"Mbak-mbak ... Perkenalkan ini mbak Uqi santri baru" Mbak Imah memperkenalkanku.
"Perkenalkan nama saya Aisyatus sauqillah biasa di panggil Uqi" Kini aku yang memperkenalkan diri dan menyalami anggota kamar yang lain,
"Saya Ika "
"Saya Icha"
"Saya Imel"
Satu per satu kami saling berkenalan kebetulan yang ada di dalam kamar hanya tiga orang, yang lain mungkin sedang mengerjakan tugas pesantren di luar kamar.
"Mbak saya titip titip Uqi ya ... Kalau salah mohon di tegur dan saya harap mbak-mbak yang lain bisa menerima kehadiran Uqi di sini" ucap Ibu .
"Insya Allah bu kami selalu menerima anggota baru dengan senang hati iyakan mbak ?" jawab mbk Imah.
"Iya bu..." seru ketiga anggota yang lain.
"Ya sudah ayo Uqi antar Ibu dan Kakak ke depan" ajak Kak Anisa.
"Kakak sama yang lain mau balik secepat ini ?" tanyaku menampakkan raut kekecewaan .
"Kita ngobrol ngobrol dulu di Aula sama yang lain" jelas kak Anisa
"Oh aku kira mau langsung balik"
"Uqi ingat pesen kakak jangan manja ! ini pesantren bukan rumah kamu harus mandiri !" titah kak Anisa tegas.
"Iya ... Iya kak aku ngerti."
"Good girl ."
"Idih sok gaul kamu kak"
"Aku kan emak emak gaul Uqi, jika kau lupa itu" Kak Anisa memperingatkanu.
Kami berjalan beriringan kembali menuju Aula dari jauh terlihat kak Ilham dan Kak Arif yang asyik menemani Aqila, Sedang Ayahku hanya diam menatap kearahku ekspresinya tak terbaca .
"Udah selesai dek ?" tanya Kak Arif
"Udah Kak" jawabku singkat
"Gimana keadaan di dalam pesantren kamu suka gak ?" Kini Ayahku yang bertanya.
"Suka gak suka aku kan harus tetep nyantri Ayah" Jawabanku mungkin membuat Ayah khawatir tapi memang ini yang aku rasakan.
"Bersabarlah nak mungkin awalnya akan sulit tapi percayalah ini yang terbaik untukmu" ucap ayah mencoba menenangkanku
"Uqi di pesantren ada banyak ilmu yang bisa kamu peroleh, Ilmu itu yang akan menjadi penuntun untuk menjalani hidup kedepannya." Sela Kak Ilham, Kebijaksanaan kak Ilham memang tak bisa di ragukan.
"Iya Kak, Uqi ngerti" Jawabku pasrah sembari mencium pipi gemul Aqila.
Setelah satu jam kami mengobrol dengan berbagai nasehat kini sudah waktunya keluargaku pulang .
"Uqi kami pulang dulu ya, hati hati dan bersikap mandirilah di pesantren !" Nasehat Kak Anisa sembari memberiku amplop, sepertinya berisi uang.
"Dek jaga diri baik baik ya nanti kalau Kakak ada waktu Kakak akan datang ke sini ." Kak Arif berpesan sembari memeluk dan mencium pucuk kepalaku yang tertutup kerudung ,
"Ini bekal untukmu di dalam ." ucapnya lagi sembari memberi amplop berwarna putih.
'Duhh niat amat keluargaku sampai sampai ngasih uang di masukin amplop segala biasax kan langsung aja di kasih ke aku' batin ku.
"Nak ... yang ramah sama teman jangan suka marah marah gak jelas seperti di rumah belajar sabar ya" Kali ini pesan dari ibu sembari memeluk dan menciumi ku seolah tak rela melepaskanku .
"Ibu jangan seperti ini, Kalau Ibu seperti ini Uqi semakin berat untuk tinggal di sini ." Pecah sudah tangisanku .
"Maaf Nak, mungkin Ibu masih berat melepasmu karena ini pertama kalinya kamu jauh dari Ibu , tapi percayalah di lubuk hati Ibu yang paling dalam Ibu bahagia dengan keputusan Uqi" jelasnya.
Kuciumi seluruh wajah Ibu kemudian kucium tangan Ibu lumayan lama .
"Do'akan Uqi ya bu" pintaku
"Do'a Ibu selalu mengiringimu Nak, semoga kamu mendapat ilmu yang bermanfaat dan menjadi orang yang memiliki derajat fiddunya wa akhiroh" ucapan Ibu yang di amini seluruh anggota keluarga yang lain.
