"Pagi Tuan," sapa Anitha basa-basi.
"Pagi," jawab tuan Nansen singkat. Anitha menarik kursi untuk tuannya.
Tuan Nan ingin tertawa, namun tak ingin membuat Anitha besar kepala. Dia ingin tanpa Anitha sadari kehadiran dirinya mampu meninggalkan kesan di hati Anitha, sehingga Anitha akan merasa ada yang kurang ketika dirinya tidak ada.
"Apa misi hari ini Putri Boneka?"
"Gak ada Tuan, apa saya langsung rayu Tuan saja?"
"Huu, dengan kemampuan minim kamu ingin merayuku? Jangan mimpi kamu." Tuan Nansen ingin memprovokasi Anitha.
"Aku tidak tidur, bagaimana aku dikatakan bermimpi?" Anitha menjawab santai.
"Jadi kamu ingin saya ajak tidur? Atau mungkin saya tiduri?" Tuannya semakin memprovokasi Anitha.
Anitha bukan gadis kemaren sore. Tiada rona melukis di pipi mendengar kata-kata berbau ****. Anitha menjawab dengan ringan provokasi tuannya, "Saya bukan anak kecil lagi Tuan, yang harus anda temani tidur untuk mendengar dongeng indahmu. Saya bisa tidur sendiri tanpa anda tiduri."
"Kamu wanita tidak ada malu-malunya. Bisa tidak feminim sedikit!" Tuannya malah merasa terpancing dengan kalimat provokasi Anitha.
"Setidaknya saya tidak malu-maluin anda Tuan," jawab Anitha kembali.
Tuan Nan enggan membalas. Wanita di depannya jika diperturut maka bisa menjadi. Dia takut lepas kontrol dan bersikap mengalah. Bukan itu tujuan utamanya.
Anitha kembali ke dapur, dan menyiapkan bekal makan siang. Dimakan atau tidak, Anitha tidak ambil pusing. Usaha adalah jalan yang lebih nyata dari pada berdiam diri. Dia ingin tuannya merasa diperhatikan. Lelaki bukannya suka goyah dengan perhatian lawan jenisnya. Menurut Anitha, nyonya Allea mungkin lupa poin ini atau tuan Nansen pada dasar memang keras hati.
Tepat ketika tuannya berdiri meninggalkan meja makan, Anitha menyodorkan bekal yang telah dipersiapkan, yaitu nasi putih ditambah daging sapi saus pedas manis dan wortel rebus serta kentang panggang dengan potongan unik-unik. Anitha sengaja membuat potongan lucu-lucu.
"Apa ini?" tanya tuan Nan sedikit mengernyitkan dahi.
"Bekal makan siang," sahut Anitha datar.
"Kamu pikir saya anak Taman Kanak-kanak."
"Dasar picik," ucap Anitha memancing kekesalan.
"Maksudmu?"
"Anggap saja aku istri salehah yang membuatkan bekal buat suami. Selain higenis, bekal ini juga sedap dan pas di lidah Tuan."
Tuan Nansen menerima dengan raut malas dan membuat Anitha tersenyum manis. Tuan Nan berlalu dan masuk ke dalam mobil. Tak lama terdengar deru mobil menjauh.
"Yes," batin Anitha.
Jika Anitha bersorak kegirangan dalam hati berbeda dengan tuan Nan. Masih dengan memandang kotak bekal di samping, dia bergumam, "Akan aku buat engkau memberikan kotak bekal ini karena cintamu padaku, bukan karena misi semata Anitha Putri."
Gumaman tuan Nan terdengar oleh sopir. Wajah keheranan terpapar jelas di wajah sang sopir. Sambil melirik sebentar ke kaca spion sang sopir memperhatikan tuannya.
Tuan Nan menyadari tatapan heran sopir. Dia bertanya, "Kenapa? Heran kamu," ucap tuan Nan kepada sopir yang bernama Harri. Pria berusia 27 tahun. Lajang.
"Maaf Tuan," ucap Harri. Bukannya menjawab, dia justru minta maaf.
"Kamu suatu saat akan merasakan apa yang saya rasakan sekarang," ucapnya singkat.
***
"Selamat pagi Pak," sapa Helmi, sekretaris pribadinya. Helmi hanya berdiri saat mengucapkan salam. Helmi melirik Harri yang mengikuti tuan Nan sambil menenteng kotak bekal dengan heran.
Selama dia bekerja pada tuan Nansen ini kali pertama sopir tuan Nan ikut naik ke kantor dan itupun sambil menenteng kotak makanan.
"Terima kasih Ri, silahkan taruh di atas meja, "
Harri meletakan dan pamit keluar dari ruangan. Tuan Nan memandang kembali kotak bekal yang dikemas Anitha. Ada sebuah perasaan hangat yang mengalir dalam hati.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk," terdengar suara tegas tuan Nansen.
"Hari ini kita ada agenda untuk rapat Pak, ada investor dari negara orang tua Bapak," ucap Helmi.
"Ok."
"Saya permisi dulu Pak, nanti akan saya panggil Bapak jika mereka sudah sampai."
Negara Indonesia adalah sebuah negara yang berkembang. Banyak pihak luar yang berupaya bisa berinvestasi ke negara ini. Mereka memprediksikan sepuluh tahun ke depan negara ini akan makin berkembang, baik itu bidang teknologi informatika maupun dunia pendidikan dan kebudayaan.
