Hanya drama?

...Kesedihan pasti menghampiri setiap umatnya, kita hanya bisa menyambutnya dengan sukarela. Bahkan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas, maka itu bukanlah lagi sebuah duka melainkan hikmah....

...------...

Semesta kian berjalan mengitari orbitnya, jarum jam terus berputar melewati angka-angkanya. Begitupun bumi berputar pada porosnya, melingkari alam. Delapan planet tata surya mengitarinya, bintang di pusat tata surya yang paling terang diantara segalanya, matahari.

Awan menyentuh teriknya, namun bagi para pengagumnya, jangankan untuk menyentuh melihat secara langsung pun itu mustahil. Kecuali cahaya yang tajam itu meredup dan mendatangkan senja, pemandangan yang datang hanya lima menit. Namun mampu untuk menghentikan segala kegiatan umatnya, hanya untuk menyaksikan keindahannya. Pernahkan kalian berfikir kalau matahari itu sendiri? Ia sendiri, namun mampu menyinari segalanya sampai ke celah kecil hingga ke dasar samudera.

Saat tenggelam pun cahaya itu tak pernah hilang namun digantikan oleh rembulan yang juga ditemani oleh jutaan bintang. Hingga pagi kembali menyingsing, begitulah hari yang melesat cepat sampai kita tak menyadarinya. Kendaraan roda dua dan empat maupun pejalan kaki menghiasi jalanan kota London yang padat. Matahari pun begitu semangat, serta ikhlas menampakkan cahayanya untuk menerangi bumi serta para manusia. Hari yang cerah begitupun umatnya yang tidak sabar menjemput rezekinya masing-masing.

Terlihat dua insan yang berada di dalam sebuah mobil sport Bugatti Chiron hitam, kendaraan roda empat yang menyandang status tercepat di dunia. Tangan yang saling bertautan mesra, mengartikan kalau hari yang cerah begitupun hati mereka. Tanpa bertanyapun orang yang melihatnya pasti tau kalau hubungan mereka baik-baik saja. Tapi, inilah hidup selalu ada kata tapi disetiap suka maupun duka. Jangan sangka kehidupan itu selalu bahagia. Pada kenyataannya, tidak selalu baik-baik saja begitupun nasib. Seperti hal nya bumi berputar begitupun dengan nasib para penghuninya.

Seorang gadis cantik lengkap dengan seragam sekolahnya terus melirik laki-laki disampingnya dengan pandangan heran sekaligus, happy? Pasalnya sikap manis dari laki-laki tampan bak Dewa di sampingnya ini, bisa di hitung dengan jari.

Merasa diperhatikan dari samping oleh gadis cantik, laki-laki tersebut bertanya tanpa melepas tautan tangan mereka.

"Ada apa?" tanyanya sambil mengernyit heran, dengan tangan yang masih saling bertautan dan tak berhenti memberikan kecupan di punggung tangan dari gadis yang tengah menatapnya keheranan.

"Tidak ada."

Gadis tersebut tersenyum manis sambil menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu. Sebenarnya banyak pertanyaan yang singgah di benaknya. Namun ia tidak ingin merusak moment bahagia yang jarang ia lalui ini, dengan pertanyaan-pertanyaan kecilnya yang bisa membuat suasana hati menjadi gelap dalam sekejap.

Steve yang melihat itu semakin mengembangkan senyumnya, hari yang cerah begitupun hatinya yang berlipat-lipat kali lebih cerah.

"Terpesona? hmm."

"Mana ada."

Carla memalingkan wajahnya ke jendela, menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Jantungnya tidak kuat untuk melihat, apalagi bertatapan dengan ciptaan yang maha agung ini. Cahaya yang di pancarkannya begitu tajam, serta aura hitam putih yang menguar menjadi satu. Membuatnya bingung, antara senang atau sedih, serta merasa beruntung atau tidak. Namun apapun itu harus di syukuri, karna tidak ada sesuatu yang kebetulan. Apalagi sebuah pertemuan, karna semua itu sudah di atur oleh-Nya.

