Fajar menyingsing, namun mentari seolah enggan menampakkan sinarnya. Di suatu tempat, sebuah jam beker berbentuk minion tidak henti-hentinya berbunyi. Bukannya mematikannya, seorang gadis yang tengah menyelami alam mimpi itu malah mengeratkan selimut tebalnya dan mencari posisi ternyaman.
Gerimis yang turun mengguyur bumi, membuat suasana terasa begitu dingin di pagi hari ini. Seolah mendukung dirinya untuk bermalas malasan. Matanya enggan terbuka, namun gadis itu menggeliat dalam tidurnya. Ketika merasakan kecupan di sekitar wajahnya.
"Mom! Sebentar lagi," sahut Carla sambil menggeliat karna seseorang yang ia kira mommy nya tengah menepuk pipinya pelan dan sekali kali mencubitnya.
Karna tak kunjung bangun, seseorang yang mencoba membangunkan gadis itu menjadi geram.
"Mom! Please!"
Carla yang merasa terusik ketika selimutnya ditarik, membuatnya sedikit berteriak sambil menepis tangan seseorang itu.
Seorang lelaki yang tak lain adalah Steve sedikit menggeram kesal. Bagaimana tidak? Sudah hampir lima belas menit ia mencoba membangunkan gadisnya, namun sepertinya tak kunjung bangun juga membuatnya geram.
Steve kembali memberikan kecupan pada wajah gadisnya itu, supaya ia membuka matanya dan melihat dengan jelas. Kalau bukan mommy nya, yang tengah membangunkan. Kembali merasakan ada yang mengecup seluruh permukaan wajahnya membuat Carla merasa terusik. Lalu ia membuka matanya dan melihat wajah Steve, kekasihnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dengannya.
"Hah Steve? A-apa yang kau lakukan disini?"
Carla melotot tak percaya, ia sangat terkejut dengan kehadiran Steve. sekaligus gugup, bukan gugup karena merona. Tapi lebih ke kekasihnya yang yang memiliki kepribadian luar biasa ini murka padanya.
"Membangunkan putri tidur."
"Sejak kapan kau di sini?"
Carla dengan cepat mendudukkan dirinya dan memandang Steve takut-takut. Ia menyesali perbuatannya yang sempat berteriak dan menepis tangan yang ia kira mamanya.
Habislah sudah.
"Sejak tadi." jawab Steve singkat yang membuat jantung Carla berpacu lebih cepat dibuatnya.
"Sorry, a-aku kira ka-" cicit Carla gugup bahkan ia sampai terbata bata.
Steve mengulum senyum melihat kekasihnya ini yang terlihat gugup.
"Sudah, sana cepat bersiap! Aku tunggu di bawah."
Steve tersenyum dan mengacak rambut gadisnya gemas yang terlihat sedikit berantakan. Namun, sangat menggemaskan dimatanya.
"Dan, jangan lama!" peringat Steve setelah menyematkan kecupan singkat di kening Carla. Kemudian, ia beranjak dan berlalu keluar.
Carla masih mematung di tempat, dengan rambut yang acak-acakan. Ia dibuat cengo oleh Steve sambil menatap punggungnya yang hilang di balik pintu. Kekasihnya itu benar-benar memiliki sifat yang tidak bisa di tebak. Dia tidak habis pikir Steve malah melayangkan senyum manisnya. Pikirannya menerawang jauh, ketika ia pernah telat bangun dan yang kebetulan membangunkannya tak lain Steve. Ia juga melakukan hal yang sama, tidak sengaja berteriak dan menepis tangan kekasihnya itu yang dikira adalah mommy nya.
Lalu apa yang terjadi? Apalagi, kalau bukan mendapat tamparan dan juga jambakan serta makian kasar. Sungguh pagi yang begitu buruk. Carla menepis pikiran itu dan segera melupakannya. Harapannya hanya satu, semoga sikap kekasihnya itu akan selalu manis seperti ini. Carla kemudian segera memasuki kamar mandi, dan dengan cepat memulai ritual mandinya.
Tidak sampai 15 menit Carla keluar dari kamar mandi dan dengan cepat memakai seragamnya. Ia dengan cepat menyambar tas yang sudah berisi buku pelajaran hari ini, dan turun ke bawah. Hatinya sudah ketar ketir sejak tadi, takut-takut kekasihnya itu mengamuk di pagi hari.
"Morning mom," sapa Carla ketika sudah sampai di meja makan.
"Morning sayang."
Charissa tersenyum hangat sambil membalas sapaan putrinya. Carla yang tadinya sempat gelisah, menghela nafas lega ketika melihat Steve ikut sarapan dengan tenang.
Carla celingukan mencari papanya sambil mengambil roti dan meminum susunya. "Dad mana mom?"
"Udah berangkat, baru aja."
"Tumben berangkat pagi."
"Katanya ada meeting penting."
Carla hanya ber-oh ria saja dan segera memakan sarapannya ketika melihat Steve sudah selesai.
"Kami berangkat ya mom." ujar Carla sambil mencium pipi mommynya, dan berlalu keluar.
"iya sayang hati - hati." ujar Charissa sambil melambaikan tangan pada putrinya.
