"Kau tidak mengajak aku makan siang?" tanya Jeffy.
"Tidak, kau ajak saja salah satu gadis di kantor aku," olok tuan Nansen.
"Apa makan cinta kenyang?" cemooh Jeffy.
"Hahahah ... kau tidak bisa mencemooh, apa kau tak lihat apa yang ada di meja tamuku itu," kata tuan Nan sambil mengangkat alisnya dan memainkan bola matanya menunjuk ke arah meja tamunya.
Jeffy memutar badan beserta kursinya, terlihat sebuah kota bekal bertengger manis di atas meja. "Wiihh ... ada perubahan besar sama sang CEO," oloknya.
"Hidup itu butuh perubahan, tidak seperti dirimu yang membosankan," seloroh tuan Nan namun tajam. Jeffy hanya mendengus.
"Jangan lupa nanti malam makan di rumahku," ucap tuan Nansen mengingatkan ketika Jeffy bergerak meninggalkan ruangan.
"Kenapa tidak kau ajak aku sore nanti sekalian?"
"No ...." Aku ingin menggoda wanitaku di sore hari.
"Awas khilaf!"
Sore hari, kembali terdengar deru mobil memasuki pekarangan, "Hmm itu pasti tuan," gumam Anitha.
Anitha tak ingin menyenangkan hati tuannya. Anitha tidak mau tahu, apakah tuannya marah atau tidak. Dia nekat membuat menu dari asal daerahnya. Setahu dia tuan Nan tidak menyukai masakan pedas, hanya mulutnya saja yang pedas.
"Selamat pulang Tuan."
Mimik wajah yang bergaya bak seorang istri membuat tuan Nan sedikit tersenyum, namun yang diucapkan justru bertolak belakang, "Tak ada kalimat lainnya!" Tuannya lantas berlalu dari hadapan Anitha.
Anitha hanya memanyunkan bibir merasa kesal dengan dua sikap berbeda yang ditampilkan tuannya. "Awas kamu Nansen Adreyan, akan aku buat mimik dan katamu berpadu!" gumam Anitha penuh tekad yang masih bisa didengar tuannya.
Tuan Nan menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Anitha. Langkahnya yang tenang namun penuh wibawa, sanggup membuat Anitha tersurut dan memundurkan langkah. Badannya terbentur ke dinding pintu yang baru ditutup.
Setelah jarak hanya tinggal selangkah, tuan Nan berucap, "Lakukan dengan hatimu, jika ingin menaklukkan hatiku! Aku bukan mangsa yang lemah seperti kau bayangkan Anitha Putri."
Anitha masih tersandar ke dinding pintu, sementara tuan Nansen sudah berbalik badan dan melangkah menuju ke dalam. Ada sedikit perasaan aneh jika tuannya memanggil nama lengkap. Anitha lebih suka tuannya memanggil dia wanita boneka atau apalah, asal jangan menyebut nama lengkap dengan penuh tekanan.
"Aku senang kepulangan diriku engkau sambut Anitha, tapi hatiku akan lebih bahagia jika kau tulus melakukannya," tuan Nan bergumam di kamar.
***
Singapura ....
Disebuah apartemen, seorang wanita menyambut kedatangan pria." Hello dear, i am sorry, i am busy at the company.
"It's oke sayang," ucap seorang wanita elegan yang tak lain nyonya Allea.
"Tolong buatkan aku mocha latte ya sayang," ucap pria yang berperawakan tinggi. Wajahnya tak kalah rupawan dari tuan Nansen.
"Sebentar sayang," nyonya Allea beranjak ke dapur dan dengan sukacita membuatkan minuman untuk kekasihnya.
Tak lama nyonya Allea membawa secangkir mocha latte, "ini sayang, tapi masih sangat panas." Nyonya Allea mengucapkan dengan manja.
