Byurrrr!
Lisa menyiram wajah Farhan dengan segelas air putih yang ia sambar di atas nakas. Menimbulkan efek gelagepan dan hati Farhan yang semakin murka. Meraup bekas air yang ada di wajahnya, Farhan merebut dan melempar gelas itu ke arah tembok. Membuat gadis yang ada di depan Farhan ketakutan dengan balasan perlakuan Farhan.
"Beraninya kau!" bentak Farhan menggila. "Apa kau sudah lupa siapa aku?"
"Ya, aku tahu siapa kamu. Kau orang yang pernah tidak sengaja kuracuni dengan obat warung. Lalu menghukumku seenaknya jidatmu. Kau pria jahat dan kejam yang selalu gila kedisplinan!"
"Huhh," desah Farhan frustasi. Berhadapan dengan wanita mabuk ternyata semengerikan ini. Ia pikir hanya Jennie satu-satunya wanita yang mampu meluluhlantahkan dunianya. Ternyata ada satu spesies lagi. Yang tidak pernah dianggap penting dan tak tampak di mata Farhan selama ini.
Brughhh!
Lisa menjatuhkan tubuhnya di bawah kaki Farhan. Gadis itu menunduk dan mulai menangis. Entah drama apalagi yang hendak ia perankan.
"Kenapa lagi kau?" Farhan semakin tidak mengerti. Ia sudah bersiap-siap merekam semua umpatan Lisa, namun di luar dugaan gadis itu malah menangis tanpa sebab.
"Apa nasibku hanya sebatas ini, hikss. Hidupku selalu berada di bawah perintah orang berkuasa. Selalu ditindas dan dihakimi sesuka hati mereka. Apa tidak ada cahaya setitikpun untuk gadis yatim piatu sepertiku?"
Lisa mendongak dengar raut wajah yang mengiba. Menurunkan amara Farhan yang tadinya berada di level sepuluh. Kata yatim piatu terlalu menusuk untuk Farhan. Apalagi ada imbuh gadis terbuang. Membuat Farhan merasa memiliki nasib yang sama dengan gadis itu.
"Apa tidak ada manusia yang bisa mencintaiku dengan tulus?"
Mungkin ada, tapi bukan Farhan pastinya. Begitulah otak Farhan menanggapi perkataan Lisa.
"Bangunlah! Bersikap menyedihkan tidak akan mampu membuat seseorang menjadi sukses."
Lisa bergeming, seolah perkataan Farhan dianggap tiupan angin yang berlalu begitu saja.
Mendesah berat, Farhan ingin mencakar tembok ketika menghadai situasi macam ini. Ia paling tidak suka menghadapi gadis yang menangis. Selain Jennie, tidak pernah ada gadis yang pernah menangis dihadapan Farhan sebelumnya.
"Bangunlah, kau masih terlalu kecil untuk mengerti kerasnya hidup. Suatu saat, kau akan tahu kenapa aku memperlakukanmu dengan keras. Aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan hakmu. Setidaknya, pelayanan yang kau berikan untukku akan setimpal dengan apa yang kukembalikan nanti. " Farhan mendudukkan dirinya di kasur.
Sementara Lisa masih terpuruk dalam kepala yang terus menunduk. Tentunya gadis itu tidak akan mengerti dengan penjelasan panjang lebar yang diucapkan Farhan. Apalagi ia dalam pengaruh alkohol yang sangat kuat.
"Bedebah!" teriak Lisa sekuat tenaga. Dalam sekejap, tempramen gadis kembali naik. Mata tajam Lisa menyoroti Farhan penuh kebencian. "Aku benci manusia arogant sepertimu, Tuan Farhan!"
"Jika kau tidak suka denganku, mengapa kau selalu bersikap patuh seperti kucing? Selai strawberry bukanlah hal yang penting untukku, tapi itu sangat penting bagimu. Aku sedang mengajarkan sebuah kedisiplinan dan ketelitian padamu. Jika mengerjakan tugas rumahan seperti itu saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin kau akan bertahan dalam mengurus perusahaan nantinya? Ketelitian dan kedisiplinan adalah hal yang utama, wahai gadis kecil!"
Ah, Farhan memijit pelipisnya yang terasa pusing. Harus ia apakan gadis mabuk ini. Keadaan Lisa sama sekali tidak nyaman dipandang oleh mata laki-laki single sepertinya. Rambut acak-acakkan, pakaian yang terbuka dan jiwa yang lemah tentunya. Jika pria yang melihat keadaan Lisa bukanlah Farhan, gadis itu akan habis malam ini juga.
Mata Farhan beralih pada telepon rumah di yang bertengger di atas nakas. Pria itu berjalan pelan. Meraih gagang telepon dan mulai menghubungi sekertaris perempuannya.
"Hallo, Kat! Bisakah kamu ke apartemenku sebentar? Aku butuh ban—"
Bugh!
Sebuah benda keras menghantam bagian kepala belakang Farhan. Pria itu mengaduh kesakitan, gagang telepon di tangangannya jatuh dan sambungannya terputus.
"Gadis gila!" teriak Farhan menggila murka. Kepalanya semakin pusing akibat pukulan keras yang Lisa lakukan.
Apakah ini yang disebut karma? Farhan memang sering memukuli anak buahnya jika mereka salah. Tapi yang dipukul adalah seroang laki-laki. Mengapa karma itu harus datang dari perempuan?
Mata Farhan melirik tangan Lisa, si gadis sialan itu ternyata memukul Farhan dengan tongkat base ball yang terpajang di sudut kamar Farhan.
"Aku benci kamu, Farhan! Kau terlalu semena-mena menindasku. Bahkan, kau melarangku untuk berpcaran dengan orang yang aku anggap lebih baik darimu. Cih, bodohnya saat itu aku berpikir bahwa kau melarang karena menyukaiku. Nyatanya, aku menemukan fakta bahwa Tuan Farhan yang berharga tidak pernah menyukai wanita."
"Cinta adalah sesuatu yang membuat seseorang menjadi lemah, maka dari itu aku melarangmu memiliki hubungan sebelum tujuanku dalam mendidikmu tercapai. Apa kau mengerti?"
"Ya, aku mengerti!" Kali ini Lisa menjawab nasihat Farhan dengan benar dan tegas. "Maka dari itu aku lemah, lemah terhadapmu."
Deg. Jantung Farha nyaris lompat dari tempatnya. Apa ini yang di namakan sebuah pengakuan cinta? Tapi Farhan sama sekali tidak paham dengan ciri-ciri orang yang jatuh cinta. Selain menurut, tidak ada tanda-tanda bahwa Lisa mencintai Farhan. Gadis itu selalu bersikap selayaknya atasan dan bawahan. Tidak pernah lebih dari itu.
Kecuali hari ini, di saat ia mabuk dan tidak dapat mengontrol dirinya.
***
Jangan lupa komen dan like ya, biar aku makin semangat nulisnya.... 😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
👻Yusuf🦖
🤣🤣🤣
2024-08-12
1
Ida Lailamajenun
klu lagi mabuk bebas berekspresi dan apa yg dikatakan jujur dari hati terdalam,berarti Lisa curhat nih ma pak bos😂😂
2022-07-20
0
Reyma Bustami
novel ini aq bca yg kedua x nya, krna greget bcanya dan sangat menghibur
2022-07-05
0