Klik!
Pintu apartemen terbuka. Lisa yang sedang duduk di ruang tamu sambil makan mie instan langsung terlonjak kaget saat mendengar suara. Buru-buru ia menurunkan kedua kakinya yang ditaruh ke atas meja.
"Ehemm!" Terdengar dehaman lelaki yang tidak asing lagi, hanya dengan suara kecil itu saja Lisa bisa mengetahui siapa sosok mengerikan di balik punggungnya.
Lisa menoleh dengan perasaan takut yang luar biasa. Benar kan! Si Tuan mengerikan yang sudah lama tidak ia jumpai datang, lengkap dengan asisten Rico yang tak kalah menyebalkannya.
Mau apa tuan tidak manusiawi ini datang? Lisa bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan ketar-ketir.
"Selamat siang, Nona Lisa." Rico yang menyapa, sementar Farhan hanya berlalu dan mencari tempat duduk sesegera mungkin. Nahasnya pria mengerikan itu duduk tepat di hadapan Lisa.
"Selamat siang, Pak Rico, Tuan Farhan." Lisa merendahkan tubuhnya empat puluh lima derajat sebagai bentuk kesopanan, lalu duduk dan menaruh mie instannya di kolong meja.
"Maaf, kalau boleh tahu ada apa ya, Tuan Farhan dan Pak Rico datang ke sini?"
"Memangnya aku tidak boleh datang ke rumahku sendiri?" Farhan tersenyum smirk dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Bo ... boleh, Tuan." Menjawab dengan takut, lantas Lisa berdiri dan hendak pergi ke dapur. "Biar saya buatkan minuman terlebih dahulu." Lisa segera kabur dari situasi mencekam itu.
Bagaimana dengan Rico? Pria itu mendadak putus asa melihat sikap bossnya yang selalu datar. Jadi begini cara ia merayakan ulang tahun Lisa, mirip sekali dengan eksekusi mati. Bahkan Rico bisa merasakan betapa takutnya gadis itu.
Cih! Lupakan kesalahpahaman Rico yang mengira Farhan sedang jatuh cinta. Boss yang satu ini mana mungkin akan jatuh cinta pada gadis seperti Lisa. Meskipun ia tidak kenapa Farhan merayakan ulang tahun Lisa, Rico yakin bukan cinta alasannya. Apalagi setelah melihat sikap Farhan yang acuh tak acuh.
"Mana hadiahnya?" Farhan melirik sedikit dengan sudut matanya, lantas Rico segera mengambil kotak perhiasan yang ada di dalam tasnya.
"Ini Tuan, mau di taruh di mana?"
"Di lantai!" Menjawab dengan sewot. Farhan melengos dan memperhatikan ruangan yang tampak bersih. Bagus, gadis itu tidak membuat hati Farhan panas dengan tampilan rumahnya yang kotor.
"Maaf Tuan," ucap Rico sambil menaruh kotak itu di atas meja.
Bodoh! yang begitu saja aku tanyakan. Rico.
Tak lama kemudian, Lisa datang membawa minuman dingin dengan tiga piring siomay. "Maaf, hanya ada siomay dan air putih dingin," ucap Lisa dengan santun. Lalu meletakkannya dengan hati-hati ke atas meja.
"Apa kau berniat meracuniku lagi dengan makan aneh ini?" Farhan bertanya sinis, namun tangannya dengan sigap mengambil satu tusuk siomay dan memasukannya ke dalam mulut. Mengunyah dengan ekspresi datar tanpa komentar.
"Tidak Tuan, ini bikinan saya, saya juga sudah makan, kok." Lantas Lisa ikut mengambil sepiring siomay. Memakannya untuk memastikan itu aman. Walau bentuknya tidak menyerupai siomay yang dijual oleh pedangan siomay.
Suasana semakin mencekam. Rico mengambil sepiring siomay buatan Lisa dan makan dengan lahapnya. Sesekali ia memperhatikan Farhan yang selalu memasang wajah mengerikan. Mungkin gadis itu akan mati ketakutan sebentar lagi.
Tiga piring siomay sudah habis tanpa tersisa, karena rasanya yang enak, suasana hati Farhan mendadak hangat setelah memakannya. Lisa ke dapur untuk menaruh piring kotor, lantas kembali lagi menemui tuannya yang masih duduk santai di ruang tamu.
Mau apa sih, mereka? Menggangu saja. Ya ... ya ... ini memang rumahmu, tapi datanglah dengan aba-aba. Menyebalkan! Lisa kembali ke ruang tamu. Pura-pura bahagia dengan kedatangan si tuan rumah.
Untung sudah makan siomay, jadi pura-pura bahagianya tidak terlalu berat.
"Jadi, kedataangan kami ke sini adalah untuk merayakan ulang tahun, Nona." Rico berkata.
"Ulang tahun?" Menyerngit heran, lantas Lisa kembali duduk dan berkata, "Sepertinya tidak ada yang kalian tidak tahu tentangku, ya. Kalau begitu mana kueh dan lilinnya? Apa Pak Rico membawanya?"
Rico tergagap seketika, ia sama sekali tidak ingat dengan benda penting itu. Lagian, ini sama sekali tidak cocok disebut ulang tahun. Si pembuat ide yang hendak merayakannya saja diam dengan ekspresi datar. Seperti sedang merayakan upacara kematian.
"Jangan ngelunjak, pilih salah satu dari cincin ini yang cocok di jarimu. Tidak ada lilin dan kue. Kau bukan anak bayi." Dilemparkannya cincin itu kepangkuan Lisa oleh Farhan.
