Sepeninggalan Farhan dari ruang keluarga, hatinya masih dongkol karena pengunduran diri Lisa yang tiba-tiba. Menurut Farhan, Lisa benar-benar keterlaluan. Tidak tahu diri apalagi mengerti terima kasih. Dia pikir Farhan senang hidup dengan gadis ceroboh seperti itu? Tidak sama sekali. Farhan hanya kasihan dengan nasib Lisa yang miris sekaligus tragis. Dicampahkan bibi dan pamannya setelah berhasil mengeruk semua harta kekayaan almarhum orang tua Lisa.
Ah, ingatan Farhan jadi kembali saat pertemuan pertama kalinya dengan Lisa lima tahun lalu. Ia masih ingat betul percakapannya dengan Lisa kala itu.
"Siapa namamu?" Farhan menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.
"Nama saya Lisa, Tuan." Gadis kecil itu gemetar ketakutan. Karena tidak sengaja membuat bibir Farhan lonyot dengan air panas pemberiannya.
"Saya akan melaporkanmu ke polisi, dengan tuduhan penipuan dan kekerasan," ancam Farhan tidak peduli.
"Tuan! Maafkan saya, saya terpaksa melakukan ini. Saya butuh uang untuk pulang ke Jakarta."
Sayangnya Farhan tidak menerima alasan.
"Berapa umurmu?"
"Delapan belas tahun, Tuan."
"Cih! Pantas saja kau bodoh. Dengar ya anak kecil, hotel ini bukan tempat untuk bermain-main. Setiap kariawan yang bekerja di sini harus melalui tes uji coba. Kau jauh dari kata layak, bahkan membahayakan keselamatan orang." mengingat kembali saat gadis kecil itu memberinya air panas. Cangkir yang di gunakan Farhan terbuat dari bahan yang anti panas, sehingga saat ia pegang tidak tahu kalau ternyata dalamnya panas.
"Maaf Tuan, saya salah."
"Jika kamu butuh uang, mintalah pada orang tuamu, bukan memaksakan bekerja dan membahayakan orang lain."
"Maaf, saya yatim piatu, tidak memiliki orang tua."
Deg. Jantung Farhan rasanya terpukul keras. Ia menatap gadis kecil yang sedang menangis sambil menunduk.
Kejadian tidak sampai di situ saja. Pada hari itu, Lisa melakukan tiga kesalahan sekaligus. Menyamar sebagai kariawan part time menggunakan identitas temannya, membuat bibir Farhan lonyot, dan yang terparah adalah memberi obat kedaluarsa pada orang penting seperti Farhan.
Farhan berniat memberi gadis itu hukuman untuk membersihkan apartemen kosongnya selama tiga bulan bulan. Namun niatnya mendadak berubah setelah mengetahui jalan hidup Lisa yang ternyata jauh lebih buruk darinya, Farhan merasa ada getaran aneh yang melanda jiwa. Bukan cinta, namun sebuah rasa yang masih sulit untuk diartikannya. Yang tadinya ingin melepaskan setelah bosan menghukum, kini Farhan sendiri jadi enggan untuk melakukannya. Seperti tidak rela, ia bahkan mendaftarkan Lisa ke kampus ternama di Amerika. Mengajak gadis itu mengikuti jejaknya karena harus pindah ke LN mengurus bisnis. Begitulah kisah Farhan dan Lisa di masa lalu.
(Maaf, gak maksud mengulang cerita, itu aku jelasin versi Farhan biar kalian paham. Oke😍)
Farhan berjalan menuju kamar si kembar setelah misuh-misuh tidak jelas. Setidaknya, wajah si kembar dapat menjadi obat untuk menenangkan jantungnya yang bertalu-talu akibat emosi.
"Astaga!" Pria itu langsung terkejut saat mendapati Cello sedang mengigau. Mata terpejam dengan linangan air mata, Cello tampak teriak-teriak memanggil nama 'mama Panda'.
"Kamu kenapa, Nak?" Diraihnya Cello dari atas tempat tidur. Farhan memangku dan menepuk-nepuk pipi pria kecil itu agar segera bangun.
"Bunda."
Bola mata Farhan membelalak sempurna saat Cello menyebut kata bunda. Perlahan, Cello membuka matanya yang sudah sembab.
"Ada apa? Mimpi buruk ya?"
Anak itu nampak kebingungan. Celingak-celing mencari sesuatu.
"Kenapa?"Farhan bertanya dengan nada panik saat tangis anak itu kembali pecah.
"Mama Panda mana? Tadi ada mama di sini? Huaaaa..." Cello teriak-teriak.
Farhan segera mendekap anak itu, takut si kecil Cilla ikut terbangun karena suara berisik dari tangisan Cello. Untungnya anak itu berhati kuat, tangis Cello mereda setelah dua menit kemudian.
"Tadi kamu cuma mimpi. Mama Panda kan sudah bahagia di surga. Cello lupa?" Farhan mengingatkan sebuah edukasi yang paling mudah dimengerti oleh anak kecil.
"Tapi mama kesini, Yah," bantah anak itu.
"Mama panda bilang apa?"
