Lisa menekan tombol lift dengan sedikit buru-buru. Gadis itu sungguh khawatir dengan keadaan Cello yang katanya menangis sampai tenggorokannya berdarah. Ia juga tak hentinya mengumpati Farhan dalam hati. Kalau Cello menangis sampai empat jam, kenapa tidak dibawa ke apartemennya?
Kenapa harus ada acara merepotkan Lisa sampai harus datang ke kantor segala.
Maka di sinilah ia sekarang. Berjalan cepat menyusuri lorong kantor yang masih sepi kariawan. Jam menunjukkan pukul enam pagi saat ini. Untungnya Lisa menyempatkan diri untuk cuci muka, gosok gigi, dan ganti baju layak agar tidak memalukan.
"Pagi Tuan. Heuh!" Gadis itu membuka pintu dengan napas tersengal. Lari dari apartemen ke kantor cukup menguras tenanga untuk orang yang tidak suka olahraga sepertinya. Peluh sebesar biji jagung berjatuhan dari pelipis Lisa. Dress kasual yang Lisa kenakan basah, nyaris seperti terkena air hujan.
Dan ...
Katakan selamat datang di mimpi burukmu, Lisa.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mencari sosok anak kecil yang tidak ada batang hidungnya sama sekali.
Dari jarak lima meter di depan Lisa, Farhan menyunggingkan bibirnya licik. Ada Rico di belakang Farhan yang wajahnya nampak tidak enak karena telah membohongi Lisa.
"Mana Ello?" tanya Lisa cengo.
"Jangan bilang ..." Lisa menatap Farhan dan Rico secara bergantian. Darahnya mendidih seketika. "Ya Tuhan!" Gadis itu terpuruk di lantai begitu menyadari kejanggalan yang ada.
"Kalian mengerjaiku?"
Lutut kaki gadis itu terasa lemas. Padahal saat berlari ia tidak memikirkan apapun. Otaknya dipenuhi nama Cello. Naluri keibuannya muncul entah dari mana. Lisa sudah seperti ibu kandung Cello yang khawatir ketika anaknya dalam bahaya.
"Kalian tidak tahu seperti apa khawatirnya aku?"
Sebuah sepatu melayang. Jatuh tepat di wajah Rico. Pria mengaduh—memegangi pipinya yang merah karena pukulan sepatu pantofel Lisa.
Sialan Anda tuan, yang mengejar cinta Anda, yang kena getahnya aku. Ah, nasib menjadi bawahan. Rico menggeram dalam rasa sakit.
"Pak Rico benar-benar jahat. Bagaimana jika aku jantungan?" Tatapan Lisa mengarah pada si biang keladi. Rico yang telah meneleponnya dengan alasan gila.
"Maaf Lisa, tuan Farhan bilang ingin melihatmu pagi ini." Rico terpaksa berbohong.
Sebenarnya, ada sebuah ide gila yang muncul di pikiran Rico. Jujur saja, pria itu langsung menanyakan kenapa Farhan ingin menikah dengan Lisa. Karena memang ia adalah teman curhat, orang yang paling mengerti Farhan dibanding siapapun. Dan Farhan pun tak sungkan menceritakan masalah apapun pada Rico.
Setelah Farhan menceritakan tentang mimpi itu. Rico baru paham bahwa bossnya mendapatkan bisikan spiritual untuk menikah. Akhirnya, Tuhan datang memecahkan hati Farhan yang keras seperti batu. Setidaknya, Rico berharap Farhan kegarangan Farhan sedikit terkikis jika sudah memiliki istri.
Yang jadi pertanyaan Rico adalah .... Kenapa haru Lisa yang disarankan untuk menjadi kandidat istri Farhan? Gadis kecil bodoh yang usianya terpatut sembilan tahun lebih muda dari Farhan.
Akhirnya Rico menyarankan sebuah ide gila. Ia menyuruh Farhan untuk mengetes seberapa perhatiannya Lisa pada si kembar. Terbukti, gadis itu datang ke kantor Farhan tanpa menyisir rambut apalagi make up.
Wajah khawatir Lisa pada si kembar dapat dibaca oleh siapapun. Gadis itu lolos dari ujian pertama seorang Farhan. Karena meskipun Lisa direkomendasikan langsung oleh mendiang Jennie dari mimpi Cello, tetap saja Farhan harus mengetes gadis itu secara langsung.
Farhan menyunggingkan bibirnya puas, mungkin saja Lisa adalah kandidat yang pas untuk ibu si kembar. Ia sendiri pun masih penasaran kenapa harus Lisa.
