Jujur saja, meskipun Lisa sering memakaikan dasi, memasak makanan, dan bahkan menyiapkan air hangat untuk Farhan mandi, namun gadis itu tidak pernah melihat apalagi mencuci baju dalaman Farhan. Tugas Lisa selama ini hanya menjaga apartemen dan bersih-bersih. Tidak pernah mencuci atau melaundry baju Farhan sepotong pun. Pria itu bisa mengerjakannya sendiri jika hanya masalah baju.
Setelah berpikir seribu kali, gulang-guling dengan rasa malu, akhirnya Farhan memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Cacing-cacing yang bernyanyi di perut Farhan memaksa pria itu agar segera mengisinya dengan makanan.
"Tuan!" Lisa menelan saliva saat Farhan keluar dari kamarnya. Beruntung ia segera membereskan kekacauan rumah sebelum Farhan keluar. Tidak peduli dengan mual dan pusing efek mabuk semalam, Lisa harus bertanggung jawab untuk mengembalikan keadaan rumah seperti semula.
"Farhan berjalan tak acuh melewati Lisa. Pria itu mengambil segelas susu lalu duduk di meja makan.
Cih! Lisa mendengkus—kesal. Selalu saja seperti ini. Tidak dianggap sebagai mahluk bernapas meski tinggal di bawah atap yang sama.
Menghampiri Farhan yang tengah duduk, Lisa menarik kursi lalu ikut bergabung di kursi depan Farhan. Tak lupa ia memasang tampang seanggun mungkin. Berharap hati Farhan luluh melihat wajah bersalahnya. "Tuan, maafkan kelakuan sayang tadi malam. Saya sungguh menyesal, Tuan. Saya berjanji tidak akan mabuk lagi."
Farhan mengambil roti tawar dengan selai coklat yang tergeletak di atas piring. Lagi, ia tak bergeming kecuali makan dengan gaya batu bernapas.
"Tuan," desah Lisa frustasi.
Merayu seorang Farhan tak semudah membujuk anak TK. Demi Tuhan, seseorang yang irit bicara jauh lebih menyeramkan dari apapun. Gayanya yang keren sekaligus memancarkan sensasi maut, membuat Lisa harus pintar-pintar menaklukan pria menyebalkan itu.
Setelah memakan sepotong roti dan segelas air susu. Farhan beranjak pergi menuju ruang olahraga. Pria itu masih tetap sama, mengabaikan Lisa seolah gadis itu tak kasat mata.
"Daripada mikirin si Miso, lebih baik aku beres-beres agar gila bersih itu senang." gumam Lisa setengah stress. Gadis itu membereskan bekas piring dan gelas milik Farhan. Membawanya ke dapur dan hendak mencucinya.
Prank!
Farhan menghentikan kegiatannya saat ia mendengar ada benda jatuh seperti kaca. Pria itu mendesah kesal sambil berjalan ke arah sumber suara. Lisa ... perempuan itu selalu saja membuat masalah jika Farhan di rumah. Ada saja tingkahnya, jatuh, kepentok meja, tekena pisau, dan ...
Astaga!
Farhan langsung berlari ketika melihat lumuran darah di kaki Lisa. Sebuah kaca yang sepertinya bekas pecahan beling menancap di telapak kaki Lisa. Cukup dalam dan mengerikan. Bahkan, gadis itu mulai menangis dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Pria itu langsung menggendong Lisa yang sedang terduduk di lantai, lantas mengambil kotal obat yang ada di laci kamarnya.
"Jangan!" seru Lisa saat Farhan hendak mencabut serpihan beling di kaki Lisa.
"Tahan bodoh, ini hanya sebentar!" rayu Farhan dengan nada membentak. Sungguh itu sama sekali bukan tutorial menenangkan wanita kesakita. Namun, bagi Farhan itu sudah cukup lembut.
"Jangannn!" teriak Lisa lebih keras. Saking ketakutannya, gadis itu menendang dada Farhan hingga terjungkal.
"Shiit!" geram Farhan murka. "Apa kau ingin mengoleksi beling di kakimu, itu?" tanya Farhan dengan nada membentak. Tangan kirinya memegang bagian dada yang masih sakit karena hantaman kaki Lisa. "Aku sedang menolongmu. Apa begitu caranya membalas perlakuan orang yang menolongmu?"
"Ma-maaf Tuan, saya sungguh takut," isak gadis itu tak kuasa. Sudah sakit, tertimpa gajah pula. Sudan menderita, di marahi pula.
Farhan mendengkus kesal. Mencoba bersabar menghadapi gadis itu sekali lagi. "Tutup matamu. Coba bayangkan sesuatu yang indah-indah."
