"Gak pahit ..." lirihnya
"Ini gak pahit Uqi, Jangan banyak alasan kamu harus makan !"sambungnya, kembali menyuapiku dengan berat hati aku menerima suapan darinya.
"Tapi sungguh ini pahit Mas Zham ." ucapku lagi dengan wajah memelas.
"Baiklah kalau gak mau makan minum susunya !" titahnya, memberikan sekotak minuman yang sudah diberi sedotan .
"Habiskan !" sambungnya.
"Mas Zham aku memang sakit tapi gak harus ngabisin susu kotak segede ini juga ..." Aku mulai emosi dengan sikapnya.
Hening beberapa menit hanya ada keheningan Mas Zham yang fokus melihat handphone di tangannya dan aku duduk termenung memikirkan arti dari sikap yang di tunjukkan Mas Zham.
"Assalamualaikum ..."
Suara yang tak asing lagi di telingaku
"Kak Arif ..." celotehku merentangkan tangan mengisyaratkan sebuah pelukan
"Kamu baik baik aja kan dek ?" tanya Kak Arif sembari memelukku.
"Kakak aku kangen " Rengekku mempererat pelukan.
"Udah gedhe masih aja manja " ucap Kak Arif mengelus dan mencium pucuk kepalaku.
Tanpa sengaja netra mataku melihat Mas Zham yang masih setia duduk di kursi tunggu hanya bergeser sedikit memberi ruang untuk Kakakku dia menatap tajam ke arahku seolah mengisyaratkan amarah .
"Khemmm ..." Deheman keras membuyarkan suasana
"Ehh ... lupa kalau masih ada orang maaf ya" canda Kak Arif
"Huft ..." Mas Zham hanya menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan perlahan menahan setiap gejolak di hatinya
'Sabar Zham dia masih belum muhrimmu nanti kalau udah sah kau bisa mencegah kejadian ini' batinnya.
"Kamu udah makan dek ?" tanya Kak Arif melirik makanan yang belum habis di atas nakas.
"Pahit katanya Kak ..." Bukan aku yang menjawab tapi Mas Zham yang menjawabnya.
"Kamu tuh kebiasaan Ayo makan !" Kak Arif mengambil alih makanan di atas nakas, Menyuapiku dengan penuh sayang .
Ini memang kebiasaanku dari kecil jika sakit aku hanya bisa makan jika di suapi Kak Arif, Mas Zham masih setia duduk memelototiku yang makan dari suapan Kak Arif.
"Jangan salah faham Mas Zham dari kecil Uqi memang begini jika sakit dia akan makan jika aku yang suapi ."
Mas Zham berdiri berpamitan dan melenggang pergi.
"Kak Mas Zham itu kenapa ya sikapnya kok kyak ghitu .?"
"Kayak ghitu gimana dek .?" goda Kak Arif
"Ahh kakak masak gak ngerti .?"
"Suka kali sama kamu ..."
"Kak jangan ngaco deh mana mungkin dia yang anak kiyai mau sama aku "
"Kalau benar gimana kamu terima gak ?"
"Udah ahh gak usah bahas itu bahas yang lain aja" elakku
Ya aku memang selalu mengelak pada siapapun yang datang mungkin kisah masa laluku belum bisa ku lupakan dengan sempurna .
"Dek are you okey ?" Kak Arif melambai lambaikan tangan menyadarkanku dari lamunan .
"Okey Kak ... tenang aja aku baik kok."
"Alhmdulillah ..."
"Assalamualaikum ..." Mbak Imah datang membawa baju ganti dan mukenah untukku.
"Uqi ini baju dan mukenahmu" Mbak Imah menaruhnya di bawah kakiku melirik Kakak yang ada di kursi dekatku kemudian beralih menatapku seolah bertanya siapa dia.?
"Mbak Imah kenalin ini Kakak kandungku namanya Kak Arif" Ku kenalkan Kakakku padanya
"Dan Kak Arif kenalin ini Mbak Imah ketua kamarku dia sering membantuku" sambungku mereka hanya saling melempar senyum.
"Oh ya Kakak di sini mau nemenin Uqi sampai kapan.?"
"Uqi Ayah dan Ibu masih di kantor minta izin bawa kamu pulang"
"Pulang ? Kakak serius ?"
"Iya Uqi ..."
"Yeah pulang ..." jawabku girang
"Uqi kalau ghitu Mbak balik ke asrama dulu ya." Pamit mbak Imah
"Ehh ... Iya Mbak makasih ya udah temenin Uqi"
"Iya sama sama" Mbak Imah melenggang pergi.