"Bangunlah, aku ingin mengajakmu sarapan." Farhan bangkit dari kursi panasnya. Berjalan ke arah Lisa seraya mengulurkan tangannya.
Sejenak terpana, gadis itu menerima uluran Farhan. Membiarkan pria itu menuntunnya ke sofa yang sudah terdapat aneka makanan di atas mejanya.
"Jangan merayuku, Tuan! Kalian berdua keterlaluan. Bisa-bisanya menjadikan Ello sebagai alasan untuk memaksaku datang sepagi ini. Apa kalian tidak ada kerjaan lain?" Lisa menghempaskan tubuhnya di atas sofa—kesal.
"Ini ide Rico, aku hanya mengiyakan saja."
Mata Lisa beralih pada Rico. Melotot tajam dengan pandangan menyalang. "Anda jahat, Pak Rico! Saya doakan yang jadi istrimu nanti lebih menyebalkan darimu. Suka merepotkan, suka mengajak Anda belanja diskonan, hobi ngomong kata terserah, dan juga suka meblokir kontakmu kalau sedang ngambek," serapah Lisa dengan suara menggelegar khas anak perawan kesal. Rico tertegun sambil menggelengkan kepala.
"Ya ampun, mulutmu jahat sekali, Lis."
Bibir Rico mengerucut sebal.
"Kamu lebih jahat, Pak!" tandas Lisa yang masih tidak bisa menutupi kekesalannya.
Pada akhirnya Rico mendesah dalam rasa tak berdaya. Boss Farhan memang sangat menyebalkan. Rico bermaksud menolong, tapi malah ia yang kena batunya. Inilah yang disebut,
Air susu di balas dengan air tuba.
"Sudah jangan ribut, hari ini pekerjaan kita sangat banyak. Kita harus mengecek proyek pembangunan di kota depok. Cepat makan, kita akan segera berangkat."
"Tapi aku belum mandi!"
"Aku sudah menyiapkan baju kerja, mandilah di kantorku."
"Make up?"
"Kau sudah cantik tanpa make up," balas Farhan tanpa menapat Lisa sedikit pun.
Lisa mendengkus kesal. Pujianmu hanya karena ada maunya, Tuan!"
"Bagaimana dengan si kembar? Bukankah baby sitternya keluar?"
"Di urus oleh neneknya," jawab Farhan logis. Pria itu meraih segelas susu. Meminumnya hingga tandas, lantas meraih roti berselai strawberry dan mengunyahnya perlahan.
Semuanya makan dengan tenang.
Pagi ini, tidak ada pembahasan perihal ajakan Farhan menikah tadi malam. Semua percakapan itu seperti hilang ditelan bumi. Menurut Lisa, Farhan malu karena ditolak. Padahal, bukan seperti itu kronologinya.
Rico memberikan sebuah wejangan berharga pada Farhan. Bahwa memikat seorang gadis tidak bisa disamakan dengan mendapatkan tender dalam pekerjaan. Harus pelan-pelan, dan butuh usaha ekstra agar dapat mendengar kata,
'Aku mau menikah denganmu.'
Untungnya si bodoh Farhan mau mengerti. Namun, ia sudah berniat melamar Lisa dengan persiapan. Farhan sudah membeli sebuah cincin dan makan malam privat nanti malam. Pria itu akan segera melaksanakan aksi keduanya.
Kata Rico, terlalu santai pada hubungan juga tidak baik. Bisa saja Lisa akan diambil pria lain. Bisa repot, Cello akan patah hati seumur hidup. Karena bagi Farhan, keinginan si kembar adalah hal yang harus ia utamakan.
Menikah dengan orang yang tidak ia cintai? Tentu saja tidak masalah. Asal anaknya senang, Farhan rela mengorbankan segenap nyawanya untuk mereka.
Bagi Farhan, hidup tanpa cinta sudah biasa. Hatinya sudah dilatih menjadi sekeras baja. Ambisinya untuk bekerja lebih besar ketimbang harus mengurusi cinta yang merepotkan dan tidak penting.
Jadi, Farhan tidak masalah jika harus menikahi Lisa. Gadis itu hanya perlu les menjadi ibu. Maka semuanya akan beres.
Bukankah begitu? Farhan bertanya pada diri sendiri.
***
Makasih atas dukungan votenya ya, semoga makin banyak yang dukung sampe ngeroket. Hehe, ngarep dikit boleh lah ya..🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
jumirah slavina
iya... iya....
jd Ibu dr Anak²mu...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-21
2
👻Yusuf🦖
🤣🤣🤣🤣
2024-08-14
1
Farida Wahyuni
pengen bgt liat bagaimana kalau kulkas 6 pintu bucin.
2022-12-16
0