tetapi dia berprinsip lebih baik ibunya tahu dari dirinya dari pada nanti mendengar desas-desus yang justru bisa merusak hati ibunya.

Anitha akan membawa ibunya bercerita dari hati ke hati. Apapun resikonya dia sudah siap menanggung.

"Bu ... selama ini ada yang aku tutupi perihal rumah tanggaku. Aku bertahan karena tak ingin Ibu sedih, aku juga tak ingin Ibu berkecil hati pada suamiku." Anitha sengaja menyematkan kata suami untuk sementara ini.

"Masalah apa?" Terdengar suara ibunya kembali bertanya karena tak mendengar Anitha bersuara.

"Maaf Bu ... aku sempat melamun. Aku kini sudah tidak sanggup Bu. Dia mencaci aku perihal aku belum bisa memberi keturunan. Dia juga semakin selalu lanteangan pada diriku Bu." Anitha berusaha menormalkan suara, seolah tiada masalah apapun lagi pada hatinya. Dia tak ingin ibunya sedih jika dia bersedih.

Ibunya tahu anaknya hanya menutupi kesedihan hati. Namun mendengar suara Anitha yang berusaha tenang ibunya kembali bertanya dengan tak kalah tenang. "Jadi kamu ingin berpisah Nak?"

"Benar Bu ... aku sudah berusaha jadi istri seperti dia minta. Nyatanya tidak ada arti baginya diriku Bu." Dia memantapkan suaranya ketika menyetujui pertanyaan ibunya.

"Ibu serahkan kepadamu dan ibu percaya pada apapun keputusanmu sayang, jika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan rumah tanggamu dan ternyata belum berhasil ... ya bagi ibu tidak apa kamu melepaskan dia. Karena kamu yang jalani Nak."

"Jadi Ibu apa tidak akan malu jika aku menyandang status janda Bu? Mana usia perkawinanku baru sebentar."

"Ibu tidak jadi masalah Nak, bukan kamu saja di kampung kita yang menjadi janda karena pisah hidup."

"Ibu tak akan menderita?"

"Ibu akan menderita jika kamu hidup menderita. Tapi jika tentang statusmu, ibu tidak akan menderita Nak. Pertama, warga di sini tahu dan mengenal baik siapa dirimu. Kedua, kita juga tidak dapat mengatur orang berbicara Nak. Baik pun kita kalau orang itu berpikir buruk maka kita tetap tidak baik di matanya."

"Ibu ... aku bersyukur dan berterima kasih kepada Allah aku memiliki ibu seperti dirimu, I Love U Bu," Anitha merasa hatinya menjadi tiada beban tersisa mendengar kata demi kata dari ibunya.

" I love u too sayang ibu," sahut ibunya.

Bagi Anitha satu masalah telah selesai. Kini masuk pada masalah kedua, dia pergi tanpa pamit pada ibunya.

"Ibu ...." Anitha kembali memanggil ibunya dengan sedikit ragu untuk mengatakan kalau dia sudah berpisah dan di Jakarta.

"Apa sayang ... kamu mau mengatakan sebenarnya kamu sudah berpisah?" Ibunya menebak langsung keraguan putri semata wayangnya.

"Hahahah ... Ibu kok tahu saja." Anitha hanya bisa tertawa mendengar tebakan dari ibunya. Tawa yang hampir tidak ada sejak malam perpisahan mereka.

"Kamu masih anak ibu? ... ibu tadi sudah feeling saat kamu bertanya apakah ibu menderita jika kamu menyandang status janda. Kamu masih Anitha yang dulu?" Suara ibunya terdengar bergurau.

Gurauan ibunya menambah kelegaan di hatinya. "Maksud ibu Anitha yang dulu bagaimana?" Anitha tahu maksud ibunya hanya saja dia berpura tak tahu.

"Anitha yang sudah menentukan pilihan baru memberi tahu kami orang tuamu." Terdengar tawa ibunya.

