"Lis, kebetulan sekali ya? Bisakah kau membantuku sebentar?"
Lisa beralih menatap Rico. Bau-bau tidak enak mulai tercium dari pikiran Lisa.
"Butuh bantuan apa, Pak?" tanya Lisa dengan perasaan khawatir.
"Tolong asuh dua anak kembar ini."
"Apa!" Lutut kaki Lisa mendadak lemas. Seumur hidup, ia belum pernah merasakan seperti apa rasanya mengasuh anak kecil. Bahkan ia tidak paham bagaimana caranya.
"Baby sitter yang biasa mengurus mereka baru saja mengundurkan diri, Lis. Ini sudah ke enam baby sitter yang tidak sanggup menangani mereka berdua. Tolong kasihanilah Cilla dan Cello. Aku sungguh pusing, lima belas menit lagi tuan Farhan dan aku akan segera menghadiri meeting bersama orang penting. Tolong ya Lis, tender ini sangat besar. Aku mohon," Rico memelas dengan wajah iba.
"Cilla gak mau cama ajjuma icu! Cilla mau temu ayah, katanya ayah bica menghidupkan Dumbo lagi."
Tersenyum hangat, Rico mengelus puncak kepala gadis itu—lembut.
"Sabar ya, kalau kalian mau main sama kakak Lisa dulu, nanti Om Rico akan bawa dumbo kembali."
"Cius? Tapi akualiumnya cudah dipindahin tadi. Gimana dong? Nyanti Dumbo tinggal di mana, Om?" tanya gadis kecil itu polos. "Tul, Dumbo nanti gimana mau bobonya?" tanya Cello menimpali.
"Gampang, nanti beli aquarium baru ya, tapi kalian main sama kak Lisa dulu, dan jangan nakal," rayu Rico.
"Iya," jawab Cilla dan Cello kompak.
Ah, kini Lisa paham. Dumbo adalah ikan emas yang mati. Dan Farhan menyuruh Lisa mencari ikan emas untuk mengelabuhi dua anak kecil itu. Sayangnya, Lisa tidak dapat menemukan ikan emas yang mirip dengan dumbo milik si kembar itu.
"Lis, gimana? Mereka sudah setuju. Kamu ajak saja ke taman bermain. Supir ada di bawah. Kalian bisa main kemanapun," ucap Rico memelas.
"Tapi—"
"Lis, tolonglah. Kasihan tuan Farhan, ia akan pusing, " Rico masih terus memelas dengan wajah ibanya.
Ponsel Rico berdering.
"Tuh kan, tuan Farhan sudah menelepon lagi. Tolong ya, Lis! Kopermu biar aku saja yang bawa." Rico segera masuk ke ruangan kerja Farhan sambil menyeret koper Lisa. Meninggalkan dua bocah kembar yang masih berdiri menatap perdebatan orang dewasa.
Rico sudah menghilang di balik pintu, padahal Lisa ingin sekali bertanya. Kemana ibu kandung dari dua bocah itu? Kenapa tega sekali menelantarkan anak-anaknya begini. Apalagi Lisa sampai kena batunya begini. Apa Farhan sudah pernah menikah dan bercerai?
"Heuh." Lisa mendesah. Menatap dua bocah yang memperhatikannya sedari tadi. "Baiklah, ayok kita main ke taman dekat-dekat sini. Kalian berdua jangan nakal ya, kaki kak Lisa sedang sakit, Oke!"
Cello tampak tersenyum malu-malu melihat Lisa. Sementara Cilla melengos, menunjukkan ekspresi tidak suka yang kentara.
***
Farhan memijit pelipisnya yang terasa pusing. Meeting pagi ini benar-benar menguras tenaga, di tambah klien sangat ribet dalam melakukan tawar menawar.
"Tuan," panggil Rico yang sedang berjalan cepat mengikutinya.
"Ada apa?" Farhan menoleh ke belakang. Memandang wajah Rico yang terlihat mengerjap gugup.
"Apa ikan emas yang aku minta sudah di dapatkan?" Sambil memenekan tombol lift menuju lantai 12.
"Sedang di cari, Tuan. Tapi—" Rico menjeda ucapannya karena sedikit ragu.
"Tapi apa?"
"Dua baby sitter si kembar baru saja mengundurkan diri. Mereka bilang tidak kuat karena harus menyusui si boy. Dan si boy sering menggigit itunya." Rico sedikit malu.
"Apa?" Farhan terkejut bukan main. "Lalu di mana mereka sekarang?" Sudah tidak aneh lagi jika pengasuh si kembar mengundurkan diri. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Cilla dan Cello sedikit nakal dan hobi mengeksekusi siapapun yang mengasuhnya.
"Sedang di asuh oleh Lisa," jawab Rico.
"Apa?" Farhan semakin panik.
"Maaf Tuan, karena keadaannya sangat mendesak, jadi saya terpaksa menitipkan si kembar pada Lisa."
"Bodoh, cepat hubungi gadis itu. Apa kau lupa seceroboh apa anak itu? Bisa-bisanya kau menitipkan harta berhargaku pada gadis model begitu," bentak Farhah emosi.
