...Hidup bagaikan sebuah drama yang tak berkesudahan....
...__________...
Tap!
Tap!
Tap!
Di tengah rimbunnya pepohonan, di sebuah hutan yang lebat. Seorang gadis berlari dengan penampilan yang jauh dari kata baik. Pakaiannya yang lusuh dan kotor serta kakinya yang tanpa alas. Kaki jenjangnya terus menapaki hutan yang seperti tidak ada ujungnya, dan sesekali menoleh ke belakang. Harap-harap ia segera keluar dari hutan ini dan dari belenggu laki-laki iblis itu.
Gadis itu terus berlari sekuat tenaga dan menghiraukan berbagai macam dari tusukan duri di kakinya. Saat ini yang hanya ia inginkan adalah keluar dari hutan ini. Samar-samar telinganya mendengar sebuah aungan dari hutan, namun ia abaikan karena tujuannya hanya satu sekarang. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya. Ia begitu ketakutan, seolah dunia akan berakhir sekarang.
"CARLA?! Kembali atau aku akan benar-benar mencincang kakimu!" Teriakan itu menggema di tengah hutan yang sunyi yang membuat tubuhnya semakin bergetar hebat.
Kakinya bergetar dan tubuhnya melemas setelah mendengar teriakan di belakangnya. Gadis yang tengah berlari itu mempercepat langkahnya dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Ia menyeka kasar air mata dan keringatnya bahkan disaat suasana yang dingin ini.
Kepala gadis itu mendongak ke atas, bahkan rembulan pun nampak enggan menampakkan sinarnya. Langit malam pun tampak berkabut. Ribuan bintang yang biasanya menghiasi langit kini hilang tertutupi oleh kabut tebal. Seolah seperti hatinya yang pilu disertai ketakutan yang mendalam. Gadis itu terus berdoa dalam hati, ia tidak bisa mendefinisikan lagi rasa takutnya saat ini. Jika ia tertangkap entah apa yang akan terjadi padanya.
"Hiks mom hiks dad a-aku takut se-sekali..." lirih gadis itu sembari terus melangkahkan kakinya untuk berlari, hingga ia melihat sekawanan binatang yang menatapnya lapar.
Grrr...
Grrr...
Grrr...
"Aaaaaaaa...."
"To-tolong aaaa si-siapapun tolong a-aku hiks!"
Gadis itu menjerit histeris ketika melihat tiga kawanan serigala berada di depannya yang tengah menatapnya lapar. Ia terus memundurkan langkahnya ketika melihat kawanan serigala itu mendekat kearahnya. Hingga naas, punggungnya bertubrukan dengan sebuah pohon yang besar. Tubuh gadis itu bergetar hebat, kakinya seperti mati rasa. Ia merasa seperti sudah jatuh tertimpa tangga.
"Takut baby?"
Sebuah suara terdengar, suara bariton rendah dan berat dari seorang laki - laki membuat jantung dari gadis itu berdetak lebih cepat. Ia mengenal suara itu. Nada bariton rendah yang seperti panggilan maut untuknya. Rasanya seperti berada di dalam kubangan maut.
Gadis itu semakin beringsut mundur, ketika laki-laki yang tengah memainkan pisau di jemarinya itu mendekat. Meski tidak mungkin karena pohon besar di belakangnya seperti tembok besar yang membatasinya. Tapi satu pertanyaan di hatinya sekarang. Apa laki-laki itu tidak takut pada serigala?
Gadis itu terus bertanya demikian dalam hatinya, hingga ia mendengar suara dari laki-laki itu yang membuatnya sangat terkejut.
"Ulger, Wolfy, Ivaylo pergilah!" perintah laki-laki itu dengan santainya sambil mengibaskan tangannya ke udara. Tanpa perintah dua kali, ketiga serigala itu segera berbalik dan pergi.
Gadis itu gemetar hebat sambil mencengkram erat dress nya yang lusuh dan kotor. Pertanyaannya sejak tadi terjawab sudah. Para serigala yang bahkan memiliki nama itu adalah peliharaan laki-laki kejam di hadapannya ini.
"To-tolong jangan sakiti aku," lirih gadis itu sambil terus beringsut mundur, berusaha menghindar dari lelaki yang tengah menatapnya bengis.
Laki-laki itu berjongkok sambil menatap gadisnya yang terduduk lemas. Pisau ditangannya pun tidak tinggal diam, benda tajam itu menari-nari di kaki jenjang nan putih mulus itu.
Laki-laki itu menyeringai setan sambil menatap mata bulat dari gadisnya yang sangat indah. Oh, dia bisa gila.
"Terkejut? Hm..."
