Penawanan

Kesunyian terlihat menerpa keduanya, hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang berbunyi. Seorang gadis yang sudah remaja, serasa menjadi seperti bayi berumur tiga tahun lagi dengan diperlakukan seperti itu. Namun apalah daya, jika dia bicara maupun memberontak kekerasanlah yang berbicara.

Carla memang merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, namun jauh di dalam lubuk hatinya. Ia merasa gadis paling bahagia di dunia. Oh ayolah, siapa yang tidak senang diperlakukan bak seorang putri? Namun putih tidak selalu putih, pastilah ada warna lain yang melengkapi.

Hitam.

Laki-laki yang kini tengah mendekapnya terlihat sangat telaten menyuapinya. Carla bahkan tidak dibiarkan menyentuh sendok, apalagi makan sendiri. Saat ini ia tengah berada dalam pangkuan kekasihnya yang berwajah bak Dewa Yunani. Namun sifatnya? So, you know lah.

Carla menerima suapan demi suapan Steve, tanpa ada sepatah katapun. Ia melirik lantai dingin yang di penuhi pecahan piring dan makanan yang belum di sentuh terbuang sia-sia. Hatinya terasa sesak, ia tidak bisa melihat hal-hal seperti itu. Carla menyesali perbuatannya tadi yang sempat berdebat itu yang berakibat pada makanan.

Dirinya hanya mengatakan bahwa ia bisa makan sendiri, apalagi tidak perlu sampai di pangku seperti balita. Ia hanya mengatakan itu, dan Steve? Ia melempar nampan yang berisi makanan dengan ganasnya. Sungguh betapa mengerikan sifatnya itu. Dalam kamusnya, Steve paling tidak suka jika orang berkata 'tidak' padanya. Jika itu terjadi, maka orang itu mengundang hawa lain dalam dirinya.

Setelah selesai, hingga piring itu bersih tak tersisa bahkan remahan apapun tidak ada, Steve meyodorkan air putih pada Carla. "Minumlah."

Carla mengulurkan tangan hendak meraih gelasnya, namun secepatnya ia urungkan. Melihat mata Steve yang berkilat menatap retinanya membuat nyali Carla menciut. Steve mengulum senyumnya melihat kekasihnya itu. Ia suka Carla-nya yang penurut.

"Jangan menatapku seperti itu." cicit Carla pelan, sambil menautkan kedua telunjuknya. Steve terkekeh melihat kegemesan dari gadisnya ini. Tangannya terulur mengelus surai Carla dengan sayang sambil mendekapnya erat. Ia pun semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Steve mencari posisi yang nyaman. Tapi entah kenapa Carla ingin pulang sekarang, meski mommynya bilang bahwa ia sedang pergi urusan bisnis dengan daddynya. Ia lelah seharian di kurung disini.

Carla ingin menikmati waktunya dirumah dengan nyaman. Bayangan dalam otak cantiknya apa yang akan ia lakukan setelah di rumah, membuatnya jadi tidak sabar. Membaca novel yang kemarin baru dibelinya dan tidak lupa dengan camilan yang banyak.

"Steve..." cicit Carla sepelan mungkin, hatinya bergemuruh takut.

Steve masih setia mendekap Carla sambil terus mengelus surai gadisnya yang lembut dengan wangi yang khas, aroma yang paling memabukkan di indra penciumannya. Ia bahkan memejamkan mata seperti menenangkan seorang balita agar tidur pulas.

"Hmmmm..."

Carla menarik nafasnya pelan sebelum berkata. Sebenarnya ia tidak tau harus mengatakan apa. Serta kalimat apa yang harus ia rangkai hanya untuk meminta izin pulang.

"Aku pulang ya?" Carla mengatakan sambil memejamkan mata takut. Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, ia benar-benar tidak tau harus meminta seperti apa.

Carla yang tadi nyaman dengan usapan lembut di rambutnya, tiba-tiba terasa berhenti. Percayalah, hatinya bergemuruh takut sekarang.

"Kenapa?" tanya Steve datar, matanya lurus menatap tembok.

"Tidak hanya saja aku ingin pulang." jawabnya lirih sambil menutup matanya.

"Kau tidak ingin bersamaku?" desis Steve tajam sambil menarik dagu Carla kasar.

