...Petiklah bulan, jadikan ia cahaya sahaja di malam laknat para pendosa...
Gelapnya malam yang ditemani cahaya rembulan di tengah awan, menemani sang malam yang kian larut. Hanya terdengar suara bising di hati yang sedang merindu. Kesunyian yang menggumpal semakin jelas. Malam yang semakin pekat tidak membuat penduduk bumi yang masih memiliki urusan tetap melanjutkan mimpinya, namun bangkit untuk mewujudkannya.
Angin berhembus lembut yang ditemani dengan nyanyian dari serangga malam, menambah aura yang menyeramkan. Ditengah pekatnya malam terlihat sebuah mobil membelah kegelapan jalanan kota London. Di malam yang dingin dan sunyi ini, mobil itu melaju kencang ke suatu tempat untuk menuntaskan hasratnya, sekaligus menyingkirkan lalat yang berani mengusik hidupnya. Mudah bukan? Hasrat terpenuhi begitu pula dengan lenyapnya sebuah parasit yang berani mengusiknya.
Hasrat, sebuah kata yang identik dengan keinginan dari dalam yang begitu menggebu. Semua orang pasti mendefinisikan hasrat sebagai nafsu. Tapi hasrat yang dimaksudkan disini bukan nafsu belaka, namun hasrat mencium cairan merah kental, raungan kesakitan, serta sebuah permohonan kematian untuk meninggalkan dunia yang fana ini.
Semua orang memiliki hobinya masing-masing mulai dari biasa, unik sampai yang sudah terkesan abnormal. Sehingga mereka yang seperti itu akan dianggap berbeda, karna jika ditanya ia akan mempunyai jawaban di luar nalar manusia biasa.
Mobil itu terus melaju membelah kesunyian malam, hingga berhenti pada tempat yang menyerupai gundukan bukit. Namun itu adalah sebuah bangunan lima lantai yang sama sekali tidak terlihat seperti bangunan. Karena bangunannya benar-benar menyatu dengan alam dan lingkungannya, sehingga dari kejauhan akan terlihat seperti gundukan bukit.
Di bagian luar berjajar dinding-dinding kaca yang memungkinkan cahaya matahari ataupun cahaya rembulan masuk dan menyinari bagian dalam gedung ini. Kemudian atap yang dipenuhi rerumputan berfungsi untuk melindungi bangunan, mendinginkan udara sekitar, dan mengumpulkan air hujan untuk mengairi tanaman yang ada di sekitar gedung.
Pada pagi hari bangunan yang luas nan megah ini akan terlihat seperti surga. Namun pada malam hari akan terlihat seperti hutan belantara yang tidak ada kehidupan. Bentuknya yang menyerupai bukit menutupi kemegahan bangunan lantai lima itu.
Bukankah memang begitu? Keindahan memang tidak selalu terlihat dari luar, begitupun sebaliknya. Orang berkata jangan menilai buku dari sampulnya saja ataupun jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja.
Sama hal nya dengan pemilik bangunan itu sendiri. Bukankah covernya terlalu indah? Bahkan melebihi dari definisi sebuah kata indah. Parasnya yang menawan dengan pahatan wajah yang sempurna, seakan penciptanya begitu terampil dan sangat sempurna jika dijelaskan. Sangat. Namun dalam dirinya ia begitu kejam, bengis, dan tidak berperasaan. Seperti malam ini ia akan berubah menjadi malaikat maut.
Mungkin Tuhan menciptakannya sambil menari. Tapi memang tidak ada orang yang sempurna melebihi penciptanya sendiri. Karna itu, sesempurna apapun manusia pasti ada kekurangannya sendiri.
Terlihat seorang laki-laki berperawakan tinggi kekar keluar dari mobilnya, mata tajamnya menelisik sekitar sebelum mulai memasuki bangunan yang menyerupai gundukan bukit itu. Ia melangkah masuk menuju ruangan bawah tanah. Puluhan pria kekar dengan seragam serba hitam, lengkap dengan senjatanya sudah berjejer rapi sepanjang lorong dan membungkuk hormat pada tuannya. Seperti biasa sikap arrogant nya membuatnya acuh tak acuh bahkan hanya sekedar menyunggingkan senyum sapa.
Kaki panjangnya terus melangkah dan sampai pada sebuah ruangan yang temaram.
"Serangga mana lagi yang berani mengganggu ketenanganku?" ujarnya setelah menginjakkan kakinya di sebuah ruangan. Seketika ruangan yang sudah seram menjadi berpuluh kali lipat seram serta mencekam.
Seperti biasa seekor lalat. Ralat seorang manusia terikat pada sebuah kursi.
Laki-laki itu menyunggingkan senyum. Senyum yang sangat manis. Seseorang yang sedang terikat itu menatapnya nyalang seakan penuh kebencian. Jika saja mulutnya tidak disumpal, segala umpatan akan ia berikan pada laki-laki yang masih saja tersenyum itu. Tau jika dirinya ditatap seperti itu, laki-laki itu tertawa sangat keras sampai kepalanya mengadah ke atas. Oh ayolah bukankah ini lucu?