***
Suasana hening, membuat Carla merasa sangat tak nyaman. Rasanya begitu mencekam ditambah laju mobil yang terasa sangat pelan. Carla melirik Steve melalui ekor matanya kemudian menghela nafas pelan. Lelaki dengan raut wajah datar nan dingin ini memang jarang bicara, jika tidak ada hal penting.
"Steve..."
"Hmm."
"Apa yang kau kerjakan kemarin malam?"
"Tidak ada, hanya menandatangani beberapa berkas." jawab Steve sambil sedikit menoleh. Jujur, tadi ia sedikit tegang dengan pertanyaan yang tiba-tiba di lontarkan oleh kekasihnya itu. Tapi ia dengan cepat merubah wajahnya menjadi datar kembali.
Karna gadisnya, tidak tahu sisi gelapnya yang satu itu.
Carla hanya ber-oh ria saja, dan tidak bertanya apapun lagi. Sampai parkiran Carla segera turun tanpa bicara. Karna ia sudah telat akibat laju mobil yang sepelan siput itu. Steve mencengkram erat stir mobilnya dan memandang Carla yang turun dengan cara tergesa gesa itu. Ia segera turun dan membanting pintu mobilnya dengan sangat keras.
Steve dengan segera memegang tangan Carla dan mencengkramnya dengan erat. Ia langsung menarik dagu Carla kasar, dan menatapnya nyalang.
"Tidak sopan!" desisnya tajam.
Terkejut dan takut bercampur menjadi satu, dagunya juga terasa ngilu membuatnya meringis tertahan. Carla sampai meremang dibuatnya, sungguh sifat kekasihnya ini memang tidak bisa tertebak.
Tidak ada yang pernah tau apa yang ada dipikiran lelaki itu.
"Steve.." lirih Carla pelan, menatap sendu lelaki itu.
"Aku bukan supirmu Carla!"
Carla tercengang, mendengar lontaran kata kekasihnya yang begitu menusuk hatinya. Sampai seburuk itukah pemikiran kekasihnya?
Cengkraman di dagunya terasa mengerat membuatnya meringis ngilu. Namun hatinya lebih sakit, ketika mengetahui pemikiran Steve tentang dirinya. "A-Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu Steve," Air matanya luruh tidak bisa dibendung lagi.
"Lalu? Apa yang kau lakukan tadi?!"
"Sorry, a-aku hanya takut telat."
"Tapi sikapmu menunjukkan seolah - olah aku ini supirmu!" desis Steve tajam tepat di muka Carla yang kini tengah meringis kesakitan.
"A-Aku tidak bermaksud seperti itu."
Steve melepaskan cengkramannya pada dagu Carla, dan menghempaskan gadis itu kasar.
Air matanya luruh, gadis itu sesegukan sambil berjongkok dan menelungkupkan kepalanya.
"Ma-maaf. Hiks..hiks.." cicit Carla yang masih sesegukan. Ia terasa sangat menyedihkan sekarang. Setiap datang ke sekolah ada saja yang salah pada tindakannya yang membuat kekasihnya itu marah. Katakanlah ia cengeng. Tapi sungguh ia sangat takut dengan kemarahan laki-laki itu.
Steve mengusap wajahnya kasar, ketika melihat Carla berjongkok sambil menangis. Ia kemudian mendekat dan menarik tangan Carla untuk berdiri. Gadis itu senantiasa menundukkan wajahnya yang berlinangan air mata. Steve menarik pinggang gadisnya mendekat dan menangkup pipinya pelan.
Lelaki itu sedikit tersenyum ketika melihat hidung gadisnya yang merah dengan mata sembabnya. Dengan lembut ia mengusap pelan pipi Carla untuk menghapus jejak air matanya. Kemudian mengecup matanya yang sembab dan dagu kekasihnya yang sempat ia cengkram dengan kuat tadi. Carla hanya memejamkan matanya erat tidak berani menatap mata lelaki itu.
Lelaki yang berstatus kekasihnya itu benar-benar memiliki suasana hati yang tidak terduga. Seperti orang yang memiliki gangguan bipolar. Menyakitinya tanpa berfikir dengan kesalahan yang tanpa disengaja ataupun tidak sama sekali. Setelahnya lelaki itu akan memperlakukannya dengan lembut. Perubahan suasana hati yang mengerikan.
"Ayo ke kelas." ujar Steve setelah puas mengecup mata, dagu dan tangan kekasihnya itu yang sempat ia sakiti.
Carla hanya diam dan mengikuti Steve yang sudah merangkulnya dengan erat. Ia sudah tidak peduli lagi terlambat atau tidak. Ini pagi yang buruk. Gerimis masih saja mengguyur semesta, seolah mendukung suasana hatinya saat ini.
...tbc....
...voment...
...💅...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
waduhhhhh psyco lv akut 😖
2024-11-08
0
queen
gila tiba2 marah kalo gus lempar dg sepatu tu🤣
2023-03-26
1
zien
semangat terus 💪
semoga sukses selalu 😀
mampir juga di novelku JODOHKU YANG LUAR BIASA 😊
2021-02-28
1