...Hati terus saja membisikkan kata takdir. Namun selalu saja ada kata tidak terima....
...______...
Hiruk pikuk keramaian mengisi suasana di sebuah tempat, untuk mengisi kekosongan perut. Para manusia berbondong-bondong untuk menuntaskan rasa laparnya masing-masing.
Sebuah pintu kaca terlihat terbuka perlahan, menampilkan empat orang manusia dengan pahatan wajah bak dewa-dewi. Setiap langkah yang diambil membuat para manusia di tempat tersebut meneguk ludahnya kasar. Aura yang dipancarkannya begitu terasa, hingga membuat tempat yang begitu luas tersebut begitu sesak.
Tidak, bukan empat orang.
Hanya satu. Siapa lagi? kalau bukan laki-laki tampan dengan aura mengintimidasinya lah yang membuat semua orang disana bergidik ngeri.
Meski auranya yang mengerikan, tetap saja membuat pasang mata para kaum hawa menatapnya penuh minat, serta pancaran kekaguman yang luar biasa. Namun tidak juga menatapnya secara terang-terangan tentu saja, karna mereka masih ingin melihat berapa cerahnya hari esok, dan merasakan hidup di dunia yang kejam sekaligus indah ini.
Suasana yang tadinya bagaikan pasar mendadak hening seperti kuburan. Kepala yang tadinya tegak, mendadak tertunduk bagaikan rakyat jelata yang didatangi oleh sang Raja. Laki-laki yang tengah berjalan angkuh tersebut menarik sudut bibirnya.
Bukan senyuman, itu sangat mustahil terjadi. Jika tidak bersama dengan gadis yang kini tengah berada di sampingnya, senyum tampan itu tidak akan keluar. Smirk yang di keluarkannya menandakan betapa arrogantnya, serta betapa nikmat yang ia rasakan ketika melihat pemandangan tersebut.
Jiwa penguasanya begitu menikmati, ketika melihat orang-orang tertunduk hormat padanya. Tidak lebih tepatnya ditakuti, maybe.
Hormat dan ditakuti sebuah kata yang sangat berbeda jauh. Namun, siapa yang peduli? Asalkan kepala sudah tertunduk, entah itu hormat atupun ditakuti akan menjadi tidak penting lagi.
Steve melirik gadis di sampingnya yang tengah ia genggam tangannya dengan begitu erat. Ia melihat mata cantik gadisnya melirik kesana kemari, dan seketika pemilik iris mata hazel tersebut terhenti pada suatu tempat.
Keadaan tempat tersebut memang sangat ramai membuat Carla kebingungan. Namun tiba-tiba saja ia melihat tempat duduk dekat jendela besar, yang menampilkan keindahan hamparan taman sekolahnya yang terhalangi sebuah kaca, namun tidak menutupi keindahannya.
Mata gadis tersebut terpaku sejenak, ia bagaikan manusia yang baru melihat dunia. Angin berhembus pelan dari segala arah, semilirnya mendamaikan segala jiwa yang hidup di bumi. Bunga pun tumbuh mekar dengan harum yang menyeruak menawan mengusik indera penciuman semua orang. Serangga seperti lebah madu, terbang dengan gembiranya sembari menghisap sarinya. Lamunan serta kekagumannya hilang seketika, ia tersentak ketika tangannya ditarik entah kemana oleh laki-laki di sampingnya.
Steve yang melihat ketika gadisnya terpaku pada tempat duduk yang berada di pojokan, segera menariknya pelan. Carla yang merasa tangannya ditarik hanya mengikuti tanpa bertanya apapun, begitu juga dengan dua insan yang bersamanya, Alden dan Keisya. Namun ketika tahu kearah mana ia ditarik, Carla segera menghentikan langkahnya.
"Steve kita duduk disana saja."
Carla segera menunjuk tempat yang kosong, dan laki-laki tersebut hanya menatapnya datar. Steve kemudian kembali menarik tangan Carla, tanpa menjawab ucapan dari gadisnya. Carla hanya menghela nafas, sedangkan Keisya bergerak gelisah dan Alden nampak tenang-tenang saja. Entah kemana dua insan berbeda pendapat itu akan membawanya.