Allea duduk di samping pria yang telah di klaim sebagai kekasihnya. Kekasih nyonya Allea pun memeluk Allea dengan sayang.
"Sayang ... Ada yang ingin aku bahas denganmu, bolehkah aku bicara serius denganmu?" tanya kekasih Allea yang bernama Liam Lee.
"Tentang apa sayang."
"Tentang hubungan kita yang sudah hampir dua tahun ini," ucap Liam pelan.
"Kenapa hubungan kita ini?"
Liam menarik Allea sehingga berhadapan dengannya. "Sayang, aku ini pria dewasa dan pria normal. Aku tidak bisa terus menahan hasrat pada wanita yang aku cintai. Mau sampai kapan?"
"Tapi sayang berjanji akan menunggu hingga aku bercerai. Sayang tahu alasannya, dan aku tidak suka pada **** bebas. Aku mencintaimu dan kamu juga."
" Apa tidak cukup harta yang aku punya untukmu. Walau aku bukan pengusaha besar," Liam masih berucap dengan lembut. Mungkin sifat itu atau cinta Liam yang membuat Allea sangat berbeda jika bersama suaminya.
"Bukan tidak cukup sayang, tapi kita bisa lebih mengembangkan usaha kita. Untuk masa depan kita. Untuk calon anak-anak kita. Bersabar sedikit lagi. Aku yakin sayang, wanita yang ini bisa membuat suamiku menceraikan aku dengan sukarela," tegas Allea pada Liam.
"Kenapa kamu begitu yakin sayang, bukankah selama ini sudah begitu banyak gadis yang kau umpan dan semua mundur teratur," sanggah Liam.
"Itu karena aku belum mendapat wanita yang tepat," bela Allea.
"Apa kelebihan wanita ini yang kau lihat sayang?"
"Nanti kalau aku bilang, kau berpaling pula sayang," ucap Allea manja yang membuat gemas kekasihnya. Satu ciuman mendarat sekilas dengan sayang di bibir Allea.
"Aku hanya mencintai wanita cantik namun rapuh ini," ucap Liam, memuji sekaligus menjatuhkan Allea. Membuat Allea menggigit kecil telinga Liam.
"Wanita itu terlihat polos, penampilan dia sederhana dan sikapnya apa adanya. Walau begitu dia wanita yang cerdas. Pengalaman hidupnya yang pahit mungkin membuat dia lebih berambisi dari yang dia kira."
"Banyak juga kelebihannya, aku jadi penasaran," Liam berkata dengan nada menggoda Allea.
"Hmmm, sudah ada bau berpaling ya," ucap Allea seperti merajuk. Padahal Allea yakin kepada kekasihnya. Kepercayaan yang awalnya membangun hubungan mereka menjadi lebih dekat dan memutuskan menjadi sepasang kekasih.
"Jadi berapa lama sayang? Aku benar tak kuat lagi menahan hasrat padamu. Aku ingin menikahimu secepatnya." Liam kembali memeluk dan memberi ciuman panas ke bibir Allea. Allea melepaskan ciuman kekasihnya sebelum menjadi lebih panas. Allea yakin jika dia tidak bisa mengendalikan maka prianya jauh lebih tidak bisa.
"Minumlah sayang, minuman sudah mulai dingin," ucap Allea bergetar menahan gairahnya.
"Minumanku memang mulai dingin sayang tapi suhu tubuhku semakin panas," bisik Liam di telinga kekasihnya.
"Guyur tubuhmu di bawah shower sayang!" perintah Allea.
"Kamu memang paling pintar menyiksaku sayang," ucap Liam meminum mocha latte-nya lalu beranjak ke kamarnya.
Inilah uniknya pasangan Allea dan Liam, walau serumah mereka tidak satu kamar. Mereka sama berjanji untuk saling menguatkan agar tidak melakukan **** bebas. Walau pada dasarnya Allea yang lebih banyak menahan agar tidak kebablasan.
