Laki-laki itu terbangun dan mendapati wajah damai kekasihnya yang tengah terlelap. Ia kemudian bangkit perlahan, dan membaringkan Carla di pangkuannya. Dengan perlahan Steve melepas masker pada wajah gadisnya dan mengganti perban pada luka di pipi Carla.
Tangannya mengelus pipi gadisnya perlahan, dan kemudian memberi kecupan. Melihat gadisnya yang tengah terlelap, membuat sudut bibir laki-laki itu terangkat. Namun emosinya yang sempat mereda kembali membara. Ketika mengingat percakapan kekasihnya itu dengan temannya yang entah bernama siapa. Intinya ia tidak perlu mengetahuinya, toh tidak perlu juga. Juga tawa lepas dari Carla yang ditunjukkannya di tempat umum.
Dan ia tidak suka itu, lebih tepatnya benci.
Steve memijit pelipisnya pelan, rasa pusing masih ada. Setelah ia meminum begitu banyak wine, demi mendinginkan kepalanya yang serasa terbakar. Laki-laki itu menunduk dan mengecup pipi gadis yang amat ia sayangi. Ia benci melihat gadisnya tertawa di depan umum, terlebih itu bukan karenanya dan ia sangat benci melihat gadisnya berinteraksi dengan laki-laki lain. Tak terkecuali dengan sepupu gadisnya itu, yang selalu memasang wajah yang begitu menyebalkan.
Steve mengelus leher Carla lembut, leher jenjang itu terdapat bekas tangannya yang tercetak jelas. Ia tidak berniat menyakiti gadisnya sama sekali, namun perkataannya selalu saja di bantah yang membuatnya kembali tersulut emosi. "I love you," bisiknya lirih.
Mungkin satu kalimat dengan tiga kata itu adalah hal yang paling jarang di ucapkannya. Mulutnya lebih sering menyatakan kepemilikan yang arogant, dibandingkan kata-kata manis tentang cinta. Namun ketahuilah, cintanya lebih dari sekedar kalimat manis.
I love you.
Lagipula untuk apa terucap? Jika pada akhirnya hanya ada dusta. Cinta tidak membutuhkan janji-janji manis sebagai penunjangnya. Karna cinta memerlukan bukti bukan janji.
Gadis yang sempat terlelap tadi, mulai membuka matanya ketika mendengar bisikan manis, yang jarang sekali ia dengar. Matanya terbuka dan mendapati wajah tampan kekasih kejamnya, yang begitu dekat. Satu kata yang mampu mendefinisikan segalanya, tampan. Rambut yang acak-acakan, mata hitam kelam yang indah, serta hidung yang mancung. Namun rupa bukanlah segalanya.
Carla tidak munafik, bahwa kekasihnya ini memang tampan. Namun alasannnya tenggelam dalam lubang hitam tidak berdasar ini bukanlah itu. Sampai sekarang pun ia juga tidak mengetahui, mengapa ia bisa jatuh cinta dengan laki-laki kejam yang auranya selalu di penuhi oleh awan hitam.
Sudut bibir gadis itu terangkat membentuk garis senyum yang indah.
Sedangkan sosok laki-laki yang masih berada dalam posisinya itu hanya diam, sambil menatap lekat gadisnya yang hanya berjarak 5 centi meter dengannya.
"I love you too." lirih Carla sambil menatap lekat iris kelam kekasihnya, Steve.
Steve mengangkat sebelah alisnya dengan seringai tercetak jelas dibibirnnya, sambil bertanya.
"Apa?"
"Apanya?" Heran Carla.
"Aku tidak mendengarnya."
"Sorry, tidak ada siaran ulang."
Carla memutar bola matanya malas, kemudian beranjak untuk bangun. Namun dengan cepat Steve menahannya, dan menatapnya tajam.
"Apa lagi?" lirih Carla pelan, nyalinya tiba-tiba saja menciut.
Selalu saja begini.
"Ulangi!" titahnya mutlak.
Carla tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya dengan garis bibir yang datar. Hilang sudah garis senyum yang dipenuhi keceriaan itu. Ditelan oleh sikap otoriter yang mengerikan.
"Tatap aku." desis Steve dengan nada yang menusuk. Membuat Carla tiba-tiba saja terisak pelan.
"Sungguh, masalah yang sepele..." gumam Carla pelan, namun masih jelas di indra pendengaran Steve.
"Carla..."
Steve berusaha setenang mungkin, ia menarik dagu Carla dengan lembut. Gadis itu hanya menunjukkan tatapan datarnya.
"Kenapa malah menangis? Aku hanya memintamu untuk mengulangi perkataanmu saja."
Carla menatap Steve datar. "Aku tidak mau."
"Why?"
"Jika aku meminta sepertimu. Bisakah kau melepaskanku?"
