Suka dan duka

...Luka yang tak berujung kering, menyisakan perih di tiap nafas hingga menujam palung ruang hati...

..._________...

Sebuah tangan yang nampak lelah, tak hentinya mengganti sebuah kain yang sudah kering. Detik jam terus berbunyi hingga terdengar sangat keras di ruang yang sunyi. Sesekali terdengar suara gemericik air dari kain yang di peras. Ia sama sekali tidak ingin memejamkan matanya meski rasa lelah menggerogoti jiwanya.

Lebih baik ia menunggu, menunggu gadisnya bangun dari tidurnya. Menunggu, sebuah kata yang identik dengan kesabaran. Oh ayolah siapa yang mau menunggu? Yang ada semua umat menginginkan untuk ditunggu. Namun sama hal nya dengan pikiran, hati manusia tidaklah sama. Ada yang rela menunggu sampai akhir hayatnya, dan ada yang langsung pergi ketika kata perpisahan terucap. Hanya cinta sejatilah yang rela menunggu dalam keadaan apapun.

Raut wajah khawatir sangat kentara di wajah laki-laki itu, demam dari gadisnya belum juga turun yang membuatnya enggan ikut menyelami mimpi. Lagi pula sebentar lagi alarm sejuta umat akan berbunyi diiringi dengan terbitnya cahaya dari sang surya. Mata kelam nan tajam laki-laki itu berubah sendu disertai tatapan yang meneduhkan hati, saat ia melihat wajah pucat dari separuh jiwanya, raganya, dan segalanya.

Sepasang mata yang bagaikan kelopak mawar merah muda itu, nampak enggan untuk membukanya. Sang pangeran pun tak lelah dan tak beranjak sedikitpun untuk memandangi wajah gadis yang secantik bidadari itu. Ribuan rangkaian kata indah serta 1001 bahasa pun, tak mampu ia ucapkan untuk menggambarkan sebuah ciptaan mengagumkan dari yang maha kuasa, yang amat sempurna ini.

Kata terimakasih pun tak luput ia ucapkan pada-Nya serta rasa syukur yang amat dalam. Karena telah menghadirkan seorang malaikat secantik bidadari ke dalam hidupnya yang dipenuhi kegelapan serta sebuah kekosongan yang mendalam. Kabut tebal menghiasi hidupnya setiap saat, hatinya bukan lagi seperti es beku yang dingin. Namun bagaikan sekeras batu karang, karna sebongkah es akan mencair dalam sesaat tapi batu karang akan mengikis seiring waktu itupun tidak pasti.

Namun itu semua perlahan mengikis setelah kehadiran gadisnya, meski begitu kegelapan dalam hidupnya tidak sepenuhnya hilang begitu saja. Sudah dikatakan dan tak akan lelah untuk mengatakanya bahwa cover tak seindah isinya, meski hidup Steve dilimpahi segalanya, bukan lagi segalanya lebih dari segalanya. Namun kehidupan dalamnya sangat kejam dan penuh kepalsuan. Harta memang tidak menjanjikan datangnya kebahagiaan. Hingga datang seorang malaikat surga berparas cantik pun ia tidak bisa keluar dari lingkaran apinya sendiri.

Steve menggenggam tangan Carla lembut dan sesekali menggosoknya, karna tangan gadis itu sedingin es. Mungkin karna suhu tubuhnya meningkat membuat tangan gadisnya dingin. Steve beralih menggosok kaki Carla, karna tangan gadisnya dingin mungkin saja kakinya juga sama dan benar kaki Carla juga sedingin es.

Mata Steve menyala merah dan berubah sendu, saat menggosok tangan gadisnya agar sedikit terasa hangat. Ia sangat menyesal telah meninggalkan Carla sendirian di apartemennya hingga membuat kondisi gadisnya seperti ini. Lalu kenapa ia tidak memanggil dokter? Karna ia tak mampu saat keadaan gadisnya dilihat apalagi disentuh siapapun dalam keadaan begini. Entah itu dokter pria maupun wanita.

Katakanlah ia gila maupun egois tapi keadaan gadisnya yang tertidur lelap sekarang menurutnya sangat menggemaskan. Pipi gadisnya yang sudah merah alami, menjadi bertambah saat ia tengah demam yang membuat Steve jadi gemas sendiri. Ia ingin hanya dirinyalah yang akan merawat gadisnya sendiri.