Allea mengambil ponselnya dan menelpon Melly, "Hello Mel, ada apa, aku melihat panggilan tak terjawab darimu."
"Anitha meneleponku dan memintaku menghubungi Mbak. Apa Mbak belum ada ngecek ponsel?"
"Belum Mell, ok, nanti mbak hubungi. Apa ceritanya Mell, ada kabar bagus?" tanya Allea
"Sepertinya dugaan Mbak benar, mas Nan menyukai Anitha."
"Besok siang atau malam nanti mbak telepon."
"Ok Mbak, Mbak sehatkan?"
"Sehat sayang. Kamu?"
"Aku sehat Mbak. Mbak bahagia?" tanya Melly hati-hati pada kakaknya.
"Bahagia, tapi mbak akan lebih bahagia jika Anitha berhasil Mell. Liam memang sudah menyuruh mbak tidak usah mengharapkan harta itu. Tapi mbak membutuhkan untuk mengembangkan usaha."
"Sabarlah Mbak, bukannya sebelum berangkat Mbak yakin Anitha berhasil, dan Mbak juga punya feeling kalau mas Nan sedikit tertarik padanya."
"Iya sayang, kita tunggu saja ya."
"Mbak benar gak cemburu mengetahui mas Nan tertarik pada Anitha?"
"Tidak sedikitpun Mell, bersyukur malah. Mbak ingin menikah dengan Liam. Mbak mau nyiapin makan malam dulu untuk abang ipar barumu, heheee," kekehan Allea meluncur dengan ringan.
"Duhhh yang lagi jatuh cinta, Singapura rasa milik berdua." Melly sangat senang mendengar tawa bahagia kakaknya.
"Mbak tutup telepon, kamu jangan lupa cari pasangan, umurmu tidak muda lagi. Jangan sibuk dengan karier dan duniamu." Allea langsung mematikan sambungan telepon. Melly cemberut di seberang sana.
Melly Bhetriya adik kandung dari Allea Bhetriya. Mereka hanya dua beradik. Mereka anak pasangan konglomerat dari bapak Adi Wardana dan ibu Ningsih Bhetriya.
Melly berusia 30 tahun, selisih lima tahun dari kakaknya. Dia wanita sukses dalam usahanya namun tidak urusan percintaan. Melly memiliki beberapa kafe di beberapa daerah dan mengelola sebuah butik yang cukup ternama. Namun tidak pernah mempunyai kekasih.
***
Allea di negara seberang sibuk membuat masakan buat orang yang di cintanya, begitu pula Anitha. Walau bukan untuk orang yang dia cinta.
Anitha sedang asyik berkutat di dapur. Dia terbiasa memasak untuk suaminya. Makanya dia selalu menikmati waktunya di dapur. Anitha tidak menyadari langkah tuan Nan yang sudah berada di dapur dan bersandar dengan tenang memperhatikan Anitha.
Entah langkahnya yang ringan atau memang dia mengatur langkah supaya tidak terdengar oleh Anitha. Dia hanya ingin mengamati Anitha dari dekat tanpa ada niat menggodanya seperti yang dikatakan pada Jeffy di kantor.
Tuan Nan melihat betapa serius Anitha jika memasak. Sesuatu perasaan hangat kembali membanjiri dirinya. Sudut hati yang kosong sedikit demi sedikit terisi oleh sosok dan tingkah laku Anitha.
Dengan rambut di ikat ala kadarnya dan memakai baju kaos biasa tidak memudarkan kecantikannya. Karisma Anitha begitu kuat melekat di dirinya dan di mata tuan Nan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Keren Thor...😍😍
2021-08-21
1
Whiteyellow
Aikh....,aku yakin Nan gejala....,dia pasti bucin akut nantinya.
Anita....,wokelah.😁😍🤗
2021-04-27
0
Mika Framita
hahaaha jadi ikut gmn rasanya😂😂😂
2021-03-31
1