Kami melangkah ke arah dapur membantu Ibu menata nasi dan lauk pauk .
"Uqi kamu panggil Ayah dan Kakak kamu di luar ya ." titah Ibu
Aku berjalan menuju teras dimana Ayah dan Kakakku duduk bersantai
"Yah, Kak di panggil Ibu kita makan bareng.!" ajakku.
"Oh ... Sudah selesai masaknya ?" Kali ini Ayah yang bertanya sambil berjalan merangkul pundakku aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah di tempat makan tak ada sedikitpun suara, hening sejenak sampai Ayah mulai membuka obrolan.
"Uqi kalau seandainya ada yang melamarmu apakah kamu akan terima ?" Pertanyaan Ayah tiba tiba menghentikan makanku.
"Maksud Ayah ?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi tanda tak mengerti
"Sebenernya ada yang mau melamarmu Nak, apakah kamu sudah siap untuk menikah ?"
"Ayah aku baru aja nyantri, Setahun pun belum ada kenapa aku udah di tanya nikah ?"
"Umurmu udah cukup untuk menikah Uqi, Jika ada laki laki baik yang menginginkanmu kenapa harus di tunda ?" Jelas Ayah
Di desaku menikah muda itu sudah biasa bahkan kalau ada yang belum menikah sampai umur 20 tahun ke atas mereka di cap sebagai perawan tua.
"Seenggaknya nunggu Uqi lulus Ayah ..."
"Kalau Tunangan dulu bagaimana ?" Ayah masih tidak menyerah membujukku.
"Aku terserah Ayah saja kalau menurut Ayah baik Uqi terima ..." Aku pasrah dengan keputusan Ayahku.
"Tapi sebelum itu perkenalkan dulu siapa calonku, dan beri aku waktu untuk berbicara padanya karena menikah itu untuk selamanya maka dari itu aku ingin mengenal dulu bagaimana dan seperti apa calonku itu" Sambungku memberi syarat kepada Ayah karena menurutku menikah tanpa mengenal calon suamiku itu adalah hal yang mustahil.
"Kenapa seperti itu .? Apa Uqi gak percaya sama pilihan Ayah .?"
"Bukan tidak percaya Ayah hanya saja Uqi minta waktu untuk saling mengenal yang menjalani pernikahan kelak Uqi Ayah, jadi Uqi perlu tau seperti apa teman hidup Uqi kelak ..." Aku berargumen.
"Baiklah nanti Ayah akan bicarakan padanya."
Pembicaraan pun selesai hening setelahnya sampai makan pun usai, Aku berjalan menuju kamar beriringan dengan Fia .
"Fi menurutmu aku harus gimana.?" tanyaku, sembari merebahkan diri di kasur.
" Baru aja selesai makan jangan tidur gak baik buat kesehatan Qi ..." Bukannya menjawab Fia malah menasehatiku .
"Iya calon dokter" Dengan malas aku duduk bersandar pada tembok.
Fia memang kuliah di jurusan kedokteran sesuai cita citanya yang ingin menjadi dokter, Dan kamarku ini memang sederhana aku tak memiliki spring bad yang ada hanya kasur spons berukuran 2×160 meter dengan tinggi 40 cm.
"Kalau menurut aku coba diterima aja dulu perkenalan kalau cocok lanjutin kalau enggak kamu tinggal tolak aja beres kan ." usul Fia
"Kalau Ayah tetep maksa agar aku terima gimana ?"
"Ya udah terima aja apa susahnya sih ..." jawab Fia enteng
"Fi nikah itu untuk selamanya gimana kamu bisa bilang senteng itu ?"
"Hey Aisyatus Sauqillah denger aku baik baik ! , orang tua itu gak bakal ngasih yang buruk buat anaknya mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya jadi kenapa kamu masih ragu ?" ucap Fia penuh penekanan.
"Tapi perasaanku gimana ?"
"Hey Uqi jangan bilang kamu masih berharap tu cowok bre**sek kembali .?"
Aku hanya menganggukkan kepala dan sontak Fia mulai emosi.
"Uqi apa sih yang kamu harapin dari dia ? , iya kalau dia masih setia kalau udah punya pacar lagi di sana gimana .? Jangan bo**h kamu Uqi " Fia mulai emosi berbicara dengan nada rada tinggi dan memelototiku yang masih setia duduk bersandar.