Ada dua hal yang membuatnya tersenyum sampai saat ini. Pertama tentu saja ketika melihat senyum cantik dari gadisnya. Oh mengingat itu membuat laki-laki itu ingin segera pulang, sebernarnya ia tidak tega meninggalkan gadisnya sendiri. Namun apa boleh buat, serangga yang mengganggunya harus di tumpas habis. Ia juga akan membuat korbannya hari ini begitu tersiksa, hingga manusia yang penuh tipu daya itu menginginkan ajal menjemputnya sendiri. Karna sudah berani mengganggu waktunya bersama gadisnya.
Kedua tentu saja jeritan kesakitan dari mangsanya. Tangannya terasa begitu sangat gatal hari ini. Apa lagi kepalanya mengingat ketika ia menggores punggung mulus kekasihnya. Aroma anyir darah yang begitu memabukkan membuatnya seperti menghirup obat terlarang. Jeritan ketika ia melukai kekasihnya sendiri sebenarnya begitu ia nikmati dan jangan lupakan darah yang keluar dari gadisnya tercium begitu manis. Rasanya ia seperti mencium aroma dari sebuah gulali.
Jika saja gadisnya bukan tulang rusuknya, jantungnya, nafasnya, dan hidupnya. Maka ia tak akan pernah segan, sekalipun menangis darah.
Setelah puas memandangi mangsanya dari atas sampai bawah, laki-laki itu melangkah pelan. Sangat pelan, seakan setiap langkahnya seperti jemputan maut bagi korbannya saat ini. Cahaya yang minim menambah aura mencekam tersendiri di ruangan itu. Cahaya rembulan pun tidak dapat memasuki ruangan itu, karna tempatnya yang berada di bawah tanah. Kekejamannya hari ini hanya disaksikan dinding-dinding bisu dan para anak buahnya serta sang maha pencipta.
Setelah tepat berada di depan seseorang yang sedang terikat itu. Steve semakin menyeringai melihatnya. Yah, laki-laki itu adalah Steve sang malaikat maut tampan yang menyamar seakan menjadi manusia.
Ternyata para penghianat memang tak jauh-jauh, justru mereka akan berkeliaran di sekitarmu yang bertopeng sebagai teman maupun kerabat. Itupun adalah fakta bukan mitos belaka. Karna yang iri hati pastilah orang terdekat. Ketika kau memiliki segalanya, percayalah orang asing pun akan mengaku sebagai saudara.
Steve berjalan menuju sebuah kursi dan menumpu kakinya di atas meja. Ia melambaikan tangannya ke atas, seakan memberi perintah. Datanglah dua anak buahnya dan menunduk hormat. Keringat sebesar biji jagung menetes dari dahi kedua anak buah itu. Pandangan yang tuannya berikan saat ini seakan-akan menelan orang hidup-hidup.
"Bermainlah," seru Steve singkat lalu kemudian mengambil sepuntung rokok dan pematik. Tanpa bertanya lagi kedua anak buahnya berjalan menuju laki-laki berkepala tiga yang tengah memberontak berusaha melepaskan ikatan tali itu. Seperti ular sawah yang membelit mangsanya, begitupun dengan tali itu. Semakin korbannya memberontak maka tali itu akan menjadi semakin erat.
"Arghhh le-lepaskan aku sialan arghhh!" raungan mulai terdengar setelah sumpalan dari mulut laki-laki itu terlepas. Tanpa disuruh pun anak buahnya sudah tau, jika tuannya menikmati raungan itu seakan sebuah lagu penghantar tidur.
Steve mengadahkan kepalanya ke atas sambil menghembuskan asap nikotin dari mulutnya. Baginya ini begitu nikmat untuk dijelaskan. Entah apa yang di lakukan anak buahnya itu, ia tidak peduli. Steve menaruh rokoknya yang masih menyala, dan memanggil asistennya. Tanpa bertanya dan disuruh, asistenya Troy menyerahkan sebuah berkas pada tuannya.
"Ck. Gibran Desmont, 32 tahun
menggelapkan uang dan meretas data perusahaan, serta menjualnya," Steve menyunggingkan senyumnya. Laki-laki yang dimaksudnya tadi adalah seorang hacker di perusahaannya sendiri. Lalu sekarang berkhianat tanpa memikirkan konsekuensinya. Apa ia kira bosnya lemah? Sehingga bisa seenaknya. Dalam hidup ia paling benci dengan seorang pengkhianat.
"Cincang tangannya!" ujar Steve sambil menaruh berkasnya di meja. Lalu kembali mengambil rokoknya yang masih menyala, menghisapnya pelan dan menghembuskannya.
Seperti perintah tuannya, mereka mengambil sebuah kapak dan mulai mencincang kedua tangan dari laki-laki yang terlihat sudah sangat mengenaskan itu.
