Pria yang bernama Skala itu sudah membuka pintu mobilnya menggunakan automatic key yang berada di tangannya. Namun, seketika istrinya Bianca menarik lengannya menuju sebuah kedai yang menjual permen kapas, menekan kunci mobilnya lagi, Skala tak sadar bahwa mobil miliknya belum benar-benar terkunci kembali.
Tanpa si pemilik mobil itu sadari, dua ondol-ondol kembar yang sedang main petak umpat dengan Lisa berjalan bergandengan. Lalu masuk ke dalam kursi penumpang mobil yang sama dengan miliknya.
"Umpet di cini aja, kakak Lisa pasti gak bica temuin kita," tarik Cilla. Ia pikir itu adalah mobilnya sendiri. Karena merek dan warnanya sama, kedua bocah itu pun bersembunyi di belakang jok depan.
Senang mendapat apa yang diinginkannya Bianca tersenyum lebar sambil menggelayuti lengan sang suami menuju mobil. Kedua mahkluk Amazon itu tak sadar ada dua bocah tengah duduk santai di kursi penumpang.
Skala yang tidak lain adalah suami Bianca segera menjalankan mobilnya, sesekali Bianca menyuapkan permen kapas ke mulut sang suami. Keduanya banyak bercengkrama, sampai samar-sama tedengar suara anak kecil di dalam kabin mobilnya.
"Cilla mo pelmen kapas."
"Ello uga."
Bianca dan Skala saling pandang, perlahan keduanya menengok ke belakang dan mendapati dua bocah berwajah malaikat menatap mereka dengan mata polos.
"Ska.... anak siapa ini?"
Skala terheran-heran, Ia juga tidak tahu dari mana dua bocah itu berasal dan bagaimana bisa masuk ke dalam mobilnya.
"Kalian anak siapa? gimana bisa masuk ke mobil aku?" tanya Skala dengan nada sedikit membentak.
Alhasil Cilla dan Cello langsung melipat bibir ke dalam, lama-lama bibir mereka bergetar, suara tangisan pun pecah di dalam mobil yang berkapasitas maksimal lima orang itu.
"Cilla akut om gayak."
"Ello juga takut. Huaaa, ayah!"
Mereka berdua teriak-teriak ketakutan.
Bianca yang melihat tingkah sang suami seketika kesal, di pukulnya lengan Skala gemas. "Ngomong sama anak kecil itu yang lembut, ihk ... gimana sih? Kamu 'kan calon papa!"
Akhirnya Bianca meminta Skala menepikan mobilnya, gadis itu segera pindah duduk di belakang. Menemani dua bocah bernama Cilla dan Cello yang masih terisak-isak.
"Mau permen kapas gak? Nama kalian siapa?" tanya Bianca ramah.
"Aku Ello," jawab Cello.
"Aku Cilla, ante capah? Ini kan mobil atu. Kok ante ama om bica ada di cini?" tanya gadis kecil itu. Mendongak polos dengan raut wajah keheranan.
"Jadi kalian kira ini mobil kalian?"
Kedua bocah itu mengangguk sebagai bentuk konfirmasi.
"Sepertinya mobil kita kembar dengan milik bocah itu, Cha. Makannya mereka pikir ini mobil mereka," sela Skala yang terus fokus menatap jalanan yang ada di depannya.
"Mereka lucu banget, Ska! Yang perempuan masih cedal dan cerewet. Kalau yang cowok sudah lancar bicara tapi irit omong," ucap Bianca antusias.
Skala hanya tersenyum sambil fokus mengemudi.
"Nih buat kalian." Bianca memberikan permen kapas pada anak kembar itu.
Mendapatkan apa yang mereka inginkan, kedua anak itu melahap permen kapas milik Bianca bergantian.
"Kalian kembar?" tanya Bianca sambil mencubit pipi kedua bocah itu gemas. Baru sadar kalau wajah mereka sangat mirip.
Cilla dan Cello hanya menjawab dengan anggukan kepala karena mulut mereka penuh dengan permen kapas.
"Coba cek tas mereka Ca, siapa tahu ada alamat atau apa." Skala bersuara.