"Baik Tuan," ucap Lisa dengan tangan gemetar.
Lisa membuka kotak itu dengan hati-hati, mendadak mulutnya ternganga begitu melihat isinya. 12 model cincin sama dengan aneka ukuran, yang dilihat sekilas saja ia sudah paham kalau cincin itu pasti berlian asli.
"Maaf Tuan, sepertinya saya tidak pantas mendapatkan hadiah ini." Lisa menyodorkan kotak itu sebagai bentuk penolakan.
"Kau berani menolak pemberianku?" tangannya terkepal dengan wajah emosi, Farhan menatap Lisa dengan alis yang menikuk tajam.
"Bu ... bukan begitu, Tuan." Gemetar-gemetar takut, Lisa meremas celana kulotnya. "Itu terlalu mewah, dan juga cincin adalah benda yang pantas diberikan untuk orang tersayang. Misal pacar atau istri, Tuan Farhan."
"Uhuk ... uhukk ... uhukk!" Farhan langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Ditatapnya Rico dengan geram. Seolah ia ingin minta pertanggung jawaban asisten yang telah mengusulkan hadiah sialan itu.
"Begini nona Lisa, cincin ini bukanlah sembarang cincin biasa. Ada alat penyadap untuk memantau Anda agar tidak kabur."
Reflek Farhan dan Lisa menoleh kaget. Terkesan gila, tapi Rico harus menyelamatkan harga diri tuan Farhan demi kepentingan dirinya sendiri.
"Jadi kado ulang tahun saya adalah alak penyadap. Ck. Saya tidak akan kabur Pak Rico. Tidak perlu menggunakan alat ini," tolak Lisa dengan halus. Mau kabur kemana juga, jadi pembantu Farhan sedikit lebih baik daripada tinggal dengan bibi dan pamannya. Dalam catatan—asal pria itu tidak datang.
"Terima dan pakailan, jangan membantah!" gertak Farhan yang semakin memperkeruh suasana.
Lisa langsung mengambil salah satu cincin itu dan memakainya di jari tengah. Ada senyum kemenangan di dalam hati Farhan saat melihatnya.
"Saya sudah pakai cincinya, Tuan. Bagus sekali, terima kasih." Memuji dengan cepat demi keselamatan nyawanya. Diikuti senyum canggung yang terpaksa Lisa lakukan.
"Baguslah jika kau suka. Apa kau tidak ingin berterima kasih padaku karena sudah meluangkan waktu berharga untuk ulang tahunmu yang tidak penting ini?"
"Terima kasih karena telah datang di hari ulang tahun saya, Tuan."
Cih! Siapa yang butuh anda datang. Kehadiranmu membuat leherku seperti tercekik tahu! Nyawakupun rasanya seperti di ujung tanduk.
"Bagus. Kalau begitu persiapkan dirimu. Bulan depan kau akan ikut aku pindah ke Amerika."
"Apa!" bentak Lisa terkejut.
"Kau berani menyentakku?"
Lisa langsung menampar mulutnya yang kelewatan, lantas melepas senyum garingnya. "Hehehe. Bukan begitu Tuan, untuk apa saya ke Amerika?" tanya Lisa yang masih tidak percaya.
"Ehemm." Farhan melirik Rico. Pria itu langsung paham dan menjelaskan tugasnya.
"Tuan Farhan harus menjalankan bisnisnya di Amerika selama tiga tahun bisa lebih. Itu artinya, Nona Lisa harus mengikuti Tuannya, bukan?"
Sebenarnya ini adalah tugas adik angkatnya William, karena istrinya hamil, jadilah Farhan yang harus menggantikannya mengurus bisnis di Amerika.
"Tapi Pak Rico? Bagaimana dengan kuliahku? Aku kan juga butuh pendidikan." Karena niatnya Lisa ingin bekerja sambil kuliah. Toh merawat rumah ini tidak begitu merepotkan.
"Apa kau pikir di Amerika tidak ada tempat belajar?" timpal Farhan dengan nada tegas.
"Eh, Tuan. Maaf, tapi apa tidak mahal kuliah di sana, keluargaku tidak akan mau membiayainya. Aku saja harus mencari beasiswa dan kerja sambilan jika ingin melanjutkan kulian," keluh gadis itu.
"Sebagai asisten rumah tangga, kau hanya perlu menjalankan tugasmu. Tidak perlu memikirkan biaya."
"Baik Tuan!" Mengangguk patuh dengan hati girang. Ia tidak menyangka akan bernasib seberuntung ini. Bisa kuliah di Amerika, sebuah kenyataan yang masih terasa mimpi baginya.
"Baiklah. Selama kita di Amerika ... hiduplah tak terlihat, kurangi komunikasi denganku jika tidak penting."
"Baik Tuan."
Cih! Siapa juga yang mau cari muka atau berkomunikasi dengan orang menyebalkan sepertimu, Tuan.
Karena ide berbohong Rico beberapa tahun silam, sampai detik ini Lisa masih salah paham. Mengira cincin itu adalah cincin penyadap.
***
Aku up banyak, jangan lupa like dan komen. Kalo lupa balik lagi biar aku gak ngambek. Votenya yang banyak ya, jan lupa😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
👻Yusuf🦖
dasar batu bernapas🤣🤣🤣🤣
2024-08-14
0
Clueless Kitty
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-10-08
0
Just Rara
🤣🤣🤣bos sm asistennya sama somplak😄😄😄
2022-06-03
0