Deg
Nafas Steve serasa tidak berhembus lagi. Jantung yang biasanya selalu berpacu cepat jika berada dekat dengan gadisnya, kini serasa terhenti. Tubuhnya kaku, bagaikan patung. Kalimat permintaan itu bagaikan maut untuknya.
Hening.
"Bisa."
Kata itu keluar setelah sekian menit, Steve hanya mematung ketika mendengar permintaan haram gadisnya. Carla menatap Steve, ia bisa merasakan aura gelap itu keluar lagi. Gadis itu meneguk ludahnya susah payah.
"Sangat bisa." ujarnya lagi.
Steve bangkit dan menuju suatu ruangan, setelah mengatakan kalimat dengan dua kata itu secara padat dan jelas. Sekarang giliran gadis itu yang mematung, alarm bahaya seperti ini sudah biasa ia temukan selama beberapa tahun terakhir ini. Namun yang sekarang ini, jauh terasa begitu mengerikan.
Ruangan yang dimasuki oleh laki-laki itu, kini kembali terbuka. Steve keluar dan berjalan dengan perlahan menuju kekasih hatinya, yang kini terlihat mematung.
"Kau ingin bebas?" tanya Steve pelan, yang membuat Carla terhenyak dari lamunannya. Ia memandang Steve dengan takut-takut. Kenapa jadi begini? niat awalnya tidak seperti ini.
"Steve..."
"Baiklah. Aku akan melepaskanmu!" lirihnya sambil menggosokkan pisau tajam mengkilap pada telapak tangannya sendiri.
Carla terkejut bukan main, pupil matanya melebar. Dengan jantung yang hampir keluar. Rasanya ia phobia dengan benda tajam yang bernama pisau.
Steve mulai mendekat, dan Carla semakin merasa terancam. Ia termakan oleh omongannya sendiri. Carla semakin mundur, dan hampir saja terjungkal kebelakang. Karna saat ini ia masih berada di sofa panjang itu. Steve menarik kaki Carla kasar, dan meremasnya kuat. Ia tidak menghiraukan teriakan histeris gadisnya sama sekali.
"Steve lepas...sakit.."
"Aku moh-"
"DIAM."
Bentakan yang memekakkan telinga itu, langsung membuat Carla diam seribu bahasa. Laki-laki itu mendekat dan mulai menempelkan pisau runcing itu di leher Carla.
"Ja-jangan..."
"Kenapa jangan? Aku akan membebaskanmu." bisik Steve dengan seringai yang mengerikan.
"Tidak...a-aku hanya bercanda."
"Bercanda? Heh, seharusnya aku mencekikmu sampai mati tadi!" desis Steve sambil memainkan pisaunya di leher Carla, lalu mulai menggoresnya perlahan.
Sret..
"Sakit Steve....ja-jangan.."
Pisau yang sejak tadi hanya menempel saja di leher jenjang gadis itu, kini mulai bergerak. Membuat cairan merah itu keluar, diiringi oleh rintihan menyakitkan dari empunya.
"Kau bilang bercanda heh? Jantungku hampir saja berhenti berdetak. Lebih baik aku melihatmu mati, daripada melepaskanmu begitu saja, Carla?!"
"Ma-maaf, aku benar - benar hanya bercanda Steve.." lirih Carla.
"Itu bukan sesuatu yang pantas untuk jadi bahan candaan baby!" lirih Steve sambil menatap gadis yang masih terisak itu.
"A-aku tidak akan mengulanginya."
Carla berhambur memeluk Steve erat, sungguh ia begitu ketakutan. Ia memang tidak bersungguh-sungguh mengatakan hal itu. Ia hanya ingin melihat reaksi dari kekasihnya ketika mengucapkan hal itu. Dan reaksi yang ia lihat sungguh mengerikan. Nyawanya terasa berada di ujung tanduk. Juga hatinya begitu sakit, ketika mendengar Steve mengatakan 'lebih baik melihatmu mati, daripada melepaskan' juga 'mencekikmu sampai mati'
Apa nyawanya bukan lagi di tangan Tuhan? Tapi ditangan seorang laki-laki kejam yang ia curahkan cintanya dengan sepenuh hatinya. Carla tidak menampik hal itu.
Ia mencintai laki-laki itu tanpa syarat.
Tangan kekar itu bergerak mengelus rambut Carla lembut. Gadis itu masih terisak dalam dekapan seorang laki-laki yang hampir merenggut nyawanya.
"Sudah, berhentilah menangis." ujar Steve lembut dan mengurai pelukannya, namun sepertinya gadisnya tidak mau melepaskannya.
"Bu-buang pisau itu."
Mendengar itu bukannya terkejut, Steve malah tersenyum sangat lebar. Ia suka itu.
"Sudah, sekarang lepaskan dulu. Aku akan mengobati lukamu."