"Oh ya Uqi siapa yang beliin kamu susu dan sate ini setau Kakak di pesantren mana ada yang jual sate ?" tanya Kak Arif yang merasa heran dengan makanan di atas nakas.
"Oh itu Mas Zham tadi yang beliin"
"Wahh perhatian juga tu calon adik ipar ." reflek Kak Arif
"Ish Kak Arif apaan sih ngomongnya gak mutu banget "
Tak terasa waktu sudah mulai sore setelah berpamitan Ayah dan Ibu mengajakku pulang mereka menjemputku dengan mobil ... Ya mobilnya Kak Anisa
Di rumah
"Akhirnya pulang juga aku kangen banget sama ni ruangan ..." celotehku merebahkan diri di kasur empuk menerawang melihat setiap sisi kamar.
'Masih sama dan rapi ibu pasti bersihiin ruangan ini tiap hari' batinku
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk kamarnya gak di kunci kok !"
" Uqiiiii ... Aku kkangen banget sama kamu" Suara Fia yang cempreng mengejutkanku dia berteriak berlari memelukku yang masih asyik rebahan.
"Astaghfirullah Fia kamu ya ngagetin aja." Ucapku yang mendapatkan serangan tiba tiba.
"Aku tu udah kangen berat sama sahabatku yang satu ini ..."
"Aku juga kangen sama kamu Fia ..."
Fia memang sahabatku dari kecil dari kita masih belajar berjalan kita sudah sahabatan bersekolah di sekolah yang sama karena Fia juga tetanggaku hanya saja dia di izinkan untuk kuliah sambil kerja sedang aku harus masuk pesantren.
"Ehh kamu tau dari mana aku udah pulang ?" Aku buka suara meski sudah beberapa bulan gak ketemu tidak membuat kita canggung atau merubah sikap, Kita tetap seakrab dulu.
"Tadi pagi pas Ibu kamu dan Mama aku belanja di tukang sayur gak sengaja aku lewat kebetulan aku dengar Ibumu mau jemput kamu karena kamu sakit langsung aja deh aku jadi wartawan dadakan ." jelas Fia
"Ahh kamu ternyata sekarang jadi paparazi ya ?"
"Sue' loe gak ghitu juga kali kan cuma tadi doang ..."
"Bercanda aku ..."
Kalau Loe gue udah keluar berarti ni anak lagi mode kesel dan aku gak bisa terus godain dia.
"Uqi Kak Anam tanyain kamu terus tu ..."
"Mau ngapain tanya aku kurang kerjaan aja ?"
"Ishhh dasar o*n dia itu kangen pengen ketemu kamu emang kamu gak kangen apa ?" Fia bertanya dengan nada serius
"Enggak tu biasa aja ." jawabku enteng
"Jahat banget kamu Uqi Kak Anam kayaknya suka sama kamu deh ."
"Udah deh Fia jangan bahas itu aku lagi gak mood ..." selaku sebelum Fia menjelaskan lebih detail lagi perasaan Kak Anam.
" Uqi mau sampai kapan kamu nutup diri gak mau nerima kehadiran cowok lain, jangan bilang kamu masih cinta sama mantan kamu yang gak jelas kabarnya itu ."
"Entahlah Fia aku juga bingung yang aku tau sekarang aku hanya pengen fokus nyantri cari ilmu sebanyak banyaknya."
"Hadeuh ... Ini bukan gayamu Uqi, ingat ya kalau sampai tu cowok bre**sek dateng lagi aku orang pertama yang bakal nentang hubungan kalian !" ancam Fia
" Astaghfirullah kamu ini ngalahin Ibuku aja."
" Biarin aku benci banget sama tu orang udah berani mainin hati sahabatku yang paling cantik ini."
"Uqi, Fia makan dulu Nak !" teriakan Ibu dari dapur menghentikan obrolan kami, rumahku memang tak begitu luas jadi teriak sedikit sudah terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
TK
lanjut kakak 👍
Lelaki Berkaca Mata 🤗🤗🙏
2020-12-22
4
~Nessa
Hadir selalu,Bawa Fav
Salam Dari karyaku "Story Cinta Starla"
SEMANGAT SELALU DAN SUkses...
2020-12-21
3
Zia Azizah
Semangat up nya dekkk 😘😘😘😘
2020-12-21
0