Rico mulai menghubungi Lisa dengan tangan gemetar. "Lis, kamu di mana? Apa? Di lobi? Saya akan segera kesana." Telepon di tutup dengan kepanikan Rico yang tidak dapat diutarakan.
"Ada apa?" tanya Farhan—heran.
"Maaf Tuan, kata Lisa si kembar hilang di taman. Sekarang Lisa sedang berada di lobi," tutur Rico gemetar-gemetar takut.
"Bagaimana bisa?" Bugh! Satu pukulan keras mendarat di pipi Rico. "Aku akan membunuhmu jika terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Kau sungguh keterlaluan Rico, bagaimana bisa kau melakukan hal sebodoh itu. Tender yang kita menangkan hari ini tidak ada artinya jika si kembar sampai kenapa-napa."
Lantas, Farhan berlari ke arah lobi untuk menemu Lisa di sana. Pernah kehilangan dua orang tercinta secara bersamaan membuat Farhan trauma berat. Ia sudah berjanji pada diri sendiri, bahwa si kembar tidak akan pernah bernasib tragis seperti orang tua kandung mereka yang meninggal secara bersamaan.
"Tuan," lirih Lisa saat Farhan berlari ke arahnya. Nafas pria itu terlihat naik turun. Ketakutan bercampur amarah menyelimuti wajah tampan Farhan saat ini.
"Bagaimana bisa, Lisa?" Farhan menggusar rambutnya ke belakang—frustasi.
"Maaf Tuan, tadi kami sedang bermain petak umpat, tapi tiba-tiba mereka hilang. Aku sudah mencarinya kemanapun, tapi Cilla dan Cello tidak ada."
"Bodoh!" Tangan Farhan sudah melayang. Hampir menampar Lisa jika Rico tidak datang menghalangi.
"Tenang dulu Tuan, lebih baik kita cari anak-anak. Aku sudah meminta bantuan polisi."
Lisa masih menunduk ketakutan dalam mata terpejam.
"Katakan pada gadis itu, aku tidak akan mengampuninya jika sampai terjadi apa-apa dengan si kembar," ucap Farhan pada Rico. Bahkan, pria itu nampak tidak sudi berbicara dengan Lisa.
"Tuan, maafkan saya," lirih Lisa, suara mendadak serak karena terus menangis.
"Sudah Lisa, polisi sedang mencari mereka. Sebaiknya kamu istirahat dan pulanglah, biar semua ini jadi tanggung jawab saja,"
"Jangan membela gadis itu, Rico!" Sela Farhan.
"Saya tidak mau pulang. Saya mau ikut mencari si kembar, Pak," isak Lisa terbata-bata.
Gadis itu meremas jari-jemarinya kuat. Merasa bersalah karena telah lalai dalam menjaga kedua anak kembar itu. Ia sendiri juga tidak habis pikir kemana si kembar pergi. Hanya sekedar main petak umpat, bisa-bisanya langsung hilang tanpa jejak.
Apakah mereka diculik?
Ya Tuhan! Rasanya Lisa tak mau hidup lagi. Ia begitu khawatir pada dua bocah yang baru dikenalnya itu. Bagaimana nasibnya? Pasti mereka ketakutan tanpa orang yang dikenalnya. Bagaimanapun si kembar masih empat tahun. Belum bisa dilepas di luar rumah tanpa pengawasan.
"Kamu!" Farhan mencengkeram baju Lisa kuat-kuat. "Sampai mereka tergores sedikit saja, kau akan mendapat balasan seratus kali lipat lebih menyakitkan!"
Farhan mendorong tubuh Lisa. Pria itu benar-benar murka. Sudah tidak ada belas kasih di dalam jiwanya. Otaknya tak dapat dikontrol, penuh rasa takut dan khawatir yang berlebihan.
"Maafkan saya, Tuan," lirih gadis itu. Tidak ada kata lain yang mampu ia ucapkan. Lisa mengaku salah.
"Maafmu tidak berguna Lisa!" teriak Farhan.
Lisa semakin ketakutan sampai malu pun dia abaikan. Semua orang menatapnya dengan berbagai asumsi. Tentunya pikiran negatif yang menjurus untuk seorang Lisa.
"Tuan, tenangkan hatimu. Lebih baik kita cari si kembar. Tenang Tuan," ucap Rico sambil mendorong tubuh Farhan agar menjauhi Lisa. Bisa mati gadis itu kalau sudah di amuk pria kalap yang hilang kendali.
"Kau juga salah, kau menitipkan anakku pada gadis bodoh seperti dia. Di mana otakmu, Rico?"
Farhan berbalik pergi meninggalkan pintu lobi. Sampai ke ujung dunia pun, Farhan akan mencari si kembar hingga ketemu.
***
Kalo suka ceritaku jangan lupa vote ya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Just Rara
tu kan bocah 2 masuk kdlm mobilnya si bianca kan ya😁
2022-06-02
1
Mata Air
😭😭😭😭kasihan Lisa tor..... kemana tu duo C itu sembunyi ya....
dia sembunyi apa melarikan diri ya...???🤔🤔🤔
2022-02-16
0
Novika Riyanti
😂😂😂🤣🤣🤣
2021-12-07
0