"Udah lupain dia dan mulai hidup baru aku mendukung keputusan Ayahmu ." celotehnya, bersemangat mengepalkan jari meninju ke udara.
"Hey Fia kamu itu sahabat aku harusnya yang kamu dukung itu aku." Aku merengut mendengar celotehannya.
"Justru karena aku sahabatmu Uqi, aku ingin yang terbaik untukmu." Sekarang Fia berbicara dengan nada serius .
" Okelah my best pren poreper aku ikuti saran kamu." ucapku memeluk Fia dari belakang dia duduk di tepi ranjang.
"Ishhh jangan ghini donk !"
Ku lepas pelukanku dan duduk di sampingnya.
"Fi jalan jalan yuk ..." ajakku
"Mau kemana ? Lagian ini udah sore besok aja gimana ?" tanya Fia
"Gimana kalau ke danau ?" usulku
"Uqi kamu itu masih belum sembuh total besok aja ya ... kalau kamu udah sembuh total kita jalan jalan sepuasnya." Nasehat Fia
"Ayolah Fi entar kalau di buat jalan jalan bakal sembuh kok ..." Rengekku
" No ... Aku gak mau ya di marahin kakak kamu entar di kira aku yang ajak ajak lagi ..." Fia tetap menolak dengan berbagai alasan.
"Gak bakal Fi entar aku yang ngomong." Aku masih belum menyerah membujuk Fia.
"Kalau kamu masih maksa aku pulang aja deh ..." ucap Fia berdiri hendak pergi .
"Iya deh gak jadi ..." Akhirnya aku menyerah menundukkan kepala tanda kecewa.
"Nah ghitu donk ..." Fia kembali duduk kami berbincang bincang sampai Adzan maghrib berkumandang .
" Uqi udah maghrib aku pulang dulu ya" pamit Fia.
"Kok pulang sih nginep aja gimana ?" Tawarku yang masih rindu ingin bersamanya.
"Maaf Uqi besok aku ada kuliah pagi terus sorenya aku harus kerja besok aku masuk shift siang ..." jelasnya
" Ohh oke deh hati hati ya ngampus dan kerjanya semangat ..."
"Kamu tu Qi udah gede masih aja kayak anak kecil ..." Lirih Fia melenggang pergi keluar kamar.
Malam pun tiba
Seperti biasa semua anggota keluarga yang ada di rumah berkumpul bersama di ruang tengah menonton TV dan memakan camilan.
"Uqi gimana di pesantren seneng gak ?" tanya Kak Arif.
"Seneng gak seneng sih Kak ..." jawabku seenaknya
"Kok gitu ?" tanyanya lagi
"Iya senengnya itu bisa punya banyak temen baru yang baik ..."
"Terus gak senengnya ?" Sela Kak Arif
"Di sana itu Kak ada putera Yai duhh orangnya nyebelin banget suka nyuruh nyuruh kadang marah gak jelas."
"Mas Zham maksudmu ?" Kak Arif menebak orang yang ku maksud.
"Tepat sekali coba ya Kakak bayangin masak cuma gara gara aku di panggil ke kantor oleh Ustad Faris dan Ustad itu nanya aku udah ada yang punya apa belum dia marah, Aku langsung di panggil ke ndalemnya di introgasi juga di ancem mau di kasih hukuman karena udah pacaran sama Ustad Faris gila kan Kak padahal aku gak pacaran." Ku ceritakan semuanya dan Kak Arif, Ibu juga Ayah saling pandang mendengar ceritaku .
"Terus kamu jawab apa sama tu Ustad ?" Kak Arif masih penasaran dengan ceritaku.
"Ya aku jawab gak ada, Aku bilang aja kalau aku nyerahin semuanya ke orang tua ku ..."
Semuanya masih terdiam dan saling pandang hingga semenit kemudian..
"Buahahahaha ..." Kak Arif tertawa dengan kerasnya
"Loh kakak kok ketawa ?" Kini aku yang bingung dengan tingkah Kak Arif
"Pantas saja dia marah kamu sih Jawab belum ada yang punya, padahalkan kamu gadis incaran dia Buahahaha ..." jelas Kak Arif di sertai tawa.
"Maksudnya Kak ?" Aku bertanya sembari mengerutkan dahi .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
bung@ter@t@i
in uqi tuh cantik bngt kali y smpe bnyk yg suka
2023-01-08
0
Lasmi Kasman
Polos
2021-03-09
0
Yani Suryani
😅😅😅keceplosaan
2021-02-10
4