"Jadi, kira-kira hukuman apa yang pas untukmu baby?" seru Steve tepat di depan wajah Carla, menyapu wajah yang penuh tangisan itu dengan nafas hangat yang menggebu. Carla semakin memejamkan mata erat, ia bahkan terasa berhenti bernafas.
"Ja-jangan, a-aku mo-mohon." Nafas Carla yang tersendat, membuatnya tergagap. Harap - harap kekasihnya ini masih punya sedikit nurani.
"Jangan apa? hm...." Steve bertanya dengan lembut, sembari membelai lembut wajah kekasihnya ini. Menyusuri setiap lekuk wajah yang selalu membuatnya gila. Sesekali ia mengusap air mata yang dengan berani membasahi pipi gadisnya. Tidak, tanpa seizinnya tidak ada yang boleh menyentuh seincipun. Karena itu adalah miliknya, sekalipun itu air mata pemiliknya sendiri.
Steve terus mengusap air mata Carla yang tengah berada dalam pangkuannya. Air mata itu tidak henti-hentinya keluar, bahkan semakin luruh membanjiri pipi gadisnya. Carla semakin meremang dengan perlakuan dari kekasihnya itu. Semakin lembut maka akan semakin menyedihkan dan sadis.
"Don't cry baby," lirih Steve yang masih tidak berhenti mengusap air mata Carla. Ia bahkan mengusapnya kasar karna geram, jika hal itu bisa ia hancurkan maka pasti sudah menjadi abu.
"Hiks sa-sakit Steve hiks," Carla tidak lagi meredam tangisnya dengan hanya mengeluarkan air mata. Isakan tangisnya terdengar, karena pipinya diusap kasar oleh Steve. Bahkan pipinya digosok dengan kuat, untuk menghilangkan air matanya. Manusia seperti kekasihnya ini tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti. Bagaimana bisa seseorang menyuruh berhenti menangis dengan mengusap kasar bahkan menggosok pipinya untuk tidak mengeluarkan air mata. Carla rasa hanya satu manusia yang seperti itu, yang tak lain dan tak bukan kekasihnya sendiri.
"Aku bilang berhenti menangis!" teriak Steve murka melihat kekasihnya ini tidak berhenti mengeluarkan air mata.
Carla tersentak namun setelahnya ia tersenyum getir sambil menatap mata Steve sendu. "Bagaimana caranya? Katakanlah, akan aku terapkan. Aku juga ingin tau caranya u-untuk mengurangi sakit di hatiku." lirih Carla pelan.
"Memang apa yang kau tangisi?" sanggah Steve lagi dengan nada selembut mungkin, yang justru seperti bisikan setan untuk Carla. Dan apa itu? Pertanyaan bodoh yang pernah ia dengar. Kenapa menangis? Rasanya Carla ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Tangisannya tadi berhenti seketika ketika mendengar pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar, bahkan sekarang ia tersenyum masam.
"Kau menangis karna tidak bisa membalas pesan selingkuhanmu?!" desis Steve tajam tepat di telinga Carla. Carla semakin tersenyum masam mendengarnya. Selalu saja begini. Ia dituduh tanpa alasan. Apakah kekasihnya ini selalu mencurigai orang tanpa alasan?
"Tuduhlah, tuduhlah aku semaumu. Because, i don't care!"
Steve semakin menggeram marah mendengar perkataan gadisnya. Apa dia bilang tidak peduli?
"Kau bilang tidak peduli?! Huh ****** tetap jal-"
Carla tersenyum getir, tangannya terangkat untuk menutup mulut kekasihnya yang terus mengatainya seorang ******. "Jangan. Jangan di lanjutkan lagi Steve. Ha-hatiku sakit mendengarnya!" Carla meremas bajunya sendiri tepat dibagian dada dengan air mata yang semakin deras. Namun kemudian ia mengusap kasar air matanya dan menatap Steve tajam. Benar yang di katakan lelaki itu, memang apa yang ia tangisi? Nasibnya?
