Kembali lagi pada kejadian beberapa tahun silam. Tepatnya lima tahun lalu saat Farhan memberikan cincin bersejarah itu pada Lisa. Untuk pertama kalinya, pria itu berinisiatif untuk memberikan sesuatu pada wanita. Bagaikan fenomena alam yang musti dianggap langka.
Dengan kedok hukuman, Farhan menjadikan gadis itu sebagai pembantu di apartemennya yang tidak pernah ia tinggali. Farhan juga tidak pernah menemui gadis itu, hanya melihat melalui cctv rumahnya di kala mendapat waktu senjang.
Biodata tentang Lisa sudah di depan mata, ditatapnya dokumen itu dengan perasaan geram. Lisa, gadis itu adalah anak yatim piatu asli. Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan, semua harta kekayaan dari bisnis orang tuanya jatuh ke tangan bibinya yang kejam. Lisa sering mendapat tekanan saat tinggal dengan paman dan bibinya, selain diperlakukan dengan tidak adil— Lisa juga kerap disiksa dan tidak diberi uang jajan. Namun menurut orang kepercayaan Farhan, Lisa adalah gadis yang kuat, kadang ia bekerja dan mencari sambilan untuk hidupnya sendiri.
"Permisi Tuan, ini adalah hadiah yang menurut saya cocok untuk gadis berumur delapan belas tahunan." Rico datang dengan membawa boneka beruang besar.
"Bodoh! Apa kau ingin mempermalukanku dengan benda sebesar itu!" bentak Farhan emosi. Wajahnya merinding geli saat melihat boneka sebesar itu.
"Maaf, Tuan." Rico mengerucutkan bibirnya seraya mehahan dongkol. Padahal, ia harus menahan malu saat harus membawa boneka besar itu dari mobil ke lantai 12. Semua kariawan melihatnya aneh.
"Cari hadiah yang simpel dan tidak mencolok." Farhan kembali terfokus pada dokumen yang ia sambar dari atas meja.
Hari itu adalah hari ulang tahun Lisa, Farhan berniat datang untuk sekedar menghibur gadis malang itu. Ia tahu persis seperti apa rasanya merayakan ulang tahun sendiri. Ia yang seorang pria saja rasanya sedih, apa lagi wanita kecil itu. Pikir Farhan dalam hati.
"Bagaimana dengan cincin? itu adalah hadiah yang cocok untuk semua kalangan."
"Bukankah cincin itu untuk orang yang sudah bertunangan?" tanya Farhan yang tampak menimbang-nimbang usulan Rico.
Ia tidak memiliki pengalaman apapun soal wanita. Pacaran saja belum pernah.
"Tidak juga. Cincin sangat mendominasi, cocok untuk diberikan pada ibu, kakak, adik, apalagi seorang wanita. Dijamin gadis itu menyukainya, Tuan." Rico memberi tahu dengan sejuta rayu.
"Baiklah, mana cincinya?"
"Apa, Tuan?" Rico mendadak gagap bicara. "Sa ... saya belum mempersiapkannya, itu baru usulan jika Tuan setuju dengan pendapat saya. Kalau Tuan setuju, baru saya carikan barangnya," ujar Rico takut-takut.
Heuh. Farhan mendesah kesal sambil memijit pelipisnya. Pria yang satu ini sama sekali tidak peka dengan apa yang Farhan inginkan. Farhan hanya ingin semuanya beres. Jika Rico sudah mengusulkan, harusnya barang itu sudah ada di depan mata.
"Hubungi manager divisi perhiasan— waktumu lima menit. Cepat!"
Rico panik. Wajahnya pucat. Boss dingin itu selalu berhasil membuat Rico seperti terkena serangan jantung. Mengejutkan.
"Ba—baik, Tuan." Rico langsung bergegas pergi meninggalkan tuannya yang sedang marah.
Rico menelepon manager divisi sambil meneka tombol lift. Entah mengapa, lift itu mendadak lelet saat ia sedang buru-buru.
***
Benar-benar dalam lima menit, managar perhiasan datang dengan berbagai desain cincin yang ia bawa. Semua cincin tertata rapih di atas meja, Farhan duduk kaku sambil memperhatikan deretan cincin manis kesukaan kaum wanita itu. Menurut Farhan, hiasan seperti itu tidak ada menarik-menariknya. Entah mengapa, wanita menyukai barang ribet seperti itu.
"Ini adalah desain cincin terbaik kami, Tuan. Silahkan di lihat-lihat." Manager perhiasan itu menjelaskan dengan senyuman. Lantas menyodorkan kotak yang baru ia buka ke hadapan Farhan.
