Tuan Skala masih bersungut kesal setibanya di rumah, dibantingnya pintu mobil sambil melirik ke arah Cello yang mengerjabkan mata karena baru saja bangun dari tidurnya.
Pria langsung merampas ponsel Cello dari sang istri, dan sesegera mungkin mengisi daya benda pipih itu agar dirinya dan Bianca segera terbebas dari dua monster kecil itu, terutama Cello yang dengan berani menjajah daerah kekuasaannya.
Bianca menyusul suamianya saat melihat Cilla dan Cello anteng. Mereka sedang duduk di sofa, memakan snack dan mengayunkan kedua kakinya sambik bercengkrama.
Menepuk pundak Skala yang mengisi daya ponsel di ruang keluarga, Bianca sadar betul bahwa suaminya itu tidak suka ada yang menyentuh sesuatu yang merupakan miliknya. Berbisik manja, Bianca menawarkan menghabiskan malam dengan menunggang kuda, tapi Skala tetap acuh, harga dirinya terasa diinjak oleh bocah berumur empat tahun itu.
Tiba-tiba suara pecahan benda yang jelas dari bunyinya adalah kaca menggema di telinga keduanya.
Saling pandang, Skala lantas berjalan cepat menuju sumber suara. Alangkah terkejutnya cucu kaker Prawira mendapati pecahan botol wine bermerek shipwrecked 1907 Heidisieck miliknya berserakan dan jelas cairan di dalamnya juga sudah membasahi lantai. Padahal, belum lama Bianca meninggalkan dua bocah itu.
Apakah mereka anak jin? Kenapa cepat sekali, dalam sekejap sudah menyusuk ke bar mini milik Skala.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Skala yang mendapati dua bocah itu yang sedang main kejar-kejaran di mini barnya.
Matanya melotot, kedua tangannya menjambak rambut sendiri—frustrasi. Bianca yang melihat juga ikut terkejut, sementara duo Cilla dan Cello dengan muka polos terlihat mematung.
Bianca langsung menggendong Cello menjauh agar anak itu tidak terluka dengan serpihan botol, sementara Cilla entah bagaimana caranya sudah duduk manis di atas meja bar.
Skala memandangi wine mahal itu dengan raut kesedihan, bagaimana tidak wine tersebut sangatlah langka, sejarahnya di tahun 1916 kapal yang membawa wine itu diterjang kapal selam Jerman saat Perang Dunia pertama. Akibatnya, kapal itu tenggelam dan ditemukan setelah delapan puluh tahun tepatnya pada tahun 1997. Wine yang dipecahkan Cello adalah salah satu dari dua ribu botol wine yang ditemukan utuh di dalam kapal itu, harganya pun tak main-main mencapai tiga miliar.
Bianca menggiring Cilla dan Cello untuk kembali duduk di ruang tamu, sementara Skala masih uring-uringan.
"Om napa cih uma otol ecah malah-malah," cicit Cilla. Di mana Skala yang mendengar ucapan anak itu ingin menggigit sendal jepit.
"Om ga marah kok, tu lihat om nya lagi senyum." Bianca terpaksa berbohong agar kedua anak itu tidak sampai menangis lagi.
Cello memandang ke arah Skala. Melihat laki-laki itu menggertakkan giginya, bocah itu beranggapan Skala sedang tersenyum.
"Tante tinggal bentar ya, kalian duduk dulu."
Bianca mendekati sang suami yang masih terus meratapi wine mahal yang sudah tak berbentuk lagi, gadis itu meninggalkan Cilla dan Cello yang duduk manis sambil menganggukkan kepala, menatap dua bocah itu sampai ke mini bar.
"Sabar ya, Ska!" ucap Bianca menangkan.
"Sabar Ca! Sabar? Wine mahalku pecah begitu saja, kamu tahu dengan jelas aku saja sangat sayang untuk meminumnya."
"Nanti kita cari merek itu lagi, ya." Bianca yang kewarasannya masih terjaga dengan baik mencoba menenangkan sang suami kembali, ia sadar harus menjadi air di saat sang suami menjadi api.
"Cari di mana? Tidak bisa dibiarkan, dasar dua monster kecil itu." Skala meradang, berjalan cepat menuju ruang tamu di mana Cilla dan Cello berada.
"Astaga!"
Bianca menutup telinga karena teriakan Skala yang melengking sambil berjalan cepat untuk melihat apa yang terjadi kali ini. Gadis itu menepuk jidatnya ketika mendapati dua bocah itu tengah mencorat-coret sofa dengan krayon yang memang Bianca lihat ada di dalam tas Cello tadi.
"Ini mama Panda, ini Papa teddy," gumam Cello tertawa riang. Pria kecil itu merasa bangga ketika memamerkan hasil karyanya. Ada gambar ayah dan ibunya sudah ke surga. Diberi sayap seperti malaikar. Cello memang hobi menggambar. Tidak seperti Cillia yang kebingungan menghitung banyak kue.
