"Akhp!" Lisa menutup mulutnya tidak percaya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya berhenti pada satu titik. Di mana ada pria yang sedang tidur di sampingnya dengan keadaan bertelanjang dada.
"Ya Tuhan, apa yang telah terjadi?" Teriakan Lisa menggema nyaring di ruangan itu. Membuat sosok pria lelah yang ada di sampingnya merasa terganggu.
"Tuan ... apa yang kau lakukan padaku, Tuan?" Lisa menggoyang-goyangkan tubuh Farhan. Menunggu sebuah konfirmasi dari si pemilik tubuh kekar yang masih terpejam.
"Eugh," desah Farhan sedikit terkejut. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa rapat.
"Tuan apa yang kau lakukan padaku?"
Tanpa pikir panjang, Lisa menubruk tubuh Farhan yang belum sempurna terjaga. Gadis itu merengek seperti anak kecil minta permen.
"Tuan, aku tidak menyangka kita bisa seperti ini. Maafkan aku Tuan, semalang aku terlalu pusing, hingga aku memutuskan untuk membeli sebotol anggur dan mencobanya. Tuan, meskipun aku tidak cantik, tidak menarik apalagi anggun, setidak aku masih suci sebelum kau renggut keperawananku. Kau harus bertanggung jawab, Tuan. Ayo kita menikah sekarang juga."
"Ehemmm!" Farhan berdeham keras. Pelukan Lisa terasa mengusik sesuatu yang harusnya masih aman di dalam sangkarnya.
"Tuan, apa kau tega melihat keadaanku seperti ini? Aku tidak punya siapa-siapa. Kesucianku direnggut. Bagaimana aku bisa menjalani hidup, Tuan?"
"Lisa!" Nada suara Farhan sedikit meninggi.
"Jangan salah paham dulu! Lepaskan tanganmu dari tubuhku, aku tidak nyaman jika menjelaskan dengan posisi seperti ini."
"Eh!" Lisa langsung melepas pelukannya dari tubuh Farhan. Gadis itu menatap Farhan dengan takut-takut. Ada rona merah di pipinya saat melihat tubuh berharga Farhan yang menusuk-nusuk mata Lisa. Terlihat indah, kekar, dan juga bentuknya kotak-kotak persis roti sobek. Oh, apakah Lisa telah berhasil menikmati tubuh itu semalam.
"Kenapa kau begitu yakin kita melakukan apa-apa? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwan aku misophobia impotent?"
Astaga! Lisa mendadak tertusuk pedang panjang seorang kapiten. Bulu-bulunya meremang—ngeri. Apa yang terjadi dengan Lisa semalam? Apa Lisa telah membuat kekacauan yang sangat fatal? Pikiran Lisa tidak karuan saat ini.
"Tuan, maafkan saya. Saya sungguh tidak mengerti dengan apa yang Tuan katakan."
"Cih!" Farhan berdecih sinis. "Jika kau berani mabuk sekali lagi, aku akan memenjarakanmu, Lisa!" gertak Farhan emosi.
"Tunggu dulu, Tuan. Saya masih belum mendapatkan jawaban. Apakah artinya semalam kita tidak melakukan itu-itu?" Kedua jari telunjuk Lisa saling menyatu—menunjukkan tanda 'itu' yang ada di pikirannya.
"Bagaimana mungkin, Lisa? Kau sudah mengklaim bahwa aku seorang pria impotent. Mana ada impotent yang bisa melakukan hal seperti itu?"
Plak! Lisa memukul bibirnya sendiri. Matilah aku, apa sebenarnya yang telah terjadi denganku semalam? Kenapa firasatku tidak enak begini?
Setelah memutar otaknya, Lisa berkata kembali, "Tapi kenapa saya bisa tidur di kamar Anda,Tuan?"
"Saat aku tidur semalam, kau muntah di bajuku. Aku sudah tidur pada saat itu, jadi hanya reflek membuka baju dan tidur lagi. Jangan berpikir aneh-aneh, aku tidak mungkin menyentuhmu."