"Pilihkan saja satu cincin yang cocok untuk anak remaja," ucap Farhan datar. Mana ia tahu mana yang bagus.
"Bagaimana dengan yang ini? Desainnya elegan dengan warna berlian merah jambu." Manager itu mengambil dan menunjukannya pada Farhan.
"Rico!" Minta pendapat pada sekertarisnya.
"Yang itu bagus, Tuan. Menurut saya sangat cocok." Rico juga sebelas-dua belas. Tidak tahu apakah Lisa akan suka atau tidak.
"Apa dia akan memakainya?"
Reflek Rico menoleh bingung. Mana ia tahu dipakai atau tidaknya. Bossnya ini selalu ada saja ditanyakan. "Tentu saja mau, Tuan." Memilih jawaban terbaik demi kebaikan dirinya.
"Ya sudah, saya ambil yang ini." Meraih cincin dan mengamatinya. Farhan masih berpikir apa yang menarik dari cincin yang sedang ia pegang.
"Baik. Tuan, boleh saya minta ukuran jarinya?"
"Ukuran?" Farhan menoleh pada Rico dengan tatapan menyalang. Tubuh pria itu mendadak gemetar takut. "Berapa ukurannya Rico?"
Suasana menjadi semakin panas, Rico sendiri tidak kepikiran kalau cincin harus pakai ukuran jari.Ya, mana ia tahu ukuran jadi Lisa itu berapa. Memangnya Rico cenayang?
"Sudahlah! Beli semua ukuran, biar dia pilih sendiri yang pas!" ketus Farhan frustasi. Kalau baginda raja sudah berkata, Rico memilih setuju meski kesannya tidak masuk akal.
Selamat! Meskipun Rico langsung menelan saliva karena kegilaan bossnya yang satu ini. Padahal, harga satu cincin itu cukup fantastis. Apakah bossnya sedang jatuh cinta pada anak kecil itu? Hati Rico bertanya-tanya.
Masa iya, sih? Selera Farhan seburuk itu. Tapi kalau dipikir lagi, ia rela membeli semua ukuran cincin demi gadis itu. Jadi, apa yang sedang Farhan pikirkan tentang gadis kecil itu.
Ah, Rico sungguh tidak paham? Kenapa harus Lisa, gadis kecil yang usianya terpaut sembilan tahun darinya.
Belum sadar dari lamunannya, Rico dikejutkan oleh suara Farhan yang menggelegar. Cincin sudah terbungkus rapi. Farhan menyerahkannya pada pria yang tengah melamun itu.
"Cepat jalan! Ayo kita ke sana," ajaknya dengan antusias.
Astaga! Apa dia akan pergi menemui gadis itu? Biasanya juga menyuruh asisten untuk datang kan?
Kini Rico dan Farhan sedang dalam perjalanan menuju apartemen yang ditinggali Lisa. Mobil melaju dengan kecepatan normal, sesekali Rico melirik ke belakang, memperhatikan bosnya yang tampat tenang bermain gadget.
Sepertinya tidak jatuh cinta, ya? Biasanya orang jatuh cinta akan selalu gugup. Namun boss terlihat biasa saja, ucap Rico dalam hati.
Mobil mereka mulai memasuki base man apartemen, lalu terparkir rapi tak jauh dari pintu lift. Farhan keluar dari mobil dengan keadaan tenang menurut pandangan Rico. Tidak tahu kalau di dalam hati pria itu sangat gugup.
Apa yang membuat gugup? Itu karena Farhan pernah melihat keseksian Lisa tanpa sengaja, gadis itu suka berjalan ke luar kamar dengan pakaian asal. Di mana pria normal seperti Farhan mendadak kacau pikirannya.
Ya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama kejadian di hotel itu, akhirnya Farhan dan Lisa akan bertemu juga.
Rico mengikuti bossnya yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju pintu lift, dengan membawa satu set cincin berbagai ukuran tentunya.
Sekali lagi, tidak ada getar gugup di wajah dingin itu. Farhan nampak keren ketika berjalan. Badannya yang atletis menyita pandangan siapapun yang melihatnya.
Ah, sangat cocok dijadikan istri sejuta umat.
***
Jangan protes, ini masih bab Flash back. Biar jelas. Like, komen, dan dukungannya ya.. 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
Lily Chaeroni
blm bisa move on sm pasangan reyno jennie 😭😭😭😭
2022-12-31
2
Just Rara
gileeeeee bener sua ukuran dibeli...sultan mah bebas ta😄😄😄
2022-06-03
0
Man Cian
novelnya reyno dan jennie judulnya apa ya🙏🙏🙏
2022-06-03
0