Burung dalam sangkar

Suasana yang kembali seperti semula serta ketegangan yang sempat terjadi telah menguap. Kini empat orang remaja tersebut tengah berkumpul layaknya sahabat yang saling berbagi suka cita.

"Oh iya ngomong-ngomong kalian belum berkenalan." celetuk Carla memulai pembicaraan, karna ia dapat melihat betapa kakunya wajah para manusia di sekitarnya. Carla memang belum sempat mengenalkan saudara sepupunya pada Keisya maupun Steve. Yah, meski kekasihnya itu sudah mengenalnya lebih dulu dengan cara yang tidak wajar.

"Tidak Valee, aku yakin dia sudah mengenalku."

Suara pertama yang di keluarkan oleh saudara sepupu Carla itu, langsung membuat pendengaran Steve menjadi panas seperti terbakar. Sedangkan yang berucap, hanya cengar-cengir tidak jelas seolah meledek raut wajah dari kekasih sepupunya tersebut. Entah kenapa Alden begitu senang menggoda Steve, laki-laki yang selalu di kuasai oleh amarah dalam dirinya.

Carla yang mendengar ucapan Alden hanya memutar bola matanya malas. Tidak tau saja dia, jika sisi iblis dari seorang Steve bangun, maka tempat yang tengah mereka pijaki ini akan menjadi luluh lantah. Tangan dari gadis tersebut, juga bekerja mengelus punggung kekasihnya yang terlihat bergetar menahan gejolak amarahnya.

Steve yang merasakan usapan halus pada punggungnya mulai tenang, karna hanya gadisnya lah yang mampu membuat amarahnya padam. Ia pun mengambil tangan kecil itu dan menggenggamnya dengan erat, juga sesekali memberi kecupan yang membuat empunya merona malu.

"Ekhm ekhm sudah nanti dilanjutkan lagi!"

Suara itu lagi-agi membuat Steve mendelik tak suka. Jika saja laki-aki bernama Alden itu bukan saudara kekasihnya, sudah dipastikan kepalanya akan ia gantung di depan rumah sang empunya. Sedangkan bagian tubuhnya yang lain, akan ia beri makan pada ke tiga hewan kesayangannya. Lumayan ada manfaatnya, meski jiwanya telah melayang ke alam sana. Ke tiga serigalanya akan sangat senang dan amat menyukai daging manusia yang masih segar.

Sedangkan Carla? Pikirannya tidak sesadis seperti  laki-laki yang berstatus kekasihnya itu, yang akan langsung berpikiran bunuh membunuh. Gadis polos dan periang tersebut tidak mampu dan tidak akan, untuk sampai berfantasi hal-hal yang mengerikan. Ia hanya menunduk malu, dengan wajah yang sudah merah padam. Meski setengah wajahnya sudah ditutupi kain yang bernama masker, tetap saja ia merasa malu. Sekali lagi ia berterimakasih pada benda itu.

Alden yang melihatnya hanya terkekeh geli, sepupunya ini benar-benar. Ia kemudian melirik gadis disampingnya, yang tengah menyeruput minumannnya.

"Apa kau tidak mau memperkenalkan ku pada gadis cantik ini?"

"Uhuk uhuk uhuk."

"Keisya? Kau tidak apa-apa?" tanya Carla yang tiba-tiba saja melihat sahabatnya terbatuk. Dengan cepat ia bangkit dan menghampiri Keisya

"Aku tidak apa-apa."

"Wah ada apa dengan hari ini, mengapa semuanya tiba-tiba saja terbatuk?"

Alden yang melihat Keisya tiba-tiba saja terbatuk setelah mendengar ucapannya, hanya tersenyum. Dengan santainya ia juga berkata demikian, sambil mengelus punggung Keisya pelan, yang segera di tepis kasar oleh empunya. Dan lagi-lagi ia hanya menanggapinya dengan tersenyum.

"Kenapa kau meledeknya?" tanya Carla ketus pada saudara sepupunya itu.

"Aku tidak meledeknya."

Alden mengangkat bahunya acuh sambil tersenyum, yang langsung membuat Carla menjadi jengkel.

"Baiklah sekarang kita lanjutkan."

"Lanjutkan?" beo Carla bingung.

