Disebuah ruangan temaram dengan lampu pencahayaan yang minim. Terlihat seorang lelaki paruh baya dengan keadaan terikat tengah mengumpat kesal sambil terus memberontak berusaha melepaskan ikatannya. Meski suaranya tidak bisa keluar karena tersumpal kain, umpatan kasar serta sumpah serapah terus ia lontarkan. Kini didepannya terdapat laki laki yang dengan santainya menyesap segelas wine sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Senyum meremehkan terlihat jelas di wajahnya.
"Troy!"
laki laki itu berucap dengan dinginnya, tanpa mengalihkan tatapan membunuhnya pada sosok yang tengah terikat itu.
"Ini tuan."
Laki laki yang bernama Troy itu datang sambil mendorong sebuah meja bundar yang berisi berbagai macam benda tajam hingga tumpul. Laki-laki yang dipanggil tuan itu kemudian beranjak dari duduknya dan menaruh gelasnya dengan santai. Lalu ia menuju meja bundar yang bisa dibilang sebuah peralatan pencabut nyawa. Karena bila itu dikeluarkan maka harus meneteskan darah.
"Lepaskan!" teriak seseorang yang masih terikat itu, karena sumpalan pada mulutnya telah dilepas oleh anak buahnya tanpa suruhan dari tuannya. Karena mereka tahu tuannya akan lebih menikmati ketika mendengar suara jeritan memohon serta tangisan ketika mangsanya kesakitan lalu meregang nyawa. Baginya itu adalah melodi terindah dan merdu bagaikan seruling yang ditiup ataupun biola yang digesek.
Terlalu sayang untuk dilewatkan.
Steve memutar meja bundar itu sambil memilah apa yang akan ia gunakan sebagai pembukaan saat memberi hadiah kecil pada pengkhianat ini.
"Hmm ini saja," serunya dengan seringaian yang mengerikan, sambil mengambil sebuah tang yang sudah berkarat.
"Ti-tidak! Lepaskan! Dasar psychopath gila?!" teriak lelaki itu lantang sambil terus berusaha melepaskan ikatannya.
"Psychopath gila? Huh, maka lihatlah bagaimana seorang psychopath gila ini memberimu kematian terindah!" hardiknya sambil tersenyum senang.
Steve mulai melangkah mendekati seorang lelaki yang terus memberinya makian kasar. Ia tersenyum sinis saat melihat wajah pria itu yang berubah pias.
"Arghhhh!! Stop!! Arghh!" teriakan dari lelaki pengkhianat itu mulai menggema memenuhi ruangan sempit yang begitu temaram. Satu persatu jarinya berceceran dilantai dengan darah yang mengalir begitu deras.
"Berteriaklah sekerasnya!! Teriakanmu bagaikan sebuah lagu penyemangat untukku!" desis Steve tajam sambil mencabut jari terakhir pria itu dengan menggunakan tang yang sudah berkarat.
"Jari sialan ini yang mengambil data perusahaanku!"
Lelaki itu menengadahkan kepalanya ke atas dengan nafas yang tersengal. Ia tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana rasa sakitnya. Darah telah berceceran dimana - mana, dan senyuman Steve tidak luntur sedikitpun.
"Am-ampuni saya tuan am- ARGHHH!!"
Permohonan pilu pria itu terhenti kala mulutnya dirobek dengan kasarnya.
"Mulut ini yang sudah membocorkannya!"
Steve merobek mulut pria itu dengan mudahnya, lalu kembali mengambil tang berkarat dan mencabut gigi pria itu dengan paksa.
"ARGHH!!! S-stop please!" rintihnya sambil terus memohon.
"Stop? Ini menyenangkan."
Steve berdiri sambil mengamati pria itu dari atas sampai bawah. Ia tersenyum remeh, ketika melihat pria itu dengan nafas yang tersendat dan sudah hampir meregang nyawa.
"Ck, Dasar lemah! Tenang saja. Ini baru sebagian hadiah kecil dariku!"
Steve tersenyum lebar melihat mangsa sekaligus pengkhianatnya ini terkulai lemas dan bermandikan darah. Bau amis yang menyeruak indra penciuman membuat siapa saja akan mual apalagi dengan pemandangan seperti ini. Namun baginya ini adalah definisi dari keindahan yang sesungguhnya.
Pria itu terlihat begitu mengenaskan. Mulut robek serta gigi yang tercabut acak membuat gusi pria itu juga terkoyak. Dan jangan lupakan tangan yang saat ini sudah seperti di amputasi. Para anak buahnya yang ikut menyaksikan ini hanya acuh. Mereka sudah terbiasa dengan pemandangan yang mengenaskan seperti ini. Bahkan yang lebih sadis dari ini, sudah mereka saksikan.
Steve beranjak setelah puas memandangi mangsanya. Namun ia beranjak tidak untuk pergi. Bagaimana ia bisa meninggalkan mangsanya dengan tubuh yang masih utuh dan jangan lupakan bahkan jantungnya yang masih berdetak.
Steve kemudian kembali memutar meja bundar tersebut dan mengambil pisau kesayangannya yang terlihat mengkilap dibawah lampu yang temaram dan cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela. Sungguh laki-laki yang hampir meregang nyawa itu lebih baik mati sekarang juga. Biarlah Tuhan yang segera mencabut nyawanya tanpa merasakan pisau yang tampak mengerikan itu menyentuh kulitnya, apalagi mengoyaknya.
