Lisa mengedarkan pandangan, menatap apartemen barunya yang tampak mungil dan tampak hidup. Bersih, harum, dan desain sangat cocok untuk seorang Lisa yang menyukai pernak-pernik berwarna merah muda. Sepertinya Rico yang menyiapkan apartemen ini. Karena Farhan tak akan semanis itu memilih desain untuk seorang gadis. Rumahnya yang di Amerika saja seperti rumah hantu. Hampir semua ruangannya berwarna gelap.
Membanting tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba pikiran Lisa kembali pada wajah dua bocah imut yang sempat ia asuh tadi. Gadisi itu merogoh ponselnya di dalam tas, membuka galeri setelah berhasil menemukan benda pipih itu.
"Maafkan aku," lirih Lisa sambil mengusap layar ponselnya. Ia menatap gambar dua bocah yang sempat diabadikan tanpa sepengetahuan mereka. Jari-jemari Lisa membelai lembut ponselnya, seolah ia sedang menyentuh wajah si kembar dengan sangat nyata.
"Aku sungguh tidak menyangka hidup kalian semenyedihkan itu. Pasti rasanya sakit 'kan? Ditinggal orang tua saat sedang membutuhkan bimbingannya. Meskipun kalian bisa tertawa lepas, pasti psikologis kalian terganggu karena tekanan dari lingkungan sekitar."
Air mata Lisa mengalir deras, melewati pipi dan jatuh di atas ponsel. Gadis itu sudah tidak kuat menahan selaksa sesak yang menghimpit rongga dadanya. Hatinya begitu perih. Nasib Lisa juga sama dengan si kembar. Ditinggal pergi oleh orang tuanya. Hanya saja kedua orang tua Lisa meninggal dalam kecelakaan mobil. Tapi tidak seburuk kecelakaan pesawat yang jasadnya tenggelam dan tidak dapat dievakuasi. Setidaknya, Lisa dapat mengunjungi makan orang tuanya jika sedang rindu.
Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil handuk dari dalam koper. Lisa melucuti pakaiannya perlahan, lantas memutar keran shower untuk mengguyur sekujur tubuhnya. Tangis Lisa kembali pecah, bercampur dengan gemericik air shower yang berjatuhan di punggung dan kepalanya.
Setelah selesai mandi, Lisa membanting tubuhnya di atas kasur. Ia ingin membereskan baju-bajunya, tapi desakan letih terus memaksa Lisa agar jangan beranjak dari atas ranjang.
Menatap langit-langit, ingatan Lisa kembali pada kejadian tadi. Saat Farhan mengajaknya menikah dengan cara konyol. Oh, sungguh itu akan menjadi sejarah terburuk dari si gunung es yang berani mengajak gadis menikah dengan gaya sombong dan arogan.
"Kamu sungguh lucu, Tuan. Tapi maaf, aku tidak bisa menjadi istrimu. Meskipun tak kupungkiri bahwa hati ini memiliki perasaan lebih, tapi aku tidak mau egois. Menikah dengan orang yang tidak mencintaiku itu menyakitkan."
Lisa meyakinkan dirinya sendiri. Dan ... Sepertinya ia lupa bahwa ada Maha Dasya yang mampu membolak-balikan hati manusia. Cinta dapat tumbuh seiring berjalannya waktu. Apalagi ada istilah jawa yang mengatakan,
Witing tresno, jalaran soko kulino. Cinta ada karena terbiasa.
***
Mengerjap-ngerjap, Lisa dikejutkan oleh sebuah panggilan telepon. Gadis itu melerik ke arah Jendela, di mana sinar mentari mulai muncul melalui celah-celah jendela. Menununjukkan bahwa hari sudah berganti lagi. Waktunya untuk para manusia terjaga dari kegiatan mimpi.
"Hoam." Dia menguap. Tidurnya terasa nyenyak sekali semalam. Mungkin karena faktor lelah. Tidur Lisa sampai tidak terasa sampai paginya.
Lisa kembali melirik ponselnya, ternyata panggilan itu sudah mati. Diraihnya benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Lisa membuka sandi dengan sensor wajah.
"Astaga!" Gadis berseru dengan wajah melotot. Ada lima puluh tiga panggilan tuan Farhan yang tertera di dalam layar ponselnya. Nama 'Tuan Farhan' memenuhi seluruh isi kepala Lisa pagi-pagi.
Gadis itu menaruh ponselnya di bawah bantal. Gemetar-gemetar takut karena tidak mendengar panggilan itu. Jika ia menelepon balik, Lisa yakin Farhan akan memarahinya habis-habisan.
"Bagaimana ini?" Lisa panik. Gadis itu melirik jam yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Yang menandakan waktu masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Lalu, untuk apa Farhan menelepon pagi-pagi begini? Jika alasannya karena merindukan Lisa itu mustahil.
Ditengah-tengah bengongnya Lisa, tiba-tiba ponselnya berbunyi kembali. Mau tidak mau, gadis itu mengangkat panggilan telepon tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Hallo?" jawab Lisa.
Cepat ke kantor sekarang. Ello menangis sejak jam empat pagi. Dia mencari-cari keberadaanmu. Suara Rico terdengar panik dari balik sana.
"Ah, iya Pak Rico. Saya akan mandi dulu."
Tidak usah mandi. Kamu ke kantor saja, sela Rico cepat. Tuan Farhan sudah seperti orang gila melihat Ello menangis tanpa henti. Dia sampai batuk darah karena terus menangis. Tenggorokannya terluka.
"Astaga! Ya Tuhan." Mulut Lisa menganga lebar. "Tunggu sebentar Pak, saya akan segera ke sana!"
Lisa melempar ponsel tanpa mematikannya terlebih dahulu. Beruntung, lokasi apartemen Lisa sangat dekat dengan kantor.
Dengan cekatan Lisa menggosok giginya, lalu cuci muka ala bebek masuk ke air. Ia tidak memiliki waktu lagi. Setelah melakukan ritual singkat itu, Lisa segera menyambar dress di atas lemari. Memakainya secepat kilat sambil menyambar tas kerjanya.
Ello Sayang, tunggu kakak Lisa datang ya. Gadis itu berlari ke luar apartemennya tanpa menyisir rambut. Apalagi make up.
***
Jangan Lupa Like komen, dan bagi-bagi poin ya.... Wkwkwk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Just Rara
pasti si cillo mau mentil ni sm lisa🤭🤭
2022-06-03
1
Siti Solikah
duh Ello ya yang jadi perekat hubungan
2022-03-12
0
Mata Air
waduoooo si Elllo sudah kepelet Lisa.
2022-02-18
0