Seorang laki-laki dengan kacamata bulat tebalnya tengah duduk di pojokan. Seraya matanya yang tak lepas pada pemandangan sekitar yang memanjakan matanya. Ia dengan santai menyantap makanannya, hingga ia tersentak ketika kedatangan seseorang di depannya. Laki-laki tersebut membenarkan kaca matanya sambil melihat siapa gerangan yang datang pada orang sepertinya.
Carla sudah bergerak tidak nyaman, ia kalut dengan pikirannya sendiri. Ia takut akan ada kejadian yang tidak mengenakkan terjadi di tempat ini. Terlebih suasana yang sudah berubah menjadi temaram, hanya karna kedatangan dari seorang Steve Roger Watford.
Carla merutuki dirinya sendiri karna sempat terpaku pada tempat yang ia tengah singgahi sekarang ini. Sekaligus ia merasa heran. Apa sebegitu tajam kah penglihatan laki - laki yang menyandang status kekasihnya ini? Sampai-sampai ia ditarik ke tempat ini, hanya karna ia terpaku sejenak.
Mengerikan.
"Steve, ayo kita duduk disana saja!"
Sekali lagi Carla mengucapkan kata - kata itu meski tak dihiraukan sekalipun. "Ayo, aku mohon. Jangan mencari masalah sekarang!" bisiknya lagi sambil menggenggam tangan Steve lembut, namun tak juga dihiraukannya. Keisya yang ikutan gelisah menarik baju sahabatnya pelan, dan ia hanya mendapat tatapan yang sulit di artikan dari Carla. Sedangkan Alden? Ia hanya menggelengkan kepala pelan sambil bersedekap dada. Ia akan melihat drama di hadapannya ini akan berlangsung sampai tahap mana.
"Carla?"
Bukan.
Bukan Steve atau Keisya, apalagi Alden yang berbicara, namun seorang laki-laki dengan kaca mata bulat yang bertengger di hidungnya tersebut, yang memulai pembicaraan. Tanpa mengetahui, ia tengah menyulut bara api di hati seseorang. Ia dengan segera berdiri, dengan mata yang tak lepas untuk menatap seorang gadis cantik di depannya. Laki-laki tersebut tidak menyangka.
Bahwa ia akan dihampiri lebih dulu.
Carla yang melihatnya juga sedikit terkejut, sudah lama ia tidak melihat laki-laki dengan tampang cupu itu. Ia tersenyum senang sambil melangkah maju untuk menyapa teman lamanya.
Belum satu langkah, Carla tersentak pada seseorang yang tiba-tiba menarik kasar tubuhnya. Steve sekarang merasa di dustai, niatnya kesini baik-baik karna melihat Carla yang menyukai tempat duduk disini, malah melihat pemandangan baru yang menghantam hatinya dengan begitu kuat. Seperti biasa pikiran buruk menghantui seluruh isi kepalanya sekarang.
Mulai dari kekasihnya yang terpaku pada tempat ini, diiringi dengan sebuah kata pengkhianatan. Sekujur tubuhnya terasa kaku menahan amarah. Apa gadisnya berselingkuh dengan laki - laki cupu ini? Apa tadi Carla-nya terpaku pada orang ini? tangannya terkepal menahan amarah, giginya sampai berbunyi bergemelatuk.
Keisya semakin bergidik ngeri, niat untuk mengisi perut yang lapar malah berakhir bencana. Carla merasa seperti tenggelam kedalam dasar samudera secara perlahan, tidak bisa ke tepi apalagi untuk mengatakan sepatah kata yang akan meluruskan kejadian sepele ini.
"Steve, aku mohon tenanglah...kau hanya akan tenggelam pada pikiran-pikiran burukmu, yang juga akan membuatmu tersiksa."
Carla berujar sangat pelan bahkan nyaris berbisik, sedang tangannya dengan gemetar mengusap lengan kokoh kekasihnya pelan. Hatinya bergemuruh takut, tubuhnya gemetar hebat. Steve memejamkan matanya erat, setelah tadi ia menghunuskan iris gelapnya pada laki-laki yang juga terlihat ketakutan tersebut.
