Mobil melaju cepat dengan Rico sebagai pengemudinya. Dibelakang ada Farhan yang duduk gusar bersama Lisa. Gadis itu memaksa masuk ke mobil meski Farhan tak acuh padanya.
"Tuan...." Lisa mencoba meraih tangan Farhan, namun segera ditepis oleh pria itu.
Menghembuskan napas pelan, lalu melepaskannya sama halusnya. Dalam tangis, Lisa tak henti-hentinya berdoa tentang keselamatan kedua bocah itu. Bagaimanapun juga, Lisa tahu bahwa dua bocah kecil itu masuk dalam kategori aset berharga bangsa dan negara. Pastinya mereka masuk dalam daftar calon pewaris utama Revical Grup. Perusahaan yang masuk dalam kategori 10 besar perusahan terbesar di Indonesia. Jika kedua bocah itu sampai hilang, sepuluh kali Lisa mati dan reinkarnasi pun tak akan mampu menembus nyawa kedua bocah itu. Lisa bisa membayangkan betapa berharganya anak kembar itu.
"Apa kau sudah menghubungi ponsel mereka? Ello selalu membawa ponsel di dalam tasnya." Farhan mengendurkan sedikit dasinya, di mana sekujur tubuh Lisa selalu bergetar setiap kali mendengar suara menggelegar dari seorang Farhan.
"Sudah, Tuan. Ponsel mereka terakhir aktif sekitar jam setengah sebelas tadi, sepertinya habis daya."
Farhan mendesah frustasi.
"Hubungi bagian IT, suruh mereka melacak ponsel anak-anak sekarang juga." Sedikit melirik Lisa, lalu melengos ke samping dengan mimik wajah jijik.
"Sudah Tuan, bagian IT sedang berusaha melacak keberadaan mereka. Namun karena sistem pelacak pada ponsel itu hanya dapat terdeteksi saat ponsel menyala, maka orang IT kita butuh waktu sedikit lama untuk mencari detail lokasi."
"Bagaimana dengan CCTV taman? Apakah sudah ada hasil?"
"Semuanya sedang di cek, Tuan. Kita baru saja melapor kehilangan si kembar 15 menit yang lalu. Tenang Tuan, "
"Jika itu anakmu, apa bisa tenang?" Farhan mengguyar rambutnya ke belakang. "Lupakan, kau itu jomlo! Tidak mungkin paham perasaan seorang ayah!"
Cih! Rico berdecih sinis dalam hati. Sepertinya Farhan sudah gila. Sampai ia lupa diri kalau sendirinya adalah jomlo abadi. Masih mending Rico memiliki dua mantan pacar. Sedangkan Farhan? PDKT dengan wanita saja belum pernah.
"Jangan mengutukku, atau gajimu akan kupotong!" ancam Farhan ketika melihat ekspresi sebal Rico.
Wajah frustasinya sudah tidak dapat dijabarkan dengan lisan. Seperti habis gempa bumi, lalu diterjang oleh tsunami. Begitulah jiwa Farhan saat ini.
"Kenapa kinerja mereka lelet sekali, sih!" teriak keras-keras.
Lelet? Ingin rasa Rico menjerit, memanggil nama Balveer dan meminta bantuan padanya. Segala sesuatu yang menyangkut si kembar selalu membuat Farhan sensitif. Hilang akal sehatnya, dan terkesan seperti orang tidak waras.
Gemetar-gemetar takut, Lisa memberanikan diri untuk mengemukakan pendapat. Bagaimanapun juga, ia sudah berusaha keras menjaga mereka berdua dengan keadaan kaki yang terkilir, meski akhirnya insiden tak diinginkan terjadi pada kedua anak kembar itu.
"Tuan, apa kau akan menyalahkah semua kesalahan ini padaku?" isak Lisa. Gadis itu menatap Farhan dengan berani. Mengumpulkan semua unek-uneknya yang sedari tadi tertahan di hati.
"Kau juga ayahnya, setidaknya kau memiliki tanggung jawab penuh pada anakmu sendiri. Lalu ibunya, di mana ibu dari si kembar sampai anak itu terlantar? Apa kalian para orang kaya hanya tahu sibuk bekerja, sampai lupa akan tanggung jawab kalian sebagai orang tua?" Lisa menelan ludah dengan susah payah. Ia harus berani, atau hidupnya akan semakin tertidas seperti ini.
"Saya akui saya salah, tapi siapa suruh Pak Rico menitipkan anak kecil pada gadis tidak berpengalaman seperti saya?" aku Lisa. Tangisnya semakin pecah. Ia tidak peduli andai kata hari ini mati, setidaknya Lisa sudah mengeluarkan seluruh isi otaknya.
"Aku sungguh tidak paham dengan pikiran kalian orang kaya, mentang-mentang mampu membayar baby sitter, mampu mengeluarkan banyak uang, kalian berani melimpahkan tanggung jawab anak kalian pada orang lain."