"Nak, Ayah tidak bisa memberimu bekal kekayaan dan kemewahan karena Ayah bukan orang kaya, Hanya ilmu yang bisa Ayah berikan maka bersungguh sungguhlah untuk mencarinya" jelas Ayah.
"Ayah" Spontan aku memeluknya yang di balas peluk dan cium sayang dari Ayah.
"Semoga kamu betah dan berhasil Nak ." Harapan ayah untuk ku.
Tak terasa air mata yang dari tadi menetes semakin deras saja tak mampu aku bendung .
"Udah jangan nangis mulu ilang entar cantik dan manisnya." hibur kak Arif
"Kami pulang ya Uqi." Kini Kak Anisa yang berucap dan ku tanggapi dengan anggukan.
Aku tak mampu lagi berkata kata tangisku pecah sampai sesenggukan .
Setelah mengantar keluargaku sampai gerbang ku netralkan kembali perasaanku, lumayan lama aku berdiri mematung di belakang gerbang hingga sesenggukanku hilang, aku kembali ke dalam melangkah pelan ku pandangi setiap sudut pesantren, terlihat banyak santri yang sibuk dengan aktifitas masing masing .
'Mereka bisa kenapa aku gak ? aku harus semangat ' batinku.
Sampai di kamar
"Assalamualaikum" Kata pertama yang terlontar dari mulutku.
"Waalaikumsalam " jawab mereka serempak
Di dalam kamar ada Ika, Icha dan Imel yang masih setia mengobrol .
"Hay Uqi sini gabung sama kita !" Ajak Icha
"Iya sini sini kita ngobrol ngobrol cantik " jawab Ika.
"Jangan kaget ya Uqi mereka emang gitu berisik" sahut Imel.
'Tak terlalu buruk' batinku ,
Aku tersenyum dan bergabung .
"Emm boleh kah aku gabung dengan kalian ?" tanyaku penuh harap .
"Of course baby ..." jawab Icha
"Kenalin kita trio I , Ika Icha Imel.." sambungnya.
"Ehh tunggu kita ganti aja kan sekarang ada Uqi ..." sela Ika.
"Udah gak usah ributin itu, yang penting kita bisa sahabatan aja udah cukup gak perlu nama " tegas Imel
"Iya juga sih ..." Angguk Icha
"ngomong ngomong kmu sekolah masuk kelas berapa ?" tanya Icha
"Maksudnya ?" tanyaku tak mengerti
"Maksudku sekolah Formal kamu masuk kelas berapa ? , Kalau kita kan kelas 3 SMA ..." Icha memperjelas pertanyaannya.
"Ohh aku udah lulus tahun ini ..."
"Astaga kamu serius ?" tanya Ika keheranan.
"Astaghfirullah Ika ..." tegas Imel
"Upss ... Maaf keceplosan" Respon Ika sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Iya aku udah lulus ..." jelasku
"Tapi wajah kamu masih muda banget kayak kita kita" ucap Icha
"Aku dulu sekolah lebih awal dari usia seharusnya, makanya lulusnya satu tahun lebih awal."
"OMG berarti kamu pinter, asyik ni bisa bantuin kita ngerjain tugas ." jawab Ika
"Bukan bantuin tapi ngajari Ika " sela Imel
"Iya deh iya ..." jawabnya pasrah
"Aku gak terlalu pinter pinter amat tapi aku sedikit mengerti ."
"Sama aja yang penting kita ada yang ngajari selain mbak Imah" ucap Icha.
"Ehh udah mau sore ini ayo kita nyari antrian kamar mandi dari pada nanti masbu' berjamaah bisa dapet hukuman kita ..." ucap Ika mengingatkan
"Ehh mau kemana ?" tanyaku yang tak mengerti .
"Udah kamu ikut kita aja siapin baju ganti dan peralatan mandi juga sabun buat cuci baju ..." titah Imel.
Aku hanya mengangguk dan menuruti ,
Ku siapkan baju ganti dan peralatan mandi perhatianku tertuju dengan gayung yang di bawakan Kak Anisa kenapa gayungnya ada namanya ? Mana namanya lengkap lagi tanpa berfikir panjang aku membawanya mengikuti langkah temen baruku yang lain...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Risa Istifa
jangan kan gayung ,baju aja dikasih nama 🙊
2022-02-22
0
Wulandari
biar gak ilang uqi.
makanya di kasih nama hehe
2021-11-13
0
Dharma Syahputra
aduhh Thor,jadi teringet waktu aku pertama masuk pondok
2021-09-07
0