"Kau berhutang penjelasan padaku baby. Cepat jelaskan! atau aku akan menghancurkan tempat ini sekaligus...penghuninya?!"
Bisikan tersebut membuat tubuh Carla lemah, sekaligus ketakutan mendalam yang membuat kinerja tubuhnya menjadi lumpuh. Hanya sebuah anggukan yang sanggup Carla lakukan saat ini, bibirnya terkatup rapat membentuk sebuah garis lurus. Bahkan mereka sekarang sudah menjadi pusat perhatian semua penghuni yang ada di sana.
"Gunakan mulutmu, hmm!"
Tubuh Carla semakin meremang, dan ia memejamkan mata erat sebelum membuka mulutnya.
"I-iya...aku akan menjelaskannya." cicitnya pelan.
Carla maju satu langkah sebelum mata indahnya mengedarkan ke seluruh penjuru tempat tersebut. Seketika semua penghuni disana tertunduk, berbeda dengan sebelumnya yang menjadi seperti penonton drama di bioskop. Sambil menikmati santapannya masing-masing. Carla menghembuskan nafasnya, ia merasa seperti pengidap asma.
"Steve perkenalkan ini Edgar temanku, dan Edgar ini Steve-"
"My beloved girlfriend."
Sela Steve dengan cepat sambil tersenyum miring ke arah laki-laki, yang terlihat tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari gadisnya. Setelah mengatakannya, dengan cepat Steve menarik kekasihnya mendekat, yang tadinya sempat maju selangkah. Kemudian ia merengkuh erat pinggang Carla. Alden yang menyaksikannya hanya tersenyum miring, ia kemudian melirik gadis disampingnya, sepertinya ia juga terlihat ketakutan.
Steve meremas kuat pinggang kekasihnya ketika melihat Carla hanya diam saja, seolah menyangkal ucapannya. "Benarkan baby?"
"Emm....i-iya..."
Carla terasa sesak oleh rengkuhan Steve serta suasana disana yang begitu serasa suram. Ia bahkan belum selesai mengatakan ucapannya, yang sudah disela begitu saja oleh kekasihnya itu. Dengan mengatakan kepemilikan yang begitu arrogant. Edgar yang tadinya mengulurkan tangannya sudah ditarik kembali olehnya. Karna ia merasa tidak ada balasan untuk itu.
Carla merasa sangat tidak enak hati pada temannya yang berkaca mata itu. Laki-laki itu terlihat menundukkan kepalanya, seperti menyelamatkan diri dari tatapan mematikan Steve. Carla sedikit meronta selain tidak nyaman, ia juga malu bagaimanapun ia tengah berada di tempat umum sekarang.
"Steve, tolong lepaskan!"
Dengan sekuat tenaga Carla meronta, tapi hasilnya hanya nihil. Rengkuhannya terlalu kuat hingga ia rasanya pinggangnya akan segera patah. Dengan wajah memelas ia menatap Steve yang balas menatapnya dengan datar. Namun perlahan ia melonggarkan rengkuhannya. Carla segera menatap Edgar yang terlihat menunduk tersebut.
"Edgar, kenapa kau disini?"
Carla membuka percakapannya, dan Steve? Ia memalingkan wajahnya dengan kesal hatinya terbakar oleh gejolak rasa cemburu yang menggebu. Edgar menegakkan kepalanya mendengar nada lembut nan halus tersebut mengalun indah di telinganya, bagaikan musik yang merdu.
"Aku pindahan, dan bergabung menjadi siswa baru disini." jawab Edgar sambil tersenyum senang, raut ketakutannya sirna begitu saja setelah mendengar suara Carla yang mengalun merdu di telinganya.
"Benarkah? Wah selamat kalau begitu. Sudah lama aku tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kau sendiri?"
"Ya begi--"
"Sudah, hentikan omong kosong ini!"
