Lisa menyeret kakinya memasuki ruang kerja Farhan. Bengkak di luka gadis itu makin terlihat karena dipaksa untuk berjalan. Apalagi menaiki ribuan anak tangga menuju lantai dua belas.
"Fiuh!" Gadis itu menghembuskan nafas lega saat mengedarkan pandangannya. Ternyata ruangan kerja Farhan sedang kosong, tidak ada si Misophobia yang menyeramkan di dalam sini.
"Aku harus cepat-cepat ganti baju, dan sebaiknya segera kabur sebelum malaikat pencabut nyawa itu datang." Gemetar-gemetar takut, Lisa mengobrak-abrik kopernya. Mengganti blouse dan rok span dengan celana jogger. Lalu, saat ia hendak memakai kaos tipis yang biasa dipakai untuk olahraga, tiba-tiba pintu ruang kerja Farhan dibuka. Kaos jatuh ke lantai saking gugupnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Akh!" Lisa terperanjat. Gadis itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menutupi bagian tubuh yang hanya tertutup kacamata.
"Tu-tu-tuan, saya sedang ga-ganti baju," tutur Lisa terbata-bata.
"Cepat pakai bajumu!" bentak Farha sambil memalingkan wajahnya—malu.
Buru-buru Lisa mamakai kaos yang ia sambar di samping kakinya . Secepat atraksi sulap, Lisa telah selesai memakai setelan olahraga dalam waktu singkat.
"Sudah Tuan, Anda boleh berbalik badan."
Farhan berbalik dengan wajah murka sekaligus merona. "Apa kau itu kerbau bodoh? Kau tidak melihat ada kamar mandi di sana?" Menunjuk kamar mandi di pojok kiri ruang kerjanya.
"Maaf Tuan," lirih gadis itu ketakutan. "Saya buru-buru ganti baju sebelum Anda masuk. Tidak lihat-lihat ada kamar mandi."
Menggeram kesal. Farhan menghempaskan tubuhnya di kursi panas.
"Selalu saja seperti itu. Tidak pernah sadar dengan lingkungan," ucap Farhan tanpa sadar.
"Selalu?" Kali ini Lisa menatap Farhan dengan dahi yang terlipat dalam. "Saya baru pertama kali melakukan ini. Bagaimana bisa Anda bilang selalu?"
"Emmp!" Farhan mengerjap gugup. Mengalihkan pandangannya kemanapun asal jangan melihat wajah Lisa. Dasar bodoh, umpat Farhan menyerapah diri sendiri.
Mana mungkin ia berani jujur kalau selama ini Farhan selalu memantau kegiatan Lisa saat di rumah. Bahkan sudah tidak terhitung berapa bilangan Farhan melihat Lisa ganti baju sembarangan. Meskipun begitu, Farha. merona malu saat melihat acara ganti baju Lisa secara live.
"Maksudnya apa, Tuan?" ulang Lisa sekali lagi.
"Tidak ada maksud," jawab Farhan dalam pandangan menunduk. Pria itu sedang pura-pura membaca laporan apa saja yang disambar cepat dari meja kerjanya. Pikirannya sedang berputar, mencari alasan yang pas untuk mengalihkan pembicaraan mereka barusan.
"Kenapa kau ganti baju di sini? Apa kau sengaja ingin menggodaku?" telak Farhan yang baru saja mendapat ide briliant.
Kini gantian Lisa yang gugup sendiri. Bagaimanapun juga apa yang Farhan ucapkan terbilang masuk akal. Siapapun pasti akan salah paham melihat Lisa ganti baju di ruang kerja bossnya.
"Begini, Tuan. Saya tidak bermaksud menggoda Anda. Terserah Anda mau percaya denganku atau tidak, tapi bajuku kotor karena jatuh di pasar ikan tadi. Lihatlah," decak Lisa sambil mengangkat baju kotornya tinggi-tinggi. "Sumpah Tuan, saya serius jatuh di atas genangan air."
Farnah menyipitkan matanya dengan raut wajah mengejek. "Tentu saja aku percaya, kau 'kan masih setara anak baru bisa berjalan. Jatuh dan kepentok adalah andalanmu di manapun kau berada." Sambil berdecih geli.
Sialan kau, Tuan. Lisa menatap Farhan dengan wajah kesal.
"Oh ya, mana ikan yang aku mau?"
"Ah." Lisa berubah gugup kembali. Gadis itu mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sambil mengumpulkan keberanian.
"Begini, Tuan. Ikan emas seberat tujuh kilo yang Anda mau tidak ada. Saya sudah mencarinya keseluruh pelosok pasar ikan. Tidak ada ikan emas segar yang Anda minta. Kalau Anda lapar, makan saja daging saya, Tuan. " Lisa meremas baju olahraganya saat wajah Farhan berubah murka. Gadis itu nampak frustasi melihat ekspresi Farhan yang sulit untuk ditebak.
"Dasar bodoh! Ikan emas itu jauh lebih penting dari apapun!"
