Salah paham yang berujung penyiksaan

...Percaya, sesulit itukah? Kala aku selalu menyambut senyummu, meski batinku yang selalu kau siksa secara perlahan....

...————...

Seorang gadis tersenyum ketika ia melihat pintu kamar terbuka yang menampakkan penampilan kekasihnya yang kacau. "Sudah bangun?"

Steve yang masih kaku ditempat, seketika berlari dan mendekap Carla erat. Ia kira gadisnya akan pergi meninggalkannya. Jika itu sampai terjadi, ia akan menjadi gila. Bahkan gadisnya terlihat sedang membereskan kekacauan yang sudah ia buat tadi.

Carla mematung ditempat, pelukan kekasihnya terasa begitu erat yang membuatnya merasa sangat sesak dalam dekapannya. Namun seketika ia tersenyum dan membalas pelukan Steve dan mengelus punggungnya lembut. "Aku disini."

Steve yang mendengar suara Carla menjadi teringat akan drama yang terjadi di koridor sekolah. Ia lalu melepaskan pelukannya dan beralih menatap Carla dalam. Carla yang ditatap seperti itu memalingkan wajahnya. Ia tidak malu apalagi merona. Tapi takut. Tatapan kekasihnya itu tidak terbaca, dan sangat tajam.

Steve menarik dagu Carla kasar dan mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak. Hembusan nafas Steve yang memburu menahan amarah, membuat Carla memejamkan matanya erat. Ia sangat takut. Sekarang entah apa lagi salahnya sehingga ditatap dengan sangar seperti itu.

"Buka matamu!" desis Steve tajam ketika melihat kekasihnya menutup mata. Apa Carla tidak suka jika ia tatap? Apa ia lebih suka ditatap laki-laki tadi? Darah Steve mendidih ketika ia memikirkan itu.

Carla semakin memejamkan matanya erat, ketika mendengar nada Steve yang begitu menusuk. Oh Tuhan, ia sangat takut sekarang. Melihat itu Steve menjadi semakin geram dan beralih mengambil rambut Carla lalu menariknya kuat. Karna rasa sakit yang tiba-tiba itu, otomatis Carla membuka matanya lebar dan memekik tertahan. Sungguh ia tidak berani bersuara.

"Siapa dia?" tanya Steve langsung setelah melihat mata Carla terbuka lebar, akibat rasa yang amat sakit dikepalanya. Carla semakin tidak mengerti pertanyaan yang dilontarkan oleh Steve.

"Dia si-siapa?" sanggah Carla pelan bahkan hanya berupa bisikan. Rasa sakit di kepala dan dagunya sangat mendominasi.

"Kau membelanya?!" teriak Steve semakin murka.

"Ta-tapi si-siapa?" tanya Carla melirih sambil menahan tangis. Teriakan Steve serasa menusuk telinga dan hatinya.

Steve melepaskan jambakan dan cengkramannya pada Carla, lalu mendorongnya dengan kasar.

"Awww!"

Carla memekik setelah didorong dengan begitu kasarnya, tubuhnya serasa remuk. Namun nampaknya lelaki itu tidak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan Steve tertawa keras sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Carla yang melihatnya semakin bergidik ngeri tubuhnya meremang, itu tawa yang sangat mengerikan. Ia beringsut mundur.

Tawa itu.

Carla tau tawa itu. Carla menangis sejadi-jadinya ketika melihat Steve mendekat. Sungguh ia tidak tau siapa yang dimaksud kekasihnya itu. Apa ia harus menerima hukumam untuk kesalahan yang tidak jelas?

Steve semakin mendekat, dan Carla merutuki dinding yang berada di belakangnya. Ia terjebak.

"Steve..s-siapa yang kau maksud?"

Steve merasa sangat geram ketika mendengar gadisnya melemparkan pertanyaan balik padanya. Apa ia berusaha melindungi laki-laki itu? oh sangat manis. Steve tersenyum sambil terus mendekat.

Plak!

Carla memegang pipinya yang terasa kebas dengan isak tangisnya yang begitu pilu. Pipinya benar-benar terasa panas dan perih. Bahkan tangannya terkena pecahan beling, sewaktu ia berusaha mundur tadi. Ia belum selesai membersihkan kekacauan tadi, dan Steve sudah datang membuat kekacauan baru.

Steve kembali tertawa sumbang sambil menatap tajam gadisnya. "Dasar nggak tau diri. Pura-pura gak tau hah?! Dia bahkan memiliki panggilan kesayangan untukmu."

"Oh apa itu panggilannya? Valee? Oh manis sekali baby dan sangat menggemaskan."

Carla yang mendengar itu menjadi mengerti sekarang. Laki-laki yang yang menyapanya tadi di koridor yang tak lain adalah sepupunya lah yang membuat Steve begitu marah.