Melihat itu Steve terkekeh, ia pun mengulurkan tangannya ke pipi Carla yang merah dan menariknya pelan. Pipi berisi yang memerah itu membuatnya ingin menelannya saja. Rasanya ia tidak rela orang lain ikut melihatnya, entah itu laki-laki maupun perempuan. Apalagi laki-laki Huh, membayangkan saja ia tak sanggup. Lihat saja setelah sampai sekolah ia akan menyuruh kekasihnya ini mengenakan masker.

"Awww sakit Steve!"

Carla memekik ketika pipinya ditarik oleh laki-laki yang tak mampu ia tatap itu. Steve yang melihat gadisnya memekik akibat ulahnya itu, hanya nyengir dengan wajah tak berdosanya. Carla mengusap pipinya yang sempat di tarik itu, senyum di wajah cantiknya tak luntur sedikitpun malah semakin lebar. Sejak acara suap-suapan bubur pertama yang di buat kekasihnya, senyum di wajah Carla terus saja terpatri begitupun kekasihnya Steve. Harapannya hanya satu, yaitu sikap Steve akan selalu seperti itu manis dan pengertian.

Setelah perjalanan cukup lama akhirnya kedua pasangan itu sampai pada parkiran tempat semua orang menimba ilmu. Meski menyandang status mobil tercepat di dunia yang kekasihnya itu kendarai, tetap saja Carla merasa perjalanannya sangat lama. Itu bukan karena macet, alasan yang paling membosankan.

Yah, meski sedikit padat tapi tidak sampai berhenti tiap menit karena terhalangi oleh pengendara lain. Lalu bagaimana tidak lama? Jika kekasihnya tersebut mengendarai mobilnya seperti keong. Carla segera turun dari mobil, ia merasa rindu dengan sekolahnya setelah dua hari tidak masuk. Meski kemarin libur tapi dua hari yang lalu, kalian taulah bagaimana gadis malang itu diseret pulang.

Belum sempat membuka pintu mobil, tangan Carla sudah di tarik duluan seperti biasa. Memang kapan? Jika tangannya tidak ditarik dulu. Dengan jengah Carla menoleh, seolah Steve mengerti pandangan gadisnya ia segera menyodorkan benda yang membuat Carla terkejut, heran, dan untuk apa?

"Pakai ini!"

"Tapi, untuk apa Steve? aku tidak sakit ataupun flu."

Carla berusaha menjelaskan bahwa ia tidak perlu benda yang tak lain adalah masker tersebut. Meski kemarin sakit, tapi sekarang ia sudah benar-benar sembuh total.

"Pakai saja."

"Tidak mau, nanti aku dikira aneh lagi."

Mendengar itu, seperti biasa membuat emosi Steve tersulut. Ia menarik Carla hingga terduduk di pangkuannya. Carla melotot melihat tingkah Steve, dan ia merasa was-was karna sedang berada di area parkiran sekolah.

Steve mendekatkan wajahnya dengan Carla, hingga gadis itu bisa merasakan deru nafas Steve yang memburu menandakan bahwa ia sedang dilanda amarah. Dengan takut-takut Carla memejamkan matanya erat, kemudian ia merasakan bibir panas kekasihnya menempel di pipinya. Sedetik kemudian Carla memekik kesakitan sambil kedua tangannya yang tak berhenti memukul dan mendorong Steve, yang tengah menggigit pipinya.

"Awwww sakit Steve le-lepas hiks hiks."

Tangisannya keluar begitu saja saat pipinya yang digigit kuat, hingga Carla merasakan ada yang mengalir di pipinya yang tak lain cairan merah kental. Steve melepaskan gigitannya dan melihat pipi berisi gadisnya itu yang beradarah. Ia pun mengambil kotak obat dan mulai mengobatinya perlahan. Mendengar tangisan kekasihnya membuat Steve merasa tidak tega.

Namun tadi ia sudah memintanya untuk mengenakan benda pemberiannya itu secara baik-baik, tapi tetap saja gadisnya menolak dengan keras. Seperti biasa jika cara halus tidak bisa maka kekerasanlah yang bertindak, karna ia paling benci mendengar sebuah kata bantahan. Setelah pipi Carla yang ia buat luka, maka otomatis gadisnya akan menurut untuk memakai masker. Ia tahu itu.

