Sesadnya cinta

Tangan yang tadinya masih sibuk memberi goresan kini bergetar hebat. Namun entah karna apa. Lelaki itu nampaknya bingung antara perasaannya sendiri yang dirundung penyesalan atau khawatir. Steve melempar pisaunya dengan kasar. Lalu beralih mengusap punggung gadisnya yang berlumuran darah. Tapi ia tak menyesal melakukannya, biar ini menjadi pelajaran untuk gadisnya, agar tidak berdekatan dengan laki-laki lain. Steve merogoh sakunya dan mengambil benda pipih harapan sejuta umat.

"Hall--" jawab seseorang di seberang sambil menormalkan detak jantungnya. Ia menjadi panik sendiri ketika tuannya menelfon. Troy dengan sigap mengangkat telfonnya, bila tidak nyawanya yang akan dipertaruhkan. Namun apa ini? Belum selesai ia menjawab omongannya sudah dipotong. Bila dirinya yang memotong pembicaraan tuan sadisnya itu, maka kepalanyalah yang akan dipertaruhkan. Membayangkan saja membuatnya meremang dan bergidik ngeri. Lelaki berumur 30 itu kembali mendengarkan apa yang akan tuannya itu perintahkan, sebelum pisaunya yang berbicara.

"Apartemen, bersihkan dan ganti semuanya!"

"Semua mak-"

Tut!

Singkat padat dan jelas? Tidak Troy merasa kurang jelas. Sebab apa yang harus diganti? Apa apartemen tuannya itu terkena gempa? Tapi sebelum bertanya tuannya yang kejam itu, malah mematikannya. Troy mengusap dadanya pelan, sambil terus berkata sabar. Bisa sakit jantung ia lama-lama. Troy dengan cepat menelfon anak buahnya dan bergegas ke apartemen tuannya. Ia akan mengeceknya dulu, apa yang dimaksud tuannya itu untuk diganti.

***

Steve dengan cepat menggendong tubuh lemah Carla ke kamarnya. Membaringkan gadis tersebut dengan sangat pelan dan hati-hati. Steve mengelus pelan pipi kekasihnya. Wajahnya begitu pucat. Ia mengecup pipi gadisnya dan beranjak bangun mengambil kotak obat. Dengan sangat hati - hati Steve membalik tubuh Carla.

Melihat darah yang lumayan pada punggung gadisnya, ia mengambil baskom berisi air dan handuk untuk membersihkannya terlebih dulu. Setelah bersih Steve dengan sangat hati hati mengobatinya. Setelah selesai dan tertutup perban, ia mengecup punggung itu pelan, dan membalik kembali tubuh Carla dengan lembut.

Steve mengambil tangan Carla pelan dan mengusapnya lembut dengan masih memandangi wajah kekasihnya. Namun ia merasakan sedikit basah pada telapak tangan itu. Steve melihat tangan Carla dan ia cukup terkejut.

"****!"

Steve mengumpat melihat telapak tangan halus gadisnya berlumuran darah. Bagaimana bisa ia tidak mengetahuinya? Seketika Steve ingat Ia tadi sempat menampar gadisnya dan tersungkur kelantai yang penuh dengan beling kaca. Steve meringis memandangi telapak tangan gadisnya, dengan segera ia mengobati dan memberikannya perban.

Steve memanglah suka berlaku kasar pada gadisnya. Ia tidak pernah menyangkal hal itu. Tapi itulah caranya dia mencintai. Setiap orang menunjukkan cintanya dengan cara yang berbeda, dan inilah cara dia mencintai. Cintanya begitu dalam, sedalam samudera. Maka ketika ia melihat adanya kesalahan sedikit saja pada kekasihnya Steve begitu kalap dan hilang kendali. Ia takut. Takut ditinggalkan. Mungkin orang akan menganggapnya sebagai obsesi semata, tapi percayalah hatinya tulus mencintai.

***

"Apa yang terjadi disini?" gumam Troy ketika sudah sampai pada apartemen tuannya. Memang ia tidak terkejut, pasti tuannya memiliki masalah. Memang masalah apalagi yang bisa membuat tuannya itu mengamuk kalau bukan kekasihnya itu. Sebenarnya Troy sangat iba pada kekasih tuannya. Bagaimana tidak? Tiada hari tanpa kekerasan. Ia yang hanya menjadi asisten saja jantungnya berdetak abnormal ketika tuannya marah. Troy hanya bisa menggeleng pelan. Cinta memang buta.

Sekarang Troy mengerti apa yang harus diganti yang dimaksud tuannya itu. Segalanya. Semua barang disana tidak ada yang berbentuk lagi. Hancur. Melihat kehancuran itu, seketika badan Troy meremang. Entah apa yang tuannya itu lakukan pada nona Carla. Mengingat semua barang yang ia lihat sudah tidak berbentuk lagi.

