Semakin terlarang malah semakin berani.
Semakin terlarang malah semakin tertantang.
Semakin sadar bahwa waktu yang akan mengungkap semuanya.
Juga menghancurkan jalinan yang telah tercipta.
...****************...
Gio menatap Luna yang sedang menjalani syuting dari kejauhan. Hari ini, ia menemani Luna syuting di Bogor. Sedari tadi, Gio tidak melepaskan pandangannya. Melihat Luna yang sedang berakting mesra bersama Adit.
Saat break syuting, Luna juga tidak menghampirinya. Entah mengapa, Gio rasanya terganggu dengan kedekatan Adit. Namun, menahan Luna untuk dekat dengan pria lain juga bukan haknya.
Hubungan mereka menggantung. Tidak ada kejelasan, meski hampir setiap malam mereka saling menghangatkan. Bukan salah Luna, tentu saja Gio sadar itu. Ia sendiri yang menggantung hubungan ini.
"Mas Gio, tunggu ya. Masih ada beberapa adegan lagi. Abis ini kita bisa balik." Luna mendekatinya seraya menggandeng Gio mesra. Hal itu rupanya sempat diabadikan oleh beberapa wartawan yang kebetulan datang ke lokasi syuting.
"Lun, jangan gini, banyak wartawan." tegur Gio sambil melirik beberapa wartawan yang memandang mereka dengan pandangan bertanya.
"Biarin aja Mas, aku suka kok orang-orang tahu kita dekat." balas Luna sembari melirik sekilas para wartawan itu.
"Tuh kamu udah dipanggil lagi buat syuting." Gio menunjuk mbak Vinta yang sudah setengah berteriak ke arahnya.
"Iya deh, mas Gio tungguin aku ya." Luna berjinjit, mencium pipi Gio sekilas. Tapi wartawan kecolongan, mereka tidak sempat mengabadikan moment itu.
Adit memperhatikan itu dari kejauhan. Ia tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungan Luna dengan Gio, tapi ia bisa melihat Luna menaruh hati pada pengawalnya itu.
Gio memilih masuk ke dalam mobil. Ia menurunkan kursi mobil, membaringkan tubuhnya di sana. Pandangannya lagi-lagi menerawang. Apa yang harus ia lakukan? haruskah jujur pada Dewi bahwa ia sudah berkhianat?
Apa kata kedua orangtuanya nanti. Apa kata keluarga Dewi juga? Ia jadi serba salah. Katakanlah dia plin plan, tidak gentle, pengecut, atau apapun itu. Rasanya memang pantas ia mendapat julukan itu.
"Mas Gio." Luna masuk ke dalam mobil. Gadis itu merebahkan setengah tubuhnya diatas Gio yang sedang berbaring. Gio membelai rambut Luna lembut.
"Udah?" tanya Gio sembari mengecup bibir ranum itu lembut.
"Udah Mas, tapi kita jangan pulang dulu ya. Kita ke puncak, aku pengen lihat perkebunan teh disana." sahut Luna dengan posisi masih memeluk lelaki itu.
Suara ketukan pintu mobil mengagetkan keduanya. Luna segera bangkit, begitu pun Gio. Gio segera menurunkan kaca mobil yang gelap itu. Dilihatnya mbak Vinta sedang menunggu di sana.
"Mbak Vinta, ngagetin aja." ujar Gio dengan senyuman. Wanita gempal itu hanya nyengir seraya memandang curiga keduanya.
"Emang lagi pada ngapain sih, bisa kaget begitu?" tanya Vinta penuh selidik.
Gio dan Luna hanya tersenyum. Membuat Vinta semakin curiga saja.
"Kenapa Mbak?" tanya Luna berusaha menguasai keadaan.
"Nih, dompet kamu ketinggalan tadi." Mbak Vinta mengulurkan dompet berwarna dongker itu pada Luna.
"Ah iya, ceroboh banget sih Luna." maki Luna pada dirinya sendiri.
"Ati-ati Lun, lain kali jangan ceroboh lagi. Duit segitu banyak kamu main tinggal aja." sahut Mbak Vinta mengingatkan.
"Oke Mbak. Oh iya, aku jalan dulu ya. Mbak Vinta beneran gak mau bareng? "tawar Luna lagi.
"Nah kan pelupa lagi dia, Mbak bawa mobil Lun. "
"Ah Iya, lupa lagi Luna."
Ketiganya tertawa. Setelah basa basi singkat itu, Gio akhirnya menghidupkan mesin mobil, membawa Luna menuju kawasan puncak.