"Shhh pelan-pelan ini perih." lirih Carla sambil meringis menahan perih di pipinya yang digigit itu. Steve hanya menatap Carla datar dengan tangan yang masih setia mengobati. Setelah selesai Steve merapikan kotak obatnya. Carla yang melihat tatapan datar kekasihnya, tau kalau ia masih marah. Tapi seharusnya siapa yang marah disini? Bukankah dirinya? Ia menghela nafas perlahan dan memeluk Steve erat sambil berkata maaf. Carla tau kesalahannya, karna ia tidak baru kemarin mengenal kekasihnya itu.

"I'm sorry...."

Hanya helaan nafas yang terdengar membuat Carla mengeratkan pelukannya. Karna hanya cara ini yang bisa ia lakukan untuk menyiram api yang tengah berkobar. Ia tidak mau seperti hari kemarin yang berujung pulang ke rumah, hanya karna amarah Steve.

Perlahan tangan yang terkepal menahan amarah itu terulur mengelus surai dari gadis yang tengah memeluknya erat. Carla yang merasakan itu melepas pelukannya dan menatap mata kelam kekasihnya. Ia kemudian mengulurkan tangan, yang membuat Steve menaikkan alisnya sebelah sambil tersenyum. Senyuman penuh kemenangan.

"Jika kau tadi menurut, maka tidak akan ada drama di pagi hari baby." ujar Steve sambil memakaikan maskernya pada Carla.

Carla yang mendengar itu tidak menjawab, dan hanya mengangguk sekilas. Ia tidak tahu harus menjawab apa, lebih tepatnya ia takut salah bicara. Entah apa alasan utama Steve yang menyuruhnya untuk memakai masker, Carla tidak berniat untuk mempertanyakannya karna ia selalu takut salah bicara ataupun bertanya.

"Good honey, i like obedient girl."

Setelah mengatakan itu, Steve mengecup kening Carla lembut dengan durasi yang hampir 10 menit. Kemudian mereka keluar dari mobil dan menuju ke ruang kelas.

***

Seorang gadis cantik berjalan sepanjang koridor dengan lunglainya sambil kakinya yang tak hentinya menendang-nendang udara. Rasa cemasnya tak hentinya menggerogoti hatinya, sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh sahabatnya itu. Ia takut.

Takut terjadi apa-apa pada sahabatnya, terlebih ia tau bagaimana sosok monster berparas malaikat yang selalu menempel bagaikan perangko pada Carla. Dua hari yang lalu sejak ia berkirim pesan dan tak mendapat balasan lagi dari Carla, hatinya sudah sangat cemas. Keisya sudah berusaha untuk menelfon sahabatnya itu namun selalu saja tidak aktif.

Keisya menghela nafas pelan, jangan sampai ia menendang seseorang lagi karna kecerobohannya yang suka menendang asal. Setelah sampai pada pintu kelasnya Keisya masuk dengan lemas, sama sekali tidak ada semangat sedikitpun. Ia tidak hanya menganggap Carla sebatas sahabat, namun sudah seperti saudara sendiri.

Namun sebelum Keisya memasuki kelasnya, dari jauh ia melihat seorang gadis dan seorang laki-laki berjalan yang bagaikan raja dan ratu. Jangan lupakan tangan yang melilit erat seperti tali di pinggang ramping gadis tersebut. Namun karna tertutup masker, Keisya jadi kesulitan untuk mengenalinya. Lalu ia pun melihat sosok yang ditakuti seantero sekolah, yang berjalan bersama gadis yang pinggangnya terlilit dengan tangan besar laki-laki tersebut.

Keisya mengembangkan senyumnya, dan segera berlari menuju dua insan tersebut. Tanpa di beritahu pun ia tau, jika itu adalah sahabatnya yang tengah ia rindukan dua hari ini.

"Carla!!" Teriakan nyaring menggema di koridor membuat pasang mata mengarah pada seorang gadis yang tengah berlari tersebut.

"Keisya..." gumam Carla ketika melihat sahabatnya berlari ke arahnya dengan cepat. Carla melepas lilitan tangan besar itu di pinggangnya yang membuat Steve merengut kesal.