"Steve.. i-itu ti-tidak seperti yang kau kira... dia itu se-." seru Carla cepat dengan suaranya yang tergagap, ia akan menjelaskan bahwa ini hanya salah paham.

"Sebenarnya apa? kekasihmu yang lain?!" teriak Steve emosi.

"Tidak-tidak.." Carla menggeleng keras ketika dituduh seperti itu. Apa katanya kekasih lain? Bahkan Steve selalu mengawasinya 24 jam. Lalu darimana datangnya kekasih gelap?

Steve berjongkok di hadapan gadisnya dan membelai lembut rambut Carla sambil tersenyum manis. Carla yang melihat itu menjadi semakin takut dan terus menggeleng. Itu senyum maut. Ia tau apa yang akan Steve lakukan padanya selanjutnya. "Ketemu di mana hm, club?

Carla yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba mendongak dan menatap nyalang Steve. Ia tidak terima dituduh seperti itu. Steve tersenyum sinis, lalu tiba-tiba lelaki itu meludah ke samping. Carla semakin menatap tajam kelasihnya itu. Harga dirinya seakan tidak ada lagi.

"Apa yang kau ka-?"

"Cih! Teman one night stand?! Dasar jal-"

Plak!

"Steve! Jaga bicaramu bastard!" desis Carla tajam tepat di depan wajah lelaki itu. Ia menyeka air matanya dan menatap sendu pada lelaki yang begitu tega menuduh dirinya. Rasanya lebih sakit dari sayatan sebuah pisau.

Carla hendak berdiri, tanpa menatap pada lelaki yang masih terlihat mematung itu. Steve menggeram marah, giginya sampai bergemelatuk. Ia menoleh dan melihat gadisnya hendak pergi setelah dengan beraninya menampar dirinya.

"Awwww?!"

***

Keisya masih mencak-mencak ketika memikirkan kemana sahabatnya itu pergi. Bahkan ponsel Carla tidak bisa di hubungi, ia sangat khawatir. Pikiran-pikiran buruk terus menghantui otak cantiknya. Kemana sahabatnya itu pergi? Apa ditelan bumi? Saking kesalnya ia sampai menendang-nendang kursi didepannya dengan brutal.

Dukh!

"Awwww...." pekik seseorang ketika kakinya tidak sengaja ditendangnya

"Oh Sorry.." lirih Keisya tergagap sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Alden tak terima.

"Udah minta maaf juga!" kesal Keisya tak terima sambil bersedekap dada, ketika melihat laki-laki didepannya ini malah nyolot ketika ia sudah minta maaf.

"Trus siapa suruh nendang-nendang sembarangan?" sanggah Alden tak kalah sengit sambil berkacak pinggang.

"Ahh... terserah." ujar Keisya cepat sambil mengibaskan tangannya dan berlalu keluar. Ia sangat malas berdebat sekarang. Terlebih ia sangat cemas dengan sahabatnya yang tak kunjung ada kabar.

"Freak!" Alden mendengus kesal sambil melihat Keisya yang malah pergi begitu saja. Senyum manis terpatri dibibirnya, ketika melihat punggung gadis itu menghilang di balik pintu.

***

"Awwww!!"

"Lepas!! Lepaskan aku!" teriak Carla sambil memegangi tangan yang telah menjambak rambutnya dengan kuat.

"Lancang! Jangan harap kau pergi begitu saja setelah menamparku?!"

"Sakit.. Steve to-tolong lepas!" cicit Carla sambil menangis histeris ketika ia diseret dengan begitu kasarnya. Kulit kepalanya terasa panas, dan rambutnya yang terasa tercabut dengan paksa.

Entah kenapa sangat sulit untuk menjelaskannya, perkataannya selalu saja disela. Juga tuduhan dari lelaki itu yang membuatnya merasa sangat terhina.

Tanpa menghiraukan tangisan pilu Carla, Steve semakin kuat menjambak nya dan menyeretnya kasar. Tangis Carla menjadi semakin pecah, kepalanya terasa begitu sakit. Kenapa ia harus memiliki kekasih sekejam ini?

"Lepaskan aku?! Sakit Steve—sakit..ke-kepala ku!"

Suara Carla semakin melirih, kepalanya terasa berputar. Sedangkan lelaki itu masih bergeming dan mendorong Carla kasar di lantai kamarnya.

Steve tersenyum melihat gadisnya yang meringkuk di pojokan sambil memegangi kepalanya. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya tanpa mengalihkan pandangannya dari Carla. "Sakit? Hm aku suka," ujarnya pelan sambil menggosok pisau berkilat itu menggunakan tangannya sendiri, seperti sedang mengasahnya.