"Bereskan semuanya!" perintahnya pada anak buahnya yang di balas anggukan. Setelah beres baru ia akan mengganti semua furnitur yang telah rusak.

***

"Baby bangunlah!" ujar Steve lirih sambil memainkan rambut Carla. Ia bahkan membaringkan gadisnya di dadanya dengan telungkup, karna ia takut luka pada punggung kekasihnya akan mengeluarkan darah jika ia membaringkannya di kasur

Steve tidak henti-hentinya mengecup pucuk kepala Carla. Menghirup dalam-dalam wangi dari rambut gadisnya. Ia sangat takut kehilangan. Seketika Steve mengingat, betapa susahnya ia mendapatkan Carla dulu. Meyakinkan gadis di dekapannya ini sungguh sulit. Ia tidak suka ditolak. Bahkan ia pernah mengurung kekasihnya di apartemennya ini. Dulu Carla sangatlah pemeberontak dan keras kepala. Tapi bukanlah Steve namanya jika tidak bisa menaklukkannya. Jika kelembutan tidak bisa maka kekerasanlah yang berbicara. Sebuah alasan sederhana yang mengatas namakan cinta.

"Uhh." Carla menggeliat sambil memegang kepalanya. Ia merasakan punggungnya begitu nyeri. Tapi ia merasa tidur di atas sesuatu yang keras dalam keadaan telungkup.

"Sudah bangun?" ujar Steve lembut sambil mengecup pipi Carla singkat.

"S-Steve?" Carla tergagap ketika ia menyadari tidur di atas dada telanjang Steve. Wajahnya pun hanya berjarak 2 cm dengan wajah kekasihnya. Pipi Carla memanas, dengan segera ia memalingkan wajahnya dan mencoba untuk bangkit.

"Aww." ringis Carla ketika ia mencoba bangkit, punggungnya terasa begitu nyeri dan perih.

"Jangan bergerak." ujar Steve sambil menahan kekasihnya untuk bangkit.

"Tapi aku pegal, jika seperti ini." ujar Carla sambil memanyunkan bibirnya, dan membuat Steve terkekeh.

"Jangan menggodaku sayang," ujar Steve berbisik di telinga Carla, yang membuat tubuhnya meremang.

"Aku lapar." gumam Carla pelan sambil menyandar di dada bidang kekasihnya dan melihat keluar jendela. Matahari senja memasuki kaca kamar apartemen membuat Carla sangat suka memandanginya, apalagi setelah hujan seharian membuat langit senja begitu cerah hari ini. Bahkan langit sudah sore. Carla menghembuskan nafas pelan, seharian ia terkurung dalam apartemen ini. Bahkan kekasihnya itu tidak mengucapkan kata maaf setelah kesalah pahaman sepele yang dibesarkan itu terjadi.

"Kau ingin makan apa?" Steve mengelus kepala Carla pelan sambil bertanya, kekasihnya terlihat masih sibuk memandangi langit senja dari jendela.

"Tidak tau." jawab Carla singkat.

"Kenapa tidak tau?" ujar Steve sambil mengernyit heran.

"Tidak tau."

Steve menormalkan nafasnya yang menderu. Kekasihnya yang sedang berada dalam dekapannya ini serasa membangkitkan emosinya. Tapi ia berusaha mati-matian menahannya agar tidak menyakitinya, lagi.

Carla memandangi matahari yang nampaknya akan tenggelam itu dengan pandangan kosong. Seseorang yang kini mendekapnya lah yang telah mengatainya seorang ******. Lalu apa ini? Lelaki itu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Melihat gadisnya yang diam saja membuat Steve mengernyit, lalu ia menghela nafasnya pelan. "Baby.." lirihnya sambil mengelus rambut Carla lembut.

"Kau marah hm?"

Carla masih bergeming, enggan untuk menanggapinya. Memang apa yang harus ia katakan? Meskipun ia marah, bahkan sangat. Namun ia juga tidak bisa mengatakannya. Karna posisinya tidak untuk mengeluhkan nasibnya.

"Baiklah, forgive me."

"Untuk apa?" tanya Carla lirih.

"Perkataanku."

Carla mengepalkan tangannya kuat, air matanya sudah menetes sedari tadi. "No problem, lagipula aku jalangmu bukan?"

Steve memejamkan matanya erat sambil mengusap kasar wajahnya. Kenapa gadisnya berkata seperti itu? Ia akui telah berkata kasar, tapi dirinya tidak pernah menganggap kekasihnya seperti itu. Apalagi melakukannya, tidak akan. Cinta itu menjaga bukan merusak. Tangan yang tadinya mengelus rambut gadisnya, kini beralih mengelus punggungnya.

"Aww! Sakit..." teriak Carla kala luka pada punggungnya ditekan dengan kuat.

Mata tajam itu menatap mata sendu kekasihnya yang berair dengan nyalang, dengan tangan yang terus menekan lukanya kuat. "Katakan sekali lagi!"