"Ck. Sesi perkenalan!"

Carla yang mendengar ucapan Alden, menghela nafas pelan. Ia kemudian kembali duduk, setelah tadi sempat bangkit untuk menghampiri sahabatnya.

"Dia Keisya, dan Keisya ini Alden sepupuku." ujar Carla sambil menunjuk satu persatu dari mereka. Alden dengan cepat menyodorkan tangannya, namun hanya tatapan datar yang ia dapatkan. Merasa tidak mendapat balasan, tanpa permisi Alden dengan cepat mengambil tangan gadis itu.

Cup

Keisya melotot tak percaya ketika bibir dari laki-laki yang terlihat sangat excited berkenalan dengannya tersebut, tiba-tiba mengecup punggung tangannya. Gadis itu membeku ditempat, tiba-tiba kepalanya kosong dan tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Meski hanya punggung tangan, ia merasa sangat malu terlebih ini adalah tempat umum.

"Wah sepertinya ada yang kasmaran." celetuk Carla sambil terkekeh kecil. Keisya yang mendengar itu langsung tersadar, dan dengan cepat ia menarik tangannya.

"Apa wajahku ada tulisannya?" tanya Alden santai.

"Tidak, tapi raut wajahmu mengatakan segalanya."

Carla tertawa lepas, melihat interaksi antara sahabat dan sepupunya itu. Ia menyukai suasana seperti ini. Layaknya para remaja lain yang menikmati masa mudanya. Berkumpul bersama yang dipenuhi dengan canda tawa, tanpa ketegangan ataupun kekangan. Gadis itu sangat merindukan suasana seperti ini.

Hari-harinya dulu selalu diwarnai seperti ini, sebelum semuanya direnggut dan berakhir pada sebuah sangkar yang membelenggu dirinya. Kalau sudah begini, ia merasa bagaikan burung yang baru keluar dari sangkar emasnya. Gadis itu  hampir saja lupa dengan keberadaan dari seseorang di sampingnya. Jika saja ia tidak merasakan pinggangnya yang tiba-tiba diremas kuat.

Carla memejamkan matanya, berusaha tidak berteriak kesakitan atau ia akan benar-benar menjadi tontonan disini. Ia melirik laki-laki disampingnya yang terlihat santai sambil menikmati sebatang nikotin yang berada diantara sela-sela jarinya.

Carla membeku di tempat ketika melihat Steve yang terlihat tenang dan santai. Tangannya menjadi berkeringat dingin, jangan mengira sifat tenang ini adalah anugerah untuknya. Namun sebaliknya ini jauh lebih mengerikan. Banyak yang mengatakan, bahwa air yang tenang jauh lebih berbahaya, dari api yang berkobar.

"Valee, apa kau tak ingin mengenalkannya juga padaku?"

Oh, tidak.

Ini semakin rumit. Alden berucap di waktu yang tidak tepat, serta ucapan yang tidak  tepat. Carla bergerak gelisah, sesekali ekor matanya melirik Steve yang masih terlihat tenang.

"Alden ini Steve, dan Steve ini Alden sepupuku." Meski ketakutan melandanya, Carla sebisa mungkin tidak terbata dalam berucap.

Seperti tadi, Alden menyodorkan tangannya. Jangankan jabatannya dibalas, Steve bahkan tidak melihat sama sekali kearahnya. Alden terkekeh pelan, yang membuat Carla semakin bergerak gelisah di tempatnya.

Steve melempar puntung rokoknya, kemudian bangkit dan menyeret tangan Carla pergi. Alden yang melihatnya hanya mengangkat bahunya acuh. Sedangkan Keisya, gadis itu dengan cepat beranjak dari duduknya untuk mengejar Carla. Namun, belum sempat ia melangkah tangannya sudah dicekal erat membuatnya meringis kecil. Gadis itu kembali terduduk ditempatnya, dan ia seketika merinding ketika melihat senyum yang dipancarkan oleh laki-laki yang mencekal tangannya.

