"Valee."
Suara bariton seseorang yang terdengar tidak asing mengalun di belakangnya. Ia seperti pernah mengenal suara itu,tapi entah dimana. Carla pun menoleh seketika ia bersorak gembira. Tapi hanya dalam hati. Kalau ia berteriak histeris bisa habis hidupnya, oleh laki-laki yang berdiri disebelahnya ini.
"A-Alden?" gumam Carla pelan. Ia rindu. Ia sangat rindu dengan laki-laki di depannya ini. Terlebih nama itu. Ah nama yang menggemaskan. Bahkan kesedihan yang terjadi sebelumnya itu.
Sekarang telah hilang.
Laki-laki yang berada disebelah Carla hanya menonton dalam diam dan masih menggenggam erat tangan kekasihnya ini yang hampir terlihat meloncat ketika melihat seseorang di depannya itu. Jika saja ia tidak menggenggam tangannya. Tidak, lebih tepatnya meremasnya dengan sangat kuat. Dan apa - apaan ini? Valee? Kekasihnya? Apakah ini bisa dibilang panggilan kesayangan?
"Kau belum masuk kelas?" tanya seseorang yang bernama Alden itu sambil berjalan mendekat pada dua insan yang masih menyatukan tangan dengan sangat erat.
"I-Iya itu...." Carla tergagap sekarang entah apa yang akan ia katakan pada laki-laki di depannya ini. Apa ia harus bilang bahwa telat kelas karna adegan drama di parkiran? Huh mengingatnya saja ia tidak mau.
"Lancang!" desis Steve dalam hati melihat laki-laki asing yang mendekat dan bicara pada kekasihnya itu. Asing? Iya baginya, tapi entah bagi Carla. Mengingat panggilan laki-laki itu padanya. Mengingatnya saja membuat darahnya mendidih. Dan sekarang ia bicara dengan kekasihnya itu di depannya langsung. Di depannya? bayangkan saja!! Ingin rasanya ia merobek mulut laki-laki dihadapannya itu.
Steve semakin menggeram marah kala melihat tatapan laki - laki asing itu yang ditujukan pada kekasihnya. Mendengar gadisnya tergagap semakin membuat hatinya panas. "Telat." Steve menjawab cepat dengan tatapan nyalangnya kepada lekaki itu. Carla menoleh, seketika aura terasa begitu mencengkam membuatnya ingin pergi cepat - cepat.
Steve semakin kesak kala melihat kekasihnya yang tergagap. Kenapa Carla tergagap? apa dia malu? Merona? Ingin rasanya ia melempar bom pada lelaki tidak jelas itu.
Hingga lenyap dan tak tersisa.
"Alden kamu ngapain disini?" tanya Carla memecah keheningan yang tanpa disadarinya malah memperkeruh suasana.
"Oh, aku pindah kesini," jawab Alden tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.
"Hah? Pindah?"
"Iya Orangtua ku ada kerjaan disini," seru Alden untuk menjelaskan dan
menghiraukan suasana yang sudah sangat mencekam.
Wajah Steve sekarang begitu menyeramkan, bagaikan algojo yang ditugaskan mencabut nyawa seseorang. Matanya merah dan uratnya terlihat jelas. Ia sangat marah. Didepannya sendiri gadisnya terlihat begitu akrab dengan laki-laki lain. Ia meremas tangan Carla kuat, membuat empunya meringis kesakitan.
"Oh, ba-baiklah Alden aku masuk kelas dulu ya."
"Bye, Valee." sahut Alden berusaha ramah. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti suasana itu. Ia akan menanyakannya nanti. Kepalanya menggeleng dengan senyuman tercetak jelas di wajahnya.
***
Steve menyeret gadisnya kasar menuju parkiran. "Masuk." perintahnya dingin namun Carla masih mematung sambil meremas kedua tangannya sendiri saking takutnya. Tubuhnya gemetar, dan air matanya menggenang di pelupuk matanya.
Steve memejamkan matanya erat sambil mengusap wajahnya kasar. Iapun mendekat sambil mencengkram bahu Carla erat. "Baby." Steve mendesis tepat di wajah Carla, membuatnya memejamkan mata erat sambil meringis kesakitan. Oh! suara itu ia sangat membencinya sekaligus takut. Carla beringsut mundur meyiapkan ancang - ancang untuk lari. Ia berusaha memberontak sekuat tenaga, bahunya serasa remuk. "Steve sa-sakit le-lepas." Lelaki itu menyeringai mendengarnya.
"Sakit? Ini belum seberapa baby, aku akan membuatmu meraung kesakitan hingga kau tidak bisa lagi menyebut nama lelaki sialan itu?!" teriaknya sampai urat di lehernya terlihat menonjol. Ia tau gadisnya berniat untuk kabur, tapi ia akan lihat seberapa besar nyali kekasihnya itu. Dengan begitu ia akan mempunyai alasan untuk menghukumnya. Ah, membayangkannya saja membuatnya tersenyum tidak jelas.