"Lagipula jangankan selingkuh, aku bernafaspun atas izinmu. Dan kau tau itu!" desis Carla tajam tanpa rasa takut sambil menatap iris pekat Steve dalam. Sungguh, untuk pertama kalinya ia menatap mata kelam itu dengan berani. Setelah sebuah kata yang paling menyakiti hatinya, terus terlontar begitu saja dari mulut lelaki yang ia sayangi.
"Kau berani?" tanya Steve menggeram marah setelah mendengar ucapan tajam dari mulut manis kekasihnya ini.
Carla mengernyit heran, ia tidak mengerti maksud pertanyaan Steve.
"Apa maksudmu? Tadi aku hanya membalas pesan Keisya. KEISYA!! Tapi kau selalu mencurigaiku tanpa alasan. Tidak bisakah kau bertanya dulu sebelum membanting ponselku begitu saja hah?!" teriak Carla emosi dan meneriaki nama Keisya secara lantang di depan wajah Steve. Ia sungguh geram, ia tidak peduli lagi apa yang akan Steve lakukan. Apa ia mengharapkan maaf? Tidak. Membayangkannya saja ia tidak berani. Steve tidak akan meminta maaf dengan mudah, apalagi setelah ia berteriak lantang di depan wajah lelaki itu.
Wajah Steve merah padam mendengarnya, emosinya kali ini tersulut beribu kali lipat setelah mendengar pernyataan kekasihnya. Segala bayangan buruk menghantui kepalanya saat ini, dan hatinya terus mengucapkan kata tidak dan tidak. Steve tidak bisa membiarkan itu terjadi. Setelah sekian lama, baru kali ini Carla berani berteriak selantang itu padanya.
"Jaga mulutmu baby!" dessis Steve tepat di telinga Carla. Steve berucap sambil membelai lembut surai gadisnya, ia berusaha mengontrol emosinya mati-matian sekarang.
Carla memejamkan matanya erat mendengar bisikan tajam Steve. Ia tidak menanggapi ucapan kekasihnya, karena ia tidak mau urusannya jadi panjang. Ia tau kekasihnya itu berusaha menahan emosinya. Dengan pelan tangan mungilnya yang di dibalut perban terangkat untuk mengusap punggung kokoh itu dengan lembut. Perlahan Carla mendengar nafas Steve menjadi beraturan, tidak seperti beberapa saat lalu yang seperti orang yang tengah lari maraton.
Steve beralih mendekap Carla lembut dan erat. Emosinya padam seketika seperti api disiram air. Carla menepuk-nepuk punggung Steve pelan berusaha menenangkannya. Perlahan Carla meneteskan air matanya, ia tidak mengerti tangisan apa ini. Entah kebahagiaan atau kesedihan.
Steve yang merasakan dadanya basah
melepaskan pelukannya seketika dan melihat wajah kekasihnya ini basah oleh air mata. Seketika hatinya sakit, sesungguhnya ia tidak suka ketika melihat kekasihnya menangis. Hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
"Jangan menangis." bisik Steve sembari mengusap pelan pipi gadisnya dengan lembut dan pelan. "Forgive me, aku telah mengatakannya lagi. Carla, percayalah aku tidak berniat mengatakannya. Dalam hidupku, aku paling membenci seorang jal-" Carla tersenyum manis dan menyela ucapan Steve. "Tidak jangan di lanjutkan. I Know, and i'm sorry too." Ia tidak mendengar ancaman apapun dalam ucapan kekasihnya. Namun sebuah pernyataan yang tulus. Melihat itu membuat Steve tersenyum dan mendekap erat Carla. Gadisnya begitu mengerti dirinya. Namun setelahnya setelah mendengar suara aneh, Steve terkekeh.
Carla semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Steve. Ia sungguh malu, kenapa perutnya harus berbunyi sekarang. Mendengar hal itu membuat Steve terkekeh sambil mengusap pelan rambut Carla yang sempat ia jambak tadi.
