Hukuman lagi?

Di sebuah ruangan yang bernama dapur, terlihat dua insan yang sedang berceloteh ria, melupakan sejenak ketegangan yang sempat terjadi. Terlihat seorang gadis yang tengah duduk santai sambil memberikan instruksi. Carla sampai dibuat pusing olehnya. Kekasihnya ini sama sekali tidak mengerti urusan dapur, mulutnya sampai berbuih pun lelaki itu tak mengerti sama sekali. Apalagi memasak?

Keadaan dapur sekarang sudah seperti kapal pecah. Jika di dalam novel yang ia baca pemeran utama laki-lakinya bisa segalanya, mulai dari tampan, tubuh kekar dengan roti sobek, miliarder, dan pasti pandai memasak. Lain dengan laki-laki di depannya ini.

Carla akui kekasihnya ini memang mempunyai segalanya. Tampan? Bahkan lebih dari definisi tampan. Tubuh kekar dan roti sobek? Jangan ditanya lagi, Carla tersipu mengingat hal itu. Kaya dan pintar? Tentu saja, bahkan ia yang masih sekolah menengah atas pun sudah mengambil alih perusahaan dan memiliki seorang tangan kanan sendiri. Tapi dalam hal memasak Steve memang tidak bisa berkutat dengan alat dapur.

Carla sudah lelah memberi intruksi dari meja pantry. Andai ia bisa bangkit dan membantu maka ia akan mengambil alih itu semua. Tangannya saja diperban dan punggungnya masih sangat nyeri. Carla akui ia juga tidak pandai memasak, tapi tidaklah separah ini. Satu yang ia harapkan, semoga saja dapurnya tidak meledak.

"Baby ini di apakan lagi?" tanya Steve sambil meneliti sebuah telur yang ia pegang. Sudah puluhan telur yang kekasihnya itu pecahkan dan terbuang sia-sia.

Carla hanya menggelengkan kepalanya, ia jadi ikut pusing. "Ambil bowl dan pecahkan disana!"

"Baiklah akan ku coba, jika gagal lagi kita akan memesan makanan saja!" ujar Steve sambil mengambil sebuah bowl dan mulai memecahkannya seperti yang gadisnya itu instruksikan.

Carla memutar bola matanya malas, mendengar keputusasaan dari kekasihnya. Steve memanglah arrogant, kasar, dan sangatlah temprament. Tapi ada kalanya kekasihnya itu bersikap sangat manis, seperti sekarang bahkan Steve memakai apron seperti katanya.

Mengingat itu membuat Carla tersenyum sambil memandang punggung kekasihnya yang kesusahan ketika, hanya memecahkan sebuah telur. Sambil memandangi Steve Carla mengambil handphone miliknya, yang ternyata lowbat. Dengan cepat Carla mengambil charger dan mengisi dayanya.

Siapa tahu ada yang menghubunginya, terutama mommynya karena ia sampai malam di apartemen Steve dan tidak mengabari orang rumah. Serta sahabatnya yang lumayan cerewet tapi perhatian itu pasti sudah menghubunginya.

Tring...tring..tring...

Baru saja Carla akan menghubungi mamanya bunyi telepon apartemen Steve sudah berbunyi. Carla juga sangat terkejut melihat banyaknya pesan dan panggilan dan sahabatnya Keisya. Sudah ia duga. Carla hendak bangkit untuk mengangkat, namun keduluan oleh Steve.

"Hallo?"

"Steve Carla ada disana? Tante sangat khawatir, dihubungi juga tidak bisa." tanya Charissa cemas. Putrinya itu tidak bisa dibungi dan ini sudah malam.

"Tante? Iya Carla disini, tadi sepulang sekolah aku ajak buat tugas." ujar Steve sambil melirik Carla yang juga ikut memandanginya dari pantry.

"Oh syukurlah. Tante sangat khawatir. Steve tante mau bicara sebentar dengan Carla."

Steve melihat Carla sambil menunjukkan telepon. Carla yang mengerti segera bangkit perlahan, dan dengan segera ia mengambil alih telepon itu.

"Mom?"

"Sayang, kenapa tidak bisa dihubungi?"

"Sorry mom handphone Carla lowbat."

"Mommy kira terjadi masalah. Yasudah, mama cuma mau bilang mama mau pergi dengan daddy. Mungkin besok baru pulang."

"Iya mom, jangan lama-lama." ujar Carla sendu, ia kira mommynya telfon berniat menjemputnya.

"Iya sayang kamu baik-baik ya, sekarang berikan teleponnya pada Steve."

Carla memberikan teleponnya pada Steve dengan cepat. Ia merungut dalam hati mommynya sering sekali ikut daddy mengurus bisnis. Tapi untuk kali ini ia bersyukur. Setidaknya orangtuanya tidak melihat luka ini. Carla kembali ke meja pantry dan mengecek handphone nya kembali, melihat betapa banyaknya pesan yang sahabatnya itu kirim.

Keisya

Carlaa?

Kamu kemana? Kenapa tidak sekolah?

Carla, are you okay?

Aku pengen cerita nih, tadi aku ketemu cowok yang nyebelin tau!

Carla kamu nggak di apa-apain Steve kan?

Sampai Steve apa-apain kamu, aku sembunyiin kamu dari dia. Selamanya.

Dan masih banyak lagi.

Carla tersenyum lebar melihat pesan sahabatnya, sekaligus tertawa. Bagaimana Keisya akan menyembunyikan dirinya, sementara dia takut melihat wajah sangar Steve. Tapi siapa cowok nyebelin yang sahabatnya itu katakan? Besok ia akan tanyakan. Carla membalas satu persatu pesan dari sahabatnya, mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan tadi handphone nya lowbat.