Yah, kenapa tidak menyentuh? Apa aku terlalu tidak menarik di matanya? Ini sama sekali tidak sesuai dengan skenario yang sering aku baca di komik 21+, gerutu Lisa di dalam hati.
Semenjak Farhan menyuruh Lisa menjauh pacarnya, Lisa merasa bahwa Farhan menaruh perasaan padanya. Lisa semakin terpana akan pesona Farhan. Apalagi sikap Farhan yang selalu tegas dalam mendidik Lisa. Tanpa ia sadari benih-benih rasa yang belum jelas itu datang. Ada setitik harapan di hati Lisa—bahwa orang yang ada di hadapannya juga memiliki perasaan padanya. Meski itu sepertinya mustahil. Karena baru-baru ini Lisa mendengar bahwa Farhan tidak memiliki skandal percintaan dengan wanita manapun. Bahkan ia memiliki Katy dan Rico yang selalu menyingkirkan penggemar gilanya. Apalah arti sebuah Lisa di mata Farhan, hanya semut yang tak terlihat dari atas helikopter.
"Maaf Tuan, aku pikir Tuan tidak pulang. Jadi aku menghabiskan malam minggu kelabuku dengan mabuk di rumah sendirian. Toh Anda melarangku pacaran," pancing Lisa jujur apa adanya.
"Aku melarangmu pacaran karena untuk kebaikanmu. Tidak ada maksud lain. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri."
Anak? Mengapa aku sangat sakit mendengar itu, Tuan. Siapa yang mau menjadi anakmu? Aku tidak sudi. Jika kau ingin anak kita bisa membuatnya bersama, Tuan.
"Ah, mengenai yang semalam... aku masih memikirkan hukuman yang pas untukmu. Selain itu, aku juga akan menuntutmu atas semua umpatan dan tuduhanmu."
"Huaaaa ... Tuan, kau jahat sekali."
"Mulutmu jauh lebih jahat, Lisa."
"Tuan, mengenai apa yang aku katakan semalam. Itu hanyalah salam paham. Apa tidak bisa dimaafkan? Baiklah, aku akan menerima hukuman apapun darimu. Asal jangan di masukkan ke dalam penjara."
Farhan nampak berpikir keras sebelum menjawab. "Hanya ada satu hukuman untukmu, Lisa."
"Apa Tuan? Katakanlah."
"Mati di tanganku."
"Huahh." Lisa semakin menjerit heboh. "Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Tolong bebaskan aku untuk kali ini saja. Aku mohon ampun, Tuan.
"Tidak semudah itu, kesalahanmu kali ini terlalu banyak untuk dimaafkan. Bahkan aku bingung harus mulai menghitung dosamu dari mana."
Farhan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Pria Miso ini benar-benar menakutkan. Apa kau adalah titisan dewa maut, Tuan?
Hening sesaat. Ada sekitar dua menit Lisa terperangkap dalam situasi penuh kecanggungan.
"Tuan," panggil Lisa sekali lagi. "Lagian itu hanyalah omongan dari gadis polos yang sedang ngambek. Apapun yang aku katakan semalam, anggap saja hanya angin yang berlalu."
"Ah, maksudmu tentang penghinaanmu padaku? Impotent?" tegas Farhan dengan kernyitan mengerikan di dahinya. Bibirnya menyungging sinis bersamaan dengan alis yang dinaikkan satu.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud menghinamu seperti itu. Tapi jika yang kukatakan ada benarnya, aku bisa membantumu, Tuan. Aku memiliki kenalan dokter spesialis kelaamin. Aku yakin impotentmu akan sembuh."
Mendengar itu, Farhan langsung naik pitam seketika. Ada kumpulan asap fatamorgana yang mengepul di otaknya saat ini.
"Kenapa tidak kamu saja yang mengobati. Ayo kita obati sekarang? Habis itu kau akan mati dengan tenang di tanganku. Sudah lama juga aku tidak mengotori tanganku. Jangan berharap aku akan bertanghung jawab, aku bukan orang seperti itu."