Seperti sebuah cerita dongeng sebelum tidur, dimana seorang gadis yang terluka tak membutuhkan dokter manapun untuk membuatnya sadar. Ia hanya menunggu seorang pangeran tampan berkuda putih untuk membuatnya bangkit dari tidur panjangnya.

Snow White.

Namun itu hanyalah sebuah dongeng anak-anak yang diceritakan oleh ibunya sebelum tidur. Ini kenyataan bukan ekspetasi, gadis dalam cerita ini tidak menunggu namun berawal dari sebuah kata paksa. Hingga berujung pada lingkaran cinta yang membuatnya terjebak dengan sendirinya dan tidak akan pernah keluar, kecuali atas kehendak takdir serta pemiliknya.

Steve menyentuh pipi Carla yang begitu terasa panas dengan sangat hati-hati. Seolah itu adalah sebuah balon berisi air yang sangat mudah pecah apalagi hancur. Ia kemudian mengecup pipi panas gadisnya pelan dan dalam dengan waktu yang lama. Hingga sebuah liquid bening yang ia tahan sejak tadi menetes begitu saja. Tangisnya berderai merintih kelu, serasa tak menemukan sebuah titik terang yang akan menyinari kalbunya.

Steve mengangkat wajahnya dan kembali mengusap wajah Carla yang basah oleh air matanya sendiri. Hati iblisnya dilumuri jiwa yang merana, tertular oleh luka yang terajam ngilu sampai membuat air matanya menetes pilu. Steve mendekati wajah gadisnya dan menyatukan keningnya dengan Carla. Hingga rasa panas itu ikut menjalar pada tubuhnya yang dingin. Ia memejamkan matanya sejenak lalu melepaskan tautan keningnya dan beralih mengambil kompresan dan kembali menempelkannya.

"Baby get up!" lirih Steve sambil merapikan rambut gadisnya yang berantakan, ia kemudian mengambil sisir dan mulai menyisir rambut blonde Carla yang sudah mulai memanjang. Setelah dirasa cukup Steve kembali meletakkan sisir itu di atas nakas. Jika saja hatinya sedang dalam mode lemah maka sisir itu pasti sudah tinggal nama.

Marah, sedih, dan khawatir bercampur satu dalam dirinya hingga tak dapat ia ekspresikan lagi dengan cara apa. Dalam mode marah, hal yang biasa ia lakukan adalah tak lain membunuh. Namun sekarang, jangankan membunuh bergerak saja rasanya ia tak mampu. Tangannya gemetar disertai keringat dingin, seolah ia ikut merasakan apa yang dirasakan gadisnya.

Jarum jam terus saja melewati angka-angkanya tanpa menunggu siapapun. Karna sang waktu tidak pernah menunggu melainkan, selalu ditunggu oleh setiap umat yang menginjakkan kaki di bumi tercinta ini. Fajar menyingsing diiringi dengan suara alarm yang amat merdu bagi penduduk bumi, namun sang surya tidak memperlihatkan keagungan dari cahayanya.

Pagi hari memang sangat cocok digambarkan dengan kesejukan, semangat serta harapan baru. Namun langit nampak tak bersahabat bagi yang menjalani aktivitasnya pagi ini. Embun menetes dari ujung daun diiringi oleh gerimis yang turun dari langit.

Steve berjalan ke arah jendela besar transparan yang menampakkan keindahan dari kota London. Sejuk semilir menerpa raganya dan rasa dingin langsung menusuknya, pekatnya cakrawala menghalangi sinar panas dari sang surya. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, sembari menatap dalam pemandangan kota yang memiliki julukan The Smoke. Mata tajam kelamnya menatap jauh, kota yang biasanya gila kerja ini sekarang malah seperti tak berpenghuni.

Sunyi senyap dan hanya bunyi suara air yang jatuh dari langit yang berbunyi. Memang tidak deras, namun mampu melumpuhkan aktivitas manusia yang bekerja di luar ruangan. Meski begitu mereka yang bekerja hanya untuk makan tidak mungkin patah semangat untuk menghidupi keluarganya masing - masing meski hujan melanda sekalipun.

Karna tidak semua penduduk bumi berprofesi sebagai CEO yang bisa menghandel segalanya dari rumah, ketika ia bekerjapun jangankan kehujanan ia bisa mengatur suhu ruangan sesukanya. Itulah hidup ada senang, pasti ada kesedihan begitu juga sebaliknya. Kita hanya perlu mensyukuri dan mengikuti alurnya. Apa yang di anggap kurang, ternyata lebih dari cukup. Hingga rasa syukur mulai tumbuh dan rasa sombong perlahan luruh.