"Jangankan kabur, angin yang berhembus disini pun atas izinku." seru laki-laki itu tenang sambil berbisik pelan dan dalam, tangannya yang berisi pisau pun masih menari-nari di kaki seorang gadis yang tengah ketakutan tersebut.
Gadis itu bungkam seribu bahasa, bahkan air matanya pun sudah kering untuk menangis. Ia lelah. Biarkan takdir yang memutuskannya sendiri.
"Ada apa baby? Tadi kau sangat berani padaku. Mendadak bisu hm?"
Pisau yang masih menari-nari di kaki gadis itu kini sudah tidak lagi, laki-laki yang bak iblis itu mulai menekannya perlahan hingga cairan merah kental keluar yang membuatnya tersenyum puas.
Sret!
"Arghhhhh sa-sakit aaaaaa!" Raungan kesakitan mulai terdengar di kesunyian malam, dan di sebuah hutan yang lebat.
Laki-laki itu semakin bersemangat setelah mendengar raungan kesakitan dari gadisnya. Ia pun menggores acak dan brutal pada kaki gadis itu. Meski hatinya tidak tega, namun ia harus melakukannya supaya gadisnya ini tidak kabur.
"Arghhhh stop it argh--"
"Arghhhh!! TIDAK huh huh huh!" teriak seorang gadis yang terbangun dari mimpi buruknya. Semua tubuhnya terasa lemas tak berdaya, nafasnya tersengal seperti berlari maraton. Carla menatap langit-langit kamar dengan pandangannya yang kosong. Mimpi itu lagi. Mimpi yang menghantuinya selama beberapa tahun terakhir. Meski sekarang, ah sudahlah. Ia tidak ingin memikirkannya sekarang.
Perlahan ia bangkit dan terduduk di kepala ranjang sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Carla mengedarkan pandangannya dan tersadar, bahwa ia sedang tidak berada di kamarnya sendiri. Ia kemudian menoleh jam di atas nakas dan mengurungkan niat. Tidak mungkin ia pulang sendiri saat jam masih dini hari.
Carla beranjak dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi dengan gontai. Kepalanya berdenyut nyeri serasa mau pecah. Ia tau sedang
berada di apartemen Steve, dan keberadaan laki-laki itu yang menghilang? Ia tidak peduli. Carla membuka pintu kamar mandi secara perlahan sambil memegangi dinding. Ia menuju wastafel dan memandangi dirinya sendiri di cermin. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Carla menghidupkan keran dan membasuh wajahnya supaya merasa lebih segar.
Kehidupan manusia memang tak terlepas dari berbagai peristiwa, tantangan, rintangan, kesempatan, dan pengalaman. Semua itu bisa dijadikan pelajaran setiap insan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Namun beberapa orang mungkin pernah merasakan atau sedang menjalani fase kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hingga itu merambah ke alam bawah sadar dan mengakibatkan sebuah mimpi buruk.
Selesai membasuh wajahnya Carla pergi keluar masih dengan memegangi dinding. Kepalanya serasa begitu berat hingga ia memerlukan pegangan agar tidak jatuh. Carla kembali duduk di atas tempat tidur dan merasakan tenggorokannya yang kering. Ia pun segera bangkit menuju dapur, karna di kamar tidak ada air minum.
Sampai dapur Carla meraih gelas dengan tangan yang gemetar, kemudian ia menuangkan air secara perlahan. Seketika mimpi yang sekaligus pengalaman masa lalu terburuknya berputar di otak cantiknya. Orang mengatakan jika menyangkut tentang ingatan apalagi hal yang sangat ditakuti, itu akan berputar bagaikan kaset rusak di ingatan kita. Ironisnya sampai sekarang pun ia masih belum keluar dari belenggu itu, lebih tepatnya tidak bisa. Biarlah kehidupannya berjalan sendiri, seperti air mengalir.
Kaki Carla seketika melemas mengingat itu semua. Katakanlah ia berlebihan. Namun jika orang lain yang berada di posisinya ia tidak akan pernah bisa bertahan. Tapi satu yang Carla akui, bahwa ia sudah ikut terjebak dalam lingkaran itu dengan melalui sebuah emosi terindah yang disebut cinta. kehidupan kadang membuat diri menangis, namun masih ada ribuan kenangan indah yang membuat kita tersenyum.
Prang!