Melakukan apa yang suaminya perintahkan, Bianca membuka tas yang masih berada di gendongan Cello.
"Ska, ada ponsel."
Secercah harapan menghampiri Skala dan Bianca untuk menghubungi orang tua kedua bocah itu, Bianca hanya sempat melihat wallpaper ponsel itu karena tak lama tiba-tiba ponsel itu mati kehabisan daya.
"Yah ... yah, Ska! ponselnya mati," keluh Bianca.
Skala sedikit menengok ke belakang, melihat istrinya yang kebingungan dan mencoba mencari lagi petunjuk di dalam tas bocah itu, tapi sayangnya nihil.
Berhenti di lampu merah, Skala menoleh lagi untuk bertanya kepada dua bocah itu, siapa orang tuanya dan dimana alamat rumahnya.
Wajah keduanya terlihat sedih, tapi bibir mereka tersenyum saat berkata bahwa orang tuanya berada di surga.
"Kata ayah Hanhan, mama cama papa uda ada di sulga, bahagia!" ucap Cilla dengan sorot mata berbinar. "Cekalang, Cilla dan kak Ello cuma punya ayah Hanhan!"
Mendadak, selaksa rasa sesak menyeruak di dada Skala dan Bianca. Ternyata, ada anak yang nasibnya lebih miris dari kedua pasangan fenomenal itu. Ditinggal kedua orang tuanya sejak umur empat tahunan. Pasti hidup mereka sangat berat.
"Dada aku sakit banget lihat mereka berdua. Apa kita adopsi aja anak itu, Cha?"
Bianca langsung menepuk pundak Skala—kesal.
"Jangan aneh-aneh deh, Ska! Mereka bilang punya ayah, itu artinya sudah ada yang mengadopsi mereka berdua."
Skala menyengir kuda, melupakan rasa sesak yang sempat merasuki rongga dadanya.
"Eh, maaf, Cha! Soalnya hati aku sakit banget lihat mereka berdua. Rasanya sayang aja gitu, bawaannya pengin ngadopsi," ucap Skala karena belum tahu seberapa nakalnya kedua bocah itu.
"Dasar kamu!" Bianca merengut masam. Gemas sendiri pada suaminya.
"Mau ubi madu, mau ubi, huaaa!" rengek Cello saat mobil yang dikendarai Skala melewati penjual ubi manis itu.
Mau tak mau, Skala turun untuk membelikan apa yang anak itu minta.
"Kalian ingat ga alamat rumah kalian di mana?" tanya Bianca sambil mengupaskan ubi madu yang masih panas untuk Cilla dan Cello.
Kedua bocah itu menggeleng, meniup-niup ubi madu yang diberikan Bianca sebelum mereka suapkan ke dalam mulut.
"Apa kita bawa ke kantor polisi aja ya, Ca?"
Ide yang dilontarkan Skala terdengar di telinga kedua bocah itu. Alhasil, keduanya menangis dengan mulut penuh ubi madu.
"Ga mau ke kantol polici," rengek Cilla.
"Mau turun-mau turun!" sambung Cello yang juga ikut menangis.
Keduanya menolak secara bergantian. Bianca lagi-lagi memukul lengan Skala. "Udah ah diam aja kamu, ribet kan malah mewek lagi ini bocah dua."
"Gak Sayang! Gak jadi, Om Ska cuma bercanda kok, diam ya! Jangan nangis lagi, oke!" Bianca mengusap punggung Cilla dan Cello bergantian.
Melihat merk baju yang dipakai dua bocah itu, Bianca sadar bahwa Cilla dan Cello bukanlah anak orang biasa. Bianca yang seorang direktur perusahaan fashion jelas tahu perbedaan mana barang original dan KW.
Mulai dari Fendi, Dolce&Gabbana, sampai Burberry melekat di badan kedua anak itu. Jika ditotal, outfit satu anak itu berkisar lebih dari sepuluh juta rupiah.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan normal. Dalam diam, Skala memperhatikan sang istri yang tampak bahagia dengan kehadiran dua bocah imut itu.
Dua buah ubi habis, mereka tampak mengantuk setelah perutnya merasa kenyang.