Keisya memalingkan wajahnya, ia paling takut dengan suasana seperti ini. Jangan katakan ia tidak mencoba melepaskan tangannya, berulang kali gadis itu telah mencobanya tapi yang ada tangannya serasa mau patah saja. Melihat gadis manis disampingnya memalingkan wajahnya, Alden tersenyum. Ia kemudian mendekat, hingga jarak keduanya begitu dekat. Laki-laki itu mendekatkan bibirnya pada telinga Keisya.

"Will you be mine?"

Bisikan disertai hembusan nafas hangat itu menerpa telinga Keisya, yang membuatnya memejamkan mata erat.

Ini mengerikan, ia tidak pernah berekspetasi sampai sejauh ini pada laki-laki tersebut. Mengingat tingkahnya yang terlihat konyol, namun bisa semengerikan ini sekarang.

Realita memang jauh dari ekspetasi.

Keisya meronta pelan kala cekalan di tangannya semakin erat. Ini menyakitkan, tapi tidak sebanding dengan rasa takutnya.

"Lepas!" desis Keisya sambil menatap mata Alden dengan tajam. Ia tidak boleh terlihat takut, itu akan menguntungkan bagi pemangsanya.

"Tidak ingin menjawabnya? Baiklah aku tunggu. Tapi Aku bukanlah orang yang sabar, dan aku sudah memintanya baik-baik. Jika kesabaran itu mengikis dan habis. Hmm kita lihat nanti, Sasya." bisik Alden sambil tersenyum yang justru membuat Keisya semakin ketakutan.

Keisya merasakan cekalan tangannya terlepas, dan melihat laki-laki mengerikan itu beranjak dari duduknya membuatnya mendesah lega. Ia merutuki dirinya sendiri yang justru seperti patung tadi. Seharusnya ia mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak mau menjadi milik dari laki-laki itu.

Memang rasa takut, selalu mendominasi. Keisya beranjak dari duduknya dengan lesu, ia akan kembali ke kelasnya sekarang meski tampaknya kelas sudah dimulai. Harap-harap jam pelajaran hari ini kosong.

Sungguh, ini hari yang buruk.

***

Pada suatu ruangan lain, seorang gadis yang duduk dengan menundukkan kepalanya. Gadis itu bagaikan seorang kriminal yang diintrogasi polisi. Tangannya saling bertautan dan meremasnya pelan. Untuk mengusir rasa takut, yang tak kunjung pergi.

"Siapa dia?"

"Edgar."

"Aku tidak bertanya namanya Carla!"

Carla memejamkan matanya erat, dan semakin meremas tangannya gelisah. Ia menaikkan kedua kakinya di sofa dan memeluk lututnya sambil beringsut.

"Te-temanku Steve."

"Bullshit! Tidak ada kata teman di antara laki-laki dan perempuan!!" cemooh Steve seraya tersenyum miring.

Kata-kata yang diucapkannya bukan lagi hal asing. Memang dalam dua insan yang berbeda, tidak pernah ada kata teman di dalamnya. Tanpa melibatkan perasaan. Salah satunya pasti akan timbul perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu.

"Lalu apa? Aku saja baru bertemu dengannya setelah sekian lama." balas Carla sambil menatap Steve yang duduk di depannya sambil menyesap segelas wine.

"Sekian lama?"

"Iya, dia pindah dengan keluarganya dulu."

Steve tidak menanggapinya, ia meneguk wine nya hingga tandas dan meletakkan gelasnya kasar. Dengan sempoyongan ia bangkit untuk mendekat pada gadisnya. Ia merebahkan dirinya pada sofa panjang dan menaruh kepalanya pada pangkuan Carla. Kepalanya pusing mungkin efek dari banyaknya minuman yang masuk ke tubuhnya telah bekerja.

Steve mengambil tangan Carla dan menaruhnya di atas kepalanya. Carla dengan cepat mengelusnya, sebelum laki-laki yang berada di pangkuannya ini melayangkan protes padanya. Ia langsung mengerti maksud dari Steve, karna bukan pertama kali ia melakukan hal ini.

Usapan halus dari tangan mungil itu perlahan membawanya pada alam bawah sadar. Carla yang merasakan nafas Steve yang teratur mendesah lega. Detik sebelumnya ia begitu ketakutan pada sikap mengerikan Steve yang dengan kasar menyeretnya ke ruangan ini.