"Kalian ya!"
Kedua anak itu tidak peduli dengan teriakan Skala dan masih terus menggambar di sofa seolah tempat duduk itu adalah kanvas.
Semakin menggila, Skala mengambil ponsel Cello yang ia isi daya beberapa menit yang lalu, meskipun tahu bahwa menelpon dengan ponsel masih tersambung dengan charger berbahaya, Skala benar-benar tak peduli. Saat dirinya hendak mengecek nomor di kontak ponsel itu, sebuah panggilan masuk dari nomor bertuliskan "Ayah".
Skala langsung menggeser lambang hijau untuk menerima panggilan itu, dan bak petasan banting Ia mulai memaki orang yang dia anggap sudah pasti ayah dari dua monster pengganggu yang sekarang sedang melompat-lompat di atas sofa ruang tamunya seperti bermain di atas trampolin.
"Cepat jemput anak Anda, sekarang!" Perintah Skala setelah menyebutkan dengan detail alamat rumahnya.
Menunggu orang yang akan menjemput kedua bocah itu, Skala berdiri sedari tadi sambil melipat tangannya di depan dada, ia melihat Bianca yang dengan sepenuh hati menyuapkan pudding ke dalam mulut dua bocah itu bergantian.
"Ska duduk lah, ngapain sih?" Bianca yang melihat kelakuan sang suami hanya bisa melipat keningnya heran.
"Enak lho Om," ucap Cello.
"Enak ... enak, dasar Monster kecil! Puas kamu ngeraba-raba sumber vitamin aku dan mecahin wine mahal aku, Ha?" Skala sedikit membentak, membuat Cello melipat bibirnya—ketakutan.
"Skala diam, ah!" hardik Bianca. "Udah ya Sayang, ga usah didengerin om itu, dia lagi emosi jiwa."
"Emoci jiwa apa cih? malah-malah telus, ya?"
"Hem iya, kalau suka marah-marah terus itu namanya emosi jiwa." Bianca memandang sinis sang suami. "Bisa-bisanya calon papa seperti itu, ga ada peri kebapakannya sama sekali," gumamnya.
***
Selang beberapa menit, Farhan datang bersama Rico. Sementara Lisa disuruh menunggu di mobil oleh Rico.
"Di mana anak saya?"
Farhan yang baru datang langsung menatap pria itu. Wajahnya tidak asing. Ah, ternyata dia adalah Skala, cucu dari kakek Prawira—rekan bisnisnya. Cilla dan Cello pun langsung berlari memeluk Farhan yang langsung berjongkok menerima pelukan dua anak itu.
"Terima kasih sudah menjaga anak saya Tuan Skala," ucap Farhan yang masih belum mau lepas dengan bocah kembar itu.
Skala hanya menganggukan kepalanya, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Farhan dan Rico membelalak sempurna.
"Anak Anda sudah memecahkan Shipwrecked one nine zero seven saya yang paling berharga, jadi Anda harus menggantinya!"
Ah, Rico menepuk jidatnya. Hilang kurang dari dua jam sudah membuat Farhan rugi bandar.
"Rico!" Farhan mengangkat kedua tangan sebagai isyarat menyuruh asistennya untuk mengurus wine mahal milik Skala.
"Baik Tuan, mari kita bicarakan perihal wine yang dipecahkan oleh anak-anak."
"Hmmmm." Skala berdeham. Lantas mengajak Rico untuk berdiskusi masalah wine.
Tiga puluh menit berlalu, waktunya untuk pulang karena wajah anak-anak juga sudah lelah. Rico juga sudah selesai melakukan negoisasinya bersama Skala.
"Tante, Cilla puyang ya!" pamit anak itu.
"Cello juga mau puyang, nanti main ke rumah Ello ya, Tante," ucap Cello menimpali.
"Dada Sayang, hati-hati di jalan, ya!" seru Bianca sambil melempar senyum lebar.
Mereka pun pulang. Di mana wajah Rico sedikit pucat karena memikirkan wine langka itu. Masalahnya, pemilik wine itu tidak mau diganti uang atau emas batangan. Farhan harus mengganti wine mahal itu dengan wujud yang sama. Ini bukan pertama atau kedua si kembar itu mengacau, sejak orang tuanya meninggal, belum ada yang mampu mengendalikan dua bocah itu sehebat orang tua kandungnya.
***
Hoams, jangan lupa vote, like, dan komen ya... makasih buat kebersamaan kita... makasih udah mau baca...🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 281 Episodes
Comments
👻Yusuf🦖
gk bakalan nangkrut
2024-08-14
1
Clueless Kitty
bangkrut dah bang farhan 🤣🤣🤣
2022-10-08
0
Just Rara
🤣🤣🤣skala gak mau diganti uang,maunya barang yg sama,pusing2 deh tu si rico nyari wine nya🤣🤣🤣
2022-06-02
0