Carla hanya diam dan melepaskan pelukannya. Sekarang ia akan kembali diobati.
"Aku bosan melihat kain putih ini." gerutu Carla pelan ketika Steve memberi perban kecil pada lehernya.
"Kau tidak akan melihatnya lagi, jika menjadi gadis yang penurut." ujar Steve sambil tersenyum.
"Bukan. Lebih tepatnya menjadi seperti yang kau inginkan."
"Sepertinya kau sudah sangat mengenal diriku rupanya, baby."
Carla hanya diam saja tidak menjawab apapun. Lebih baik ia bungkam daripada salah bicara.
"Then be a good girl." ujarnya sambil mengecup kening Carla.
***
Jalanan yang masih terlihat padat dan dipenuhi oleh masyarakat yang berlalu lalang, menghiasi jalanan kota London di sore hari. Carla menopang dagunya sambil menatap gedung - gedung tinggi yang berjejer rapi, dari jendela mobil. Ia merasa datang ke sekolah hanya sia-sia saja. Untuk apa ke sekolah jika bukan menimba ilmu? Seharian ini ia hanya berada di ruangan pengap tadi. Memikirkan itu membuatnya ingin berteriak histeris.
Lalu seorang laki-laki yang tengah memegang kemudi itu hanya bersenandung ria. Entah apa yang ada dikepalanya sekarang. Siapa yang tau?
"Jangan banyak pikiran nanti kau sakit." ujar Steve sambil menggenggam tangan Carla lembut.
"Orang tidak akan menjadi bodoh jika tidak belajar sehari baby." ujarnya seolah mengerti apa yang ada dipikiran gadisnya.
Carla masih diam saja, matanya masih terpaku pada pemandangan langit sore yang begitu cerah. Satu tangannya berada dalam genggaman laki-laki disampingnya. Menepisnya? tidak, ia masih sayang nyawa.
Steve hanya menghela nafas melihat respon gadisnya. Biarlah, ia juga sedang malas untuk berdebat sekarang. Mobil itu terus berjalan, hingga sampai pada sebuah mansion yang indah.
Carla bergegas turun, hari ini ia benar-benar merasa lelah. Namun ia menoleh lagi ketika tangannya masih berada dalam genggaman kekasihnya.
Cup
"Jangan lupa makan, lalu istirahat." bisik Steve lembut setelah memberi kecupan pada kening Carla.
Carla mengangguk paham dan langsung bergegas keluar. Kemudian ia mulai memasuki rumahnya setelah melihat kepergian mobil Steve.
"Mom...Carla pulang!" teriaknya lantang, setelah berada di rumahya ia merasa energinya kembali pulih.
"Jangan teriak-teriak sayang, mommy dengar kali." jawab Charissa yang keluar dari arah dapur.
"Hehehe.." Gadis itu hanya menunjukkan cengiran konyolnya.
"Sana mandi, lalu turun makan."
"Siap!"
Teriaknya lagi sambil berlari menuju kamarnya.
Charissa hanya tersenyum melihatnya, dan kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
***
Ruangan yang temaram menambah
kesan tersendiri pada seorang laki-laki yang tengah duduk pada kursi goyang itu. Satu lampu yang menyala tidak mampu untuk menerangi ruangan yang luas tersebut.
Bagaimana bisa menerangi? Lampu itu saja terletak pada sebuah foto besar di dinding yang langsung mengarah pada tatapan tajamnya. Tangannya yang terselip nikotin semakin menambah sensasi dalam dirinya. Hari yang semakin larut, tidak membuanya beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Pertemuan singkat yang sempat hinggap itu, terus saja terbayang hingga membuatnya enggan menutup mata. Jantungnya berdentum hebat, jiwanya resah memikirkan. Namun ia belum bisa bertindak.
Karna, belum saatnya.
"Hm, lama tidak berjumpa."
Meski bibir itu berucap, namun tetap saja hanya terpatri garis lurus. Bukan sebuah sunggingan yang membentuk senyuman.
Sebuah kursi goyang itu bergerak perlahan. Seiring dengan ayunan tubuh dari seseorang yang sedang mendudukinya.
Laki-laki itu beranjak dari duduknya menuju satu cahaya di ruangan itu. Asap mengepul namun matanya masih menangkap jelas objek di hadapannya. Karna wajah itu, selalu tersimpan di hatinya.
Tangannya bergerak, mengelus foto itu perlahan sambil mengamatinya dalam-dalam. "Hm, kau terlihat semakin cantik setelah remaja."
...TBC...
...🤸♀...
...Thank You...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
queen
hidup mati pun udh ditentuin steve wkwkwk
2023-03-26
0
نفا الحكم
carla lbih baik gk usah membantah steve deh drpd ad mslh
2022-10-16
0
Little Peony
Semangat selalu thor 🌻🌻
2021-05-10
1