Kelopak yang tadi kuncup kini merekah, menampilkan bola mata hazel dengan pandangan yang meneduhkannya. Gadis itu menelisik sekitar dan mendapati punggung kekar yang mengarah keluar jendela. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dan mendapati kain kompresan yang masih melekat di keningnya.

Carla tidak perlu bertanya atau berpikir dalam hati siapa yang mengkompresnya, karna jawabannya pasti A tidak mungkin B. Ia menyingkirkan kain itu dan berbalik memunggungi seseorang yang masih terlihat menatapi gerimis hujan. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan. Carla mengeratkan selimutnya, hawa dingin langsung menusuk kulitnya bagaikan sebuah belati. Terlebih kepalanya masih terasa sakit, meski tak sesakit kemarin.

Lelah memandangi hujan yang kian turun, Steve berbalik dan mendapati tubuh gadisnya yang sudah tidak terlentang seperti tadi. Namun sudah berbalik memunggunginya, yang artinya tuan putri yang ditunggunya sudah bangun dari tidurnya. Steve tersenyum lebar serta hangat, dan ia segera berjalan menuju gadisnya pelan agar tidak membangunkannya.

Steve menaiki kasur king size nya perlahan. Kemudian tangannya terulur memeluk tubuh gadisnya dari belakang, dan tangan satunya memegang kening Carla untuk mengecek suhu tubuh gadisnya yang ternyata sudah turun. Steve semakin tersenyum hangat yang hanya ia tunjukkan ketika bersama gadisnya, hanya Carlanya. Steve merengkuh tubuh Carla erat sembari menghirup dalam-dalam wangi gadisnya.

"Carla...." 

Carla yang merasakan seseorang tengah memeluknya erat serta memanggilnya semakin memejamkan matanya. Entah pelukannya terlalu nyaman atau apa, sungguh ia tak tau. Tubuhnya lemas yang membuatnya enggan hanya untuk berbicara. Steve tau kalau gadisnya tidak tidur, namun ia merasa matanya terasa berat yang membuatnya terlelap dalam sekejap. Terlebih ia berada di dekat jiwanya, yang membuat hatinya damai tanpa beban.

Carla yang merasakan dengkuran halus menderu di tengkuknya seketika berbalik dan mendapati wajah malaikat rupawan yang tengah tertidur pulas. Laki-laki yang telah mengisi hitam dan putih di hidupnya. Raut lelah sangat kentara di wajah kekasihnya ini. Carla yakin bahwa Steve tidak tidur semalaman karena menjaganya. Karna ini bukan kejadian yang pertama kali.

Carla ikut memeluk Steve erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya yang selalu menghangatkan jiwanya. Ia akui rasa itu tidak pernah pudar dalam dirinya, rasa yang tak pernah ia ungkapkan sama sekali. Meski begitu ia sama sekali tidak bisa jauh dari laki-laki yang mengatur segalanya dalam hidupnya. Memang rasa cinta serta kasih sayang lebih mendominasi segalanya.

Meski Steve tertidur ia merasakan pergerakan dari gadisnya yang ikut memeluknya erat. Ia tersenyum lembut dan mengelus surai Carla dengan sayang.

"Kenapa? hmm..." tanya Steve lembut ketika merasakan pelukan gadisnya semakin erat.

"Pusing..." lirih Carla pelan namun masih bisa didengar oleh Steve. Mendengar hal itu ia pun melepaskan pelukan Carla yang membuat gadis itu tidur terlentang. Steve mengulurkan tangannya dan mulai memijit pelipis Carla pelan, yang membuat empunya merasa nyaman dan mulai memejamkan mata. Steve terus memijit pelipis Carla hingga gadisnya kembali tertidur. Setelah melihat Carla tertidur Steve beranjak bangun, sembari memikirkan sarapan apa yang akan ia berikan. Terlebih kekasihnya yang sedang sakit.

Steve pun mengambil benda pipih pintar nan canggih itu, dan mulai membuka aplikasi yang bisa menjawab pertanyaan apapun dan siapapun. Setelah lama menelusuri, satu kata dari sekian banyak ia temukan, bubur. Kenapa ia tidak kepikiran dari tadi? Memang jiwa psycho tidak memiliki keahlian itu. Ia kemudian juga mencari cara membuatnya tentu saja.