"Ska, kayaknya mereka ngantuk ya?" Bianca mengelus-elus puncak kepala si kecil Cilla. Sementara Cello tampak anteng melihat ke arah jendela. Bermain dengan imajinasinya sambil melihat pohon dan gedung yang menurutnya berjalan sendiri.
"Elus-elus aja, Cha! Biasanya anak kecil paling suka digituin," ucap Skala.
"Kayak kamu, dong!" goda Bianca sambil mengedipkan matanya—nakal.
Benar seperti yang dikatan sang suami, gadis kecil itu mulai terpejam. Bianca langsung mengambil bantal untuk menyangga kepala Cilla agar tidak terbentur permukaan mobil.
Kini mata Bianca teralihkan, pada Cello yang matanya sudah memerah. "Kamu ngantuk juga 'kan?"
Tanpa ragu, bianca langsung meraih Cello dan menaruhnya dipangkuan. "Biasanya kalau yang satu gampang tidur, pasti yang satunya lagi susah tidur," gumam bianca sambil menimang-nimang Cello seperti anak bayi.
Detik berganti menit, mata anak itu mulai terpejam. Namun, tangan Cello mulai tidak bisa dikondisikan. Anak itu menyelusupkan jari-jemarinya melalui celah kancing milik Bianca.
"Ska, dia mau apa ini?" seru Bianca sambil tertawa.
Tangan Cello mengusap bukit yang bersertifikat resmi milik Skala, membuat sang pemilik melotot kesal karena ada monster kecil yang berani menjajah daerah kekuasaannya.
"Lepaskan tangan itu, Cha! Atau kupotong tangan mungil itu," ancam Skala lupa diri.
Bianca terkekeh pelan. Ingin ngakak tapi takut anak di pangkuannya terbangun.
"Cha!" Skala mendesah frustasi saat bibir Cello menempel pada gunung kiri milik Bianca. Tempat yang paling favorit milik Skala. "Jauhkan bibir itu, Cha!" teriak Skala murka.
"Ya ampun, Ska! Aku masih pakai baju loh! Masa kamu cemburu sama anak kecil?" Bianca tak bisa menahan tawanya. Tubuhnya bergetar sampai Cello sedikit terjaga. Buru-buru Bianca menepuk-nemuk punggung pria kecil itu—pelan.
"Singkirin tangan dia Ca! Atau aku ngambek," titah Skala dengan bibir manyun-manyun.
Saat Bianca menyingkirkan tangan Cello, anak itu terlihat merengek, membuat Bianca Panik lalu dengan sengaja meletakkan tangan Cello ke bukitnya.
"Ya elah Ca, ga rela aku, benar-benar ga rela." Skala mulai terlihat kesal.
"Udah deh Ska, yang penting anaknya tenang. Lagian bentar lagi kita punya bayi. Apa kamu juga akan marah kalau anak kita besok pegang-pegang dan menikmati aset aku?"
"Hah... jadi aku harus ngalah gitu? Oke katakanlah untuk anak kita, tapi enggak buat bocah itu, aku ga terima," ucap Skala penuh penekanan.
"Brisik, Ska! Aku sudah susah payah menidurkan anak ini. Kalau dia sampai bangun, kamu gak aku kasih jatah satu minggu."
Oh, bahkan Bianca berani mengancam Skala hanya demi bocah yang baru dia kenal satu jam.
Lagi, Cello selalu berhasil menjadi raja. Membuat beberapa hati pria patah hati sekaligus panas ketika melihat keberuntangannya.
***
Hello, jika kalian mau tahu seperti apa pasangan Fenomenal Bianca dan Skala, kalian boleh cek novelnya dengan judul Bukan Kontrak Pernikahan. Dijamin uye...
Hidup ngakak... jangan lupa komen dan vote yang banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
jumirah slavina
sabar Ska....
tar Anaconda tidak bs bertemu Piranha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-21
2
Arsyad Al Ghifari 🥰
Oalah ada cacamarica dan saketek di sini
2022-06-09
1
Just Rara
🤣🤣🤣skala ngambek,dan si cillo menang banyak
2022-06-02
1