Carla menjatuhkan gelas di tangannya, ia terduduk lemas di lantai. Kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya hingga ia jatuh ke bawah. Sudah dikatakan, katakanlah ia berlebihn. Bukankah memang begitu? Setiap orang akan menganggap kita bersikap berlebihan. Jika sensitif akan masalah maupun membesar-besarkannya apalagi sampai berteriak histeris. Namun apakah ia patut di katakan berlebihan? Ia sama sekali tidak membesar-besarkan masalahnya apalagi berteriak histeris. Ia hanya termenung, duduk diam, dan menerima segalanya.
Hidup ini keras, kita hanya sebuah pion yang di mainkan oleh yang maha kuasa, karna beliau lah sutradara kehidupan yang sudah menuliskan skenario takdir.
Carla memegangi kepalanya, ia seperti merasa berputar-putar. Matanya tiba-tiba mengantuk, dan ia tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar bergerak apalagi kembali ke kamar. Pandangannya mengabur dan ia jatuh tidak sadarkan diri di lantai yang dingin.
***
Terlihat seorang laki-laki mematikan mesin mobilnya ketika sudah sampai. Lihatlah para umat manusia yang gila kerja ini. Waktu untuk istirahat pun tak pernah ia sia-siakan. Namun bukankah waktu adalah emas, yang bersinar melebihi kilau intan maupun berlian. Serta yang tidak bisa diulang kembali apalagi dibeli. Memang uang adalah segalanya, namun ketahuilah hal pertama yang tidak bisa dibeli adalah sang waktu, meskipun kita sekaya Bill Gates.
Laki-laki itu nampak memasuki sebuah gedung yang di huni oleh kalangan elite. Menapakkan kakikanya dengan langkah yang lebar. Terlihat sekali jika seseorang tengah menunggunya. Ia sudah tidak sabar bertemu gadisnya, sebuah rindu memang dapat membunuh seseorang secara perlahan. Sampai depan pintu jari jemari tangannya dengan cekatan mengetik password sebagai kode akses masuk.
Banyak orang bahkan hampir seluruh umat, menggunakan sebuah tanggal jadian sebagai password atau apapun. Namun tidak dengannya, baginya hal seperti itu tidak patut di kenang. Karena jika sebuah hubungan kandas di tengah jalan, bukankah tanggal itu akan tetap datang? Tentu saja. Hal itu akan menjadi buah dari sebuah kepergian, seolah-olah hari mati ditelan waktu. Lalu apakah yang ia gunakan sebagai password, jika tidak tanggal bersejarah? Tanggal pernikahannya kelak. Hari yang paling ia nantikan, sebuah ikatan suci pernikahan. Hanya ketikan sebuah angka di ujung pintu, yang mampu membuat hari-harinya semangat bahkan menghadapi badai sekalipun.
Steve membuka pintunya perlahan, takut-takut ia membangunkan gadisnya yang tengah terlelap di alam mimpi. Namun pemandangan yang ia lihat membuat jiwa bengis dari laki-laki itu seketika mencelos, tergantikan pandangan yang lembut sekaligus cemas. Dengan cepat ia menghampiri gadisnya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Hey baby?"
Steve memangku tubuh lemah Carla, sambil menepuk pipi gadis itu pelan. Ia berulang kali mengecup seluruh permukaan gadisnya harap-harap ia segera bangun. Steve merutuki dirinya sendiri telah meninggalkan gadisnya sendiri di apartemen, demi mengurus pengkhianat tidak berguna itu. Mata Steve memerah rahangnya mengeras melihat keadaan gadisnya, dengan cepat ia membopong tubuh lemah itu ke kamarnya. Jika saja penghianat itu masih hidup ia sendiri yang akan mencincang seluruh tubuhnya hingga berbentuk adonan daging yang siap untuk diolah.
Steve meletakkan tubuh Carla dengan sangat hati-hati. Entah apa yang membuat gadisnya ini jatuh tidak sadarkan diri, waktu ia meninggalkan gadisnya dalam keadaan baik-baik saja, meski ada luka gores di punggung Carla, itupun ulahnya sendiri. Bahkan Steve merasakan tubuh Carla panas, ia kemudian menyentuh keningnya, dan Steve merasakan tangannya seperti tersengat listrik. Ternyata gadisnya demam, ia segera bangkit dan mengambil handuk dan air dingin untuk mengompres gadisnya.
Dengan sabar dan telaten Steve terus mengganti kompres pada kening gadisnya. Sambil menikmati pahatan sempurna dari wajah gadisnya yang diciptakan Tuhan hanya untuknya, miliknya.
Always.
...TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
psyco emng gk btuh dokter 🤣
2024-11-09
0
queen
dalam mimpipun clara dikejar²
2023-03-26
0
Bin's
sayangnya tak satu pun drama yg dimainkan menjadi pemeran utama, cuma jadi NPC😂😭
2022-10-29
1