"Mama Panda bilang salam buat ayah Hanhan. Terus bilang makasih karena udah jagain adek Cilla dan Ello," ujar anak polos itu dengan wajah serius.
Farhan tertegun menelan saliva. Katanya, mimpi adalah sebuah dimensi untuk manusia bertemu dengan orang tercintanya yang sudah tiada. Jadi, mungkin mendiang Jennie sedang berterima kasih pada kakaknya melalui sang anak.
"Terus kenapa Ello nangis?"
"Mama Panda pergi, lewat pintu itu." Sambil menunjuk pintu masuk kamar. "Ello pen ikut," adunya.
"Ssst." Farhan mentowel pipi Cello—gemas. "Ayah sudah bilan 'kan, suatu saat Ello pasti bisa berkumpul dengan mama dan papa. Tunggu waktunya tiba."
"Hmmm." Anak kecil itu berdeham.
"Bobo lagi ya ... adek Cilla aja bobo, tuh!" Farhan meletakkan Cello kembali ke atas kasur. menarik selimut untuk menutupi tubuh anak itu.
"Yah," panggil Cello.
"Ada apa?" jawab Farhan dengan tatapan yang dibuat selembut mungkin.
"Tadi mama panda bilang sesuatu." Anak berusia empat tahun itu menunjuk jari-jemarinya. "Mama Panda bilang, kakak Lisa sangat baik. Cocok buat jadi bundanya Ello dan Cilla."
"Ya?" Farhan mengerja dengan mulut menganga lebar. Bagaimana mungkin sang adik merekomendasikan Lisa sebagai istri Farhan dalam mimpi anaknya. Gadis seceroboh itu! Bahkan menjaga anak kecil saja sampai hilang. Kalaupun ia benar ingin merekomendasikan, harusnya jangan Lisa kandidatnya.
"Mimpi Ello yang tadi hanya bunga tidur. Jangan dipercaya," bantah Farhan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Kata Ayah, Ello bisa ketemu mama dan papa lewat mimpi. Itu artinya, mama mau kakak Lisa jadi bunda Ello."
Farhan kalah telak. Ketula dengan omongannya sendiri.
"Nak, tidak semua mimpi adalah nyata. Jadi jangan dengarkan poin itu. Ayah belum siap menikah," bantah Farhan.
"Pokonya Ello mau bunda Lisa!" teriaknya sampai Cilla menjingkit kaget.
Dalam hati, Farhan mengomel kesal dengan mimpi itu. Kenapa harus Lisa? Gadis muda yang tidak tahu apa-apa seperti itu.
"Lisa masih kecil. Dia lebih cocok jadi kakak kamu daripada jadi bunda. Nanti ayah carikan bunda lain yang lebih berkualitas," rayu Farhan bohong.
"No Ayah! Ello mau bunda Lisa. Kata mama juga begitu," ucap Cello.
Sebenarnya ada apa denganmu, Jennie? Kenapa gadis ceroboh yang tidak becus seperti itu kau jadikan kandidat ibu untuk si kembar. Farhan menggerutu dalam hati.
"Yah!" Mata Cello kembali berkaca-kaca. "Ello janji akan jadi anak baik kalo kakak Lisa jadi bundanya Ello."
"Tapi kamu baru mengenal kakak Lisa satu hari. Mana tahu kalau kak Lisa jahat," ucap Farhan. Ia terus membantah dengan berbagai alasan masuk akal.
"Kata mama Panda baik ... Ello percaya sama mama Panda," ujar anak itu tidak mau kalah.
Pada akhirnya Farhan menggeram kesal dalam hati.
"Oke ... oke nanti ayah bicarakan dengan kakak Lisa, sekarang kamu tidur ya."
"Janji?" balas Cello penuh harap.
"Hmmm. Sekarang kamu bobo, oke!"
"Baik Ayah!" Anak itu memejamkan matanya perlahan. Sambil tersenyum setelah mendapat konfirmasi dari Farhan.
"Jadi? Aku harus menikah dengan gadis itu hanya karena sebuah mimpi?" Farhan menengadah ke atas setelah menutup pintu kamar si kembar. Wajahnya nampak frustasi. Selama ini, Farhan tidak pernah berpikiri bahwa kisah asramanya akan segila itu. Farhan tidak pernah didesak nikah oleh siapaun.
Akan tetapi, kasus ini sangat beda.
"Apakah ini sungguh kemauanmu? Apakah kamu akan tenang di alam sana jika aku menikah dengan gadis itu?" Kata-kata Farhan tertuju pada mendiang Jennie. Adik tercintanya. Ia masih tidak habis pikir. Kenapa harus Lisa yang menjadi rekomendasi untuk ibu tiri?
***
130 komentar lebih, gak ada yang bisa mecahin isi otakku.... 😭. Tapi gpp, artinya ceritaku gak pasaran apa lagi plagiat.. uhuuy. Jangan lupa komen ya.. hehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Ponco Martoyo
good job
2022-10-08
1
Man Cian
👍👍👍👍betul thor cerita kamu memang the best 💪💪💪.
2022-06-03
1
Just Rara
gemes ya sama si cello😁😁
2022-06-03
1