"Sekarang baru seru. Tenang ini masih pertengahan permainan!" ujarnya menyeringai lalu menggores perut lelaki paruh baya itu secara perlahan, yang malah seperti neraka bagi yang merasakannya begitu perih dan pedih.
Srettt!
"Arghhh!! Cu-cukup tuan. Cepat bu-bunuh sa- Arghh!!" ucapnya sambil tersengal begitu perutnya dirobek hingga menampilkan ususnya.
"Terlalu mudah bagimu menemui kematian tanpa merasakan sakit!" kelakarnya sinis dan mulai mengambil ususnya keluar. Namun tiba-tiba ada yang memanggilnya dan mengganggu aktivitas menyenangkannya itu. Dia bersumpah jika itu tidak penting ia akan membunuhnya ditempat sekarang juga.
"M-maaf tuan ada telfon."
Troy berjalan mendekati tuannya dengan tubuh yang gemetar hebat. Suaranya sampai tergagap ketika melihat tatapan nyalang dari tuannya. Jangan sampai ia ikut menjadi daging cincang disini. Tapi bila ia tidak memberi tau juga, sama saja ia akan menyerahkan nyawanya sendiri.
"Dari?" desisnya tajam yang membuat tangan kanannya itu semakin ketar ketir di tempat.
"Dari nona Carla tuan." sahut Troy seraya menunduk takut.
Mendengar itu Steve langsung beranjak dan melepas pakaian yang berlumuran darahnya dan menggantinya dengan cepat. Satu kata yang ada di benaknya sekarang. Ada apa gadisnya menghubunginya malam - malam?
Sedangkan pria yang ususnya sudah terlihat itu, mendesah lega. Ia harap Tuhan akan mencabut nyawanya sekarang juga. Meski perutnya sudah terkoyak secara mengenaskan, entah kenapa Tuhan masih membiarkan jantungnya berdetak.
"Urus sampah itu. Bakar mayatnya!!" ujar Steve dingin lalu meraih ponselnya dan berlalu pergi.
"Baik tuan."
Troy menunduk hormat. Kemudian, mendekat pada seorang pria yang sedang sekarat didepannya itu. Ia mulai mengambil sebuah revolver dan melepaskan pelatuknya tepat pada kepala pria yang tengah sekarat itu.
"Huh. Selamat jalan!" sungutnya ketika melihat pria itu tiada secara mengenaskan, lalu berlalu pergi.
Para anak buahnya yang bertubuh besar, lengkap dengan pakaian serba hitam serta senjata itu, langsung membopong mayat mengenaskan itu dan segera membakarnya sesuai perintah tuannya.
***
Steve memasuki mobilnya, kemudian langsung mengangkat telfon dari kekasihnya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Bila sudah menyangkut Carlanya maka ia akan mengesampingkan apapun.
Apapun itu.
"Hmm."
"Steve? kenapa lama mengangkatnya?"
"Aku ada sedikit pekerjaan baby."
"Pekerjaan? Malam - malam?"
Steve yang tadinya terkekeh mendengar nada menggemaskan dari kekasihnya yang terdengar kesal itu, langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar. Ketika mendengar pertanyaan Carla.
"Kenapa belum tidur?" tanya Steve mengalihkan pembicaraan. Namun tidak juga sepenuhnya, karna malam sudah sangat larut dan gadisnya belum juga tidur. Apa peringatannya kurang?
"Emm,a-anu aku tidak bisa tidur,"
Mendengar nada bicara gadisnya yang terdengar sedikit takut, membuatnya menghela nafas pelan.
"Tidur Carla, ini sudah larut." ucapnya lembut.
Ia tidak mau gadisnya mengantuk di sekolah saat kurang tidur. Bukan itu yang Steve takutkan, tapi wajah kekasihnya yang menggemaskan ketika menguap. Membayangkannya saja membuatnya menggeram kesal.
"Baiklah. Tapi jangan dimatikan!"
"Iya." sahut Steve sambil tersenyum tanpa mematikan panggilannya dan menunggu sampai Carla tertidur.
Setelah 30 menit berlalu akhirnya terdengar dengkuran halus sampai ke ponselnya. Steve tersenyum hangat lalu mematikan panggilannya setelah mengecup ponselnya lama. Seolah menghantarkan ciuman pada kekasihnya dan mengucapkan selamat tidur.
"Jalan." ujar Steve singkat, sudah hampir satu jam ia berada di dalam mobil di depan markasnya yang tersembunyi.
"Baik tuan."
Troy mulai menjalankan mobilnya, sambil ikut tersenyum ketika melihat tuannya yang jarang sekali mengeluarkan senyumannya itu, tersenyum karna hanya menatap sebuah ponsel. Betapa sungguh luar biasa pengaruh dari gadis yang bernama Carla, di kehidupan laki laki yang diselimuti oleh kegelapan itu.
...tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
marrydiana
mampir thor🌹
mampir juga ya di cerita aku(Suamiku Preman)🙏
2024-01-31
0
queen
hmmmm lg belah perut sapi ya stev wkwkwk
2023-03-26
0
pat_pat
kalo sisi lain Wati kek mana?
2023-02-26
0