"Bukan seperti itu, aku bosan seharian di apartemen ini. Mengertilah Steve aku hanya ingin pulang."

Carla memelas sambil menatap mata kelam kekasihnya itu, harap-harap laki-laki temprament ini mengizinkannya. Baru Carla mengatakan ingin pulang, ia sudah mendapatkan tuduhan bla bla bla. Bagaimana jika ia akan meminta mengakhiri hubungan?

"Kau bosan? aku bahkan bisa mengurungmu seumur hidupmu bersamaku." ujar Steve menyeringai sambil menatap mata cantik gadisnya.

Setelahnya ia menatap langit-langit kamar seperti berkhayal. Kemudian ia kembali menatap retina Carla sambil tersenyum manis dan berkata. "Di sebuah menara tinggi. Selamanya. Tidak ada yang akan mengganggu kita berdua. Hanya kita baby. You and i." bisiknya dengan tangan yang kini sudah kembali mendekap Carla erat.

Carla semakin memejamkan mata takut, tenggorokannya tercekat setelah mendengar ucapan Steve. Tubuhnya meremang, bulu kuduknya terangkat seperti mendengar sebuah bisikan setan yang menakutkan. Bahkan itu lebih menakutkan dari ini. Jika perkataan kekasihnya itu terjadi, maka ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Hidup berdua. Hanya berdua, seolah dua kata itu berhasil melumpuhkan sarafnya.

Bagaimana bisa kekasihnya ini mempunyai ide gila seperti itu? Ini bukan seperti sebuah dongeng, dimana menceritakan seorang gadis berambut emas yang di sekap seumur hidup disebuah menara tinggi,

setelah diculik oleh seorang penyihir.

Namun berbeda dikisahnya ia bukan akan di kurung oleh seorang penyihir, melainkan sesosok pangeran berparas malaikat dan berhati iblis. Jika ia benar akan di kurung, apa ia harus kabur dengan cara memanjangkan rambutnya sendiri? supaya ia bisa menjadikannya seutas tali untuk melewati menara yang tinggi. Seperti kisah dongeng tidur putri berambut emas, Rapunzel.

"Ja-jangan Steve a-." Seperti biasa ia terbata dengan ucapannya sendiri karna perasaan takut yang menggerogotinya. Carla benci dirinya yang seperti ini.

Tring...

Carla berniat melanjutkan ucapannya, namun tersela oleh sebuah benda yang berbunyi.

Steve mengambil ponselnya yang berbunyi di atas nakas, ia mengumpat pelan. Jika ini tidak penting, maka ia bersumpah, bukan mulutnya yang akan bicara namun pisau kesayangannya. Ia benar-benar tidak suka diganggu apalagi bersama gadisnya.

"Apa?" tanyanya ketus, ia bahkan tidak mengucapkan halo sama sekali.

"..........."

"Aku kesana sekarang."

Carla melihat Steve mengakhiri panggilan tersebut. Entah apa yang di katakan oleh orang di seberang sana.

"Sudahlah, aku harus pergi sekarang. Kau tidurlah dulu." ujar Steve sambil mengangkat Carla yang sedari tadi berada di pangkuannya, dan memindahkannya ke tempat tidur.

"Tapi Steve aku ingin pu-" lirih Carla sambil menggenggam tangan kekasihnya itu dengan nada sememelas mungkin. Tapi belum selesai ia sudah di sela duluan.

"Jangan berdebat sayang, mommy Charissa bilang padaku tadi di telfon untuk menjagamu selagi mereka pergi. Dan itu termasuk kalau kau harus menginap disini. Jika kau pulang, siapa yang akan menjagamu?" Steve berusaha mengontrol emosinya dengan menjelaskannya selembut mungkin sambil membalas menggenggam tangan mungil gadisnya.

Pertanyaan yang ada dalam hati Carla sejak tadi terjawab sudah. Ternyata mommynya sendiri menitipkannya di kandang singa. Dirinya akan aman jika menurut dan celaka jika memberontak.

"Steve aku hanya ingin pulang, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau juga akan pergi sekarang kan?" Carla tidak henti-hentinya membujuk Steve, mengindahkan wajah kekasihnya ini yang sudah terlihat merah padam menahan amarah. Bayangan ia akan membaca novel malam ini dengan ditemani camilan, sungguh

membuatnya tak sabar. Apalagi didukung dengan hari esok yang tengah libur.

