"Apa kabar, Tuan? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Lisa sesaat ia baru memasuki ruang kerja Farhan. Rico hanya mengantar gadis itu sampai pintu ruang kerja Farhan, selanjutnya Lisa harus menghadapi Farhan sendirian.
"Hemmm." Farhan membalas pertanyaan Lisa dengan berdeham singkat. Tak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada Lisa yang baru datang membawa koper besar. Pria itu masih terus so sibuk dengan beberapa proposal yang sedang ia periksa. Menjengkelkan!
"Jadi, apakah saya akan langsung bekerja hari ini?" Lisa membuka suara.
Kali ini Farhan mendongak, menatap Lisa dengan kernyitan di dahinya. "Terserahmu, jika kau tidak lelah, kau bisa langsung bekerja hari ini."
Cih!" Lisa mendengkus kesal dalam hati. Dasar pak Rico pembohong, dari mana letak si Miso ini bangga padaku? Bahkan, ia tidak mengucapkan kata selamat atas kelulusanku. Ah, boro-boro selamat, menanyakan kabarku saja tidak!
"Saya mau langsung bekerja saja, Tuan," jawab Lisa singkat padat jelas. Meskipun lelah, ia tidak mau terlihat lemah di depan Farhan.
"Baiklah, saya akan memikirkan kerjaan yang cocok untukmu."
"Kalau boleh tahu, apa ker—" Bicara Lisa terpotong saat ponsel Farhan berdering tiba-tiba. Pria itu mengangkat panggilan tanpa memperdulikan Lisa yang ada di depannya.
"Apa? Dumbo mati? Lalu bagaimana dengan mereka berdua?" Farhan terlihat kaget. Keningnya berkerut-kerut karena panik. Lisa masih memperhatikan bicara Farhan yang cukup keras. Sambil berpikir siapa itu Dumbo. "Bawa anak-anak ke kantorku sekarang, Bi. Biar aku yang menenangkan mereka berdua."
Anak? Bola mata Lisa melotot sempurna. Mendadak ia ingin mengigit tiang listrik dan menelannya tanpa dikunyah.
Apa anak yang dimaksud adalah anak kandung Tuan Farhan? Tapi, sejak kapan? Ya Tuhan, bahkan tadi dia bilang ada dua. Apa dia sudah menikah? Kumenangisss ... huaaa.
Tidak membutuhkan waktu lama, Farhan menutup ponselnya kembali. Lalu memfokuskan diri pada Lisa yang masih berdiri menunggu intruksinya.
"Oke. Kau ingin bekerja, kan?" Farhan mengambil beberapa lembar pecahan uang berwarna merah. Lantas memberikan uang yang ia pegang kepada Lisa.
"Apa ini, Tuan?" Mata Lisa tertuju pada uang satu juta yang Farhan berikan. Nyaris otaknya berfikir Farhan akan memintanya untuk menemani tidur dengan bayaran satu juta.
"Kuberi kamu waktu satu jam. Carikan aku ikan emas hitam seberat tujuh kilo dipasar ikan."
"What?" Lisa sampai teriak saking terkejutnya. Sungguh intruksi Farhan diluar perkiraan.
Apa dia lupa kalau aku lulusan Harvard dengan jurusan Business School? Untuk apa aku kuliah susah payah kalau tugasku hanya membeli ikan di pasar ikan.
"Cepat! kerjakan saja," bentak Farhan dengan nada penekanan.
"Maaf Tuan, saya tidak mau menerima pekerjaan aneh semacam itu. Jika di kantor ini tidak ada lowongan kerja, aku yakin di tempat lain masih banyak yang mau menerima jasaku. Meskipun aku hanya lulusan Harvard," sungut Lisa merendah. Sekaligus menyebut kata Harvard sebagai bentuk kesombongannya.
"Jangan pilah-pilih. Cepat lakukan tugasmu atau kau tak bisa keluar hidup-hidup dari kantor ini," ancaman Farhan menggema nyaring di ruang kerjanya. Membuat Lisa bergidik ngeri walau sudah terbiasa mendengar ucapan horor seperti itu.
Jika kamu pernah melihat film killer bertema psychopath, begitulah sensasi berdekatan dengan seorang Farhan.
Menghentak-hentakkan kakinya kesal, pada akhirnya Lisa menuruti keinginan Farhan. Yaitu mencari ikan emas berwarna hitam seberat tujuh kilo.
"Apakah tempat ini adalah kantor? Aku rasa ini adalah sarang mafia yang dikemas rapih seperti kantor," gumam Lisa kesal. "Baru menginjakkan kaki ke tanah air langsung diancam mati. Dasar cosplay malaikat pencabut nyawa!" lanjutnya.
***
Ternyata, mencari ikan emas tujuh kilo yang masih hidup di pasar ikan tidaklah mudah. Rasanya Lisa sudah seperti mendaki gunung lewati lembah, namun ikan sialan itu tak kunjung Lisa dapatkan. Adapun ikan emas yang kecil-kecil dan terbesarnya hanya sampai tiga kilo.