Ini adalah kali kedua laki-laki berjiwa psycho itu menyentuh peralatan dapur. Dengan telaten serta hati-hati ia mengikuti instruksi dari resep supaya sesuai takaran. Kenapa ia tidak memesan atau menyuruh koki terbaik di dunia membuatnya? jawabannya sangat sederhana, karna ia ingin tangan nya lah yang membuatnya sendiri untuk orang terkasih.

Setelah berkutat cukup lama, semangkuk bubur pun tersaji di atas meja. Lalu jangan tanyakan kondisi dapur yang sudah seperti terkena tsunami. Namun ia menghiraukannya dan tersenyum bangga. Ia kemudian membuat segelas susu, setelah semua tersaji ia menaruhnya di atas nampan dan membawanya menuju kamar. Sampai kamar Steve masih melihat kekasihnya yang tertidur pulas yang membuatnya tak tega untuk membangunkannya. Namun Carla harus sarapan terlebih ia tengah sakit.

"Baby ayo bangun dulu, kamu harus makan." ujar Steve sambil menepuk pipi Carla pelan. Carla menggeliat sambil mengucek matanya dan seketika ia mencium aroma yang membuatnya lapar.

"Taa~daa, ayo sarapan." seru Steve senang sambil mengangkat semangkuk bubur di tangannya.

"Dari mana bubur ini?" tanya Carla penuh selidik sambil mengamati semangkuk bubur yang asapnya masih mengepul dan seketika matanya terbelalak melihat penampilan yang biasanya angkuh serta maskulin ini menjadi cemong.

"Tentu saja aku yang mem-"

"Ya ampun kenapa wajahmu?" pekik Carla sambil meneliti wajah Steve. Bahkan perkataan laki-laki itu terpotong akibat rasa penasaran Carla.

Steve memejamkan matanya erat untuk menetralisir rasa di dalam hatinya. Ia paling tidak suka perkataannya dipotong.

"Tidak, sekarang makanlah."

"Tapi aku tidak suka bubur." lirih Carla terlihat memelas. "aku kira tadi aroma spaghetti." gumamnya yang masih didengar jelas oleh Steve.

"Apa?" tanya Steve dingin yang refleks membuat Carla menutup mulutnya.

"Ehhh tidak, aku minum susu saja ya?" Carla meraih segelas susu mengindahkan tatapan tajam dari Steve. Belum sempat tangannya meraih susu itu sudah dijauhkan.

"Buka mulutmu!"

"Tap-" Carla hendak protes, namun ia urungkan ketika melihat tatapan tajam dari Steve. Dengan cepat Carla meraih sendok suapan itu sendiri dan mulai memakannya. Sebelum semangkuk bubur itu jatuh mengenaskan di lantai yang dingin.

Melihat itu rasa amarahnya padam seketika, kekasihnya tengah memakan bubur buatannya dengan lahap. Steve mengambil alih sendok dan mulai menyuapi Carla.

"Kau yang membuatnya? Not bad." ujar Carla dengan mulut yang masih penuh. Steve yang mendengar itu tersenyum bangga. Bubur pertama dalam hidupnya berhasil sempurna.

Carla kemudian mengambil sendok dari tangan Steve dan menyuapi laki-laki itu.

"Ayo makanlah, kau pasti belum sarapan juga." ujar Carla yang diterima Steve dengan senang hati, meski agak hambar tapi bubur buatannya memang tidak buruk.

Steve tersenyum hangat dan mencium kening gadisnya. Carla yang mendapat perlakuan jarang seperti ini merasa sangat senang, ia pun mendekat dan membersihkan kotoran dari wajah Steve.

Cup

"Thank you Steve, the porridge is very delicius." ujar Carla sambil mencium pipi Steve. Keduanya begitu bahagia berkat semangkuk bubur yang di buat dengan susah payah. Steve membalas ciuman gadisnya dengan bertubi tubi di wajahnya, yang membuat empunya tertawa. Oh andai Tuhan mengizinkan waktu berhenti hanya demi sepasang insan yang tengah dilanda kebahagiaan ini.

Begitulah mereka kadang suka dan duka.

...TBC...

Terpopuler

Comments

Denzo_sian_alfoenzo

Denzo_sian_alfoenzo

hubungan mreka bagian obat ,pait tp menyembuhkan 🤧

2024-11-09

0

queen

queen

lg mode baik wkwkwk

2023-03-26

0

Alisya@84

Alisya@84

Yeah.....thor..love is crazy love is blind and love is everything 🥰🥰🥰🥰

2021-06-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!