"Ayo kau bisa pergi sambil mengantarku nanti." ujar Carla dengan tidak sabarannya, sampai-sampai ia bangkit sambil menarik tangan Steve. Jangan tanyakan bagaimana kondisi laki-laki yang kini di tarik oleh seorang gadis itu. Api berkobar dalam dirinya, Steve sudah mencoba menjelaskan dengan lembut. Tapi tidak gadisnya ini sangatlah keras kepala. Jika kelembutan tidak bisa, maka seperti biasa kekerasanlah yang menjelaskan.

"Carla?!" sentak Steve kasar yang teriakannya menggema di dalam kamar yang kedap suara itu. Carla mematung di tempat dengan tubuh bergetar hebat dan dengan cepat ia melepaskan tangan Steve yang sempat ia tarik tadi.

Percayalah ia tidak mempunyai kesabaran yang cukup untuk menjelaskan ucapannya sekali lagi dengan lembut. Serta ia paling tidak suka mengulang perkataannya dua kali.

Steve menarik tubuh Carla kasar dan kembali membaringkannya di tempat tidur serta menyelimuti gadisnya. Seperti biasa Carla meronta sekuat tenaga, namun selalu nihil. Ia kembali ke tempat semula dengan tangisan yang menghiasi wajahnya.

"Hiks aku mo-mohon hiks." Carla terisak sambil memohon, namun ia tahu menangis darahpun ia meminta pulang, tidak akan di berikan sebelum kekasih egoisnya itu mengizinkan. Sekali lagi Carla merutuki orang tuanya yang pergi sekarang, membuatnya terkurung semalam lagi di apartemen kekasih kejamnya ini.

Steve meraih dagu Carla dengan kasar sambil menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik gadisnya.

"Aku tau untuk apa kau ingin pulang baby." desis Steve tajam sambil menyeringai tepat di depan wajah Carla. Ia tau untuk apa gadisnya meminta pulang. Untuk apalagi jika bukan membaca sebuah buku novel yang di gemari oleh para remaja. Namun tidak untuknya.

Mendengar itu Carla terdiam, ia harus mengubur impian nyatanya malam ini. Carla menepis tangan Steve dari dagunya tanpa rasa takut. Ia kemudian menarik selimut dan tidur memunggungi kekasihnya itu. Melihat hal itu, bukannya marah Steve tersenyum puas. Ia menyukai gadisnya yang penurut.

"Good night babe, have a nice dream." bisik Steve sambil menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi sebagian pipi Carla, dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Karna gadisnya sedang berada dalam posisi memunggunginya.

Steve mengecup pipi Carla berkali kali setelah menyelipkan helaian rambut gadisnya itu kebelakang telinganya. Membuat ia leluasa melihatnya meski hanya sebagian. Setelah puas Steve tersenyum manis melihat kelopak mata indah itu telah tertutup. Ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh gadisnya dan melenggang pergi. Ini sudah terlambat sejak panggilan masuk tadi. Jika tidak penting ia tidak akan tega meninggalkan gadisnya sendirian disini.

Setelah mendengar pintu tertutup Carla membuka matanya. Ia memang belum tidur sedari tadi. Ia hanya sedang dalam mode merajuk, kekasihnya itu begitu egois. Carla menatap keluar jendela dengan pandangan kosong, tirai yang tidak tertutup membuat indahnya cahaya rembulan masuk ke dalam kamar. Matanya terpaku memandangi langit yang dihiasi oleh rembulan serta jutaan bintang. Ternyata selain senja, rembulan begitu memikat hati.

Setelah beberapa lama memandangi indahnya rembulan, matanya terasa berat. Ditambah dengan aroma maskulin Steve yang menguar di kamar itu membuatnya sangat nyaman. Entah kenapa ia sangat nyaman bila mencium aroma Steve, membuatnya cepat terlelap dan menghantarkannya pada mimpi yang indah.

Terpopuler

Comments

Denzo_sian_alfoenzo

Denzo_sian_alfoenzo

aq suka apa aq termasuk psyco 🤧

2024-11-09

0

queen

queen

clara untuk kamu ngga dibanting td krn kau pulang😂

2023-03-26

0

Dinakan✨

Dinakan✨

pengen tau latar belakangnya stev dong Thor kenapa dia jadi seperti ini

2021-06-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!