Seperti yang Lisa tebak, Farhan langsung murka ketika Lisa tidak mendapatkan apa yang ia mau.
"Maafkan saya, Tuan," lirih gadis itu pura-pura bersalah.
"Tapi saya tidak menemukannya, Tuan!" Lisa menunduk takut. Untuk apa sebenarnya ikan emas itu.
"Sudahlah, kau boleh pergi dari ruang kerjaku. Hubungi Rico di ruang kerjanya!" Wajah yang tadinya murka berubah frustasi, seperti orang pusing yang lagi banyak pikiran.
"Maaf Tuan, saya sungguh tidak menemukan ikan emas itu." Lisa menunduk dalam rasa bersalah. "Kalau begitu saya permisi.
"Hmmm. Ya sudah, pulang dan istirahatlah, lalu temui Rico di ruang kerjanya. Kunci apartemenmu dia yang pegang."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Lisa menaruh bekas baju kotornya di atas koper. Lantas menyeret koper itu dengan susah payah. Menahan sakit pada kakinya yang keseleo. Farhan tak melihat langkah kali Lisa yang terseok. Karena ia langsung terfokus pada proposal yang hendak dipakainya untuk meeting.
Keluar dari ruang kerja Farhan, Lisa langsung disambut oleh Rico yang berdiri panik menuntun dua anak kecil.
"Pak Rico?" Lisa terperanjat, ditatapnya anak kecil yang sempat memanggilnya dengan kata 'Ajjumma', berarti Bibi dalam bahasa Korea. Matanya teralihkan, Lisa menatap anak satu lagi yang berjenis kelamin laki-laki. Barulah dia sadar, ternyata gadis kecil yang ia temui di lift tadi memiliki kembaran.
"Siapa anak-anak itu, Pak Rico? Apakah itu anak Bapak?" Lisa melirik sekilas pada gadis kecil yang ketakutan melihatnya. Pasti ia takut karena dipelototi oleh Lisa saat di lift tadi. Siapa suruh membuat Lisa kesal. Kakinya jadi semakin sakit karena dibawa menaiki ribuan anak tangga menuju lantai 12.
"Ini adalah anak tuan Farhan, Lisa. Kamu kan tahu aku belum menikah."
"Tuan Farhan?" Lisa benar-benar terkejut. Mulutnya menganga lebar mendengar penuturan Rico. Ternyata benar, pria yang pernah difitnah jomlo olehnya sudah menikah. Bahkan memiliki dua anak. Gila? Hancur suda harapan Lisa memiliki skandal percintaan dengan atasan.
Oh, my Boss!
"Ajumma!" seru gadis kecil itu menyela pembicaraan orang dewasa. "Apa yang ajjumma lakukan di kantor ayah? Kenapa bajunya cudah ganci?"
"Ah!" Belum puas Lisa terkejut, kini ia dibuat gugup karena pertanyaan gadis kecil itu. Wajah Lisa bersemu malu. Ada sedikit rasa takut bahwa anak kecil itu akan melaporkan Lisa pada ibunya. Ah, Lisa tidak ingin dijambak-jambak dan tuduh pelakor.
"Jangan deket-deket ayahnya Cilla," seru gadis kecil itu.
Yang satu kalem, kenapa yang perempuan garang begitu sih? Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya, pasti seperti ayahnya, pikir Lisa.
"Tenang saja, saya hanya kariawan baru. Tidak akan dekat-dekat dengan ayahmu." Lisa tersenyum manis, secerah matahari pagi.
"Cilla, Cello, dia adalah kakak Lisa. Mulai hari ini kak Lisa akan bekerja di kantor ayah. Jadi, wajar saja kalau kakak Lisa dekat-dekat dengan ayah." Rico menjelaskan tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada baju Lisa yang katanya sudah diganti. Tidak mau berpikiran negatif juga karena ia mengenal betul siapa bossnya.
"Hai?" Lisa menyapa sok manis. Namun dua anak kecil itu terlihat tak acuh. Apalagi yang perempuan. Seperti hendak memakan Lisa bulat-bulat.
"Lis, kebetulan sekali ya? Bisakah kau membantuku sebentar?"
Lisa beralih menatap Rico. Bau-bau tidak enak mulai tercium dari pikiran Lisa.
"Butuh bantuan apa, Pak?"
"Tolong asuh dua anak kembar ini."
"Apa?" Lutut kaki Lisa mendadak lemas. Seumur hidup, ia belum pernah merasakan seperti apa rasanya mengasuh anak kecil. Bahkan ia tidak paham bagaimana caranya.
***
Jreng-jreng, siap-siap Lisa... kau akan bertemu biang rusuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Just Rara
waduh apes bgt km lisa😁
2022-06-02
1
Mata Air
ambil nafas..... buang..... ulang Sampek lega ya....
2022-02-16
0
Mata Air
nah.... keruan ... ternyata sering ngintip....
2022-02-16
0