Ctak!
Ctak!
Ctak!
"Arghh to-tolong arghhh sa-sakit!" Raungan itu semakin keras ketika kedua tangannya dicincang seperti daging yang akan diolah. Deru nafas laki-laki itu semakin melemah. Cipratan darah memercik ke segala arah, serta bau anyir yang menyengat seakan seperti sebuah aroma yang menyejukkan hati bagi laki-laki yang tengah menonton dengan damai itu. Ia akan turun tangan saat pengkhianat itu meminta kematiannya.
Kedua tangan lelaki itu sudah tidak berbentuk lagi. Tangannya tidak putus ataupun masih utuh. Bagaimana mungkin tetap utuh, jika dicincang sebuah kapak dengan brutal oleh dua orang. Kedua tangan itu seperti daging yang telah di haluskan dan siap untuk diolah.
"Cu-cukup bu-bunuh arghhh saja aku.." Nafasnya tersendat, hatinya meronta untuk meminta Tuhan untuk segera menjemputnya.
Sebenarnya konsekuensi dari seorang pengkhianat melebihi dari ini. Ini terlalu ringan baginya jika disebut sebagai hukuman.
Mendengar itu Steve beranjak dengan sepuntung rokok di sela jarinya yang masih menyala. Ia menatap penghianat di depannya dengan tajam. Sebenarnya uang yang di gelapkan itu tidak seberapa dan data perusahaannya yang dicuri bisa ia dapatkan kembali dengan mudah. Hanya saja ia paling benci dengan seorang pengkhianat. Dalam kamusnya sudah tertanam jika berkhianat, maka harus mati. Hal itu bagaikan sebuah alarm bahaya jika ada yang berani coba-coba dengannya.
Steve menatap pengkhianat itu dengan senyuman. Matanya ia manjakan dengan pemandangan indah kali ini. Tangan yang pada tempatnya namun lembek karna sudah tercincang. Mulut koyak dengan gigi yang sudah copot semua. Serta sebuah luka yang masih menganga dan di aliri darah segar di sekitar tubuh penghianat itu. Kerja yang sangat bagus, ia akan menaikkan gaji dari kedua anak buahnya itu berpuluh kali lipat.
Steve kembali menghisap rokoknya dan menghembuskannya. Tatapannya tidak lepas dari pemandangan indah di depannya.
"Bu-bunuh sa-saja a-aku.." lirih laki-laki itu sambil menatap mata Steve. Namun empunya yang tidak suka jika dirinya ditatap, Steve beranjak bangun dan kembali duduk.
"Jahit kelopak matanya!" perintah Steve singkat yang di balas anggukan oleh anak buahnya.
Teriakan kesakitan kembali terdengar ketika kelopak mata laki-laki yang sudah sangat mengenaskan itu dijahit. Darah mengucur melewati matanya, untuk berkedip pun tidak bisa. Ini lebih buruk dari sebuah kematian.
Steve kembali beranjak setelah melihat anak buahnya selesai menjahit. Bukan baju melainkan kelopak mata. Ia berjongkok sambil tersenyum setan, memandangi pengkhianat di depannya ini dengan keadaan mata melotot tanpa bisa berkedip.
"Mata ini yang melihatku tadi dengan tajam!" kelakar Steve singkat sambil mengarahkan rokoknya yang masih menyala ke mata lelaki itu.
"Arghhh arghhh sialan..."
Teriakan maupun umpatan Steve dengarkan dengan senang hati. Ketika tangannya menikmati sedang mencolok mata pengkhianat itu menggunakan sepuntung rokok. Ia menekankan rokok itu lebih dalam dan memutarnya dengan kasar. Seakan ia tengah menginjak sesuatu dengan posisi memutar. Setelah puntung rokok itu tenggelam dalam mata penghianat itu ia bangkit ketika melihatnya sudah tak bernyawa.
"Ck dasar lemah!" Steve berdiri dan memandang sinis lelaki mengenaskan itu.
"Bereskan. Potong tubuhnya dan berikan pada serigala-serigala lapar yang ada disini!" perintahnya sambil berlalu keluar, menyisakan anak buahnya yang bergidik ngeri ketika mendengar tuannya akan memberikan tubuh pengkhianat itu pada binatang buas yang ada disana. Hari ini ia tidak akan mengotori tangannya dengan darah seorang pengkhianat. Cukup dengan melihat dan mencium aroma cairan merah saja ia begitu merasakan nikmat.
Lebih baik ia kembali ke apartemennya, untuk menemani gadisnya yang sempat ditinggalkannya sendiri.
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
aq berharap kebucinan tdk segera dtg btw knp gk ada asal usul ato apa gtu cerita ini kek ujug2 dh smpe pertengahan awlnya gk ada
2024-11-09
1
queen
manut waeeee
2023-03-26
0
Dinakan✨
aku yg baca ini langsung pengen muntah tapi gak bisa
2021-06-23
0