"Kakak!" Cello langsung menubruk Lisa saat mengetahui gadis itu duduk di dalam mobil. "Kaka Lisa nangis, ya?" tanya Cello, anak itu mengusap air mata Lisa yang sudah mulai mengering. Lantas mengecup hidung Lisa gemas. "Jangan nangis, ayah Hanhan nakal ya?" Melirik Farhan yang masuk ke dalam mobil sambil memangku Cilla.
Sementara Cilla hanya membuang muka malas—masa bodo dengan kehadiran Lisa. Gadis kecil itu masih tidak suka dengan kehadiran Lisa karena insiden di lift tadi pagi.
Melihat Cello apet dengan Lisa, Farhan sedikit terkejut. Pasalnya anak itu selalu bersikap bandel, suka sekali mengerjai orang yang baru dikenalnya, tapi ini di luar ekspektasi sendiri. Rasanya seperti kejaiban menjadi Iron Man.
"Apa kita akan langsung pulang, Tuan?" Rico bertanya sambil melirik kaca depan penumpang. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan pelataran rumah Skala dan Bianca.
"Anterin Lisa ke apartemennya dulu, Co." Farhan berseru tanpa melirik gadis itu.
"Gak boleh!" Tiba-tiba Cello menimpali dengan teriakkan. "Kakak Lisa mau dibawa pulang ama Ello," ujar Cello dengan wajah dibuat garang melawan sang ayah.
Farhan yang sedang marahan dengan Lisa hanya bisa diam. Tidak berani merintah seperti biasanya. "Ello, nurut sama ayah, hari ini ayah sudah dibuat pusing gara-gara kelakuan kalian berdua." Kegarangan Farhan menimbul. Membuat Cello yang ada dipangkuan Lisa langsung melipat bibirnya sendu.
"Ello mau Kakak!" teriaknya dengan berani.
"Sssttt ... tenang ya, nanti kakak Lisa anterin Ello pulang dulu. Abis itu baru kakak pulang. Gimana?" Lisa mengemukakan pendapat tanpa bertanya pada Farhan.
"Ello mau tinggal sama kakak Lisa aja, gak mau sama ayah! Galak!" serunya dengan suara heboh. Kakinya menendang apapun. Khas anak kecil kalau sedang mengamuk.
"Ya ujah canah!" Cilla menimpali dengan sengit. Tidak suka dengan sikap sang kakak yang membela Lisa. Bocah itu sedikit sensitif dan cemburu.
"Bwekk!" Cello menjulurkan lidahnya.
Sepertinya kedua pikiran si kembar terbelah, antara di kubu Farhan dan Lisa. Cello membela Lisa, sementar Cilla nampak tidak suka dengan kedekatan kakaknya dengan Lisa.
"Gak mau ama kak Ello! mayess," seru gadis kecil itu jutek.
Rico yang merasa waras buka suara. "Lis, kamu temenin Ello dulu ya, kasihan dia."
"Tapi—" Lisa bermaksud menolak, namun Rico terkesan memaksa.
"Tuan Farhan pasti Mengizinkan!" bantah Rico yang sudah paham dengan kegundaan hati Lisa. "Iya 'kan, Tuan?" Sambil mengedipkan mata. Kode bahwa gadis itu sedang kesal pada tuannya. Cepatlah rayu atau setidaknya minta Lisa untuk mampir kerumahnya demi Cello. Begitulah mata Rico berbicara, namun si biang tidak peka hanya memasang wajah datar sedari tadi.
"Hemm," jawab Farhan singkat.
Hening sesaat, Lisa memilih diam sambil menepuk-nepuk Cello yang sudah mulai terbang ke alam mimpi.
Seperti biasa, tangan anak itu mulai tidak bisa dikondisikan. Tanpa sadar, Cello menelusupkan jari-jemarinya pada balik kaos olahraga Lisa.
"Aww!" Lisa memekik, berusaha keras menyingkirkan tangan nakal anak itu dari dalam bajunya. "I-i-ini...."
Wajah Lisa merona malu, sementara duo jomlo abadi tampak gugup melihat pemandang yang tidak biasa. Tidak ada yang berani menolong Lisa, mereka saja ingin teriak minta tolong dengan kecanggungan yang terjadi di dalam mobil.
"Ehmmm!" Farhan berdeham. "Rico!" serunya sambil memalingkan wajah. Tidak berani melihat tangan kecil kecil nakal yang sedang mencari-cari sumber amunisinya.
"Co," decak Farhan sekali lagi.
Kenapa Anda memanggil saya, Tuan. Memangnya saya berani melepas ular yang melingkar di gunung kelud. Apa Anda ingin saya ditampar oleh Lisa, batin Rico yang terus fokus mengemudi. Tak dijawabnya seruan Farhan.