Carla berteriak kesakitan sambil memukul lengan Steve kuat. Itulah mengapa, ia katakan posisinya tidak untuk mengeluh. "Sa-Sakit Steve." Peluh membanjiri pelipisnya, nafasnya tersengal. Namun jari lelaki itu tidak berhenti sedikitpun, malah menekannya semakin kuat membuat darah merembes keluar.

"Katakan sekali lagi!"

"Aww!! Ti-tidak, Sorry. A-aku salah!" Carla memeluk lelaki itu erat, dengan isak tangis yang masih terdengar.

"Sa-sakit." isak Carla sambil mengeratkan pelukannya.

Steve tersenyum lalu mengecup pucuk kepala gadisnya. "No problem. Nanti juga hilang."

Seorang kekasih mestinya saling menunjukkan kasih sayangnya. Namun yang di rasakannya berbeda. Hatinya sakit, setelah yang diperbuat kekasihnya lalu dengan gamblangnya lelaki itu mengatakan 'no problem', Carla tersenyum getir memang tidak apa-apa. Bukankah memang selalu seperti itu?

Steve melepaskan pelukan gadisnya perlahan, lalu bangkit dan membaringkan gadisnya kembali secara telungkup. Ia akan mengobati luka gadisnya kembali.

"Awww." Carla meremat seprei kuat ketika Steve mulai mengobati lukanya. Rasanya begitu perih dan menyakitkan. "Tahan sebentar."

Dengan hati-hati Steve mengganti perban pada punggung kekasihnya.

"Sudah, apa masih sakit?" tanya Steve lembut yang hanya di jawab gelengan.

"Jadi kau ingin makan apa hm?"

"Terserah."

Steve tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadisnya. "Kalau be-" Baru saja ia akan berkata omongannya sudah disela oleh Carla. Sungguh jika bukan gadisnya yang menyela ucapannya maka ia akan merobek mulutnya.

"Kau saja yang memasak." ujar Carla masih dengan memandangi langit senja itu. Matanya benar-benar tidak lelah sama sekali memandangi ciptaan Tuhan yang begitu indah itu. Namun, sayangnya keindahan itu hanyalah bersifat sementara.

"Baby, kau tau aku tidak bisa melakukannya." ujar Steve sambil menghela nafas.

"Kau tidak mau?" ujar Carla berbalik sambil menatap mata Steve. Matanya berkaca-kaca dan ia kedipkan beberapa kali, membuat Steve menyugar rambutnya gusar. Kekasihnya terlihat seperti anak kucing. Sangat menggemaskan, dan tentu saja hanya ia yang boleh melihat gadisnya seperti ini. Jika orang lain yang melihatnya maka ia bersumpah akan mencongkel mata orang itu.

Steve tersenyum lalu ikut berbaring sambil mengelus rambut Carla lembut. "Tidak marah lagi?" tanyanya yang dibalas senyuman disertai gelengan, membuatnya semakin tersenyum sumringah. Namun kemudian ia menatap tajam gadisnya, membuat Carla meneguk ludahnya kasar.

"Carla."

"I-iya?"

"Kau mau berjanji?"

"Apa?" Tanya Carla heran.

"Berjanjilah padaku, kau tidak akan berekspresi seperti itu pada orang lain."

"Kenapa memangnya?" tanya Carla polos.

"Berjanji saja! Aku tidak memintamu untuk mengajukan pertanyaan." ujar Steve tajam sambil menarik rambut Carla kebelakang, membuat gadis itu mendongak keatas.

"Ba-Baiklah, ta-tapi sekarang aku lapar." ujar Carla tergagap, yang membuat Steve justru terkekeh, dan melepaskan tangannya pada rambut Carla. Betapa cepatnya ekspresi laki-laki itu berubah.

"Tapi apa yang harus aku masak?" tanya Steve sambil beranjak bangkit.

"Aww...ter-terserah kau." ringis Carla ketika tangan Steve tidak sengaja menyentuh punggungnya.

"Apa masih sakit?" ujar Steve sambil mengecup pipi Carla, yang sekarang tengah berada di pangkuannya.

"Se-sedikit."

"Maafkan aku." lirih Steve sambil memandang manik mata Carla dalam, yang dibalas senyum manis olehnya.

Steve tersenyum lebar lalu menggendong kekasihnya menuju dapur. Ia suka. Jika gadisnya selalu bersikap seperti ini.

Gadis yang penurut, dan dirinya semakin jatuh dalam kubangan cinta.

TBC

Terpopuler

Comments

Sedayu Branded Matahari

Sedayu Branded Matahari

tk kasih pottas dikit2 klo q, hhhhhhh

2024-03-08

0

Rose

Rose

laki2 brtulang lunak .yg memukul wanita.

2023-05-26

0

queen

queen

ketawa aq baca ny, kita nolak cintany bakal di kurung diapartemen, udh takdir ny clara hidup mati ditangan steve apa stepp wkwkw

2023-03-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!