"Hahaha ... ahh Ibu bisa saja." Akhirnya Anitha sungguh bisa tertawa lepas. Dan tanpa dia tahu mendengar suara tawanya, ibunya di sana merasa sangat bersyukur anaknya tidak terpuruk.

"Jadi kamu di mana dan kapan pulang Nak?" Pertanyaan ini tidak membuatnya kaget lagi dan tidak membuatnya terbebani.

Merasa dia sudah bisa bersikap normal dan sudah yakin tidak akan membuat ibunya bersedih, Anitha memutuskan mengajak ibunya video call. "Ibuuu ... bagaimana kalau kita video call saja, aku sudah tidak takut melihat Ibu marah," kata Anitha bergurau.

"Ok sayang."

"Hello Bu ...."

"Jadi di mana kamu sekarang ha .... " Ibunya memasang wajah seakan marah yang berhasil membuat Anitha terpingkal-pingkal. Pasalnya Anitha tahu ibunya tak pernah marah dan bersuara benar-benar keras selama ini padanya.

Anitha yang sudah tidak di Dumai membuat wajah memelas pada ibunya seakan memohon pengampunan. "Maafkan aku Ibuuuu ... aku di Jakartaaaa." Anitha berteriak pura-pura histeris.

"Dasar kamu ya Nak, untung ibu tidak punya riwayat penyakit jantung dan sudah hapal perangaimu." Beliau tersenyum lembut melihat kelakuan anaknya. Dia selalu menyerahkan keputusan pada anaknya. Judulnya anaknya, namun dia tak pernah ikut campur keputusan anaknya.

"Ibu aku sungguh senang melihat Ibu tidak bersedih dan meratapi nasibku ini ...."

"Kalau mau sedih, ibu sedih Nak melihat nasib rumah tanggamu. Namun ibu akan sedih jika lihat wajah kamu sedih. Wajahmu wajah tak perlu dikasihan. Malas ibu sedih ... rugi ibu Nak." Sang ibu memasang wajah bersungut-sungut. Sukses sekali lagi membuat Anitha tertawa lepas.

Anitha hanya bercerita yang dianggapnya perlu saja. Mana cerita yang bisa membuat ibunya sedih, dia tutupi rapat-rapat.

"Doakan aku dapat kerja dan sukses ya Bu," pinta Anitha.

"Iya Nak. Kamu juga berdoa, shalat jangan tinggalkan dan usahakan selalu tepat waktu!" ucap Ibunya tegas.

"Iya Bu, aku istirahat dulu ya Bu, assalamu'alaikum.

***/

Terpopuler

Comments

Alya Yuni

Alya Yuni

Ngapain bhong sma ibu
tdk bgus bhng sma ibu

2022-10-19

0

🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩

🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩

Adem..punya ibu yg pengertian...🤗🤗

2021-08-21

3

Tk Shoes

Tk Shoes

Wa'alaikumsalam. enak punya ibu yg asik.