Belum selesai Carla berucap ia sudah disela oleh ucapan ketus dari Steve. Steve merasa sangat geram, amarahnya semakin berkobar. Rasanya ia ingin merobek mulut dari laki-laki cupu yang terlihat sangat ceria tersebut, hanya karna pertanyaan simpel yang dilontarkan gadisnya.
"Steve jangan begi--"
"Sepatah kata lagi yang keluar. Aku akan menggantung kepala laki-laki cupu itu di kamarmu!" desis Steve tajam sambil mencengkram tangan Carla erat.
Carla merasakan jantungnya berhenti berdetak setelah mendengar bisikan yang penuh kesadisan tersebut. Ia tau itu tidak akan main-main. Padahal masih banyak lagi yang ingin ia bicarakan dengan teman lamanya tersebut, namun ia hanya melihat satu dan dimana saudaranya?
Setelahnya Carla hanya diam dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia sedang memegang nyawa seseorang, jadi itu bukanlah suatu hal yang bisa di permainkan. Carla menoleh pada Edgar yang terlihat hanya mematung. Ia kemudian mengulas senyum yang dibalas oleh laki-laki berkaca mata itu dengan senyuman kaku.
Kemudian Carla merasa ditarik oleh Steve entah kemana. Matanya hanya menatap Edgar yang juga menatapnya nanar. Carla merasa tidak enak pada temannya itu. Tapi apa boleh buat? Beginilah memang salah satu akibat dari mempunyai kekasih yang memiliki kepribadian luar biasa. Alden dan Keisya dengan cepat menyusul langkah kedua insan tersebut. Perutnya sudah meronta minta diisi. Kapan ini akan berakhir? Jiwanya meronta lapar sekaligus ngeri melihat sifat kekasih sahabatnya.
"Duduk."
Steve menarik kursi, dan menyuruh kekasihnya untuk duduk. Makanan dan minuman sudah tersaji begitu banyak dan menggugah selera. Namun gadis tersebut hanya menatap Steve dengan pandangan, entahlah. Ia tidak tahu harus mengatakan dan bertanya apa. Melihat pandangan dari Carla serta masih juga belum duduk, dengan kasar Steve menekan bahu Carla sampai terduduk.
Pandangan Keisya masih sama, ngeri serta iba pada sahabatnya. Sedangkan Alden hanya diam saja dan segera menarik kursi untuk duduk. Ia tidak mau ikut campur pada urusan saudara sepupunya. Terlebih ia melihat sifat temprament yang dimiliki oleh Steve, membuatnya enggan mengeluarkan suara peringatan. Ia bukannya takut, sama sekali tidak. Disini di tempat umum, akan jadi keributan bila ia memberi sebuah petuah. Hal tersebut juga hanya akan berimbas pada Carla.
"Makanlah."
Steve menyodorkan makanan yang membuat Carla memalingkan wajahnya. Di meja begitu banyak makanan yang tersaji. Tapi dia, hanya bubur?
"Tap--"
"Makan, kau masih sakit."
Steve menyodorkan sendok yang sudah berisi bubur. Dengan malas Carla menerimanya, bisa jadi petaka bila ia menolaknya. Ia dengan segera melepaskan maskernya. Tidak mungkin kan ia menggunakan masker saat makan?
Dari pagi ia merasa gerah memakai benda itu di wajahnya. Ia juga merasa seperti balita, disuapi di depan umum. Terlebih itu bubur. Alden yang sibuk menyantap makanannya menaik turunkan alisnya sambil senyam senyum, semakin menggoda sepupunya itu yang sudah terlihat sangat malu.
Suapan demi suapan Carla terima dengan perasaan yang berkecamuk. Ia juga ingin merasakan makanan yang tengah dinikmati oleh Keisya dengan begitu lahap. Sampai gadis tersebut tidak menyadari adegan suap-suapan yang tengah terjadi di hadapannya.
Keisya meraih minumannya setelah makanan di piringnya habis tak tersisa. Ia begitu kelaparan, akibat drama tadi. Kemudian ia melihat sahabatnya yang tengah makan sambil disuapi.
Keisya yang acuh kembali fokus pada gelas di tangannya, yang membuat tenggorokannya terasa sejuk. Kemudian ia baru terpikir sesuatu. Masker?