"Sepertinya jalan di depan macet. Bagaimana kalau lewat jalan alternatif?" Rico mengalihkan pembicaraan, tidak mau ikut terlibat untuk menangani adegan peras-memeras cucian yang dilakukan oleh si kecil—Cello.
"Saya tidak nyaman seperti ini." Lisa buka suara.
"Lalu saya harus apa?" teriak Farhan yang mulai geram sekaligus frustasi. Matanya mengerjap gugup. Ia sudah pernah melihat adegan ini sebelumnya. Tapi korban Cello adalah bibi asuh yang sudah tua dan menikah. Sementara untuk gadis berumur dua puluh tiga tahun, Farhan sendiri baru pertama melihatnya.
"Saya tidak tahu, setiap kali tangan Ello dilepas selaku kembali seperti ini. Saya sungguh tidak nyaman," pekik Lisa menahan geli yang faktanya jauh dari kata enak.
"Diamkan saja, nanti kalau sudah lelap akan lepas sendiri." Farhan melepas jasnya untuk menutupi Lisa dan Cello. Ketiga mahluk lajang itu sama-sama merasa terjebak dengan tingkah si kecil Cello. Malu sekaligus canggung jadi satu.
Bagaimana ini? Aku malu sekali!
Lisa menjerit, tidak berani menatap siapapun saking malunya. Tubuhnya bereaksi menahan geli. Menggeliat, menahan urine yang mendesak ingin keluar.
Sialan, kenapa harus melihat adegan seperti ini dalam keadaan jomlo, gerutu Rico yang tak kalah frustasi.
Aku tidak pernah secanggung ini saat melihatnya di CCTV, Farhan memalingkan wajahnya. Pura-pura menatapi daun dan gedung yang ada di sisi jalan.
***
Sesampainya di rumah, Lisa mencoba menidurkan Cello agar ia bisa segera pulang untuk istirahat. Nahas, Cello bangun karena suara berisik Cilla yang sedang ngobrol dengan boneka.
"Kakak!" Cello terduduk. Memperhatikan Lisa yang sedang berjalan ke arah pintu. "Kakak jangan pergi. Ello mau makan," ucap bocah itu dengan suara seraknya. Lisa menghela napas. Lantas berbalik sambil melempar senyum termanisnya.
"Kakak mau cari makanan buat kalian. Tunggu di sini ya," ucap gadis itu kikuk. Lisa segera pergi menuju dapur. Diikuti oleh Cilla yang berdiri dan berlari mengikutinya.
Anak itu bersembunyi di balik tiang. Memperhatikan Lisa yang sedang berjalan menuju dapur.
"Eh, Tuan!" Lisa menggaruk kepala belakangnya canggung. "Anu, Cello bangun dan minta makan."
"Tunggu sebentar, aku sedang membuat sup ayam untuk mereka."
"Iya." Lisa memperhatikan Farhan yang sedang mengaduk kuah sup. Menghirup dalam-dalam aroma kuah sup yang sedapnya menusuk bulu-bulu hidung. Perut jadi lapar, namun ia tahan karena si koki tak mau menawarinya untuk sekedar mencicipi. Pelit.
"Oh ya, Tuan! Maafkan atas kesalahan saya yang tadi," ujar Lisa. Ia sebenarnya malas meminta maaf. Hanya untuk basa-basi dari pada diam saja. Jujur, Lisa sendiri masih sakit hati pada Farhan. Ia sudah memiliki keniatan untuk mencari pekerjaan lain. Tidak mau berada di perusahan killer itu.
"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas itu." Farhan mengambil nampan, dua mangkuk dan dua piring kecil untuk si kembar.
Dalam waktu tiga menit, sup, nasi, dan lauk-pauk tersaji di atas nampan.
"Suruh mereka makan sendiri. Jangan sampai disuapi, ujar Farhan.
"Baik Tuan," balas Lisa patuh.
Saat ia hendak berbalik, tak sengaja Lisa hampir kepeleset karena kondisi kakinya yang tidak baik. Farhan pun menangkap tubuh Lisa secepat mungkin.
"Hati-hati," ucap Farhan menasihati.
"Terima kasih, Tuan!"
Tanpa mereka sadar, ada sepasang mata polos yang memperhatikan sedari tadi. Cilla terbakar-bakar melihat Lisa dan Farhan begitu dekat. Ia tidak mau ada wanita lain yang dekat dengan sang ayah.
Mulai detik itu, Cilla tidak lagi menyukai kehadiran Lisa.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Farida Wahyuni
biasanya anak ga lengkapa cm kalau hanya ayah, eh ini cilla malah ga mau ada yg dekat2 sm ayahnya.
2022-12-16
1
Just Rara
waduh galaknya si cilla
2022-06-02
0
Siti Solikah
si Cilla cemburu ayahnya sama cewek
2022-03-12
0