Ingin sekali Rico membekap mulut Lisa sekarang juga. Tidakkah ia tahu kalau Farhan semakin naik pitam mendengarkan ocehannya? Dan semua tuduhan Lisa salah besar. Tidak mendasar. Andai Lisa tahu seperti apa sayangnya perjaka berstatus duda itu pada si kembar, Lisa pasti akan terkesima.
"Dasar orang tua arogan!"
Napas Farhan naik turun, hatinya bergemuruh seperti ada ribuan kuda yang berlarian di dalamnya. Tidak seperti yang Lisa duga, Farhan malah semakin berani pada gadis itu. Tidak ada rasa bersalah di dalam diri Farhan seperti apa yang Lisa harapkan.
"Apalagi yang ingin kau ucapkan? Apa lagi, hah?" tantang Farhan lebih berani. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Lisa, mengikis jarak di antara mereka berdua.
Tangan Farhan sudah mencengkeram kerah baju Lisa. Ingin sekali Farhan merobek mulut Lisa yang sok tahu. Katakan semua omong kosong yang ada di otakmu," bisik Farhan yang terdengar seperti ancaman.
Tring ...
Ponsel Farhan yang berbunyi membuyarkan kegiatan mencekam di antara mereka berdua. Buru-buru Farhan mengangkat dengan harapan penuh.
"Ello menelepon," seru Farhan, namun telepon kembali mati. Farhan segera menelepon balik. Beruntung seseorang di balik sana langsung mengangkat.
"Ello? Di mana kamu, Nak? Ayah sangat khawatir." tanya Farhan khawatir dengan suara ketakutan. Lisa dan Rico langsung melebarkan pendengarannya. Berdoa ada kabar baik tentang keberadaan si kembar.
Ehem. Terdengar suara pria yang berdeham dari balik sana.
"Maaf, ini siapa?" Farhan yang semula senang berubah suram.
Saya Skala, sepertinya anak Anda masuk dan bersembunyi di dalam mobil saya. Mereka mengira mobil saya adalah mobilnya. Sekarang anak itu ada di rumah saya. Suara pria dari balik sana terdengar ketus. Seperti sedang menahan kesal yang amat besar.
"Ya Tuhan." Farhan menghembuskan nafas lega. "Apakah mereka baik-baik saja? Tolong jaga mereka, saya akan segera ke rumah Anda," ucap Farhan mengiba. Raut khawatir masih kentara sekali di wajahnya.
Mereka baik-baik saja. Saya yang tidak baik-baik saja! Jalan XX XX XX. Cepat jemput anak Anda, sekarang!
Panggilan terputus. Farhan sudah dapat menebak bahwa kedua bocah itu pasti berbuat ulah. Apalagi jika mendengar si penelepon yang bernada jutek.
"Fiuhh!" Farhan menghela napas lega. Beruntung si kembar tidak diculik seperti dugaannya.
"Bagaimana, Tuan?" Rico menatap Farhan. Lisa juga tampak antusias mendengar kabar baik setelah panggilan ditutup.
"Mereka masuk ke mobil orang yang sama dengan miliknya."Melirik ke arah Lisa.
Detik itu juga Lisa baru dapat menghela napas lega. Setidaknya si kembar aman. Hilang sudah rasa khawatir bahwa mereka diculik orang jahat.
"Besok bawa mobil si kembar ke bengkel. Buat mobil mereka hanya satu dan dapat dikenali dengan mudah. Aku tidak mau si kembar sampai salah masuk mobil lagi," ucap Farhan bicara pada Rico.
"Dan jangan sembarangan memberikan si kembar pada orang yang tidak becus menjaganya."
Tatapan Farhan mengarah pada Lisa. Di mana gadis itu hanya dapat menunduk dengan rasa salah.
"Baik Tuan, maafkan saya ... ini salah saya," ucap Rico sambil mengangguk. Laju mobil dipercepat. Rico ingin Farhan segera bertemu anak-anaknya agar kewarasan pria itu dapat terkontrol.
Si kembar adalah hidup dan mati Farhan. Tanpa mereka, Farhan akan berubah menjadi monster mengerikan seperti tadi.
***
Jangan lupa vote yang banyak kalo kalian merasa cerita ini menghibur. Hehehe..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Man Cian
😂😂😂🤣🤣🤣ngambek gara2 ank kecil sampai2 ketus gitu jwb telponnya
2022-06-03
2
Just Rara
ayo buruan diambil cilla sama cillonya farhan,jgn smp tu bocah dua dibejek2 sm si skala🤣🤣🤣
2022-06-02
1
Siti Solikah
Lisa ceroboh sekali,tapi emang kalo belum punya anak ya ga tau caranya merawat
2022-03-12
0