"Carla?!"
"Uhuk..uhuk..uhuk."
Gebrakan meja serta teriakan dari Keisya membuat Carla tersedak, begitu juga dengan Edgar. Carla terbatuk sampai mukanya memerah dan sudut matanya yang mengeluarkan air. Meski hanya bubur, tersedak adalah hal yang menyakitkan. Terlebih tadi Carla sedang melamun dan menjadi kaget ketika mendengar terikan Keisya yang membuatnya tersedak. Steve yang melihatnya panik bukan main, dengan segera ia memberikan minum sambil mengelus punggung gadisnya.
"Uhuk..air..uhuk.. a-air..."
Keisya yang melihatnya merasa bersalah ia juga ikut mengelus punggung Carla. Namun ditepis kasar oleh Steve, membuat gadis penakut tersebut gemetar ketakutan.
"Kau?! Jika terjadi sesuatu padanya aku akan mencekikmu."
"Ma-maaf tadi aku tidak se-sengaja." lirih Keisya terbata, bahkan mata gadis tersebut sudah berkaca-kaca.
Keempat orang tersebut kembali mendapat pusat perhatian, setelah kembali tenang beberapa saat lalu.
Carla yang melihat Steve membentak sahabatnya berusaha bicara namun terasa sangat susah.
"Sudah-sudah. Valee are you okay?"
Alden bangkit dari duduknya menghampiri Carla, ia merasa suasana kembali panas. Ia juga sempat tersedak dan sudah baikan setelah meminum air. Alden merasa sepupunya itu tidak lekas baikan karna ulah Steve. Bukannya menolong malah marah-marah.
"Bisakah kau tidak memanggilnya seperti itu?" ketus Steve ketika mendengar nama panggilan dari sepupu sialan kekasihnya ini. Telinganya rasanya seperti terbakar ketika mendengarnya. Alden hanya terkekeh mendengarnya.
"I'm okay, dan kau Steve, jangan membentak Keisya lagi." ujar Carla yang sudah merasa baikan.
"Aku benar-benar akan mencekiknya jika--"
"Steve sudahlah."
Peringat Carla dengan tenang, Steve dengan segera memeluk Carla erat. Ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada gadis yang sudah menjadi bagian dari jiwanya.
"Carla aku minta maaf."
"It's okay Kei."
Carla tersenyum lebar pada Keisya yang masih terlihat ketakutan. Steve melepas pelukannya dan mencium pipi Carla singkat dan kembali memasangkan masker di wajah gadisnya. Seketika empunya merona malu, ini di tempat umum tolong catat itu. Carla merasa masker ini menjadi penyelamat untuk menyembunyikan rona di pipinya. Melihat adegan tersebut membuat Keisya ingat apa yang akan ia tanyakan.
"Emm...Carla kenapa pipimu isi perban?"
Carla yang mendengarnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia harus mencari jawaban yang tepat. Sedangkan Alden? Ia sudah melihatnya dari tadi dan juga tidak berniat bertanya. Karna ia tidak perlu mencari jawaban yang sudah diketahui.
"Eum, kena cakar kucing."
"Kucing? Oh menggemaskannya. Siapa namanya?"
Keisya yang periang sudah kembali, entah kemana hilang rasa takutnya. Alden yang melihatnya menarik sudut bibirnya keatas.
"Namanya Chloe." jawab Carla berbohong, meski tidak sepenuhnya karna ia memang mempunyai seekor kucing di mansionnya.
"Oh iya ngomong-ngomong kalian belum berkenalan." ujar Carla ia memang belum sempat mengenalkan saudara sepupunya pada Keisya maupun Steve. Yah, meski kekasihnya itu sudah mengenalnya lebih dulu dengan cara yang tidak wajar.
Apalagi kalau bukan siksaan?
...TBC...
...Voment!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
queen
posesif akuttt
2023-03-26
0
Maida Abidah
dicakar kucing gila
2021-01-20
0
TK
jejak 👍
lelaki Berkacamata 🤗🙏
2021-01-12
1