"Mas Gio sini..." Luna melambai ke arah Gio, ia sudah berada di tengah-tengah perkebunan teh.
Gio mendekati Luna, membalas sapaan para pemetik pucuk teh yang kebetulan lewat. Para pemetik nampak terpesona pada Gio yang begitu gagah juga tampan itu.
"Wah, itu pacarnya ya Mas? cantik sekali." puji seorang ibu pemetik teh sambil menunjuk Luna.
"Saya kayak gak asing loh liatnya." Ibu yang lain menimpali berusaha mengingat.
"Oh iya, itu kan Laluna. Artis yang lagi naik daun. Kita minta foto yuk." Mereka berbondong-bondong mendekati Luna. Luna sedikit kewalahan melayani permintaan foto bareng itu.
Gio mendekat, membantu Luna untuk mengatur orang-orang yang sudah heboh. Mereka senang sekali bisa foto bareng dengan gadis cantik itu.
"Mas Gio, kadang aku capek banget jadi artis." keluh Luna, mereka sedang berjalan beriringan menyusuri perkebunan teh.
"Itu kan udah jadi cita-cita kamu dari kecil. Jalani aja Lun." sahut Gio penuh pengertian.
"Hmmmmm, tapi kalo seandainya mas Gio nanti menikah, mas Gio pengen gak punya istri seorang artis? atau model?" tanya Luna serius.
"Gak Lun, Mas gak rela istri mas dipegang-pegang walau hanya sebatas adegan film." sahut Gio sambil tersenyum.
"Aku siap kok ninggalin itu semua kalo aku berjodoh sama Mas Gio." ujar Luna lagi dengan suaranya yang lirih. Gio menoleh, ada getaran di dadanya saat Luna mengutarakan itu.
Lun, seandainya aku ketemu kamu dulu, dari pada Dewi. Batin Gio penuh sesal.
"Lun... maaf ya."
"Untuk apa Mas?" tanya Luna sambil mengerutkan kening.
"Untuk semuanya Lun."
Luna menghentikan langkah. Ia menatap Gio dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mas Gio, aku mencintai Mas Gio itu urusanku. Tentang perasaan mas Gio padaku, itu urusanmu." ucap Luna lirih. Ada air yang menggenang di matanya. Namun Luna segera menyeka. Tak ingin terlihat lemah di depan pria yang ia cintai.
"Lun..."
"Pasrahkan saja Mas, pada waktu. Aku gak ingin memaksakan semua hal yang gak bisa dipaksa. Sekarang, jalani aja apa adanya. Aku sudah pernah terluka oleh pria, rasanya sudah kebal." Luna menyunggingkan senyum. Semakin pilu Gio mengenang hubungan ini.
"Lun, Mas sangat sayang kamu. Beri mas waktu ya." Gio menarik Luna ke dalam pelukannya.
Luna mengangguk, airmatanya keluar. Tanpa isak. Luna membalas pelukan Gio erat. Luna sebenarnya sudah merasa ada yang Gio sembunyikan darinya. Namun, ia tidak ingin memaksa Gio berterus terang. Ia takut mendengar kenyataan tak sesuai harapan. Setidaknya, sekarang biarlah ia merasakan indahnya kehadiran Gio di sisinya.
Berpasrah pada waktu. Memang benar sepertinya. Baik Gio maupun Luna hanya bisa berpasrah pada waktu. Waktu yang entah akan membawa mereka ke lembah kehancuran atau kebahagiaan.
"Mas Gio, kenapa baru sekarang kita dipertemukan?" gumam Luna lirih dengan wajah terbenam di dada lelaki itu.
Gio hanya terdiam. Pelukannya semakin menguat, mengerat. Sakit rasanya, membayangkan mereka tak bisa bersatu. Jurang pemisah ini terlalu lebar. Sementara Gio masih terlalu pengecut untuk membuat pilihan.
Kalau saja masih ada harapan. Untuk Luna dan juga dirinya. Gio bersedia menukar semua hidupnya dengan harapan itu. Nyatanya, hampir tak ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Niko Valen
aku kok jadi kasihan sama dewi ya tor! bukan salah luna juga sih! gio nya aja yang gak bisa tegas. jadi ikut sakit hati baca novel ini tapi penasaran ma endingnya
2021-11-25
0
Nie Yha
pasti papanya tahu kan ya kalau mereka ad hbungan. luna di amerika aja dia bisa tahu luna ngapain aja
2021-05-31
0
Salma Asyura
pasrahkan pada Otor jodoh Gio n Luna
semangat Tor👩💻✊😄
2021-04-20
2