Masih menyusuri pasar ikan dengan baju kantornya. Lisa terus mengedarkan pandangannya kesana-kemari. Blouse dan rok yang ia kenakan sebelum bertemu Farhan sudah lusuh dan bau amis. Terkena cipratan bekas air hujan yang bercampur dengan darah ikan.
"Apa aku pulang saja ya, dan bilang ikannya tidak ada. Tapi, kalau aku beneran mati bagaimana? Cih! Kenapa aku harus setakut itu pada tuan Farhan?" geram Lisa yang kesal sekaligus galau.
Jujur saja, kembali ke Indonesia dengan membawa gelar lulusan Harvard membuat ia kesal jika harus mengemban tugas yang tak sesuai seperti ini. Beli ikan ke pasar ikan, Farhan memang setan sialan.
Lisa menengadah seraya berkacak pinggang. Mencari ikan yang Farhan mau benar-benar setara dengan mendapatkan cinta Kim Soo Hyun. Susah. Setelah sekian lama, ternyata pria itu masih tetap saja memperlalukan Lisa selayaknya pembantu.
"Untuk apa sebenarnya ikan emas tujuh kilo itu? Apa jelmaan maut itu hendak mukbang ikan. Ck." Lisa tertawa geli dalam hati.
SRAAKKK...
"Arghh!" Gadis itu menjerit saat tak sengaja terpeleset di atas genangan air hujan. "Sial! Kejahatan apa yang aku lakukan di masa lalu? Kenapa hidupku semiris ini, ishk!" decaknya sambil menahan sakit di kaki.
Bangkit dari duduknya, Lisa menghembuskan napas kasar. Menatap sekeliling yang juga sedang memperhatikan Lisa dengan bajunya yang kotor.
"Lebih baik aku kembali ke kantor saja. Koperku juga masih di sana. Persetan dengan ikan, aku siap menumbalkan tubuhku untuk di makan si Miso itu!" geram Lisa yang mulai frustasi. Gadis itu terpaksa meninggalkan pasar ikan, menyeret kakinya yang sedikit keseleo.
Perjuangan Lisa berakhir, ia kembali ke kantor dan memilih mati di tangan Farhan.
Setelah naik ojek sekitar tiga puluh menit, akhirnya Lisa telah sampai di depan lobi gedung. Tidak peduli dengan baju kotor yang terkena genangan air, Lisa memasuki kantor cabang Revical Group dengan hati bersungut-sungut. Gadis itu tak tak acuh ketika ada banyak orang yang memandanginya dengan sinis. Melirik jijik bajunya yang basah dan kotor.
"Ajumma!" seru seorang gadis kecil berambut ikal.
Lisa menoleh. Menatap anak kecil yang sedang di tuntun oleh bibi asuhnya. "Panggil siapa, aku?" Menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. Gadis kecil itu menatap jijik ke arah Lisa.
"Jangan macuk ke lip, baju kotol gitu, Cilla gak cuka liat olang kotol. Jolok!" seru gadis kecil itu. "Hatchih ... hatchi ...." Dia bersin-bersin ketika Lisa memaksa ikut masuk ke dalam lift.
"Cuma sebentar, aku sedang buru-buru." Karena ia sudah satu jam lebih keluar. Farhan juga sudah menghubunginya berkali-kali.
"Maaf Nona, bisakah Anda keluar dari lift dulu. Anak majikan saya tidak kuat mencium debu dan kotoran."
"Eh," kejut Lisa tak suka.
"Hatchi ... hatchi!" Gadis bernama Cilla terus bersin-bersin. Membuat Lisa yang awalnya ingin tetap di dalam lift jadi kasihan.
"Ya sudah! Maaf ya gadis kecil." Lisa sedikit melotot kesal. Gadis kecil itu menciut dan segera bersembunyi di belakang tubuh bibi asuhnya.
"Ajumma celem!" seru Cilla. "Kayak cetan!"
Masa bodoh, Lisa berlalu pergi. Gadis itu memilih ke lantai 12 melalui tangga darurat. Lebih aman dan tak bertemu dengan anak kecil misophobia itu.
"Sialan, pedas sekali mulut anak kecil itu," gerutu Lisa yang mulai menaiki anak tangga dengan malas. "Memangnya mukaku sudah kelihatan tua, apa? Bisa-bisanya gadis kecil itu memanggilku ajjumma. Umurku masih dua puluh tiga tahun, tahu!"
Lisa geram sendiri.
***
Humorku masih belum balik, jadi ya seadanya dulu. Jangan lupa komen, like dan vote yang banyak ya.. ckkcck
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
👻Yusuf🦖
🤣🤣🤣🤣🤣ajuma
2024-08-13
1
rika
🤣🤣🤣 ngakak nya. kalo farhan setan,, kenapa masih bertahan lisa 🤣🤣
2022-10-19
1
Man Cian
ponakan ama paman gak beda jauh kata2nya menusuk😤😤😤😡😡😡
2022-06-03
0