2021-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Pergilah
2 Selamat Tinggal
3 Lepaskan dia
4 Di Jual
5 Asisten Rumah Tangga
6 Setuju
7 Bekerja Untukku Bukan Untukmu
8 Tutup Mulut
9 Menyadarinya.
10 Wanita Boneka.
11 Upik Abu
12 Biarkan Saja Apa Maunya.
13 Apa Kabar Ibu?
14 SEMENTARA SILENT MODE
15 Predator Berbahaya.
16 Seperti Apa Dia!
17 Hidup Butuh Perubahan.
18 Makan Malam
19 Tanggung Bohong Berdusta sekalian
20 Tukar Posisi.
21 Aku Mencintainya
22 Terakhir Kalinya
23 Pengalaman Pertama
24 Selagi Bumi Berputar di Porosnya
25 Jual Memori
26 Aku Bisa Mencintaimu
27 Debar Manis di Hatinya
28 Jatuh Hati Padamu
29 Aura Yang Menggelap
30 Tiba-tiba Gelisah
31 Menguasai Diri
32 Memancing Dia Muncul
33 Menumpang Kasihku
34 Hanya Upik Abu
35 Aku Akan Membantu
36 Original Black Card
37 Ingin Memiliki Tanpa Cinta
38 Hati Kosong Anitha
39 Menyerahkan Hatimu Padaku
40 Malam Naas
41 Membuka Tabir Masa Lalu.
42 Bisa Aku Menjumpaimu
43 Melarikan Diri
44 Kehilangan Jejak Anitha
45 Siksa
46 Apa Kabar Sayang?
47 Kembali Ke Masa Lalu
48 Buktinya Surat Perceraiannya
49 Posisi Nyonya CEO
50 Kau Ada Ide?
51 Berhak Atas Dirimu
52 Aku Pasti Melenyapkanmu
53 Melampaui batas
54 Ditawarkan Jadi CEO
55 Pantai Air Manis Saksi Bisu
56 Cara Yang Sama Menghancurkannya
57 Nostalgia Singapura
58 Double Date Berkesan
59 Rencana Perkenalan
60 Perkenalan dan Penolakan
61 Semua Ada Hikmahnya
62 Mengenalkan Dunia Malam
63 Penyesalan Terdalam
64 Respon Anitha
65 Hukuman Untuk Nyonya Bangsawan
66 Hukuman Untuk Nyonya Bangsawan.
67 Sekelumit Penjelasan Bab 65 66
68 Membangun Mimpi
69 Tak Ada Faktor Kebetulan
70 Ambisi di Balik Gaun Pengantin
71 Harusnya Jadi Artis Bukan CEO
72 Atas Dasar Latar Belakang
73 Maafi Diriku Readers
74 Rahasia Hati Anitha
75 Ujian Terakhir Cinta Nansen
76 Meminta Memajukan Hari
77 Rintangan Setelah Lamaran
78 Tuan Nan Tercengang
79 Bermain-main Dengan Penghianat
80 Ijab Kabul dan Resepsi
81 Planning Honeymoon
82 Rembulan Malam
83 Tali Nyawa
84 Tak Disangka-sangka
85 Tak Berubah
86 Kabar Terbaru Sahrul
87 Beri Satu Kesempatan
88 Sehati Sejiwa
89 Cemburu Pertama
90 Posesif
91 Tuan dan Wanita Boneka
92 Rencana Pengalihan
93 Anitha Berlapang Hati
94 Cemburu Itu Masih Berlanjut
95 Anitha Memanggil Ajeng
96 Mengajak Ajeng Berbicara
97 Saling Berdamai Dari Masa Lalu
98 Resah
99 Akhir Dari Dendam
100 Wanita Masa Lalu
101 Rencana Ke Dokter
102 Hanya Teman Lama
103 Kesedihan Anitha
104 Menyesal
105 Mujur Belum Bisa Diraih
106 Kesedihan Dalam Diam
107 Rindu Tiada Bertepi
108 Rahasia Jeffy
109 Bersatu dan Saling Menerima
110 Memulai Program
111 Uang dan Kebahagiaan
112 Bukan Karena Bawaan
113 Buah Hati
114 Baby Blues
115 Berlarut dan Berhalusinasi.
116 Postpartum Depression
117 Kesempurnaan Bukan Milik Kita
118 Prinsip
119 Menyambut Suami
120 Kepanikan Tuan Nan
121 Rencana Akhir Pekan.
122 Kabar Bahagia
123 Buat Readers ter love.
124 Mampir donk Sayang. Hihaaaa