Carla mundur secar perlahan, ia sangat takut melihat mata Steve yang hingga menyala menghunus retinanya. Apalagi melihat garis senyuman di wajah lelaki itu. Entah rencana gila apa yang bersarang di kepalanya. Carla dengan cepat berbalik dan berniat kabur. Ini adalah kesempatannya, karna cengkraman pada bahunya telah terlepas. Namun belum dua langkah ia melangkahkan kakinya, pinggang Carla ditarik kuat membuatnya terhuyung dan menabrak dada bidang kekasihnya.
"Sa-sakit Steve le-lepaskan aku!" Carla berteriak kencang rasa takut dan sakit menjadi satu sekarang. Keadaan parkir sangat sepi, karna ini masih jam pelajaran berlangsung. Dan ia tidak jadi masuk kelas setelah kejadian di koridor, karna tangannya ditarik paksa oleh Steve menuju parkiran. Parkir saat ini sangat sepi, tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Carla tersenyum getir. Ia lupa kalaupun ada orang, tidak akan ada yang akan menolongnya meskipun ia menangis darah sekalipun.
Miris.
"Kau yang tidak patuh." sentaknya lalu Steve mendorong Carla kasar masuk ke mobilnya.
"Hiks...Steve ini ma-masih jam pelajaran, hiks.. ba-bahkan kita baru saja ke sekolah!!" lirih Carla sambil menangis kencang di dalam mobil. Entah apa yang akan kekasihnya itu lakukan padanya nanti.
Steve masih bergeming dan ia mengambil sesuatu di jok belakang mobilnya. Sungguh jantung Carla serasa berlarian, entah benda mengerikan apa yang akan dikeluarkan laki - laki itu.
"Ja-jangan S-Steve, hiks..hiks." lirih Carla sesegukan melihat Steve mengeluarkan borgol. Lelaki itu masih tidak bicara dan mulai memborgol tangan kekasihnya menguncinya. Kemudian ia menarik pedal gas dengan kuat dan meninggalkan area sekolah yang bahkan baru saja ia datangi.
"A-Apa...hiks.. yang kau lakukan? hiks le--paskan. Lepaskan aku?!" teriak Carla sambil meronta kuat. Ia tidak terima di borgol seperti seorang tahanan. Ia terus meronta berusaha melepaskan borgol sialan yang mengikatnya itu.
"Diam?!"
Steve menghela nafas gusar melihat kekasihnya itu yang masih terlihat meronta dan menangis.
"Aku bilang lepaskan aku!!" Carla setengah berteriak pada Steve. Entah darimana datang keberaniannya itu. Ia masih tidak lelah berusaha melepaskan borgol sialan yang mengikatnya itu. Meski hanya sia - sia saja. Sampai darah menetes dari pergelangan tangannya, saking gencarnya ia berusaha melepasnya.
Ckit....
Carla benar - benar merasa kacau, tangannya yang terasa perih, dan sekarang kekasihnya itu dengan tidak berperasaannya mengerem mendadak dalam kecepatan yang sangat cepat. Kepalanya terasa pening dan matanya buram, dahinya terbentur dashboard mobil.
"Diam Carla?!" teriak Steve menggema di dalam mobil ketika melihat pergelangan tangan kekasihnya penuh luka. Dan jangan lupakan matanya yang sayu sambil memegang keningnya.
Steve dengan cepat meraih Carla. Ia menggeram marah. Kekasihnya itu masih saja tidak berhenti berontak meski dengan keadaannya yang seperti sekarang.
"Steve, hiks...sa-sakit..hiks..." isak Carla dan suaranya juga tergagap karna menahan nyeri dikepalanya. Bahkan Sekarang kekasihnya itu dengan teganya menjambak rambutnya dengan kuat.
"Kau yang memulainya!" Steve sangat geram, ia beralih mengambil sapu tangan dan memberinya obat bius dan membekap mulut Carla. Perlahan kesadaran gadisnya menghilang dan tidak sadarkan diri.
Steve mendekap Carla erat kedalam pelukannya, menghujani kecupan pada wajah manis kekasihnya itu.
"Sorry." gumam Steve pelan setelah mengecup dahi Carla yang terluka cukup lama. Ia kemudian membaringkan kekasihnya itu dengan pelan di pangkuannya.
Steve kembali menjalankan mobilnya membelah jalan yang terlihat masih gerimis. Sesekali ia melirik gadis di pangkuannya sambil tersenyum sumringah.
"Punishment, awaits you dear."
...tbc....
...voment...
...💅...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
edian ,aq pernh bca yg sprt ini orng dgn kepribadian ganda dan pd akhirnya sad endding tp aq suka lbh berksan d pikiran karna ceritanya beda dr yg biasanya yg slalu aja benci d awl bucin d tgh dan ngebosenin smpe happy; endding
2024-11-08
1
Ika Sulistyarini
kenapa rasanya gimanaaaa gitu thor kurang masuk akal,masak aga ada bantuan semua takut pd steve padahal anak SMA
2022-11-25
0
Bin's
si steve beneran punya kelainan nih
2022-10-02
0