"Tu ... tuan," lirih Lisa ketakutan.
Farhan mencengkeram kedua tangan Lisa—kuat. Memposisikan tubuhnya di atas Lisa dengan gaya terhoror sedunia. Yang tentunya ia hanya ingin menggertak untuk melihat sejauh mana keberanian gadis itu.
"Tuan, jangan begini. Aku takut." Farhan terlihat antusias dan tidak peduli.
"Ampun, Tuan."
Lisa mencari-cari di mana keberaniannya berada. Baru tadi ia mengharapkan ada adegan itu-itu pada malam hari. Namun, paginya ia ketakutan sendiri dengan aksi Farhan. Membuktikan bahwa yang ada di pikirannya hanyalah keinginan palsu. Buktinya ia ketakutan sekarang.
Tubuh Lisa gemetar hebat. Keringat sebiji jagung membasahi pelipis hingga menetes ke ujung rambut. Ia sudah pernah melihat bagaimana Farhan marah pada sekertarisnya, Rico. Pria itu tidak suka kesalahan. Itulah yang Lisa pahami dari Farhan, ia tak segan-segan menyakiti orang lain jika pekerjaan mereka dalam masalah.
"Cincin itu?" Tiba-tiba Farhan menghentikan aksi menakut-nakuti Lisa saat melihat cincin yang melekat di jari manis gadis itu.
"Cincin?" Lisa langsung bangun ketika mendapat posisi aman. Gadis itu berguling hingga menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. Sementara Farhan masih di atas kasur mengatur nafasnya yang naik turun belum teratur.
"Kenapa kau memakai cincin itu di jari manismu?"
Bengong sesaat, Lisa mendadak bingung dengan perubahan ekspresi Farhan dari gaya macan menjadi kucing. "Ah, karena ini yang paling cocok. Tadinya ada di tengah, tapi sudah tidak muat lagi."
"Kenapa tidak di buang saja?"
Lisa menatap Farhan—bingung. Gadis itu bangun dari duduknya, memposisikan tubuhnya berdiri dengan jarak lima meter dari jangkauan Farhan.
"Bukankah di dalam cincin ini ada alat pelacak? Tuan yang menyuruhku memakainya terus, bukan?"
Alat pelacak? Ck. Padahal itu hanya akal-akalan Farhan agar Lisa tidak salah mengartikan. Farhan ingin memberi hadiah ulang tahun untuk Lisa, namun ia gengsi. Jadilah sebuah alasan tidak masuk yang membuat Lisa percaya hingga detik ini.
"Oh, aku lupa," jawab Farhan pura-pura.
Ia memang tidak pernah memperhatikan Lisa dengan detail. Tidak penting bagi Farhan.
"Eum, Tuan. Saya akan buatkan sarapan untukmu. Permisisi."
Lisa berlarik menuju pintu secepat kilat.
"Hei, tunggu! Kenapa kau ketakutan seperti itu?" Farhan menatap Lisa aneh.
"Saya tidak takut hanya saja saya merasa canggung dan tidak nyaman."
"Kenapa?" tanya Farhan.
"Itu Tuan!" Lisa menunjuk selimut yang tersingkap. "Mata saya tidak nyaman dengan boxer spongebob yang Tuan kenakan."
"Uhukk!" Farhan terbatuk—malu. "Keluar kau dari kamarku!" bentaknya kemudian. Lisa langsung gelagepan dan segera memutar kenop pintu. Lalu menghilang setelah ada bunyi pertanda pintu ditutup.
Ah, sial. Kenapa dia harus melihat yang satu ini? Farhan menggeram dalam rasa malu.
***
Hoam, kasih komen yang baik-baik ya... biar mood aku buat ngelawak balik lagi. Jujur aku kehilangan humorku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
jumirah slavina
lha....
sentuh Akoeh....
sentuhhh Akoehhhhhhh...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤪🤪🤪🤪
2024-11-20
2
jumirah slavina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-20
2
👻Yusuf🦖
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-12
1