"Ja-Jangan hiks..hiks." Carla menggeleng kuat sambil terus menangis. Ia terus merapalkan doa, agar Tuhan menyelamatkannya kali ini.

"Kenapa jangan? Tadi kau juga telah menamparku, sepertinya sifatmu yang dulu mulai muncul lagi baby. Maka aku akan menghilangkannya lagi!"

"Hmm, sudah lama aku tidak melukis," gumamnya lagi masih dengan senyumnya yang terpatri. Sedangkan Carla tidak henti - hentinya menggeleng takut.

"Dimana aku harus melukisnya?" ujar Steve sambil memperhatikan tubuh Carla dari atas sampai bawah. Senyumnya semakin cerah, seperti anak kecil yang mendapat hadiah. Ia tahu, dimana akan melukis.

"Berbaliklah!" perintah Steve pelan. Seperti tidak terjadi apa-apa.

"A-apa?"

Alangkah terkejutnya Carla ketika kekasih gilanya itu menyuruhnya untuk duduk memunggunginya di lantai. Entah hal mengerikan apa yang akan terjadi padanya.

"Lama?!" desisnya tajam ketika melihat Carla malah bertanya balik. Lalu dengan cepat ia membalik tubuh Carla kasar.

Steve merobek baju Carla kasar, yang membuat Carla sangat terkejut. "Hiks..hiks! A-apa yang ka-kau lakukan?" tanya Carla terbata. Ia sangat terkejut ketika bajunya dirobek, dan sekarang ia merasakan hembusan nafas Steve yang memburu di tengkuknya.

"Diamlah!" desis Steve pelan sembari sibuk mengecup punggung putih mulus kekasihnya. Sebelum ia berikan tambahan warna.

"Aku akan melukis disini. Tempat yang lapang. Dan tentunya sangat indah. Rugi jika tidak diberi warna!"

ujar Steve sambil tersenyum lebar. Carla yang mendengar membuat tubuhnya menegang takut. Bagaimana kekasihnya itu bisa berpikiran gila seperti itu?

"Ja-Jangan hiks..hiks..Steve a-aku mohon!" Carla meronta kuat ketika tangan Steve yang satunya mencengkram kedua tangannya erat di belakang.

"Tenanglah baby! Ini akan menyenangkan, Sangat!" ujar Steve sambil mengelus rambut Carla dengan lembut.

Carla menjadi  semakin takut dan berteriak histeris ketika ia merasakan pisau berkilat itu menempel di punggungnya. Ia tidak bisa membayangkan jika benda itu menggores kulitnya.

Srett...

"Arghhh sa-sakit he-hentikan!"

Carla meraung kesakitan ketika ia merasakan punggungnya tergores. Rasanya begitu perih dan ngilu.

"Sstt..aku bilang tenang baby. Ini bahkan baru satu huruf!" Steve semakin mengencangkan cengkramannya di tangan kekasihnya, ketika ia merasakan Carla semakin memberontak.

"Hiks..sa-sakit hiks... Steve pe-perih." Tangisan Carla bahkan tidak terdengar lagi. Air matanya serasa mengering.

Srett...

"Arghh! Please stop?! di-dia itu se-se.." lirih Carla terbata ketika ia berusaha menjelaskan kembali, ia  merasakan kekasihnya itu kembali menggores punggungnya.

Carla merasakan sakit dan perih  luar biasa pada punggungnya dan ia lelah menangis. Sangat lelah. Menjelaskan pun ia sangat sulit. Pandangannya kabur dan kepalanya berdenyut nyeri. Hatinya juga sakit kala mengingat Steve mengatainya seorang ******.

"Di-Dia se-sepuku," lirih Carla pelan sambil menahan nyeri di punggungnya, juga sakit di kepalanya. Entah kekasihnya itu yang katanya sibuk melukis gila, mendengar atau tidak ia tidak peduli. Pandangannya buram setelah mengatakan itu. Hingga ia jatuh tidak sadarkan diri dan hanya kegelapan yang menerpanya.

...TBC...

...Voment!!...

Terpopuler

Comments

Denzo_sian_alfoenzo

Denzo_sian_alfoenzo

akhirnya karna sering d siksa si cwek sakit dan mati ktika ceek mati s cwok bru sdr dan menyesal tp sdh trlmbt akhirnya s cwok depresi dan mati bgtulah kisah yg pernh q baca dan aq rsnya ktgihan dgn cerita yg sad anding tp susah nyarinya woyyyyyyy klo klo ada yg tau kasih tau aq dongggg 😅

2024-11-08

1

~•Aikuro saki©^®

~•Aikuro saki©^®

ini mahh...namanya obsesi say😭

2024-02-08

2

Rose

Rose

laki2 jadi2an kayak ni.bisa nya menyiksa wanita

2023-05-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!