Pikiran buruk menghantuinya akan hal-hal mengerikan yang pernah terjadi. Namun apa yang ia pikirkan tidak terjadi, justru laki-laki itu mengamuk sendiri yang membuat Carla duduk ketakutan di pojokan.

Carla menghela nafas pelan melihat betapa berserakannya botol wine di atas meja. Setelah Steve membawa Carla keruang pribadinya, laki-laki itu tidak mengatakan apapun.

Steve tidak ingin menyakiti gadisnya lagi, dan akan bertanya dengan tenang setelah amarahnya mereda.

Kepalanya menjadi dingin setelah meneguk kasar minuman itu dari botolnya langsung. Carla semakin bergidik ngeri, menghentikan pun ia tidak bisa bukannya tidak ingin.

Carla melirik jam dinding di depannya dengan gelisah. Sudah dua jam ia berada di ruangan ini, dan sudah pasti ia kembali melewatkan pelajarannya dengan cuma-cuma. Carla melihat Steve yang tertidur cukup pulas, dan sepertinya ini adalah kesempatannya.

"Jangan pergi, atau kau tau akibatnya!" ujar Steve yang terdengar seperti racauan di telinga Carla. Gadis itu berjingkat kaget. Bagaimana bisa Steve mengetahuinya?

"Kau tidak tidur?"

"Hmm."

"Istirahatlah disini, aku akan pergi ke kelas." ujar Carla dengan berani setelah mendengar racauan dari Steve yang seperti orang mabuk.

"Tetap tinggal atau kita pulang sekarang!"

"Kau mabuk Steve, istirahatlah disini. Aku akan masuk kelas dulu, a-aku tidak ingin ketinggalan pelajaran lagi." lirih Carla pelan.

Mata yang sempat terpejam itu, kini terbuka dan menatap Carla dengan nyalang. "Kau membantahku?!" desis Steve tajam sambil membelai wajah Carla lembut, kemudian bergerak turun ke lehernya.

"Akhh!! A-apa yang ka-kau la-lakukan?" pekik Carla tertahan kala tangan yang membelai wajahnya lembut tadi, kini mencekik lehernya.

"Aku berusaha untuk tidak menyakitimu, tapi kau terus saja membantahku?!"

Air mata Carla luruh, ia tidak bisa bernafas. Dadanya sesak mendengar bentakan serta rasa sakit dari tangan yang mencekik lehernya.

"Aku menahan amarahku mati-matian, sejak kau bicara begitu akrab dengan lelaki sialan berkaca mata itu?!"

"Le-lepas sa-sakit!"

"Kau ingin ke kelas, untuk melanjutkan pembicaraanmu?"

Steve tersenyum remeh, dan melepaskan tangannya dari leher Carla dan membelai surai gadis itu lembut. "In your dream baby.." bisiknya pelan pada gadis yang kini meraup udara kasar sambil memegang lehernya.

"Sa-sakit Steve. A-aku tidak bi-bisa bernafas!" isak Carla lirih, ia benar-benar merasa sesak entah itu karna perbuatan kekasihnya ataupun mendengar perkataan yang menyayat hatinya.

Steve mengusap air mata Carla lembut, dan mendekapnya hangat. "Sesak? Itu juga yang kurasakan saat kau berbicara begitu akrabnya dengan lelaki itu!" lirihnya sambil mengusap bekas tangannya sendiri di leher Carla dengan lembut.

Carla hanya diam, tidak menanggapinya. Jiwanya serasa begitu tertekan, dirinya berada pada kekangan yang begitu mengerikan. Ia menghela nafasnya pelan, tak terhitung sudah.

Dirinya harus kembali merelakan, materi-materi penting yang di ajarkan hari ini, terlewatkan begitu saja. Beberapa tahun terakhir ini, ia benar-benar tidak bisa memilih keinginannya sendiri.

Melainkan dipilihkan.

...TBC...

Terpopuler

Comments

Liza Tiara Diana

Liza Tiara Diana

Alden apa sama aja kaya Steve ya🫨

2023-07-29

0

queen

queen

gilaaaa busetttt

2023-03-26

0

Alisya@84

Alisya@84

carla kalo ndak gila mati nih thor.......kalo begini trus......

2021-06-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!