Steve kembali dari mengangkat telepon setelah berbicara banyak dengan mommy kekasihnya. Ia kembali ke dapur, untuk menyelesaikan masakannya yang tak selesai-selesai. Sampai depan pantry kening Steve mengkerut melihat kekasihnya tersenyum lebar sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Segala pikiran buruk menghantui otaknya sekarang. Siapa yang Carla kirimkan pesan? Dengan cepat ia menghampiri gadisnya. Tapi lihat? ia sama sekali tidak di anggap keberadaannya. Steve masih setia memperhatikan Carla yang senyum-senyum sendiri melihat ponselnya, sambil bersedekap dada. Emosinya sudah berada di ubun-ubun sekarang. Dengan cepat Steve merampas ponsel Carla dan melemparnya kasar.

Prang!

Naas. Ponsel impian sejuta umat itu hancur berkeping-keping. Menyisakan Carla yang mematung di tempatnya. Ia sangat terkejut, peluh dingin membanjiri keningnya melihat tatapan tajam itu menembus retinanya. Apalagi kesalahannya sekarang? Sungguh Carla tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya ini. Dengan penuh keberanian Carla berdiri tegak menatap Steve. Menghiraukan tatapan membunuh dari kekasihnya yang sangat temprament ini. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, karna itu ketakutannya tadi menguap.

"Steve?!" Entah keberanian dari mana Carla berteriak di depan wajah Steve. Oh tidak, iya kembali membangunkan sisi lain kekasihnya.

Carla salah langkah.

Carla mengambil ponselnya yang di banting itu dengan cepat. Melihat itu kemarahan Steve semakin tersulut. Tatapannya seperti kobaran api, melihat kekasihnya menatap cemas ke ponsel sialan itu. Siapa yang begitu penting? Sampai Carla mencoba menghidupkan kembali ponselnya. Bahkan gadisnya menjadi mengabaikannya. Itulah Steve Roger Watford. Kepalanya tidak pernah berpikiran positif sekalipun.

"Arghh...ahhkk...le-lepas!!!" teriak Carla kesakitan sambil memegangi rambutnya yang ditarik kuat. Kepalanya mendongak ke atas dan beradu tatap dengan mata tajam Steve. Carla ikut memandang Steve tak kalah tajamnya. Untuk apa dia takut? Ia sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan apapun.

"Jaga matamu baby...." desis Steve tajam tepat ditelinga Carla. Hembusan nafas Steve membuat tubuh Carla merinding, dan meremang dibuatnya. Ia takut. Tapi ia benci ketidakberdayaan ini. Aura kekasihnya itu sangatlah gelap. Keceriaan yang sempat terjadi tadi telah hilang tak berbekas. Mata Carla memanas mengingatnya, bukan karna rasa sakit dikepalanya. Namun hatinya. Air mata Carla luruh tanpa bisa dihentikan.

"Baby, don't cry!" ujarnya sambil menghapus air mata Carla pelan. Meski tangannya semakin menarik rambut gadisnya kuat.

"Kenapa!? Apa salahku!?" Sekali lagi Carla berteriak marah sambil menahan tangan kekasih gilanya itu.

"Carla, jangan berteriak. Jaga mulutmu itu atau.." ujar Steve berbisik pelan tepat di depan wajah Carla dan mengantungkan ucapannya."Dinding disini, akan menangis nanti." lanjutnya sambil menatap sekitaran, yang membuat tubuh Carla semakin meremang ngeri. Apalagi suara kekasih gilanya ini yang begitu menyeramkan.

Carla menahan nafasnya sendiri ketika mendengar bisikan-bisikan mengerikan itu. Satu yang Carla inginkan sekarang. Pulang. Tadi ia bersuyukur mommy dan daddynya pergi agar tidak melihat lukanya. Tapi sekarang ia merutuki dalam hati. Dan dia belum mengetahui entah apa yang dibicarakan Steve dengan mommynya tadi.

Tidakkah mommynya tahu? Bahwa putri semata wayangnya ini sekarang tengah berada di kandang singa yang kelaparan. Ia tidak tau kesalahanya apa sampai Steve membanting ponselnya, hingga tak berbentuk. Carla berusaha memalingkan wajahnya meski hanya sia-sia saja, ketika tangan Steve menyusuri wajahnya dengan pelan, menggunakan sebuah pisau lipat yang runcing dan terlihat begitu mengkilat.

Melihat kekasihnya ini berontak Steve semakin mengeratkan tangannya pada rambut Carla. Dengan pelan jemari kokoh yang memegang pisau lipat itu menyusuri wajah Carla pelan. Membuat empunya merinding takut, tangisannya teredam hingga tak terdengar. Nafas Carla tercekat, seperti orang asma. Carla rasa ia butuh inhaler sekarang.

Steve memandang Carla lekat dengan senyuman yang terpatri. "Mata ini telah lancang. Juga bibir manis yang seharusnya mengeluarkan kata-kata manis ini juga sangat lancang." ujarnya lembut sambil menyentuh mata serta bibir Carla.

"Jadi, kira-kira hukuman apa yang pas untukmu baby?"

TBC.

Terpopuler

Comments

Denzo_sian_alfoenzo

Denzo_sian_alfoenzo

aq suka 👍👍👍👍👍👍👍👍

2024-11-09

0

queen

queen

gila lama2 gila tuh clara

2023-03-26

0

Nop Nop

Nop Nop

linu 😬

2021-06-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!