"Ayo kita makan." ajak Steve sambil menggendong Carla, yang seketika membuat empunya meringis pelan.
"Aww shh," ringis Carla ketika merasakan punggungnya nyeri hebat.
"Dimana yang sakit?" tanya Steve khawatir ketika melihat kekasihnya ini meringis kesakitan.
"Ti-tidak punggungku ha-hanya nyeri." jawab Carla terbata, ia merasa sangat nyeri dan perih pada punggungnya. Mendengar itu Steve membalik tubuh Carla perlahan, dan seketika ia terkejut melihat darah pada baju kekasihnya. Dengan segera ia mengambil gunting, yang membuat Carla membulatkan matanya terkejut.
"A-apa yang kau la-lakukan?" Carla terbata ketika melihat sebuah gunting pada tangan kekasihnya. Seketika ia ingat, ia belum mendapatkan hukuman apapun setelah Steve mengatakannya tadi. Apa ini hukuman yang dimaksud?
"Ja-jangan a-aku mo-mohon." lirih Carla terbata, seketika ia merasa de-javu dengan perkataanya sendiri.
Sret....
Carla memejamkan matanya erat, ia lelah menangis dan memohon. Tapi setelahnya ia tidak merasakan sakit apapun. Carla membuka matanya dan melihat kekasihnya sedang mengobati punggungnya yang terluka.
"Jangan apa? Lihat bajumu menempel pada luka di punggungmu." jawab Steve yang sedang mengganti perban di punggung Carla dengan yang baru. Melihat itu Carla menghela nafasnya pelan, ia kira tubuhnya akan tersakiti oleh benda tajam yang bernama gunting setelah pisau lipat. Ternyata Steve menggunting bajunya, karna menempel pada luka di punggungnya.
"Aku lapar." gumam Carla setelah Steve selesai mengganti perban. Tubuhnya tidur dalam keadaan telungkup di sofa. Ia bahkan tidak dibiarkan bergerak oleh Steve sehingga ia masih telungkup setelah lukanya selesai di obati.
"Baiklah kita delivery saja." ujar Steve mengusap rambut Carla lembut, sambil bangkit menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Mengingat makanan ia jadi teringat tentang keadaan dapurnya yang seperti kapal pecah. Setelah memesan makanan, ia beralih menelfon Troy seorang kaki tangannya.
Steve terus saja mengumpat, ketika panggilannya tidak dijawab dan hanya berdering. Entah kesibukan apa yang sedang melanda asistennya itu.
"Ck, siapa sih mengganggu orang tidur saja."
Steve memejamkan matanya erat, bukannya menyapa asistennya itu malah menggerutu.
"Di apartemen. Bersihkan semuanya. Cepat!!" seru Steve datar dengan to the point dan menekankan kata cepat di akhir kalimat.
Tut..
Di seberang sana, penerima telfon yang tak lain adalah Troy meneguk ludahnya perlahan, ia takut tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak melihat siapa yang menelfonnya dan mengucapkan kata yang tidak seharusnnya. Troy hanya meminta satu hal sekarang. Ia berharap keadaan anggota tubuhnya baik-baik saja. Namun apa yang perlu di bersihkan malam - malam begini? ia tidak habis fikir dengan tuannya itu. Dan seperti biasa sebelum ia bertanya, panggilan sudah dimatikan. Dengan cepat Troy bergegas bangun meninggalkan mimpi indahnya dan menuju neraka dunia.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
queen
aq manut waelah
2023-03-26
0
zien
semangat terus 💪😊
semoga sukses selalu 😀😘
mampir juga di novelku JODOHKU YANG LUAR BIASA 🙏😘
mari kita saling mendukung karya kita 👍😘
2021-03-05
1
Maida Abidah
skli2 steve dksih pljran .. lari dr dy tingglin gmn pun cranya
2021-01-20
0