Nansen Adreyan pria blasteran ayah Andorra dan ibu Solo.Ibunya menjodohkan tuan Nansen dan nyonya Allea. Nyonya Allea adalah anak dari teman ibunya, yang juga termasuk keluarga berada. Tuan Nansen awalnya sudah menolak, namun ibunya sudah terlanjur berjanji untuk mau menjodohkan anak mereka.
Harga diri ibunya terlalu tinggi untuk membatalkan. Tuan Nan yang pada dasarnya termasuk penurut, akhirnya tidak menolak. Tuan Nan berharap sering bersama bisa membuat dia jatuh hati dan cinta pada istrinya seperti yang ibunya katakan. Namun tuan Nan tidak merasa getaran apapun di hati. Dia gagal.
Sekian tahun sudah menjalankan biduk rumah tangga, tetap tidak ada perasaan cinta di hatinya. Bagaimana pun dia tidak menyesali sudah membuat perjanjian pranikah. Ini yang dia takutkan, dia tidak bisa memberikan apa yang nyonya Allea mau, namun dia tidak bisa membiarkan istrinya melepaskan diri begitu saja. Egois. Itu satu kata yang cocok buatnya.
Hanya saja tuan Nan tidak menyangka nyonya Allea punya rencana begitu licik. Tuan Nan lebih tak menyangka akan jatuh cinta pada sosok wanita yang begitu sederhana dan hanya dari kalangan biasa. Wanita berbeda tipikal dari istrinya.
"Ahhh... inikah rasanya jika kita mencintai seseorang, " batin tuan Nan yang masih duduk santai di kursi kebesaran.
Di hati tuan Nan selalu ingin merasa cepat pulang. Namun dia harus lebih tenang. Dia tak ingin Anitha mengetahui isi hatinya dan makin di atas angin.
Berbekal informasi yang baru didapatnya, tuan Nan yakin sedikit banyak ada terselip trauma di hati Anitha dengan perjalanan hidup dia yang berputar begitu saja. Itu akan sulit untuk dia menerima rasa cinta begitu saja.
***
Rapat telah selesai dan tuan Nan telah kembali ke ruangan. Dia termangu sambil memutar-mutar ponsel di atas meja. Pemandangan ini membuat Jeffy mengernyitkan dahi.
"Pemandangan macam apa ini," teriak Jeffy menggodanya.
"Kebiasaan tidak bisa mengetuk pintu!"
Jeffy tak memperdulikan protes tuan Nan. Dia mendekati tuan Nan dan duduk di depan meja kerja tuan Nan. "Ada apa sampai ponselmu jadi bulan-bulanan," ejek Jeffy.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan dia," ucap tuan Nan.
"Hahahahaha ...." tawa lepas Jeffy membahana di ruangan tuan Nan.
"Aku tidak butuh tertawamu!"
"Aku penasaran, seperti apa dia!" tegas Jeffy.
"Kalau kau penasaran, ikut aku untuk makan malam di rumah."
"Kenapa tidak kau beri saja kemewahan bukankah wanita mudah luluh karena itu?" solusi Jeffy.
"Sudah, aku janjikan satu milyar. Dia setuju tetapi tanpa cintanya!"
"Apa maksudmu? Jika begitu dia wanita materialistis atau bahkan tak sehat."
"Jaga ucapan Jeff, jangan kau kata wanitaku jika tidak tahu duduk soalnya. Seingat aku, bukankah sudah pernah cerita padamu tentang hal ini?"
"Entah, aku lupa."
"Dia melakukan itu atas izin aku dan Allea, dengan waktu yang berbeda dan tujuan berbeda. Aku harus mendapatkan dia menjadi wanitaku," ungkap tuan Nan penuh tekad.
"Kalau begitu kalian bertiga sama gila," kata Jeffy berdecak heran.
"Sudahlah jangan banyak protes, aku butuh saran bukan kritikan."
"Oke nanti aku makan malam di rumah."
"Good, jadi ada alasan aku menelpon dan mendengar suaranya," kata tuan Nan penuh kesenangan.
"Gila kau, cuma ini alasan kau memainkan ponselmu di atas meja. Kelakuanmu tadi ibarat anak remaja cinta monyet bukan bule separuh, apalagi seorang CEO," omel Jeffy. Namun tuan Nan sudah tidak menggubris omongan Jeffy. Dia fokus menunggu Anitha mengangkat ponsel.
"Halo Tuan, ada apa?" Anitha berkata dengan tidak menutupi nada heran.
"Nanti malam siapkan makanan dengan porsi lebih, temanku ada yang mau numpang makan di rumah. Aku harap kamu tidak mempermalukan aku Wanita Boneka."
Tanpa menunggu Anitha menjawab dia memutuskan sambungan telepon, dia sengaja agar Anitha merasa kesal.
"Ciihh ... tak ingat umur! MABUK CINTA!"
"Hahahaha kau itu juga sudah tua, cari lagi pasangan, biar tidak sensi liat orang jatuh cinta." Tuan Nansen balik mengejek Jeffy.
***/
Cie-cie yang lagi teleponan jangan lupa tinggalkan LiVoRa ya pada Author yang susah bergadang demi menghibur readers tersayang terkasih. 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Adin Da
crtny mnglir enk mdh d selmi
2024-07-31
0
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Ceritanya Bagus banget Thor..JUARA..😘😘
2021-08-21
1
Farida Wahyuni
lucu nih pasangan ini. anitha jangan mudaj luluh ya, biar dia berjuang dengan keras dahulu.
2021-08-20
1