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Pergilah
2
Selamat Tinggal
3
Lepaskan dia
4
Di Jual
5
Asisten Rumah Tangga
6
Setuju
7
Bekerja Untukku Bukan Untukmu
8
Tutup Mulut
9
Menyadarinya.
10
Wanita Boneka.
11
Upik Abu
12
Biarkan Saja Apa Maunya.
13
Apa Kabar Ibu?
14
SEMENTARA SILENT MODE
15
Predator Berbahaya.
16
Seperti Apa Dia!
17
Hidup Butuh Perubahan.
18
Makan Malam
19
Tanggung Bohong Berdusta sekalian
20
Tukar Posisi.
21
Aku Mencintainya
22
Terakhir Kalinya
23
Pengalaman Pertama
24
Selagi Bumi Berputar di Porosnya
25
Jual Memori
26
Aku Bisa Mencintaimu
27
Debar Manis di Hatinya
28
Jatuh Hati Padamu
29
Aura Yang Menggelap
30
Tiba-tiba Gelisah
31
Menguasai Diri
32
Memancing Dia Muncul
33
Menumpang Kasihku
34
Hanya Upik Abu
35
Aku Akan Membantu
36
Original Black Card
37
Ingin Memiliki Tanpa Cinta
38
Hati Kosong Anitha
39
Menyerahkan Hatimu Padaku
40
Malam Naas
41
Membuka Tabir Masa Lalu.
42
Bisa Aku Menjumpaimu
43
Melarikan Diri
44
Kehilangan Jejak Anitha
45
Siksa
46
Apa Kabar Sayang?
47
Kembali Ke Masa Lalu
48
Buktinya Surat Perceraiannya
49
Posisi Nyonya CEO
50
Kau Ada Ide?
51
Berhak Atas Dirimu
52
Aku Pasti Melenyapkanmu
53
Melampaui batas
54
Ditawarkan Jadi CEO
55
Pantai Air Manis Saksi Bisu
56
Cara Yang Sama Menghancurkannya
57
Nostalgia Singapura
58
Double Date Berkesan
59
Rencana Perkenalan
60
Perkenalan dan Penolakan
61
Semua Ada Hikmahnya
62
Mengenalkan Dunia Malam
63
Penyesalan Terdalam
64
Respon Anitha
65
Hukuman Untuk Nyonya Bangsawan
66
Hukuman Untuk Nyonya Bangsawan.
67
Sekelumit Penjelasan Bab 65 66
68
Membangun Mimpi
69
Tak Ada Faktor Kebetulan
70
Ambisi di Balik Gaun Pengantin
71
Harusnya Jadi Artis Bukan CEO
72
Atas Dasar Latar Belakang
73
Maafi Diriku Readers
74
Rahasia Hati Anitha
75
Ujian Terakhir Cinta Nansen
76
Meminta Memajukan Hari
77
Rintangan Setelah Lamaran
78
Tuan Nan Tercengang
79
Bermain-main Dengan Penghianat
80
Ijab Kabul dan Resepsi
81
Planning Honeymoon
82
Rembulan Malam
83
Tali Nyawa
84
Tak Disangka-sangka
85
Tak Berubah
86
Kabar Terbaru Sahrul
87
Beri Satu Kesempatan
88
Sehati Sejiwa
89
Cemburu Pertama
90
Posesif
91
Tuan dan Wanita Boneka
92
Rencana Pengalihan
93
Anitha Berlapang Hati
94
Cemburu Itu Masih Berlanjut
95
Anitha Memanggil Ajeng
96
Mengajak Ajeng Berbicara
97
Saling Berdamai Dari Masa Lalu
98
Resah
99
Akhir Dari Dendam
100
Wanita Masa Lalu
101
Rencana Ke Dokter
102
Hanya Teman Lama
103
Kesedihan Anitha
104
Menyesal
105
Mujur Belum Bisa Diraih
106
Kesedihan Dalam Diam
107
Rindu Tiada Bertepi
108
Rahasia Jeffy
109
Bersatu dan Saling Menerima
110
Memulai Program
111
Uang dan Kebahagiaan
112
Bukan Karena Bawaan
113
Buah Hati
114
Baby Blues
115
Berlarut dan Berhalusinasi.
116
Postpartum Depression
117
Kesempurnaan Bukan Milik Kita
118
Prinsip
119
Menyambut Suami
120
Kepanikan Tuan Nan
121
Rencana Akhir Pekan.
122
Kabar Bahagia
123
Buat Readers ter love.
124
Mampir donk Sayang. Hihaaaa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!