Lisa menurut seraya mengangguk. Gadis itu menutup matanya selagi Farhan mencoba mencabut beling dan menyiramkan cairan alkohol di kaki Lisa.
"Arghh!" teriak Lisa memekik. Matanya terpejam kuat karena menahan ngilu dan perih di telapak kakinya.
Dasar bocah manja, gerutu Farhan dalam hati.
Lima menit berlalu, Farhan membanting tubuhnya di samping Lisa setelah selesai membalut luka gadis itu. Farhan duduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Memijit pelipisnya yang mendadak terasa pusing.
"Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik meski saya sering berbuat salah di rumah ini."
"Akhirnya kau sadar juga, ya!"
Cih! Lisa sungguh menyesal pura-pura bersalah. Farhan terlalu percaya diri saat memandang kesalahan seseorang.
"Maaf saya, Tuan." Entah sudah berapa kali Lisa mengucapkannya, hanya kata itu yang pantas keluar dari bibir Lisa meski ia tahu Farhan tak peduli. Setidaknya ada obrolan untuk menutupi kecanggungan antar majikan dan tawanan pembantu seperti dirinya.
"Oh ya, mulai besok kau akan tinggal sendiri sampai kuliahmu selesai. Aku harus segera kembali ke Indonesia, tugasku sudah selesai di sini." Farhan memicingkan matanya sinis. "Apakah kau senang?"
"Eh, tidak Tuan. Saya hanya bisa mendoakan semoga Tuan sehat-sehat di sana," ucap Lisa terbata. Dalam hati ia berteriak hore. Meskipun sedikit ada rasa, namun perasaan muak lebih banyak menyelimuti gadis itu. Farhan terlalu menyeramkan. Apalagi jika Lisa sampai melakukan kesalahan. Selalu tidak ada ampun. Beruntung saja, kakinya yang mendadak luka ini berhasil menyelamatkan Lisa dari amukan Farhan.
"Ingat pesanku. Fokus pada kuliah. Dilarang berpacaran sebelum kuliahmu selesai. Semua fasilitas yang aku berikan tidak gratis. Kau harus membayar semua itu dengan bekerja di kantorku nantinya."
"Baik Tuan, saya akan belajar lebih giat lagi."
Hening sejenak, diam-diam Lisa mencuri pandang pada sosok pria yang ada di sampingnya. Farhan terlihat tampan meski usianya menginjak angka tiga puluh. Hidungnya tegak menantang, degang bulu mata lentik dan garis rahang tegas miliknya.
Kok ada om-om setampan dirimu sih, Tuan? batin Lisa yang hatinya mulai bergejolak.
Otaknya travelling memikirkan kejadian semalam. Saat mereka tidur di ranjang yang sama. Gadis itu masih sedikit heran, apakah Farhan pria normal?
"Tuan," panggil Lisa takut-takut.
"Hmmm." Farhan membalas dengan dehaman.
"Benarkan semalam kita tidak melakukan apa-apa?" pancing Lisa. Sejujurnya ia takut, tapi rasa penasarannya lebih besar dari apapun. Lisa ingin tahu apakah Farhan masih lelaki normal seperti pada umumnya.
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa padamu?" Lisa menunduk malu. Menyembunyikan rona merah pada pipinya.
"Bukan begitu. Biasanya ... jika lekaki itu memang memiliki hasrat normal, pasti ia akan melakukan hal seperti itu pada gadis yang tengah mabuk."
"Apa kamu bilang?" Sorot mata Farhan mulai berapi-api. "Setelah kau mengataiku impotent, sekarang kau berani menuduhku homo?" Farhan bertepuk tangan—sengit. Selayaknya anak kecil yang ngambek, pria itu langsung bangkit dan kembali masuk ke kamarnya sesegera mungkin. "Satu bulan ini kau jalan kaki ke kampus,"
"Tuan!" Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Lisa semakin paham betapa mengerikannya berhadapan dengan pria itu. Siap-siap menempelkan koyo pada kaki setiap hari, Farhan tidak pernah main-main saat menghukum bawahannya.
Orang bilang, jika ada laki-laki dan perempuan berduaan, yang ketiga adalah setan. Namun beda cerita jika yang jadi pihak lelaki adalah Farhan. Setan pun sudah takut duluan ketika hendak menggoda laki-laki itu.
Menurut Lisa, Farhan lebih setan daripada setan.
***
Jangan lupa like, komen, vote, biar nulisku gak sia-sia. Lupakan yang telah lalu. Jangan ada dosa diantar kita. Ingat semboyan itu gengs... 😍. Meskipun bukan pacar, aku lagi berusaha membahagiakanmu. Oke..
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
👻Yusuf🦖
baca berkali kali gk bosen
2024-08-12
2
👻Yusuf🦖
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-12
0
Jerny Hutabarat
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2023-11-03
0