Dengan cepat Carla menghampiri Keisya yang tengah berlari itu. Dengan nafas tersengal Keisya memeluk sahabatnya erat yang di balas tak kalah erat oleh Carla. Lebay memang, tapi inilah sebuah persahabatan tanpa di dasari oleh rasa iri hati, kebencian, serta kepalsuan. Setelah berpelukan cukup lama mereka melepaskan pelukannya.

Steve yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas, dua hari tidak bertemu sudah berasa seperti berabad-abad. Tapi yang tidak pernah merasakannya memang tidak akan mengerti. Begitupun Steve, ia tidak pernah punya teman apalagi sahabat. Satu-satunya temannya adalah benda tajam yang senantiasa menemaninya kapanpun, juga yang akan selalu melindunginya serta menuntaskan hasratnya.

"Kenapa kau memakai masker? Apa kau sakit?" Keisya bertanya setelah pelukan mereka terlepas.

"Ummm tidak aku hanya sedikit flu." jawab Carla berbohong, ia tidak mau membuat sahabatnya ini khawatir. Apa ia harus mengatakan, kalau ia menolak memakai masker lalu pipinya digigit? Oh God, sudah dipastikan raut ketakutan akan terpatri jelas di wajah Keisya.

Mendengar itu Keisya hanya ber-oh ria saja. Tentang sahabatnya itu yang tidak ada kabar selama dua hari ia akan tanyakan nanti, tepatnya setelah mereka berdua jauh dari pandangan yang bagaikan ribuan anak panah itu, menghunus dan tajam.

"Ayo ke kelas." ujar Carla dan di ikuti keduanya, namun panggilan dari belakang membuat langkah ketiganya terhenti dan menoleh ke belakang.

"Valee."

"Alden." ujar Carla sambil ikut melambaikan tangannya ke atas. Steve yang melihat itu terus menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tidak boleh emosi setelah tau kenyataannya bahwa nama yang di sebut Alden oleh kekasihnya itu adalah saudaranya.

Laki-laki yang tak lain adalah Alden itu melambaikan tangannya setelah melihat sepupunya Carla. Setelah berada di hadapan Carla, Alden dengan semangat merentangkan tangannya hendak memeluk saudara yang ia rindukan itu. Namun belum sempat menyentuh apalagi memeluknya, bajunya sudah ditarik kebelakang oleh seseorang.

"Don't touch her." desis Steve tajam sambil menarik baju laki-laki yang ia ketahui bernama Alden tersebut. Ia tidak rela gadisnya dipeluk oleh laki-laki itu, meskipun Steve tau mereka bersaudara.

"Hey tenang, aku bukan pangeran berkuda hitam yang akan menculik kekasihmu." seru Alden sambil terkekeh, ketika melihat betapa possessive nya kekasih dari sepupunya yang sudah tingkat akut.

Sedangkan Keisya jangan ditanya bagaimana raut wajahnya. Sungguh ia begitu terkejut, karna sahabatnya mengenal laki-laki yang sempat ia ceritakan lewat pesan. Steve melepaskan tangannya dari baju Alden setelah mendengar ucapan frontalnya.

Banyak pertanyaan yang harus dijawab serta banyak cerita yang harus diceritakan. Namun bel masuk yang sudah berbunyi membuatnya terhambat, yang membuat ke empatnya harus memenuhi kewajibannya terlebih dahulu.

"Ayo ke kelas, nanti jam istirahat kita berkumpul di cafetaria!" seru Alden semangat sambil merangkul pundak Steve yang segera di tepis kasar oleh empunya. Alden hanya tertawa melihatnya, bisa-bisanya sedatar dan sedingin ini kekasih sepupunya. Lalu mereka segera menuju ke kelas yang memang ke empatnya menuju satu kelas yang sama.

Sudah dikatakan tidak ada yang kebetulan, segalanya adalah Takdir.

...TBC...

Terpopuler

Comments

queen

queen

wehhh sama sepupu ny ajh steven cemburu akut apalagi klo orang lain

2023-03-26

0

Alisya@84

Alisya@84

mengoyak jiwa, mengiris hati dan mendebarkan dada.....jika ada makhluk tuhan seperti steve..thor...................

2021-06-08

0

Migraine•ZeE

Migraine•ZeE

jadi pen brantem smpah dah..

2021-01-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!